
Pak Rifat memanggilku dan Harry ke mejanya di kantor guru. Beliau menyodorkan beberapa lembar kertas yang harus kami pelajari untuk Olimpiade Biologi.
"Silakan kalian pelajari dulu. Poin-poinnya ada disini semua. Kalian bisa pelajari bersama atau difotokopi. Kalau ada yang belum dimengerti kalian bisa tanyakan pada Bapak," Pak Rifat menjelaskan panjang lebar.
"Siap Pak, nanti saya sama Riri pelajari dulu. Kalau ada yang kami ga ngerti atau butuh referensi, kami tanyakan lagi sama Bapak," ujar Harry.
Aku hanya mengangguk.
"Oke kalo gitu, kalian bisa keluar dan istirahat," sahut Pak Rifat sambil tersenyum.
"Mari Pak, kami pamit," aku dan Harry mengangguk sambil berlalu ke arah pintu.
Aku dan Harry berjalan bersisian diantara anak-anak lain yang berlalu lalang karena memang waktunya istirahat. Kami duduk di perpustakaan yang tidak jauh dari kantin. Perpustakaan kosong melompong, bahkan Pak Asep yang menunggunya juga tidak ada di tempat.
"Jadi gimana, Ri? Lumayan banyak nih yang harus dihafalkan lagi. Kamu perlu catatannya?" tanya Harry sambil membolak-balikkan kertas itu.
"Iya dong, ga mungkin juga kan kita bareng-bareng terus kalo mau belajar. Udah.. dicopy aja," usulku.
"Oke, kalo gitu aku copy dulu ke depan. Kamu diem disini, jangan kemana-mana ya," pesannya. Dia langsung pergi tanpa menungguku mengiyakan.
Aku menghela nafas. Aku sendirian di perpustakaan. Ya ngapain lagi, cari buku yang bagus aja. Kucari buku biologi yang kuperkirakan bisa menambah pengetahuanku untuk Olimpiade Biologi 2 minggu lagi.
Aku kembali duduk setelah menemukan sebuah buku yang menarik perhatianku.
Aku mendengar suara pintu dibuka. Tapi hal itu tidak mempengaruhiku sama sekali. Bahkan suara derap kaki anak-anak yang berlarian ke kantin pun tidak membuyarkan konsentrasiku. Aku tetap membaca buku di hadapanku.
"Boleh saya duduk disini?" suara seorang lelaki. Sepertinya dia orang yang tadi membuka pintu.
"Silakan..," aku tidak menoleh.
Aku mendengar suara sebuah kursi diseret pelahan semeter di sebelahku.
"Bacaannya berat ya?" tanya orang itu sambil meneliti buku yang kubaca.
"Lumayan," sahutku sambil menarik garis bibir sedikit ke atas, tersenyum tanpa menoleh.
"Suka apa dari Biologi?" ni orang nanya mulu.
Kuturunkan buku tebal itu, sambil memiringkan sedikit badanku menghadap si penanya. Bersiap menyemprotnya.
__ADS_1
Tiba-tiba lidahku kelu. Jangankan menyemprot, untuk membuka mulut saja aku tak bisa. Mataku membulat sempurna. Di depanku hanya berjarak satu kursi duduk seorang lelaki berkacamata sedang tersenyum manis padaku.
Oh My God, segitu besarkah karismanya sampai aku ga berniat berkedip.
Kudengar suara jantungku sendiri berdegup begitu kencang. Berharap dia tidak melompat dari tempatnya.
"Eh.. Ehmm.. Cari buku Mad?" ngga nyambung banget sama pertanyaannya tadi. Tapi hanya itu yang keluar dari mulutku. Benar kata Harry, aku mendadak **** kalau berhadapan dengan orang ini.
"Iya, tapi ini udah dapet." Diperlihatkannya buku yang dipegangnya.
Ah, aku pernah baca buku itu. Akupun mulai membahas tentang buku yang dipegangnya. Lama kelamaan kami sudah tidak canggung lagi. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Banyak bercerita, banyak memberi masukan dan sedikit bercanda. Setidaknya kami tidak kaku seperti kanebo kering. Sampai akhirnya kami duduk tak berjarak.
"Saya pikir, seorang Rinjani itu sombong lho. Ternyata saya salah," katanya membuatku menahan nafas.
"Kenapa?"
"Karena tiap saya liat kamu, kamu pasti lagi jalan atau kumpul sama anak-anak bintang sekolah," katanya.
Oh Ahmad, kamu ga tau aja.. kamu bintang di hatiku.
Aku ga peduli sama bintang yang lain. Eeaa..
"Masa sih?" aku mengernyitkan kening. "Mungkin kebetulan."
"Hah?" aku tertawa. "Segitunya."
"Serius. Denger-denger juga kamu pernah jadi atlet anggar ya?" tanyanya.
"Iya sih, tapi ga bisa dilanjut soalnya disini apa-apa harus diurusin sendiri. Jadi bukan dari sekolah."
"Keren.. Kamu benar-benar sempurna." Demi apa aku dengar dia memujiku.. Rasanya aku mau pingsan.
"Ri..," tiba-tiba seseorang memanggil dari arah pintu.
Aih.. tu manusia ngapain dateng pas momennya kayak gini. Ganggu aja.
Harry berdiri di depan pintu sambil memegang gulungan kertas fotokopi. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil menyender pada daun pintu. Dia mengangkat dagunya sedikit sambil memutar-mutar gulungan kertas itu.
"Yuk..," katanya sambil menunjuk ke arah dalam sekolah.
__ADS_1
Hu uh. Aku memanyunkan bibirku. Dia kemudian berlalu.
Tiba-tiba perpustakaan ini jadi sepi. Aku jadi serba salah.
" Ehm.. kamu ngerti maksud Harry tadi?" tau-tau Ahmad bertanya.
"Iya, dia bilang dia udah beres fotokopi soal-soalnya. Tinggal dicek trus didiskusikan lagi. Jadi sekarang dia tunggu aku di kelas," terangku.
"Tapi tadi dia ga bilang apa-apa kan?" tanyanya memastikan. "Kalian pake telepati ya?"
Aku tertawa tergelak.
"Ya ngga lah Mad. Mana mungkin kami bisa telepati. Cuma karena kami sering banget barengan jadi ga usah ngomong juga kami udah saling mengerti."
"Iya, seolah kalian bisa ngerti gerak tubuh satu sama lain tanpa harus berkata."
Aku langsung menghentikan tawaku.
"Apa kalian pacaran?" tanya Ahmad menghancurkan hatiku.
"Ngga.. ngga.. Mana mungkin aku mau pacaran sama cowok kaya dia. Ih maaf, dia kan playboy. Dia aja ga tau berapa tepatnya jumlah cewek yang pernah dia pacarin. Kalo soal satu itu kami bener-bener beda 180 derajat. Kami beda pandangan," aku berusaha meyakinkannya. Jangan sampai salah faham.
Ahmad tersenyum.
Aduh Mad, kalau lama-lama disini aku bisa diabetes.
"Terus, kalau menurut seorang Rinjani seperti apa tipe cowok yang pantas jadi pacarmu?" Wah.. ini sih mancing di air keruh.
" Cowok yang cerdas, baik hati, setia, dan pake kacamata," upsss.. mulutku jujur banget.
Wajah Ahmad berubah.
"Sorry.. sorry.. aku kejar Harry dulu ya," aku buru-buru berdiri dan berlari keluar perpustakaan sebelum Ahmad melihat wajahku yang memerah.
Aiss.. kenapa sih bisa keceplosan begini. Tapi kapan lagi bisa ngobrol kayak tadi sama dia. Sejak menyadari keberadaannya di kelas 11, wajahnya sering berlalu lalang saatku memejamkan mata. Kemana aja aku waktu kelas 10, ko bisa ga ngeuh ada dia di sekolahku.
Dia ga setampan Harry ataupun Kurnia. Tapi entah kenapa, sejak pertama ketemu di kelas 11, aku langsung suka sama dia.
Dia juga ga seaktif kedua sahabatku itu. Mungkin karena itu aku sampai tidak menyadari ada makhluk seperti dia di sekitarku.
__ADS_1
Tapi dia sama cerdasnya dengan kami. Dari informasi yang kudapat, dia juga peraih rangking pertama di kelasnya. Tapi jika diurutkan, aku tetap yang teratas, dengan Harry di belakangku, disusul Kurnia. Dan entah dia di posisi berapa.
Tapi walau bagaimanapun aku ngga peduli. Dari semua cowok yang ada di sekolah ini, cuma dia yang bisa menawan hatiku. Harry Potterku. Wajah putihnya dengan beberapa jerawat di pipi tidak lupa kacamata yang bertengger di atas hidungnya bisa memaksa senyum terus tersungging di bibirku.