DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
S2 Kebenaran?


__ADS_3

"Dokter Rinjani, bisakah kita bicara sebentar?" sebuah suara terdengar dari belakangku.


Aku menengok dan dan kulihat Rena berdiri beberapa meter di belakangku.


"Tentu," jawabku.


Aku menatap Dokter Elang untuk meminta pertimbangan. Bukannya menolong, dia malah tersenyum dan beranjak dari kursinya.


"Silakan, Bu Rena," kata Dokter Elang mempersilakan Rena duduk di kursi tempatnya tadi.


"Terima kasih, Dokter," jawabnya sambil mengangguk.


" Awas lho, nanti langsung dilamar buat jadi Kakak Ipar," candanya sambil melewatiku.


Dia pergi sambil tertawa. Untukku candaannya tidak lucu sama sekali.


Rena duduk di sampingku, di kursi bekas Dokter Elang. Kulihat wajahnya sedikit pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya dia menunggui ibunya tanpa istirahat.


"Iya, Ren, ada apa?" tanyaku pelahan.


"Kak Riri ...," dia diam lama. Aku menunggunya dengan sabar. Namun, bukan kata yang keluar dari bibirnya melainkan tangis.


"Kenapa kamu nangis? Ibu nggak apa-apa 'kan? Tadi kakak sempet ngobrol sama dokter yang pegang ibu, katanya ibu nggak apa-apa."


"Bukan ibu, Kak, tapi Kak Harry," tuturnya pelan.


Aku masih diam, tidak memberi respon pada apa yang ia katakan.


"Kak Harry nyeritain semua, dan aku nggak nyangka sama sekali. Aku pikir Kakak sama Kak Harry baik-baik aja. Maaf Kak, aku nggak tau."


Aku belum mengerti sepenuhnya apa yang sedang Rena bicarakan. Namun, aku menangkap bahwa Harry menceritakan apa yang terjadi pada kami dulu. Sehingga Rena tidak salah faham atas hubungan kami.


"Nggak apa-apa, semua udah jadi masa lalu," kataku.


"Apakah aku masih bisa memohon, Kak?" tanyanya.


"Memohon? Untuk apa?"


"Tolong kembalilah padanya. Kak Harry bener-bener hancur tanpa Kakak," ucapnya sambil menangis.


"Nggak mungkin, Ren. Kami udah nggak ada apa-apa dari dulu. Lagian semua kenangan itu udah aku kubur dalam-dalam. Cerita kami dulu hanya sekedar cerita persahabatan yang udah tamat," tekanku.


"Nggak, Kak. Kakak salah faham. Aku yang jadi saksi betapa Kak Harry berusaha keras nyariin Kakak ke Malang. Tadinya aku nggak ngerti apa yang terjadi, tapi tadi malem akhirnya aku ngerti. Kak Harry sampe nangis waktu aku bilang Kak Riri ada di sini. Kak Riri yang nolongin ibu," dia berusaha menjelaskan.


"Itu nggak ngejelasin apapun, Ren."


"Kak, tiap Kak Harry libur, dia selalu pergi ke Malang. Tiap aku tanya dia ada perlu apa ke sana, dia cuma bilang buat ketemu Kak Riri. Waktu kemaren aku bilang kakak ada di sini, akhirnya dia baru ngaku kalo dia ke Malang bukan buat ketemu Kakak, tapi buat cari Kakak."


"Maksudnya apa?"

__ADS_1


"Kak Harry menyesali semua yang dia lakukan, Kak. Bertahun-tahun dia nyariin Kak Riri, tapi nggak ketemu."


Lelucon apa ini?


"Kenapa dia harus menyesal? Kan dia sendiri yang ngekhianatin Kakak. Dia yang milih pergi sama perempuan lain," kataku sengit.


"Karena itu Kakak pergi ke Malang, 'kan? Kak Riri memilih ngambil beasiswa yang jauh itu karena Kak Harry berkhianat 'kan? Sedangkan sebelumnya Kak Riri nggak berminat ngambil beasiswa itu. Apa Kakak nggak liat ada benang merah antara Kak Harry yang berkhianat sama keputusan Kak Riri?"


Aku berusaha membuka pikiranku untuk penjelasan Rena. Namun hatiku tetap menolak apa yang otakku tangkap.


"Kamu nggak lagi berusaha membersihkan nama kakakmu dari apa yang udah dia lakuin dulu 'kan, Ren?" aku berusaha keras untuk tetap menolak apa yang disampaikan oleh perempuan yang duduk di sampingku ini.


Dia menggeleng keras.


"Kalo Kakak nggak percaya, liat ini!" Dikeluarkannya sebuah smartphone model terbaru dan disodorkannya padaku.


"Untuk apa?"


"Coba Kak Riri liat dulu," pintanya dengan sangat.


Kuterima handphone itu. Kusentuh layarnya. Muncullah gambar seorang gadis yang sedang tersenyum manis dengan rambut panjang terurai tertiup angin.


"Ini handphone siapa?" tanyaku dengan suara tercekat.


"Ini handphone Kak Harry," jawabnya.


"Untuk apa kamu liatin ke Kakak?"


"Aku nggak mau buka-buka privacy orang," tolakku sambil meletakkan benda pipih itu di atas meja.


"Aku yang ngizinin, Kak. Kumohon, Kakak harus tau segalanya," matanya sudah kembali berkaca-kaca.


"Nggak!"


"Please, Kak," tangisnya mulai pecah.


"Apapun yang ada di sini nggak akan mengubah keadaan sekarang, Ren," kataku memberikan penekanan.


"Kalo Kakak emang berfikir begitu, kenapa Kakak takut ngebuka handphone itu?"


"Cukup, Ren! Kamu ini apa-apaan?" tiba-tiba Harry sudah ada di belakang kami.


"Baguslah kamu ke sini, Har. Tolong jelasin sama adik kamu, sebenernya apa yang terjadi. Aku nggak mau ada salah faham. Dan aku nggak mau namaku jadi jelek karena dianggap jahat atau nggak punya perasaan."


Harry tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya matanya yang lekat melihat ke arahku.


"Kakak anggap masalah ini selesai ya, Ren. Kakak permisi dulu," kataku sambil berdiri dan berjalan melewati Harry.


"Oya, satu lagi. Jangan jadiin fotoku sebagai screen saver ataupun wallpaper. Kita bukan muhrim, aku nggak mau itu jadi dosa jariyah untukku," kataku sambil berbalik sebentar.

__ADS_1


Aku melanjutkan langkah kakiku.


"Nggak ada yang salah faham sama kamu, Ri. Semua yang aku ceritain sama Rena itu kenyataan," Harry mengeraskan suaranya agar aku mendengar apa yang dia katakan. Namun aku sudah tidak peduli.


...


Tadinya aku berniat beristirahat di ruanganku agar nanti malam tidak mengantuk ketika jaga di UGD. Namun sekarang mataku sama sekali tidak mau diajak bekerja sama.


Akhirnya aku memilih turun dari bed periksa dan duduk di kursiku. Kuambil kardus yang ada di sana dan mengeluarkan bantal yang berbentuk kepala Hello Kitty berwarna pink kombinasi putih. Kupeluk bantal itu. Harum pewangi pakaian tercium darinya, pertanda bantal itu terawat. Kuusap bantal itu dengan ibu jariku. Dulu dia adalah teman curhatku sebelum aku kembalikan pada orang yang memberikannya padaku.


"Hai, Kitty. Apa kabarmu selama ini?" aku bertanya seolah dia bisa mendengar dan menjawab sapaanku.


"Kayaknya dia mengurusmu dengan baik," monologku lagi.


"Apa dia pernah ngajak kamu ngobrol dan curhat abis-abisan tentang aku?" tanyaku bodoh.


Tiba-tiba perkataan Rena terngiang di telingaku.


Apa Kakak nggak liat ada benang merah antara Kak Harry yang berkhianat sama keputusan Kak Riri?


Mungkinkah dia dulu sengaja membuat dirinya terlihat buruk agar aku menjauh? Bukankah dulu dia begitu ingin aku mengambil beasiswa itu? Dan aku mengatakan aku akan tetap di sini menggapai mimpi bersamanya?


Aku tersenyum sinis. Mana mungkin seorang anak SMA berpikir sejauh itu untuk orang yang disayanginya. Terlalu mengada-ada.


Setiap Kak Harry libur, dia selalu pergi ke Malang. Tiap aku tanya dia ada perlu apa ke sana, dia cuma bilang buat ketemu Kak Riri.


Adakah orang sebodoh itu, mencari sesuatu yang tidak jelas keberadaannya? Sejak aku lulus kuliah dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S. Ked) aku melanjutkan program profesi di rumah sakit di luar kota Malang. Selesai koas pun aku masih melakukan internship di pelosok Nusa Tenggara. Bagaimana mungkin dia bisa menemukanku?


Aku merasa jadi orang bodoh memikirkan semua kemungkinan itu.


Tiba-tiba handphoneku menyanyikan lagu Luka Lama. Buru-buru kuangkat benda itu untuk melihat siapa gerangan yang menelponku. Sebuah nama tertera di sana. Segera kuangkat panggilan itu.


"Assalammu 'alaikum," salamku pelahan.


"Wa 'alaikum salam, Dear. Apa kamu sedang sibuk sekarang?" tanya sang Penelpon.


"Nggak, Mom. Saya masih di rumah sakit, tapi saya belum bertugas. Ada yang bisa saya bantu, Mom?" tanyaku.


"Tentu saja ada, Sayang. Mommy baru sampai tadi pagi dari New Zealand. Mommy mau memilih kebaya untuk pernikahan kalian. Apa anak kesayangan Mommy sudah memberitahumu?" tanyanya.


"Belum, Mom. Mungkin dia lupa," jawabku.


"Dia selalu begitu," omelnya.


"Nggak apa-apa, Mom. Besok saya pasti datang ke rumah menemui Mommy," ujarku.


"Baiklah, Dear. Mommy akan menunggumu. See you tomorrow, Honey. Assalamu 'alaikum."


"Wa 'alaikum salam."

__ADS_1


See, nggak ada gunanya memikirkan masa lalu. Dia tidak akan bisa membawaku kembali. Dan sekarang masa depanku ada di depan mata.


"Maaf, Ren. Udah Kakak bilang, semua yang kamu bilang, nggak akan mengubah apapun," gumamku.


__ADS_2