
Hari ini adalah hari terakhir kami masuk sekolah dengan jadwal seperti biasa. Minggu depan kami sudah harus berjuang menghadapi UAS dan UN.
Dan aku sudah benar-benar siap untuk itu. Terlebih mendengar alasan yang disampaikan oleh Nina tentang apa yang terjadi padaku kemarin. Semangatku semakin membara. Ingin aku pecundangi dia di depan umum. Memperlihatkan bahwa aku tidak terkalahkan, meskipun dengan cara licik.
Aku masuk gerbang dengan dagu terangkat dan langkah pasti. Kubalas beberapa sapaan yang tertuju padaku dengan senyum lebar. Tak kudengarkan lagi suara-suara sumbang yang berbisik menyebut namaku.
Semua yang terjadi kemarin sudah kuanggap mimpi buruk. Dan hari ini aku terbangun untuk meneruskan hidupku.
"Assalamu 'alaikum," sapaku begitu aku melewati pintu ruang kelasku.
"Wa 'alaikum salam," jawab beberapa orang temanku yang sudah lebih dulu hadir di kelas.
Kuletakkan tasku di bangkuku seperti biasa.
"Lho, Sar, tumben pagi-pagi udah sampe. Biasanya nunggu bel berbunyi, baru kamu masuk," candaku pada Sarah yang sedang asyik menikmati nasi kuning yang jadi sarapannya.
"Iya, Bapakku ada urusan pagi banget, jadi aku terpaksa ikut pagi-pagi. Sampe aku harus beli sarapan di jalan. Mau, Ri?" tawarnya padaku.
"Nggak, makasih. Aku udah sarapan."
"Ri, kamu keliatan segeran hari ini," ujar Sarah lamat-lamat, takut menyinggung hatiku.
"Iya dong, kan aku udah mandi, udah sarapan. Kurang seger lagi gimana, coba?" timpalku dengan senyum konyol.
"Syukur deh kalo gitu," hanya itu yang keluar dari mulutnya. Diteruskannya sarapan pagi yang tertunda.
"Ri!" seseorang berteriak dari arah pintu.
"Hai, Mad." Aku melambaikan tanganku padanya.
Aku berjalan mendekati pintu. Sebelum sampai ke pintu, seseorang menabrak bahuku dengan keras.
"Aw!" teriakku tertahan.
"Kamu nggak pa pa, Ri?" tanya Ahmad khawatir.
Aku menggeleng. Mataku menyapu seluruh ruangan kelas, mencari orang yang tadi menabrakku. Harry! Dia mau main kasar rupanya.
Aku segera mendatangi dia yang baru saja meletakkan tasnya di bangku nomor dua dari belakang.
"Kalo jalan pake mata!" teriakku. "Bukannya minta maaf, malah ngeloyor aja."
Harry berbalik menghadap ke arahku yang tengah emosi.
Hatiku mencelos.
Ya, Tuhan, ada apa dengan wajahnya? Seolah semua cahaya telah terbang menjauh darinya. Wajahnya sayu, dengan warna hitam di bawah kedua kelopak matanya. Dan bibir itu, terlihat pucat pasi tak berwarna. Kondisinya seperti orang yang baru saja meminum cairan pembasmi nyamuk.
Aku langsung berbalik, kemarahanku menguap seketika.
__ADS_1
"Ri?" tanya Ahmad heran.
"Keluar yuk!" seruku.
Kenapa dia? Nggak mungkin dia minum obat pembasmi serangga gara-gara aku putusin, 'kan?
...
Tidak ada kejadian apa pun sampai jam pelajaran berakhir. Karena ini hari terakhir sekolah, Bu Neni sebagai Wali Kelas kami memberikan semangat dan dukungan untuk kami semua. Dan kami pun saling berjabat tangan satu sama lain. Saling mendoakan yang terbaik dan agar kami diberi kelancaran dalam mengerjakan soal.
"Semangat ya, Ri. Do the best," Sarah memelukku erat.
"Thanks, Sar, you too." Kubalas pelukannya. Aku tahu, meskipun tidak pernah mencampuri urusanku, dia selalu peduli.
Si Om memberikan toss yang biasa kami lakukan. Terakhir, kami membenturkan kepalan tangan kami sekeras yang kami bisa. Kami mengaduh bersama disertai tawa setelahnya.
"Makasih atas segalanya selama ini ya, Ri." Dewi yang duduk di belakang Kurnia melangkah maju dan memelukku.
"Sama-sama, Wi. Semoga bermanfaat ya. Semangat!" Kutepuk punggungnya pelahan.
Dari balik punggung Dewi aku melihat Harry yang terlihat sama sekali tidak bersemangat. Kenapa dia? Meskipun aku sudah menganggapnya angin lalu, tapi di sudut hatiku aku khawatir melihat keadaannya.
...
Tak terasa, dua minggu sudah berlalu begitu saja. Semua jadwal telah kulalui dengan lancar tanpa halangan apa pun. Sama sepertiku, semua anak kelas 12 sudah bisa menarik napas lega.
Meskipun menjadi seorang dokter bukan cita-citaku, setidaknya profesi itu bisa membantu perekonomian keluargaku. Dan tentu saja bisa membuatku melupakan dia. Jarak dan waktu adalah obat termujarab untuk melupakan semua kenanganku di masa yang lalu.
Hari ini nilai UAS akan diumumkan secara terbuka dengan menempel semua nilai siswa secara pararel di majalah dinding dan juga kelas masing-masing. Bisa ditebak betapa antusiasnya kami semua.
"Congratulation, Ri. Nggak perlu diragukan lagi," Kurnia sengaja menyenggol bahuku.
"Thanks. Ini nggak akan terjadi tanpa bantuan kalian semua. Bukan sesuatu yang nggak mungkin aku terpuruk diurutan paling bawah tanpa support dari kalian." Kami bertos seperti biasa.
"Not bad," kata Kurnia melihat namanya juga ada di barisan atas.
Kutinju bahunya keras.
"Sombong!" seruku. Kami tertawa lepas.
Rasanya semua beban sudah luruh begitu saja.
"Harry?" Kurnia masih menelusuri kertas fotokopi itu dengan telunjuknya.
"Aku nggak peduli." Aku keluar dari kerumunan. Lebih baik aku mencari teman-temanku yang lain.
"Riri! Selamat!" Nina langsung memelukku begitu aku bertemu dengannya.
"Makasih, Nin," kupeluk erat sahabatku itu. Aku pasti akan sangat merindukannya.
__ADS_1
"Jadi perginya?" dia bertanya dengan raut sedih.
Aku mengangguk.
"Nina gimana? Mau kemana?"
"Kayaknya aku mau ambil Rekam Medis deh, Ri. Siapa tau suatu saat kita bisa ketemu di rumah sakit yang sama," katanya sambil menggenggam tanganku.
"Aamiin," aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Dia sahabat yang selalu ada saat situasi seperti apa pun.
"Kapan kamu berangkatnya, Ri?"
"Habis perpisahan aku langsung ke sana, Nin." Kuajak dia berjalan ke arah kantin.
Aku memesan jus alpukat dan Nina memesan jus jambu merah.
Kulayangkan pandanganku ke seluruh bangunan ini. Aku pasti akan merindukan tempat ini. Tiba-tiba berkelebatan kenangan bersama Harry di situ. Begitu pun dengan climbing wall di ujung sana. Sudah tentu dengan perpustakaan yang setiap waktu luang selalu aku datangi bersamanya.
Aku menghela napas berat. Meskipun aku sudah berkomitmen bahwa tidak akan ada lagi dia di hatiku, tapi kenyataannya sungguh sulit.
"Kamu inget Harry, ya?" pertanyaan Nina mengagetkanku.
Aku tersenyum kecut.
"Walau gimana pun susah ngilanginnya, Nin," kataku.
"Iya, lah, kita udah sama-sama sejak hari pertama MOS. Aku bener-bener kecewa sama dia." Nina menyeruput jusnya untuk menghilangkan kesal.
"Kamu beneran jatuh hati sama dia ya, Ri?"
"Aku nggak tau, Nin," kataku berbohong, "yang pasti aku nggak bisa ngilangin dia gitu aja dari pikiranku."
"Tapi sejak kalian putus, kayaknya dia nggak pernah jalan lagi sama tu cewek sapu ijuk," ujar Nina membuatku tertawa.
"Cewek sapu ijuk?"
"Lho, kamu nggak liat rambut cewek itu? Maksa banget, udah tau keriting ya terima aja. Pake maksa dibonding segala. Pasti pake yang murah, jadi rambutnya kayak sapu ijuk."
Aku tertawa terbahak-bahak. Nina yang begitu lembut, bisa nyinyir juga ternyata.
"Terus, gimana hasilnya? Di peringkat berapa dia?" tanya Nina.
"Aku nggak tau. Tadi aku nggak merhatiin."
"Tapi tetep kan, kamu yang nomor satu. Dia bener-bener jadi orang yang merugi. Udah cita-citanya nggak sesampean, semua sahabatnya juga ilang," celotehnya.
"Aku bisa apa? Aku bukan mainan. Aku nggak mau dipermainkan," kataku sambil menyeret gelas berisi jus alpukat agar lebih mendekat padaku.
"Riri...," sebuah suara membuatku berhenti menyedot jus alpukatku. Aku menoleh ke arah sang Pemilik Suara.
__ADS_1