DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Terlambat


__ADS_3

Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata walau sedetik pun.


Rasa sakit di dada membuatku terus menerus memukul dadaku. Berharap sakit ini hilang terbawa angin malam.


Aku menyesal. Benar-benar menyesal. Menyesal karena pengkhianatan Harry, juga menyesal karena hancurnya persahabatan kami. Aku, Harry, Kurnia dan Ayudya.


Tentu saja sakit sekali rasanya dikhianati, apalagi oleh orang yang sangat kita percaya. Ditambah hatiku yang mulai bisa menerima semua perhatian dan kasih sayangnya yang mungkin juga palsu.


"Bodohnya aku.. bodohnya aku..," rutukku dalam hati sambil memukul-mukul kepalaku.


Air mataku sudah kering. Meninggalkan rasa lengket di pipi. Entah sudah seperti apa wajahku sekarang. Mataku hampir tidak bisa melihat karena kelopaknya yang membengkak.


Aku menarik nafas panjang, berusaha berdamai dengan hati. Mulai menelaah satu per satu kesalahan yang mungkin telah kuperbuat hingga Harry tega melakukan ini padaku.


Kenangan kami berdatangan satu per satu, seperti penggalan film yang diputar bergantian.


Begitu banyak kenangan manis yang kulalui dengannya. Selama kami bersahabat, bahkan setelah status kami berubah menjadi sepasang kekasih. Tetapi kenapa? Selalu pertanyaan 'kenapa' dan 'kenapa' yang terus berjejalan di dalam kepalaku tanpa mendapat satu pun jawaban.


"Kamu bilang, kamu mencintaiku sejak dulu. Kamu bilang, ingin menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Kamu bilang, cukup lihat ke arahmu, jangan ke arah lain. Kamu bilang, apa pun yang terjadi, aku harus percaya padamu. Tapi sekarang apa?! Yang kamu bilang cuma omong kosong! Kamu cuma ingin menyakitiku!" Aku masih terisak sambil memandangi foto kami yang aku ambil ketika terakhir kami berjalan-jalan berdua di Jalan Braga.


Dia masih tersenyum manis. Dengan tatapan penuh cinta. Sebegitu pintarkah kamu berakting, Har?


Aku masih ingin berpikiran positif, tapi tidak bisa. Bayangan Harry yang memangku Gita dan Gita yang merangkul Harry terus menganggu pikiranku.


Aku orang yang paling tidak bisa mentolelir sebuah kebohongan, apalagi sebuah pengkhianatan.


Aku harus mengambil sikap. Meskipun itu akan membuat hatiku hancur. Tapi setidaknya tidak dengan harga diriku.


...


Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa. Meskipun jika aku boleh memilih, aku ingin tetap diam di rumah.


Sekolah masih sepi. Aku memilih bersandar di pagar depan kelasku di lantai 3 ini, daripada aku harus duduk manis di kelas.


Kulayangkan pandanganku ke arah awan mendung di depan sana. Langit sepertinya mengerti perasaanku. Kupejamkan mataku, membiarkan angin dingin yang membuai wajahku.


"Ri..," panggil sebuah suara yang sudah lama kuhindari.


Aku menengok ke arah suara itu berasal. Ahmad berdiri di belakangku. Kulempar senyum kecil kepadanya.

__ADS_1


"Ya."


"Boleh aku berdiri disini?"


Aku mengangguk mempersilakan.


Ahmad berdiri di sampingku dengan menumpukan berat badannya pada kedua tangannya yang juga menyandar ke pagar.


"Kamu baik-baik aja?" tanyanya hati-hati.


"Yes, i'm fine."


"Tapi kamu keliatan...."


"Kacau?"


Dia diam tidak menjawab terkaanku.


"Sebegitu kentaranya, ya?" aku tertawa, menertawakan diri sendiri.


Angin dingin bertiup cukup kencang, menerbangkan rambutku yang kubiarkan terurai.


"Aku sedih liat kamu kayak gini."


Disaat yang bersamaan, dia pun menatap ke arahku.


Baru kali ini kami berada dalam posisi seperti ini. Saling memandang tanpa berniat mengalihkan pandangan kami masing-masing.


Bila ini terjadi beberapa bulan lalu, bisa dipastikan wajahku akan berubah seperti kepiting rebus. Tapi tidak untuk kali ini.


"Jangan selalu bersikap tegar. Aku tau kamu tidak sedang baik-baik saja," lirih Ahmad.


Aku tidak berusaha untuk menyangkal.


"Aku melihat semua yang terjadi kemarin. Tidak hanya ketika Harry pulang dengan Gita, tapi juga ketika Kurnia memukul dan memaki Harry."


Aku menggigit bibir. Berusaha menghalau rasa kesal dan marah saat ingat kejadian itu.


"Dan, aku juga melihatmu menangis di punggung Kurnia."

__ADS_1


Aku terhenyak. Kupikir saat itu sudah tidak ada orang lagi di sekitar kami. Ternyata malah Ahmad yang melihatnya. Melihat betapa rapuhnya aku.


Aku masih diam. Tidak menanggapi semua yang Ahmad utarakan.


"Ri, aku menyesal. Aku terlambat. Kalau saja waktu itu aku lebih peka dan lebih berani, kamu pasti nggak akan mengalami hal seperti ini."


Aku menarik bibirku ke atas.


"Sorry.. aku takut salah mengartikan kalimatmu barusan. Tapi kalo aku boleh GR, maksudmu itu...."


"Iya, seharusnya ketika kamu bilang kamu suka cowok pake kacamata, harusnya aku ngerti kalau maksudmu adalah aku. Tapi aku tetap mempertahankan kebodohanku dan menganggap kamu adalah bintang yang tak terjangkau." Ahmad menarik napas panjang seakan di paru-parunya tak ada oksigen.


Aku menyadari bahwa cowok di sampingku ini membutuhkan banyak keberanian untuk mengungkapkan apa yang baru saja dia katakan.


Aku menepuk bahunya perlahan.


"Terima kasih," ujarku. Aku ingin dia tahu bahwa aku mengerti apa yang dia maksud.


"Jadi, apakah sekarang aku bisa berada di sampingmu meskipun aku tahu ini terlambat?" tanyanya dengan penuh harap.


Aku kembali menerawang ke arah langit yang semakin gelap.


"Terlambat, Mad. Sangat terlambat. Karena di hatiku sekarang hanya ada nama Harry," batinku.


"Kamu benar, Mad. Kamu terlambat. Seandainya kamu mengatakannya beberapa waktu lalu, tentu aku akan jadi cewek paling bahagia di dunia."


Ahmad menelan ludah. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Terlihat raut kecewa disana.


"Tapi sekarang pun aku akan bahagia bila ada kamu di sampingku," lanjutku.


Mimik wajahnya langsung berubah. Senyumnya mengembang sempurna. Rona merah terlihat di pipinya yang putih.


"Hei, aku belum selesai ngomong. Jangan seneng dulu!" aku tertawa geli. Ini kali pertama aku tertawa setelah pengkhianatan Harry.


"Lowongan di sampingku saat ini cuma ada sebagai seorang sahabat. Tidak lebih. Secara kemarin aku baru saja kehilangan seorang sahabat. Berminat?" candaku.


Dan sebuah jawaban yang tak terduga kudapatkan.


Ahmad maju selangkah dan langsung menarikku dalam dekapannya! Dia memelukku!

__ADS_1


Mataku terbelalak. Aku terkejut luar biasa. Belum pernah ada yang berani memelukku seperti ini. Bahkan Kurnia dan Harry pun tidak pernah berani selancang ini.


Mataku makin membulat sempurna ketika dari balik bahu Ahmad kulihat Harry berdiri dengan wajah merah padam dan tangan terkepal. Dan tentu saja dengan perempuan itu di belakangnya!


__ADS_2