
Pak Rifat tidak bisa mendampingi kami menuju tempat lomba. Ada tugas yang tidak bisa digantikan. Beliau digantikan oleh Ibu Hafsah, guru Biologi kelas 10. Tak masalah, itu tidak akan berpengaruh besar pada kami. Karena walau bagaimana pun kami akan membawa pialanya pulang.
"Ibu dengar nanti sistem penilainannya plus minus. Maksudnya nilai jawaban betul dikurangi nilai jawaban salah. Jadi Ibu sarankan, kalau kalian ga yakin jawabannya benar, ga usah diisi. Jawaban kosong nilainya nol, lebih baik daripada minus," Bu Hafsah menjelaskan apa-apa yang harus kami tahu tentang cara penilaiannya.
"Iya, Bu," jawab Harry dan aku kompak.
"Ibu yakin kalian bisa memberikan yang terbaik," lanjut Bu Hafsah.
"Pasti Bu, mohon doanya," kataku.
Aku melihat Harry memajukan bibir bawahnya mengejekku. Langsung kuhadiahi dia cubitan di pahanya.
Dia mengaduh tanpa suara. Kupelototi dia dengan tatapan galak.
"Kenapa?" tanya Bu Hafsah.
"Ngga Bu, tadi Harry nanya mulainya jam berapa," kataku. Bohong.
Dan sepertinya gantian Harry yang malas meladeniku.
Kurang lebih 40 menit, kami sampai di tempat tujuan. Sebuah SMA swasta yang dijadikan tempat lomba berdiri kokoh di depanku.
Aku ternganga, kagum, melihat bangunan sekolah ini.
Seperti sekolahku, sekolah inipun berlantai 3. Tapi yang membuatku terkagum-kagum adalah tidak ada sedikitpun celah warna putih ditiap dinding kelasnya. Semuanya serba berwarna. Kalau di sekolahku bisa kena skors coret-coret dinding kayak gini.
"Har.. liat.. keren banget..," bisikku pada Harry yang berjalan di sampingku.
"Iya," sahutnya pendek.
"Itu liat, Ruroini Kenshin," tunjukku pada dinding pilar dari lantai paling atas ke paling bawah.
"Kreatif banget," pujiku tiada henti.
Ada juga dinding kelas yang bergambar suasana Bikini Bottom tentu dengan para penghuninya.
"Coba kalo sekolah kita dibikin begini," celetukku.
"Ga mungkin," kata Harry. "Paling juga kayak waktu itu tuh, kita diizinin ngegambar lambang ekskul kita di basement."
Belum selesai aku mengagumi sekolah ini, kami diminta berkumpul di lapangan untuk sambutan dan lain-lain.
Aku yang bersebelahan dengan Harry menggulum senyum saat ingat apa yang dia ucapkan untuk menyemangatiku.
Ya, akan kubawakan Ahmad piala itu!
"Har..," panggilku.
"Hem..."
Kusodorkan telapak tanganku.
"Hi-5."
Dibalasnya Hi-5 ku.
"Makasih ya semangatnya," ucapku tulus.
"Sama-sama," jawabnya sambil tersenyum.
Pantesan aja cewek-cewek ngantri, Har. Senyummu itu mengalihkan duniaku. Haha..
Lebih dari dua jam kami berkutat dengan soal-soal yang membuat kening berkerut.
Masa iya, nama ilmiah dari Filum Mollusca juga keluar semua sih. Ditanyain Spesies nya satu-satu lagi.
__ADS_1
Ah..siapa peduli. Hajaaaarrr!!
Akhirnya kami keluar dari ruangan masing-masing.
Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Kenapa nyengir?" tanya Harry.
"Gapapa," jawabku. "Soalnya lumayan. Kamu diisi semua?" tanyaku.
"Iyalah, pantang ada jawaban kosong."
"Sama," kataku sambil ber Hi-5 lagi.
"Jangan-jangan minus nilai kita. Sok-sokan banget ya kita diisi semua," kata Harry.
"Ah, biarin. Yang penting udah maksimal," kataku ganti menyemangati. Padahal hatiku sendiri tidak yakin.
Akhirnya kami berbaur dengan anak-anak dari sekolah lain yang wajah-wajahnya familiar untuk kami. Ya, meskipun kami tidak saling kenal, dengan seringnya kami bertemu di berbagai perlombaan, membuat kami semua berteman.
Setelah menunggu begitu lama akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Pengumuman pemenang!
Setelah sepatah dan dua patah kata, akhirnya panitia membacakan hasil perlombaan ini.
"Dan.. posisi ketiga diraih oleh.. Rizaldy Jauharry dari SMA X!" teriak MC di atas panggung.
Kutepuk bahu Harry.
"Good job," kataku.
Dia hanya tersenyum kecil dan berlari kearah MC yang memanggilnya untuk naik ke panggung.
"Dan.. posisi kedua diraih oleh.. Rinjani Azzahra dari SMA X juga.. wah hebat!!" teriak MC nya lagi.
Akupun melangkah menaiki panggung yang lebih dulu dinaiki Harry.
"Not bad," bisiknya.
Meskipun kecewa, setidaknya ada piala yang dibawa pulang untuk Ahmad. Ups.. ralat untuk sekolah juga.
"Selamat anak-anak, kalian hebat," puji Bu Hafsah.
"Terima kasih, Bu. Maaf tidak bisa membawa pulang juara 1," kataku.
"Ibu tadi sempat mengecek ke ruang pemeriksaannya. Kalian isi semua soalnya, ya?" tanya Bu Hafsah memastikan.
"Iya, Bu," jawab kami bersamaan.
Bu Hafsah tertawa.
"Dasar kalian, Ibu kan udah bilang kalau penilaiannya plus minus."
"Gatel Bu, kalau ada soal yang kosong," sahut Harry.
"Iya, Bu.. betul," timpalku.
Bu Hafsah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
...
Keberhasilan kami meraih juara 2 dan 3 dalam Olympiade Biologi tidak hanya membuat sekolah senang, teman-teman kami pun senang.
"Asyik nih, traktir.. traktir..," seru Kurnia di depan kelas kami.
__ADS_1
Seruannya disahuti oleh Nina, Ayudya dan Awan.
"Tuh, nanti ditraktir sama Harry," sahutku.
"Kan uang pembinaanmu lebih gede. Licik..," ujar Harry.
"Sorry, uangku udah masuk rekening semua. Susah keluar lagi," sahutku sambil mengibaskan rambut.
"Ri, nanti kalo udah lulus kuliah, aku lamar ya," kata-kata Harry membuat semua orang terdiam. Termasuk aku.
Kami semua saling memandang satu sama lain.
Jantungku berdetak kencang.
"Iya, kayaknya enak punya istri kayak kamu. Bisa cepet kaya aku. Semua uang masuk tabungan," lanjut Harry.
"Huuuu..," kami semua kompak menoyor anak itu.
"Enak aja, lu pikir gue akunting gratisan," seruku sewot.
"Iya maaf, maaf.. becanda," kata Harry sambil melindungi kepalanya dari serangan kami semua.
"Oke.. oke.. Aku traktir bakso di bawah deh," katanya akhirnya.
"Horeee," mereka semua berhamburan keluar. Buru-buru berlari ke kantin agar bisa mendapatkan tempat yang strategis.
Tinggal aku dan Harry yang masih berdiri di depan kelas.
"Dasar mereka itu..," kataku sambil tertawa, "segitunya dijajanin bakso aja. Padahal tiap hari mereka juga beli bakso masing-masing." Aku mengeleng-gelengkan kepala.
"Ya udah yuk," ajak Harry. Dia merangkulku sambil berjalan.
Kami berdua berjalan beriringan. Sesampainya di kantin, aku melihat teman-temanku sudah duduk manis di tempat yang nyaman menunggu pesanannya masing-masing.
Belum sampai ke tempat tujuan, langkahku terhenti.
Harry pun ikut berhenti. Di depanku berdiri Ahmad dan Hendi.
Dia tersenyum kepadaku.
Aku pun membalas senyumnya.
Dia melihat ke arah bahuku yang disana bertengger tangan kanan Harry. Buru-buru kuturunkan tangan itu.
"Selamat ya, buat kalian berdua atas lomba kemarin," katanya.
"Makasih," jawabku sambil menunduk.
Ahmad dan Hendi berusaha melewati kami. Kami memang berjalan bersisian sehingga menghalangi jalan.
Ahmad berlalu dari hadapanku.
"Mad..," panggil Harry.
Ahmad menghentikan langkahnya. Lalu dia menengok.
"Dia berusaha dapetin piala itu buat kamu," katanya tidak disangka-sangka.
Heh..
"Harry," seruku sambil mencubit kecil pinggangnya. "Malu-maluin aja."
"Lho, biar dia tau kamu berjuang buat siapa. Kamu sendiri ga mungkin kan bilang sama dia," katanya seenaknya di depan Ahmad.
Ahmad melihat ke arahku dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"Au ah gelap," seruku sambil beranjak ke arah teman-teman yang sudah mulai menikmati baksonya.
Apa sih maksudnya.