
Minggu pagi.
"Ini apa-apaan?" tanyaku pada segerombolan anak-anak di perempatan lampu merah tempat diadakannya car free day.
"Kami kan mau ikutan," si Imut Ega menyahut.
"Ikutan apaan? Nyatain cinta?" aku tak habis pikir.
"Atau jadi tim hore?"
Hadeuh.. setia kawan sih setia kawan, tapi ga gini-gini juga kale. Sekarang di depanku berdiri 6 cewek dengan wajah memelas sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
"Oh, kamu nyuruh aku kesini buat bantuin ngasuh bocah-bocah ini?" suara yang sangat kukenal terdengar di belakangku.
Aku langsung berbalik. Nyengir.
"Eh, Harry.. ngga.. maksudnya..," aku bingung mau ngasih alasan apa.
"Kenapa ga suruh bapaknya aja yang ngawal," kata Harry lagi.
Maksudnya Kurnia, coz kalau di sekolah anak-anak ini adalah tanggung jawabnya.
Fitri melihat ke arahku. Meminta pertimbangan.
"Kita jalan dulu aja ya," kataku akhirnya.
"Kalian mo jogging, jalan-jalan doang, cari makan atau belanja?" tanya Harry pada anak-anak yang mengikutinya dari belakang.
"Kita mau jalan-jalan sambil liat-liat, kali aja ada barang yang bagus. Boleh kan Kak?" tanya Ema pada Harry.
"Boleh aja," kata Harry, terdengar tidak ikhlas. Matanya menyapuku dari atas ke bawah.
Apa? Ada yang salah? Kaos oblong kegedean, dengan celana jogging, sepatu kets, rambut dikucir kuda yang ditutup topi. Trus apa yang salah?
"Kamu ga lari?" tanya Harry mensejajari langkahku.
"Kalo yang lain jalan masa iya aku lari," sahutku.
"Kamu mo lari?" tanyaku balik.
"Ngga..," jawabnya singkat.
Ini gimana sih. Aku malah jalan sama Harry, dan cewek-cewek tim hore itu malah jalan di belakang kami. Fitri, mana Fitri?
Aku mulai memperlambat langkah, hingga aku dan anak-anak kelas 10 itu berjalan bersama. Sedangkan Harry berjalan agak jauh di depan.
"Kamu gimana sih, udah pepet sana," perintahku pada Fitri.
"Aku harus ngobrolin apa Kak?" tanya Fitri.
"Kirain udah dipikirin dari kemaren," kataku sambil menepuk dahiku.
"Tanya apa aja. Nanya rumahnya dimana, cita-citanya apa, nanti kalo udah lulus mo kuliah dimana. Apa aja, yang penting bikin kalian ngobrol panjang lebar. Cari bahan pembicaraan yang bikin dia harus menjelaskan atau menceritakan sesuatu," kataku.
"Udah gih samperin."
Fitri berjalan cepat menghampiri Harry yang berjalan sendiri. Dia berusaha menanyakan sesuatu. Dan terlihat Harry menjawabnya.
"Hush, diem!" aba-abaku pada 5 cewek yang sekarang berjalan bersamaku.
"Jangan diikutin. Biarin aja mereka ngobrol berdua.."
"Tapi kan kami mau liat, Kak," ujar Teti.
"Iya liatin aja dari jauh."
__ADS_1
"Tapi aman kan, Kak?" tanya Ema.
"Maksudnya?" aku mengernyitkan kening.
"Maksudnya Fitri ga akan diapa-apain kan?"
Aku tertawa terbahak sampai orang-orang yang lewat melirik ke arah kami. Aku segera menutup mulutku. Malu.
"Kakak ih.. malu-maluin," kata Hani.
"Sorry, kelepasan," aku nyengir.
Aku melihat sekeliling. Fitri dan Harry sudah tidak terlihat.
"Insya Allah aman kok," kataku akhirnya. "Seumur Kakak kenal sama dia, belum pernah Kakak liat ataupun denger dia berlaku ga sopan atau kurang ajar. Bahkan.. percaya atau ngga.. ga pernah ada pacarnya yang pernah dipegangin tangannya."
"Masa?" tanya mereka serempak kayak paduan suara.
"He eh.."
"Kakak kayaknya hafal banget semua tentang Kak Harry," kata Teti.
"Iyalah, orang kita tiap hari bareng," kataku sambil melirik barang-barang yang dijual sepanjang jalan ini.
"Trus kenapa Kakak ga jadian aja sama Kak Harry? Kak Harry kan ganteng, pinter, dan yang paling penting Kakak berdua keliatannya udah bener-bener saling memahami," kali ini Dini yang nyeletuk.
Kenapa sih orang-orang selalu bilang gitu. Waktu itu Ahmad, sekarang mereka. Apa aku dan Harry terlihat punya telepati?
"Aduh.. kalian masih bocah ga akan ngerti. Lagian bukannya kalian kesini mau support Fitri, malah kepoin Kakak."
"Ya kali aja Kak," gumam Hani.
"Nah sekarang kalian mo ngapain nih?" tanyaku. Misi dianggap selesai.
"Cari bubur, yuk," ajak Ema.
"Kalian kan udah gede, kalian tau jalan pulang ke rumah masing-masing kan?" tanyaku.
Mereka semua mengangguk.
"Kalo gitu, silakan lakukan yang mau kalian lakukan. Tapi inget, tetep hati-hati. Jangan pulang terlalu siang. Kakak mau lari dulu di jogging track yang disana itu sebelum pulang. Ada yang mau ikut?" ternyata semua menggeleng.
"Kalian tuh ya, urusan ngejodo-jodoin orang, ikut semua. Giliran disuruh lari biar sehat ga ada yang mau ikut."
"Capek Kak," rajuk Ega.
"Ya udah deh, terserah. Eh inget ya, kalo ketemu Fitri sama Kak Harry pura-pura ga liat aja. Mlipir-mlipir kemana gitu," ingatku. "Biarin aja mereka berdua, siapa tau besok kita dapet kabar kalo mereka udah jadian."
"Yeeeey..." semua bersorak.
"Udah ah, Kakak pergi dulu ya. Dan jangan lupa..."
"Hati-hatiiiii."
"Good!!"
Aku mulai berlari dan melambaikan tangan.
Jogging track itu terletak tidak jauh dari area car free day. Setiap minggu pagi aku memang selalu berusaha menyempatkan waktu untuk berlari, sekedar menguatkan otot kaki. Siangnya dilanjutkan dengan latihan karate.
Berlari dua keliling jogging track ini cukup membuatku lelah. Aku duduk di tempat yang disediakan sambil meluruskan kaki dan mengatur nafas.
Hari belum begitu panas tapi keringat sudah bercucuran di dahi dan punggungku.
Kubuka topiku sambil mengibas-ngibaskannya di depan wajah agar angin kecil mau berhembus menghapus butiran keringatku.
__ADS_1
"Aww..," aku berteriak tertahan saat sesuatu yang dingin terasa menempel di dahiku.
Aku mendongak.
Deg!
Wajah Harry terlihat di atas wajahku yang menengadah ke atas.
"Hehe..," aku tertawa, garing.
"Apanya yang 'hehe'?" tanyanya sambil melotot.
Dia berjalan memutar lalu duduk di sampingku.
Disodorkannya botol air mineral dingin yang tadi mengagetkanku itu.
"Ngga mau yang dingin. Nanti aliran darahku melambat," kataku. Tapi tetap aku ambil botol itu.
"Ya diminumnya nanti. Yang dijual semuanya dingin. Itu juga syukur dibeliin," katanya sambil meneguk air mineralnya sendiri.
"Iya makasih," kataku tulus.
"Eh, Har, kamu sendiri? Mana Fitri?" tanyaku begitu aku sadar tidak ada siapa-siapa yang bersamanya.
"Udah aku anterin naik angkot. Aku suruh pulang."
"Lho, gimana sih kamu?"
"Harusnya aku yang nanya, mau kamu gimana? Apa maksudnya ninggalin aku sama Fitri?" tanyanya ketus.
"Aku ga ninggalin. Kalian aja yang kecepetan jalannya. Anak-anak yang barengan sama aku banyak berentinya, liat ini dulu, liat itu dulu. Eh tau-tau kalian udah ga keliatan," bohongku.
Wah, jangan-jangan Fitri ga memanfaatkan kesempatan dengan baik nih. Jangan-jangan dia cuma ngobrol ngalor-ngidul trus lupa maksudnya apa kita kesini. Kacau.
"Kamu sengaja ya, mau jodoin aku sama dia?" tanya Harry pelan.
"Heh?"
"Ga usah boong, dia udah bilang."
"Bilang apa?" aku belaga pilon.
"Bilang kalo dia suka sama aku, trus minta tolong sama kamu biar dia punya waktu buat nyatain ke aku."
Ambyaaaar.
Fitri.. Fitri.. kamu ko polos banget sih, Nak..
Habislah aku.
Aku menunduk.
"Ga usah macem-macem," bisiknya tepat di telingaku.
Aku merinding. Apaan sih ngomong gitu. Pake ngancem lagi. Geli tau. Hiii..
Dia langsung berdiri.
Diulurkannya tangannya padaku.
"Ayo cepetan. Aku anter pulang. Kamu kan ada latihan jam 10," katanya.
Aku menatapnya sebentar. Ga ada tanda dia marah. Kusambut uluran tangannya. Dia menarikku sampai berdiri.
"Sorry.. ," kataku.
__ADS_1