
"Karena aku akan menikah dengan orang lain," akhirnya kalimat itu keluar dari bibirku.
Ahmad terlihat terkejut. Namun dia bisa langsung menguasai keadaan.
"Kamu bohong, kan? Kamu bilang gitu karena kamu udah bosen dengan semua pernyataanku 'kan?"
"Ya ampun, Mad. Aku nggak bohong, aku serius. Gimana caranya biar kamu percaya?" tanyaku dengan wajah memelas.
"Apa persahabatan kita nggak cukup buat kamu?"
Ahmad melepaskan kacamatanya, mengelapnya sebentar lalu memakainya lagi. Kebiasaannya ketika dia nervous. Diteruskannya melahap spaghetti di piringnya tanpa kata.
Aku hanya bisa menarik napas dan membuangnya pelahan. Aku siap bila setelah ini aku kehilangan seorang sahabatku lagi.
Sampai makan siang ini usai, tak ada kata diantara kami.
"Aku nggak tau harus ngomong apa sama kamu, Ri. Sepertinya aku memang terobsesi sama kamu. Maaf kalau selama ini aku udah bikin kamu ngerasa nggak nyaman," katanya setelah kami selesai makan.
Aku tersenyum.
"Kamu adalah salah satu sahabat terbaikku, Mad. Mungkin hubungan kita memang harus kayak gini. Tapi asal kamu tau, kamu adalah salah satu laki-laki yang pernah mengisi hatiku. Tapi sayangnya, itu dulu. Meskipun begitu, aku sangat menghargai semua yang udah pernah kamu lakuin buat aku," kataku jujur.
"Makasih," dia berusaha tersenyum. "Well, abis ini kamu mau balik lagi ke rumah sakit?"
"Iya, aku mau balik lagi ke rumah sakit. Sebenernya sih, aku jaga malem. Cuma, yah, karena aku di rumah juga sendiri, mending di rumah sakit aja banyak temen," jawabku.
"Mudah-mudahan semua kerjaanmu lancar ya, Ri," katanya dengan mata teduhnya.
"Doa yang sama buat kamu, Mad," kataku sambil tersenyum.
"Ya, setidaknya aku punya temen seorang dokter yang siap sedia kalo aku sakit," gumamnya.
"Jangan berdoa biar sakit, dong," kupukul pelan bahunya.
Dia tertawa. Kami berdua beranjak dari tempat kami duduk.
"Kamu balik lagi ke kantor?" tanyaku setelah ada di parkiran.
"Iya," jawabnya.
"Oke deh, ati-ati di jalan, ya. Makasih atas makan siangnya. Lain kali aku yang traktir," aku melambaikan tangan.
"Eh, Ri," dia memanggilku sebelum aku masuk ke dalam mobil. "Kalo aku patah hati, bisa sembuh nggak kalo aku datang ke rumah sakit tempat kamu kerja?"
"Ehmm.. entah, ya. Kalo kamu aku yang tangani, ya nggak akan sembuh. Tapi nggak tau juga kalo dokter atau suster yang nanganinnya tepat."
Dia tertawa. Aku pun ikut tertawa. Setidaknya aku tidak akan kehilangan seorang sahabat lagi dengan cara yang tragis.
...
"Dokter Rin, nggak pulang?" sapa Suster Ana ketika kami bersimpangan di lobby.
"Nggak, Suster. Nggak ada orang di rumah," jawabku. "Lagian enak di sini, banyak temen."
Suster Ana tersenyum, mengerti akan keadaanku.
"Oya, Dok. Tadi ada yang nitip sesuatu buat Dokter. Saya taruh di ruangan Dokter," katanya.
"Nitip apa?"
"Saya nggak tau. Sekardus gitu kok," ujarnya sambil mengangkat bahu.
"Yang nitip siapa?"
"Itu, yang di ruangan VVIP. Pasien yang kemarin baru masuk."
__ADS_1
Aku mengerutkan kening.
"Makasih banyak ya, Sus," kataku padanya.
"Sama-sama Dokter Rin."
Aku mempercepat langkah menuju ruanganku. Aku penasaran, siapa yang mengirimiku barang? Sekardus lagi.
Kubuka pintu ruanganku pelahan dan kuucapkan salam. Benar saja, ada sebuah kardus berselotip di mejaku. Kuambil gunting, dan kubuka segelnya.
Mataku langsung membulat kala melihat isinya. Dua buah boneka, beruang dan kelinci, sebuah bantal berbentuk kepala hello kitty, novel Harry Potter jilid tujuh dan delapan, sebuah flashdisc, beberapa lembar fotoku, dan.. sebuah snowball. Aku tahu siapa pengirimnya!
Semua ini milikmu.
Dan akan tetap menjadi milikmu.
Sebuah kertas dengan tulisan tangan yang sangat kukenal, berada di dasar kardus. Aku menarik napas panjang dan beristigfar. Kenapa hatiku masih terasa sakit melihat semua barang ini? Ini semua hanya bagian dari masa lalu.
Kunyalakan laptopku. Dan kuambil flashdisc dari dalam kardus. Aku ingin tahu apa isinya. Ternyata file-file lagu. Ku klik sebuah judul lagu, dan seketika ruanganku dipenuhi suara musik yang sangat aku kenal.
Lihat aku di sini
kau lukai hati dan perasaan ini
tapi entah mengapa
aku bisa memberikan maaf padamu
mungkin karena cinta
padamu tulus dari dasar hatiku
mungkin karena aku
berharap kau dapat mengerti cintaku
Lihat aku di sini
hingga air mataku
tak dapat menetes dan habis terurai
mungkin karena cinta
padamu tulus dari dasar hatiku
mungkin karena aku
berharap kau dapat mengerti cintaku
Meski kau terus sakiti aku
cinta ini akan selalu memaafkan
dan aku percaya nanti engkau
mengerti bila cintaku takkan mati
Bertahan- Rama
Aku segera mematikan lagu itu. Segera kuambil selembar tissue dari atas meja. Aku tak ingin ada yang melihatku menangis.
Pikiranku kembali ke kejadian tadi pagi saat aku bertabrakan dengannya. Dia begitu terkejut melihatku. Dan matanya.. matanya menyiratkan begitu banyak kepedihan. Kepedihan yang dalam.
Kuambil selembar foto. Di dalamnya terlihat empat orang remaja yang sedang bergurau. Tiga orang lelaki dan seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah aku. Dengan jaket jeans hitam dan rambut yang dikuncir tinggi. Kami sedang menertawakan seorang lelaki yang jatuh dari kursinya.
__ADS_1
Aku tersenyum. Masa-masa SMA yang indah.
Kuambil sebuah foto lagi. Foto sepasang remaja yang sedang bergaya ala mata-mata, lengkap dengan kacamata hitam dan jari telunjuk dan jempol yang ditegakkan sebagai pistolnya. Konyol sekali.
Tok tok tok!
Aku segera memasukkan kardus itu ke bawah meja. Dan kucabut flashdisc itu dari laptopku.
"Silakan masuk!" teriakku.
Dari pintu muncullah wajah Dokter Elang, dokter bedah yang juga bekerja di rumah sakit ini.
"Nggak pulang?" tanyanya.
"Nggak," jawabku.
"Kalo gitu bisa dong temenin aku ke kantin?" dia mengedipkan sebelah matanya.
Aku tertawa melihat kelakuannya. Jika hanya berdua, begini kami. Lain lagi bila sedang bertugas, kami akan bersikap formal.
"Tentu!" aku segera berdiri dan mengambil dompet dari dalam tas.
"Nggak usah bawa duit, kayak ke siapa aja," ujarnya.
"Sepertinya hari ini aku beruntung. Tadi abis ditraktir makan, sekarang dibayarin juga." Aku berjalan keluar dari ruangan.
"Ya udah kalo gitu, kamu aja yang bayarin makan siangku hari ini," katanya sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
"Yeee, nggak bisa dong. Pabalik letah," seruku.
"Nggak, nggak, aku banyak duit kok. Tenang aja," katanya menyombongkan diri.
"Eh, tadi pagi ada yang lucu, tau. Ada pasien yang nanyain kamu mulu. Kirain nanyanya ke aku doang, ternyata ke dokter lain juga iya. Ke suster-suster yang jaga juga."
"Nanyain aku? Kenapa?" keningku berkerut.
"Katanya yang nolongin dia tuh calon mantunya."
"Hah? Gimana, gimana, aku nggak paham."
"Iya, Ibu Pasien ini nanyain ke aku, Dokter Rinjani lagi dimana, lagi apa, gitu. Trus dia bilang, kamu yang nyelametin dia tadi malam. Nah, si Ibu ini manggil kamu calon mantu," jelas Dokter Elang pelan-pelan.
"Calon mantu?" aku berusaha mengingat sesuatu.
"Iya, dan beliau ini nanya gitu nggak ke aku aja, tapi juga ke dokter lain yang visit ke kamarnya. Juga ke suster-suster yang jaga."
"Ibu ini, Ibu yang di UGD tadi malem, ya? Yang kena serangan jantung?"
"Iya, Ibu yang itu. Ibu itu nggak apa-apa kok. Tadi pagi udah aku CT Scan," ujar Dokter El.
Aku menggigit bibir bawahku. Menutupi kegugupan.
"Mau makan apa?" tanya Dokter El membuyarkan lamunanku.
"Tadi udah makan. Minum aja," jawabku.
"Jus alpukat, kan?" tebaknya.
Aku mengangguk.
Dokter El memesan semangkuk soto ayam untuk dirinya sendiri dan segelas jus alpukat untukku.
Tak banyak yang kami bicarakan setelah itu. Hanya obrolan ringan bersama beberapa dokter dan tenaga medis lainnya yang kebetulan sedang makan siang di kantin.
"Dokter Rinjani, bisakah kita bicara sebentar?" tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakangku.
__ADS_1
...
Special for you Aldekha Depe 😘😘😘