DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Mak Comblang


__ADS_3

"Drama banget sih hidupnya," celotehku ketika melihat Harry menggendong seorang siswi di lantai bawah.


Biasanya kalau ada siswa atau siswi yang pingsan, akan dibawa oleh guru atau anak PMR, seperti Kurnia, ke UKS.


Jadi kalau ada yang pingsan dan Harry yang membawanya ke UKS itu berarti orang tersebut ada hubungannya dengan dia.


"Siapa yang lagi piket di UKS?" tanyaku pada Ayudya, sahabatku yang sedang berdiri di sampingku. Hari ini dia berbaik hati menengokku ke lantai dua gara-gara insiden bola basket kemarin.


"Mayang, kalo ga salah," jawabnya tidak yakin.


Aku menepuk dahi. Mana dia tahu, kan dia bukan anak PMR.


"Tapi siapa pun yang jaga, kalo dia ga sanggup nanganinnya paling nanti dia kesini atau ke IPS 3 cari Nina," lanjut Ayudya.


Aku mengangguk.


"Yang tadi itu Santi ya?" tanya Ayudya sambil bersandar ke pagar tembok di depan kelasku.


"Kenapa dia? Syok liat pacarnya berduaan sama cewek lain?" aku terkekeh.


Santi adalah pacar Harry saat ini. Tapi kami, teman-teman Harry tidak suka pada gadis itu. Anaknya sombong dan ga bisa berbaur.


"Minggu kemaren Wiwi nungguin di bawah pohon sambil ujan-ujanan. Endingnya putus. Minggu kemarennya lagi pipinya dicakar sama Reni gara-gara jealous liat dia ngajarin matematika anak kelas 10. Sebelumnya lagi ada anak kelas 11 nangis-nangis di depan mushalla sambil narik-narik tangannya. Jadi tontonan satu sekolahan. Eh kemaren banget ada dua anak kelas 10 nitip salam buat dia. Harry.. Harry.. apanya sih yang istimewa dari dia?" aku terheran-heran sendiri pada sahabatku itu.


Gara-gara kasus dengan Gita kemarin, akhirnya aku mencari tahu riwayat percintaan si Playboy itu selama beberapa waktu belakangan.


"Dia emang istimewa kok," kata Ayudya dengan mata tetap menatap ke lantai bawah.


"Hah???" aku berharap salah dengar. Memang Ayudya pernah sekelas dengan Harry di kelas 10 dan 11. Tapi apa sedalam itu?


Aku menoleh melihat wajah Ayudya yang terlihat datar.


"Jangan bilang kalo kamu..," aku tidak meneruskan kalimatku.


"Iya, aku suka sama dia," akunya.


Jantungku berdetak kencang. Sahabatku saling menyukai satu sama lain?


Dia melirikku sesaat lalu menerawang lagi jauh kesana. Seolah tidak pernah ada kata-kata penting yang terucap darinya.


Aku mengunci mulutku, berusaha tidak mengeluarkan sepatah katapun yang dapat menyinggung perasaannya.


"Bahkan aku pernah nyatain cinta sama dia," lanjutnya setelah jeda agak lama.


Oh My God, ga mungkin.


"Tapi setau aku kalian blom pernah pacaran, kan? Atau kalian backstreet?" suatu hal yang mustahil mereka bisa menyembunyikan hubungannya dari kami.


"Emang ngga, dia nolak aku."


Aku menahan nafas.


"Tau kenapa dia nolak aku?" tanyanya.


Aku menggeleng.


Suatu ketidakmungkinan seorang Harry menolak cewek secantik dan sekalem Ayudya, apalagi mereka juga sudah kenal baik satu sama lain.


"Dia bilang, lebih baik kita temenan aja. Kalo kita pacaran pasti persahabatan kita ga akan pernah kayak gini lagi. Dia macarin cewek-cewek itu cuma sekedar kasian. Atau cuma sekedar nyenengin mereka aja. Itu pun dilimit, paling lama dua minggu. Udah pasti diputusin. Malah kadang ada yang cuma dua hari. Kalo ke temen sendiri dia ga mau main-main, katanya," cerita Ayudya panjang lebar.


"Aku bahkan pernah memohon diberi kesempatan yang sama seperti cewek-cewek itu. Tapi dia tetap teguh pada pendiriannya. Jadi memang lebih baik begini. Meskipun dia tau perasaanku, kita tetap berteman baik. Tetep bisa ketawa bareng-bareng, tetep bisa ejek-ejekkan."


"Ehm.. kamu ga sakit hati dia gonta-ganti pacar? Maksudku, kita semua kan teman, tiap hari bareng-bareng. Kamu ga jealous?" tanyaku hati-hati.


"Ngga, kan dia bilang semuanya cuma main-main. Ga ada yang serius. Cewek-cewek itu yang ngejar-ngejar dia. Bukan dia yang ngejar-ngejar cewek-cewek itu. Kecuali ada cewek yang bisa bikin dia nyatain cinta, mungkin aku akan jealous."

__ADS_1


Lagi-lagi aku teringat Fitri. Kalaupun aku memintanya langsung pada Harry, apa mungkin dia mau mengabulkannya.


Kupeluk sahabatku itu. Dia hanya tersenyum simpul. Harry.. Harry.. betapa beruntungnya kamu.


...


Entah kenapa aku betah sekali di tempat ini. Ya, sanggar PMR. Padahal aku juga anggota di sanggar karate, theater dan cinema. Tapi ini jadi tempat ternyaman setelah rumah.


"Kak.. gimana soal yang waktu itu kita obrolin?" tanya Fitri.


"Yang mana?" tanyaku sambil menggulung tali karamantel yang kusut.


"Yang itu..."


"Yang mana?"


"Tentang Kak Harry..," katanya pelan.


"Ngomongnya yang kenceng aja kale, kan kita juga udah tau," sahut Ema.


Kulihat Fitri menunduk. Malu.


"Emang ngga ada option lain, Fit?" tanyaku.


"Ngga, Kak..."


"Kakak kasih tau ya, Kak Harry ga akan mau pacaran sama orang yang deket sama dia," kataku pelahan.


"Kenapa?" tanya Teti. Dia yang sedang membereskan kotak obat ikutan bersuara.


"Karena kalo sampe jadian trus hubungannya ga berjalan mulus, pasti persahabatannya rusak. Dia ga mau itu."


Teti dan Ema ber-oh bersama. Tapi Fitri tetap diam.


"Jadi gimana? Masih mau lanjut?" tanyaku lagi, berharap dia mundur.


"Maju terus, Kak," jawabnya mantap.


Aku menghela nafas panjang.


"Kalo ditolak jangan nangis ya," ingatku.


"Ya udah, Kakak tanya Kak Harry dulu kapan mau mutusin pacarnya yang sekarang."


Sudah jelas Fitri lebih baik daripada Santi.


"Makasih Kak Riri," Fitri langsung memelukku disertai sorakan dari teman-temannya.


Kuambil gawaiku. Kuketikkan beberapa kalimat untuk Harry.


[Har.. kapan deadlinenya Santi]


Send.


[Kenapa emang? Mo ngelamar aku?]


Cepat sekali balasannya.


[Iya]


Kubalas lagi.


Anak-anak yang lain ikut berkerumun melihatku menjadi Mak Comblang.


[Aku putusin detik ini juga kalo kamu mau jadi pacarku]

__ADS_1


Huekkk. Sama temen sendiri aja masih bisa ngegombal dia.


[Ogah aku pacaran sama kamu. Rugi. Kamu cowok second]


[Sembarangan, gini-gini aku masih original tau]


[Bodo.. jadi kapan deadlinenya?]


[Udah tadi pagi]


Oo.. pantesan Santi pingsan. Gara-gara diputusin ternyata. Ampun.. ni orang.


"Dia single sekarang..," kataku pada Fitri. "Free."


Anak-anak lain tertawa. Kemudian mereka berkicau menyemangati Fitri.


"Bisa ga kita janjian pas car free day?" pinta Fitri.


[Har, besok minggu kita ke car free day yuk] lanjutku lagi.


[Hari minggu bukannya kamu ada latihan karate?]


[Iya, tapi kan jam 10. Kita ke car free day pagi-pagi lah. Kayak kalo kita mo lari. Jam setengah enaman ya] kuketik yang dibisikkan Fitri.


[Kamu yakin Ri? Kamu sehat kan?]


Yaelah, dipikirnya aku hilang ingatan apa.


[Iya lah aku sehat. Emang kamu pikir aku kenapa?]


[Kamu dimana sekarang?]


Wah, sepertinya dia mencurigai sesuatu.


Kugantungkan pertanyaannya.


Tiba-tiba gawaiku menyanyikan lagu I Have A Dream- Westlife. Kulihat panggilan video dari Harry.


Anak-anak yang ada di dalam sanggar buru-buru berhamburan keluar. Termasuk Fitri. Mereka begitu kompak, termasuk dalam kekonyolan seperti ini.


"Apa?" tanyaku sebiasa mungkin. Kulihat wajahnya di layarku.


"Kamu dimana?" tanyanya.


"Di sanggar," kataku sambil mengelilingkan kamera depan. "Kenapa gitu?"


"Kamu gegar otak gara-gara aku lempar bola kemaren?" tanyanya menyebalkan.


Kudengar anak-anak cekikikan tertahan di luar.


"Apaan sih."


"Tumben kamu minta ke car free day."


"Udah jawab aja, bisa ga?" desakku.


"Iya.. iya.. bisa.. Mau aku jemput?"


"Ngga, ga usah. Kita janjian aja di perempatan lampu merah ya," kataku.


"Oke."


"Ya udah yah. Thank you. Bye." kumatikan sambungan videonya.


"Yess!!" teriak anak-anak berbarengan.

__ADS_1


"Awas kalo ga ada traktirannya," ancamku.


__ADS_2