DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Akhirnya..


__ADS_3

Aku pasrah. Menunggu tubuhku membentur lantai. Benar saja, aku merasakan punggungku membentur sesuatu yang keras.


Tapi kenapa tidak ada suara berdebum menandakan tubuhku sudah terhempas di bawah papan panjat ini?


Beberapa detik aku masih terdiam.


Tubuhku masih terasa kaku, tidak bisa digerakkan.


Ko, aku penasaran ya..


Mau buka mata, takut ternyata udah ada di dunia lain.


Kucoba membuka mataku sedikit.


Sedikit lagi.. Sedikit lagi..


Dan ketika mataku terbuka penuh, yang kulihat adalah.. wajah Pak Zein yang menggulum senyum, menahan tawa.


Dan tanpa aba-aba tawa itu terdengar sangat jelas di telingaku. Terdengar mengejek. Kututup kedua telingaku dengan tangan.


"Bapak kenapa sih? Ngetawain aku ya?" tuduhku.


Pak Zein masih tertawa terpingkal-pingkal.


"Aduh, Ri.. Bapak nggak kuat liat ekspresi kamu..," Pak Zein belum juga menghentikan tawanya.


Aku merasa tubuhku berguncang. Dan sedetik kemudian diturunkannya aku ke lantai.


Ya Tuhan, ternyata Pak Zein menangkapku! Pantas saja tadi aku merasa tubuhku membentur sesuatu, mungkin tangan atau dada Pak Zein!


Aku langsung berusaha duduk. Pak Zein juga duduk di sampingku. Berusaha mengontrol tawanya. Harry yang baru turun segera berlari ke arahku.


Pletak!!


"Aww!" teriakku.


"Sakit, Har!!" kuusap kepalaku yang dijitak oleh Harry.


"Kamu gila? Kamu mau mati?" teriaknya membuat hatiku ciut.


"Aku nggak sengaja..," cicitku, "maaf."


Tanpa diduga dia menarik kepalaku ke dadanya.


Kudengar detak jantungnya yang berdetak kencang. Juga tarikan nafasnya yang tidak teratur.


"Maaf Har," ulangku.


Sepertinya dia baru menyadari apa yang baru dia lakukan. Buru-buru dilepaskannya pelukannya.


Pak Zein melihat ke arahku dengan pandangan tidak suka.


Mas Rangga, Ardi dan teman-temannya segera merapat.


"Maaf, Mas... Maaf, Ar.. aku nggak sengaja," sesalku sepenuh hati.


Gara-gara kejadian ini bisa-bisa anak PA dilarang latihan panjat dinding lagi.


"Aku akan tanggung jawab. Aku akan bilang sendiri sama Pak Rifat kalau ini kesalahanku," aku terus menunduk. Malu dan menyesal.


Pak Rifat, Wakil Kepala Sekolah adalah Guru Pembina organisasi ini.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Ri?" tanya Ardi.


"Nggak pa pa, Ar."


Aku menoleh pada Pak Zein yang masih duduk di sampingku.


"Makasih ya Pak, kalo nggak ada Bapak nggak tau deh nasib saya..," kataku.


Pak Zein mengacak rambutku yang memang sudah acak-acakan.


"Nggak pa pa. Bapak cuma kebetulan lewat," ujarnya sambil tersenyum.


"Tapi lain kali kamu harus lebih hati-hati. Kan Bapak nggak selalu ada di samping kamu buat jagain kamu," kata-katanya sukses membuatku sesak nafas.


"Iya, Pak. Maaf, sudah merepotkan," kataku sambil menunduk.


Tiba-tiba dari arah belakang kerumunan muncul wajah khawatir Kurnia. Disusul oleh Ahmad.


"Kamu kenapa, Ri? Katanya kamu jatuh? Kamu nggak pa pa?" berondong si Om.

__ADS_1


Dia menarik tanganku sampai aku berdiri.


"Ada yang luka? Ada yang patah?" dia terus bertanya.


"Nggak, Kur.. aku baik-baik aja," jawabku.


"Alhamdulillah.. Aku kaget banget. Kata Ahmad kamu jatuh dari wall climbing," kata Kurnia sambil mengelus dada.


"Ko kamu bisa jatuh?" tanyanya lagi.


"Iya, kenapa tadi kamu tarik talinya? Kamu kepleset?" sambung Mas Rangga.


"Iya, Mas. Tadi aku kepleset trus kaget jadi aku tarik tali karmantelnya," kataku berbohong.


Aku melihat Harry membuang muka sambil menggumamkan sesuatu.


Ahmad masih diam di belakang Kurnia.


Pak Zein berdiri.


"Ya udah ya, Ri. Bapak pulang. Kamu hati-hati, jangan ceroboh," kata Pak Zein sambil berdiri dan menepuk-nepuk kemejanya yang kusut.


"Yuk Ardi, Rangga, Kurnia, Ahmad, semuanya.. Bapak pamit ya. Jangan dimarahin Ririnya. Dia masih kaget."


Ya ampun, Pak. Bapak masih baik aja, padahal udah aku tolak.


"Mas, maaf ya," kata Kurnia. "Nggak apa-apa ini?" sambungnya.


"Iya, ngga apa-apa kok Kur. Bener kata Pak Zein, Riri pasti masih kaget. Bawa ke sanggar gih," kata Mas Rangga.


"Iya, Mas, makasih. Ar, makasih ya," kata Kurnia sambil memegang lenganku.


Ardi menepuk bahu Kurnia.


Kurnia membawaku pergi. Disusul oleh Harry dan Oka.


"Kamu beneran nggak apa-apa, Ri?" Oka membolak-balikkan tubuhku sesampainya kami di sanggar.


"Nggak apa-apa, Ka.. beneran..," entah harus berapa kali aku mengatakannya.


Sepertinya anak-anak lain tidak mengetahui apa yang terjadi barusan.


Harry masih tidak mau melihatku. Sepertinya dia kesal sekali.


"Ya udah, asal kamu baik-baik aja," kata Kurnia sambil menepuk bahuku.


"Kamu sama Harry ada Remaja Masjid kan? Udah sana gih," kataku.


"Aku sama Oka biar latihan disini."


"Ya udah. Yuk Har..," ajak Kurnia.


Oka terus bercerita, berusaha membuatku melupakan yang baru saja terjadi.


Satu per satu anak-anak kelas 10 dan 11 mulai berdatangan.


Kami mulai mengobrol dan bercanda tak tentu arah.


Kutinggalkan saja mereka mengobrol di sanggar.


Aku berjalan ke arah tangga dan duduk di salah satu anak tangganya.


Kusumpal telingaku dengar earphone.


Mulai mendengarkan lagu-lagu anime favoritku.


"Kak..," seseorang menepuk bahuku pelan.


Kutarik sebelah earphoneku dan berbalik.


Fitri berdiri di depanku dan tersenyum.


"Hi Fit.." sapaku.


"Lagi apa, Kak?" dia ikut duduk di sampingku.


"Nungguin kamu," ujarku.


"Kenapa? Apa aku terlambat?" tanyanya.


"Nggak, masih lama," kataku sambil melihat ke arah pergelangan tanganku.

__ADS_1


"Ada apa ya, Kak?" dia terlihat takut.


"Kakak mau minta tolong, kamu jangan ceritain misi kita yang kemarin ini sama Kak Kurnia ya..," kataku.


"Maksud Kakak?"


"Itu lho, yang kamu minta tolong Kakak buat nyomblangin kamu sama Kak Harry," kuingatkan dia.


"Jangan cerita tentang itu ataupun kejadian kita ke car free day ya."


Dia masih terlihat bingung.


"Udah deh, nanti kamu juga faham ko," kataku.


Kak Tiar, pelatih kami sudah datang.


Kami mulai berlatih setelah berdoa.


Hari ini temanya Tandu Darurat.


Oka dengan senang hati memberikan contoh berpasangan dengan Nina.


Kurnia datang bersama Harry setelah latihan berjalan beberapa menit.


Kurnia segera bergabung sedangkan Harry menunggu di pinggir lapangan.


"Oke, semuanya istirahat dulu 15 menit ya!" seru Kak Tiar setelah hampir satu setengah jam kami berkutat dengan tali karmantel dan bambu.


"Iya, Kak..," semuanya menjawab kompak.


"Fit, temenin Kakak cari minum, yuk," ajakku pada Fitri sebelum dia pergi dengan Ema dan Teti.


"Barengan yuk, Ka," usul Teti.


"Teti pergi sama Ema aja ya," sahutku sambil mengedipkan mata.


Teti melihatku dengan bingung.


Tapi akhirnya dia faham maksudku.


Teti menarik tangan Ema dengan cepat.


Dalam sekejap anak-anak sudah tidak terlihat di lapangan.


"Mau ke kantin, Ka?" tanya Fitri.


"Nggak, kita disini aja ya Fit," kutuntun dia ke tepi lapangan.


"Kamu bawa minum?"


"Bawa, Kak," dikeluarkannya sebuah botol berwarna pink dari dalam tas yang dia letakkan di bawah ring basket.


Kurnia melihatku dan Fitri dari jauh. Dia bersama Harry.


Melihatku duduk di pinggir lapangan, Kurnia mendekatiku.


"Ri.. ," panggilnya ketika dia tepat di depanku.


Aku berdiri. Fitri ikut berdiri.


"Udah, duduk aja. Kakak nggak akan kemana-mana kok," kataku santai.


"Waktunya cuma 12 menit. Syukur-syukur bisa kurang dari itu. Nggak pake lama. Langsung eksekusi. Aku nggak akan bantuin ngomong," bisikku pada Kurnia.


Kurnia mendekati Fitri. Dia duduk di samping Fitri yang juga sudah duduk di tempatnya semula.


Fitri melirikku dengan tatapan yang.. entahlah.


"Kan Kakak udah bilang ada yang mau nyatain perasaannya sama kamu. Ya.. inilah dia," aku menunjuk ke arah Kurnia.


"Oke.. Jangan khawatir, Kakak tetap disini," kataku pada Fitri yang wajahnya sudah seperti udang rebus.


"Good luck, Om," kutepuk bahunya. Ternyata wajahnya pun tidak terlalu jauh berbeda dengan wajah Fitri.


Kutahan tawaku dan berjalan menjauhi mereka. Aku duduk membelakangi dua sejoli yang sama absurdnya.


Menyumpal telingaku dengan earphone agar tak mendengar apapun yang mereka bicarakan.


Kulihat Harry juga melakukan hal yang sama denganku, berjarak beberapa meter dariku.


Sepertinya diapun mengkhawatirkan sahabat kami itu.

__ADS_1


Aku tersenyum sendiri membayangkan apa yang dilakukan Kurnia di belakangku.


__ADS_2