
Aku masih berdiri kaku. Jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya. Entah karena Ahmad memelukku atau karena melihat Harry yang melihatku dengan tatapan ingin menelanku bulat-bulat.
Aku menunggu. Menunggu Ahmad melepaskan pelukannya, juga menunggu reaksi Harry yang masih berdiri di belakang Ahmad.
Perempuan itu menarik Harry sekuat tenaga agar tidak menghampiri kami. Sedangkan Ahmad masih juga tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Dia malah makin mengeratkan pelukannya.
Gita berhasil menyeret Harry dengan susah payah agar mau masuk ke dalam kelas. Begitu Harry sudah tak terlihat, aku buru-buru mendorong tubuh Ahmad agar tak lagi memelukku.
"Sorry, aku bener-bener nggak sadar," kata Ahmad langsung mundur.
Aku menepuk bahunya.
"Aku ngerti ko."
Dan bel pun berbunyi. Membuat siswa yang masih di lantai bawah berlarian melewati tangga. Kurnia salah satunya.
"Ayo masuk," ajaknya.
"Nanti aku tunggu ya pulangnya," ujar Ahmad sebelum masuk ke kelasnya.
"Dia kenapa?" tanya Kurnia.
Aku angkat bahu.
"Jangan memperkeruh suasana, Ri," ingat si Om.
"Iya."
Kami pun berjalan beriringan masuk ke dalam kelas.
...
Harry sudah tidak duduk di samping Kurnia. Dia memilih bertukar bangku dengan Zeni yang duduk di belakang Gita. Sudah bisa kutebak.
Masih ada bekas memar di wajahnya bekas pukulan Kurnia kemarin. Dia pasti sangat marah padaku dan Kurnia. Ditambah seisi kelas yang berbisik-bisik membicarakan kejadian kemarin, membuat hawa di kelas ini semakin panas. Tapi aku sudah tidak peduli.
Hatiku sudah teramat sakit karena Harry, jadi tidak akan ada yang bisa membuatnya lebih sakit.
Waktu istirahat sudah tiba, aku malas untuk beranjak dari bangkuku.
"Ri, mo ke kantin?" tanya Saras yang duduk di sampingku.
"Nggak ah, masih kenyang," jawabku malas. "Kamu aja gih, aku di sini aja."
"Ya udah deh, aku turun yah."
Saras segera berlari ke kantin. Dia paling tidak bisa menahan lapar. Meskipun demikian, dia adalah teman yang baik dan tidak pernah mau mencampuri urusan orang lain.
Aku masih menyalin contoh soal dari papan tulis, ketika Gita dengan sengaja berdiri menutupi papan tulis.
Aku diam tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Dan dia pun dengan tidak tahu diri tetap berdiri di sana berpura-pura meneliti sesuatu.
Berhari-hari tidak bisa tidur, dengan hati yang begitu perih karena merasa dikhianati benar-benar membuatku hilang kesabaran. Kuambil buku kimia di depanku dan kulempar ke arah perempuan tidak tahu malu itu.
__ADS_1
"Aw!"
Tepat sasaran.
"Heh! Lu nggak punya otak ya, diem di situ?!" teriakku sarkas.
Gita menoleh dengan tatapan kesal. Kubalas dengan tatapan tajam. Jika ini terjadi dalam komik maka tatapan kami akan bertemu di tengah dan mengeluarkan percikan listrik.
"Minggir!" teriakku lagi.
Seolah-olah tuli, Gita masih saja berlenggak-lenggok di depan papan tulis menghalangi pandanganku.
Cari mati rupanya perempuan berotak kosong ini. Blom kapok juga waktu itu hampir gue cekik.
Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut kelas. Hanya ada lima orang di kelas ini. Jihan dan Nana yang sedang membaca majalah remaja, Deni yang sedang memainkan ponselnya, Dewi yang sedang mengerjakan soal dan Harry yang sedang mencatat sesuatu. Oh, rupanya Gita berani berulah karena ada Harry di meja nomor dua dari belakang yang sedang memperhatikan kami.
Ternyata dia suruhanmu, hah? Kita lihat, apa yang akan kamu lakukan kalo aku lempar perempuan itu keluar dari jendela!
Aku langsung berdiri dan mendekati Gita dengan langkah lebar. Tanpa ragu kutarik kerah seragamnya dan langsung kudorong tubuh kecil itu ke jendela yang terbuka. Jendela itu cukup tinggi, tapi bukan tidak mungkin aku mengangkat perempuan itu dan melemparnya keluar. Dan dia menyadari itu.
Jihan dan Nana berteriak histeris. Sedangkan Deni dan Harry langsung berdiri dan mendekat ke arah kami.
"Punya nyawa berapa lu, berani macem-macem sama gue? Gue udah peringatkan sebelumnya, jangan nyenggol gue!" teriakku tepat di depan wajahnya.
Wajahnya langsung pucat. Sepertinya dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini.
"Punya nyawa cadangan 'kan lu? Nih, gue bantuin ngilangin satu," langsung kutarik kerahnya dengan kedua tangan dan mengangkat tubuhnya yang tidak seberapa berat itu.
"Riri, jangan!" teriak Dewi.
"Harry! Tolong!" jeritnya ketakutan.
Detik berikutnya aku merasa ada tangan-tangan yang menarik tubuhku ke belakang dan mengakibatkan peganganku pada Gita terlepas, membuatnya jatuh berdebum di lantai.
Aku sudah gelap mata. Aku bersiap untuk membanting orang yang masih memegang lenganku dengan kuat. Tapi sebelum aku melakukannya, tangan itu sudah maju lebih dulu dan mendekapku erat dari belakang. Aku jatuh terduduk.
Wangi parfum yang sangat kukenal menggelitik hidungku. Memberitahu siapa orang yang sedang mendekapku ini.
Jihan, Nana dan Deni sudah membantu Gita untuk berdiri dan merapikan seragamnya.
Dan sekarang disinilah aku, ruangan yang tidak asing bagiku. Ruang Kesiswaan, kantor Pak Rifat, Wakasek Kesiswaan. Apabila biasanya aku duduk di sini atas prestasiku, sekarang aku duduk di sini atas tuduhan bullying. Memalukan sekali.
Pak Rifat masih menatapku tajam sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja. Ruangan ini penuh sesak, tapi tak ada sedikit pun suara kecuali suara ketukan jari Pak Rifat.
"Bapak benar-benar tidak habis pikir, Ri. Mana mungkin kamu bisa melakukan hal seperti ini?" tanya Pak Rifat pelan tetapi penuh penekanan.
"Kamu mau pamer kalau kamu jago beladiri, gitu?"
Aku masih diam dan menunduk. Aku sama sekali tidak ada keinginan untuk menyangkal ataupun membela diri.
"Kalian sekolah cuma tinggal besok. Lusa kalian sudah mulai UAS lalu disusul UN. Sekarang kalian bikin masalah, kalian tidak takut saya skors sampai kalian tidak bisa ikut ujian?"
Aku masih terdiam, tidak terpikir sedikit pun ke arah sana. Aku terbawa emosi.
__ADS_1
"Jadi siapa yang mau memberitahu saya kronologi kejadiannya?"
Tidak ada yang menyahuti pertanyaan Pak Rifat.
"Kalian berdua ada di kelas kan waktu kejadian?" tanya Pak Rifat pada Jihan dan Nana.
"Iya, Pak. Tapi kami tidak tahu awalnya, karena kami sedang membaca majalah. Kami mulai menengok ketika Rinjani meneriakkan sesuatu pada Gita," ujar Nana.
"Rinjani meneriakkan apa?"
"Saya kurang dengar, Pak. Tapi kayaknya Gita disuruh minggir karena menghalangi papan tulis," sambung Jihan.
"Tapi Gita malah pura-pura nggak denger, Pak dan terus bolak-balik menghalangi papan tulis," Dewi ikut menyambung.
"Cuma masalah itu aja? Memangnya kamu tidak bisa menahan emosi dan ngomong baik-baik, Ri?" sahut Pak Rifat.
"Maaf, Pak. Saya sedang sakit kepala karena sudah beberapa hari ini tidak tidur. Jadi emosi saya tidak terkontrol." Aku mulai buka suara.
Pak Rifat menatap tajam Harry yang berdiri di belakangku. Sepertinya beliau tahu pangkal masalahnya.
Gita masih tidak berani melihat ke arah Pak Rifat. Dia hanya memainkan ujung kakinya di lantai, membuat pola-pola lingkaran.
"Lalu kamu Gita, kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu sengaja ya membuat Rinjani marah?" tebak Pak Rifat.
"Saya.. ehm.. saya..," gagapnya tak jelas.
"Apa?"
Perempuan itu malah menggigiti ujung kukunya yang panjang, tanpa berkata apa pun.
"Ya sudah, kembali ke kelas!" perintah Pak Rifat.
"Iya, Pak, terima kasih." Aku segera berdiri dan berlalu, tanpa menunggu yang lain keluar lebih dulu.
Begitu aku membuka pintu, di luar sudah berjejalan teman-temanku dan siswa lain yang menungguku keluar.
"Kalian pada ngapain di sini?" aku bengong.
"Kamu nggak pa pa, Ri?" Nina si Gadis Lemah Lembut itu langsung menggenggam tanganku.
"Kamu ngapain sih pake ngelakuin begituan?" kali ini si Om yang marah.
"Kamu baik-baik aja 'kan, Ri?" Ahmad tak kalah khawatir.
"Udah, udah, nggak usah lebay," kataku berusaha tersenyum.
"Kakak!" Fitri langsung memelukku disusul Ema, Teti dan Dini.
"Ya ampun, kalian kenapa sih pada melow gini?" tanyaku sambil mengusap kepala adik-adik kelasku ini.
"Kami khawatir sama Kakak," kata Teti sambil terisak.
"Kakak nggak pa pa, kok. Cuma...."
__ADS_1
Plak!
Aku reflek menengok ke arah sumber suara. Di depan pintu, Nina terlihat penuh emosi menatap Harry. Nina menampar Harry di depan umum!