DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Tragedi di lapangan basket


__ADS_3

Hampir semua orang tahu kalau mau mencariku cari saja di kelas atau perpustakaan.


Seperti hari ini, beberapa orang adik kelas yang duduk di kelas 10 sedang memintaku menjelaskan soal matematika yang tidak mereka mengerti. Dan aku berusaha menjelaskannya serinci mungkin hingga mereka mengangguk pertanda mengerti.


Mereka adalah anak-anak anggota PMR, yang akupun masuk di dalamnya.


Tapi tiba-tiba, Ema, salah satu anak kelas 10, memberitahu teman-temannya bahwa ada anak-anak kelas 12 yang sedang bertanding basket.


"Fit, Kak Harry lagi main basket," serunya.


Fitri melihat ke arahku.


"Ayo Kak, kita liat," bujuk Fitri berusaha menarik tanganku ke arah lapangan basket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perpustakaan.


"Paling yang pada iseng, mana ada yang tanding pas istirahat," selorohku tak peduli.


"Biarin iseng juga, yang penting yang mainnya Kak Harry," katanya.


Lho, kenapa juga ni anak. Jangan-jangan dia kecantol juga sama Harry..


Karena tidak hanya Fitri yang menarikku, akhirnya aku menyeret kakiku dengan terpaksa ke arah lapangan.


Dan benar saja, disana sudah penuh dengan anak-anak dari kelas 10 sampai kelas 12 yang menonton Harry dan teman-temannya bermain basket.


"Kenapa sih kalian suka nontonin Harry sama temen-temennya main basket?" tanyaku pada Fitri dan teman-temannya.


"Abisnya mereka ganteng-ganteng sih, Kak," jawab Teti.


"Ganteng? Siapa?" tanyaku aneh.


"Kak Harry lah," jawab Fitri.


"Kak Januar juga," kata Teti.


"Semua anak-anak basket keren-keren, Kak," jawab Ema diplomatis. "Tu temen-temen sekelas kami aja pada berdiri paling depan."


Kami berusaha maju agar bisa melihat mereka lebih dekat. Cewek-cewek berteriak histeris memberikan semangat. Wah kayaknya bakal tambah banyak anggota fansclubnya si Harry.


Bisa ditebak, melihat banyaknya teriakan untuknya Harry tebar pesona. Itu salah satu yang aku tidak suka dari sahabatku itu.


"Kak.. Kak.. tolong dong jodoin aku sama Kak Harry," tak disangka Fitri berbisik di dekat telingaku. "Kakak kan deket sama Kak Harry."


"Hah? Ngga.. ngga akan, aku ga akan comblangin kamu sama dia," kataku tegas.


"Aku udah lama banget suka sama Kak Harry, Kak, please.."


"Kamu ga tau dia kayak gimana," kataku.


"Aku tau, Kak Harry kan sering banget main ke sanggar sama Kak Kurnia," jelas Fitri.


Oh ya, Kurnia sama Harry kan soulmate. Dimana ada Kurnia, biasanya disitu ada Harry. Ya, meskipun ada beberapa waktu dimana mereka terpisahkan karena berbeda ekskul.

__ADS_1


Kurnia adalah komandan PMR, otomatis dia sering banget diem di sanggar. Dan seperti biasa Harry menempel padanya. Sepertinya Fitri sering liat Harry di sanggar deh sampai dia segitu ngebetnya pengen dijodoin sama Harry. Fitri kan anak PMR juga.


"Percaya deh, kamu cuma bakal sakit hati kalo kamu sama dia," kataku agak keras. Lapangan masih sangat riuh. Apalagi barusan Harry melemparkan triple point.


"Karena Kak Harry playboy?" tanya Fitri lagi.


"Itu tau. Kakak aja yang kenal dia sejak pertama masuk sekolah ga tau berapa banyak mantannya di sekolah ini. Apalagi yang diluar."


"Tapi dia baik banget, Kak. Ramah lagi," sepertinya Fitri benar-benar sudah terbius pesona Harry.


Dia dan teman-temannya di PMR memang sering berinteraksi dengannya.


"Iya, itu karena dia liat kamu sebagai adik. Lagian kamu masih kecil udah mau pacaran aja," aku mulai bergerak melewati anak-anak lain yang masih berkerumun disisi lapangan. "Udah ah, pada balik ke kelas sana, udah mo abis istirahatnya."


"Tapi Kak..."


"Ri..!!" seseorang berteriak.


Aku menghentikan usahaku menerobos kumpulan cewek-cewek yang masih betah disitu.


"Ri, sini turun!" teriak orang itu lagi.


Aku menoleh.


Harry berjalan kearahku.


"Ayo main sebentar. Udah lama ga main sama kamu," ditariknya tanganku tanpa minta persetujuan.


"Bentaran doang. Ayolah..," rajuknya.


"Cowok semua itu," teriakku.


"Emang kamu cewek?" sindirnya sambil nyengir.


"Kurang aja," makiku. "Awas lo yah!"


Aku turun ke lapangan. Doni keluar, dia mempersilakan aku main.


Cuma iseng, ya cuma iseng. Aku ikut berlari kesana kemari. Cemoohan cewek-cewek yang tadi begitu histeris mendukung Harry, tidak kupedulikan. Sudah biasa.


Dan.. hup.. kulempar bola itu ke dalam keranjang. Masuk! Teriakan terdengar lagi, disusul tepuk tangan dari seisi lapangan.


Harry dan Ardi memberikan toss.


Kulihat Fitri bertepuk tangan sambil berteriak menyemangati. Wajahnya berbinar. Tentu bukan karena aku, tapi karena cowok di sampingku.


Tim lawan memegang bola. Rendy mulai melempar bola ke arah Nanda. Nanda mendrible, Ardi dengan sigap membayangi. Nanda berlari tapi Ardi berhasil merebut bola. Bola langsung dioper kepada Harry yang berada di depannya. Harry segera mendrible. Jaraknya tidak terlalu jauh dari ring. Aku berlari mengikuti. Toh sudah biasa, rok ini tidak pernah menggangguku ataupun membatasi ruang gerakku.


Harry shooting, tapi ah.. menabrak papan. Bola mental tapi dia masih bisa menangkapnya. Seno berusaha memotong. Harry berputar, masih menahan bola di tangannya. Aku melambai.


"Lempar!" teriakku.

__ADS_1


Aku berada di sisi sebelah kanan, lebih dekat ke ring. Meski posisinya kurang strategis aku cukup yakin bisa menembak dari samping.


Harry terlihat masih berkelit dari tangan Seno yang berusaha meraih bola.


"Ri, tangkap!!" Harry berteriak.


Aku sudah siap. Tapi tiba-tiba, suasana terasa slowmotion bagiku. Tepat di belakang Harry, berdiri sosok yang selalu membuat diriku tersenyum sendiri. Berdiri di pinggir lapangan dengan tangan terlipat di dada. Rambutnya yang ikal tertiup angin. Dan.. dia tersenyum padaku. Manis. Sangat manis. Aku tak berkedip.


Dan..


Bugg!!


Bola basket itu mendarat dengan telak di wajahku. Aku masih sadar ketika Fitri dan Ema berteriak memanggil namaku. Pun melihat wajah kaget Harry yang langsung berlari ke arahku.


Tapi itu tak lama. Tiba-tiba sekelilingku jadi gelap. Aku merasa tubuhku roboh di lapangan. Aku masih mendengar mereka memanggil namaku dan menggoyang-goyangkan tubuhku. Dan kemudian.. hilang..


...


Aku mencium bau kayu putih tepat di hidungku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku berusaha membuka mataku. Terlihat Nina, sahabatku sedang memegang sebotol minyak kayu putih. Dia tersenyum.


"Udah sadar, Ri?" tanyanya perlahan.


"Ko aku udah sampe sini aja, Nin?" tanyaku sambil berusaha duduk.


Ini ruangan UKS. Aku sangat familiar dengan ruangan ini. Karena setidaknya seminggu dua kali aku piket disini. Belum termasuk kalau tiba-tiba ada anak yang sakit dan perlu pengobatan.


Dan hari ini jadwal Nina piket disini.


Samar-samar aku jadi ingat kejadian tadi.


Aku melihat Ahmad yang berdiri di belakang Harry. Dia tersenyum. Lalu.. aduh malu sekali aku mengingatnya. Rasanya wajahku jadi panas.


"Kamu gapapa?" tanya Nina lagi. Sepertinya dia melihat perubahan wajahku.


"Gapapa," jawabku. Cuma kepalaku sakit. Hidungku juga. Aku meraba hidungku. Dan..


"Aaww!!" aku berteriak sangat kencang.


Sepertinya bola itu mengenai wajahku dengan telak.


"Nin, idungku patah ya?" tanyaku ragu. Kupegang hidungku yang sudah ditempeli plester tepat di tengah. Ko berasa jadi Hyosoka ya, salah satu tokoh anime favoritku dalam serial HunterXHunter.


Nina tertawa kecil. Dia memang menggemaskan. Udah tau aku sedang panik, malah ketawa. Ingin kucubit pipi putihnya itu.


"Kamu pegang aja sendiri, patah ngga. Kan kamu tau yang patah tulang gimana," jawabnya santai.


Aku yakin seratus persen kalau anak ini bisa jadi suster suatu saat nanti. Kalem, lemah lembut, ga kayak aku.


Kupegang hidungku pelahan. Oh.. masih utuh. Paling tambah pesek sedikit. Terima kasih ya Allah.


Tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka. Disana berdiri seorang lelaki dengan wajah pucat..

__ADS_1


__ADS_2