
Aku duduk di bangku basement. Kutarik nafas dalam-dalam. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku nggak mungkin kembali ke kelas sekarang.
Harry yang mengirimiku pesan-pesan itu?
Untuk apa? Kubuka kunci layar handphoneku.
Kubaca lagi pesan-pesan itu.
Apa ini sebuah pernyataan cinta?
Harry? Buat aku?
Ini seperti sebuah ketidakmungkinan.
Kami bahkan lebih dekat daripada seorang pacar. Kami bisa berbagi cerita apapun. Bisa becanda sehancur-hancurnya. Bisa saling memaki tanpa disensor. Bisa saling meminjamkan bahu untuk bersandar. Bahkan kami bisa dengan tidak tahu malunya berduet dengan suara kami yang cempreng. Apalagi yang dia inginkan?
Bel berbunyi. Mau tidak mau aku harus kembali ke kelas. Harry dan Kurnia sudah duduk di bangkunya masing-masing ketika aku masuk. Dan betapa beruntungnya aku, ketika Bu Neni memberikan begitu banyak tugas yang membuat kami sibuk sendiri. Bahkan sampai bel pulang sekolah terdengar, kami masih mengerjakan tugas yang tiada habisnya.
"Ri, nanti sore aku ke rumah kamu, ya," kata Dewi. "Banyak banget yang aku nggak faham."
"Iya, dateng aja," kataku sambil tersenyum.
Aku senang dengan perubahan Dewi. Dia jarang terlihat pulang bersama Gita dan teman-teman lainnya. Dia juga jadi sering main ke rumahku untuk belajar bersama.
Begitu Bu Neni mengucap salam dan keluar dari kelas, aku langsung membuntutinya keluar.
...
"Kata Kurnia, kamu ada disini," ujar Harry di depan pintu sanggar PMR.
Si Om gimana sih tuh, pake bilang-bilang.
Ya, tentu saja Kurnia tahu aku ada di sanggar, karena dia menyuruhku membuat kuis untuk diklat lusa.
Aku yang sedang menulis, menghentikan aktifitasku sebentar.
"Ada perlu?" aku yang masih kesal tidak mempersilakan dia untuk masuk.
"Aku mau minta maaf..," ujar Harry lirih.
"Kak Riri, Ega keluar dulu ya," adik kelasku yang sedang membereskan obat-obatan langsung mengerti bahwa Harry mau bicara serius denganku.
"Jangan, Ga. Kalo cuma kami berdua, nanti yang ketiganya setan..," kataku tak mau ditinggalkan.
"Ish, Kakak nih..," Ega keluar sambil mengangguk pada Harry.
"Aku nggak tahu kalo kamu beneran marah soal pesan-pesan itu," dia mengawali pembicaraan kami ini.
"Aku nggak bermaksud mempermainkan kamu dengan itu. Aku serius." katanya sambil menatap intens padaku.
"Serius buat apa? Ngancurin persahabatan kita?" kataku sambil berkacak pinggang di depan pintu.
"Aku serius, Ri. Aku bener-bener suka sama kamu. Dari dulu."
"Har, dengerin ya.. Kamu tau kan, aku beda sama cewek-cewek kamu itu. Kamu tau pasti aku kayak gimana. Aku nggak akan ngorbanin persahabatan kita dengan.. ah.. sudahlah..," panas rasanya dadaku.
"Sebegitu tidak pantaskah aku buat kamu, Ri?" tanyanya.
Aku menghela nafas.
"Kamu sempurna, Har. Nggak ada yang kurang dari kamu. Kamu ganteng, pinter, anak shaleh, baik hati, setia kawan. Nggak ada yang kurang. Yang kurang cuma rasa yang aku punya buat kamu."
"Apa ini karena bukan aku yang kamu suka?" tanyanya dengan raut wajah yang menyedihkan.
__ADS_1
"Apaan sih?" seruku.
"Kamu ngomong gini karena yang kamu harapkan nyatain cinta itu bukan aku. Kamu maunya Ahmad kan yang bilang gini?" ada getaran di suaranya. Aku tahu dia sedang menahan emosi.
"Jangan bawa-bawa dia dalam masalah ini," aku nggak suka dia menyebut nama itu seolah menjadi alasan untukku menolaknya.
"Jelas dia disebut. Aku tau, kamu waktu itu nekat loncat karena liat dia sama Gita, kan?"
Tuh kan aku udah menyangka, dia pasti liat itu. Dia kan cuma beda beberapa pin point dari aku.
"Aku udah minta sama kamu, tolong lupain dia. Dia nggak pantes buat kamu," dia memohon.
"Trus yang pantes buat aku siapa? Kamu?" aku tertawa mengejek.
"Please, Ri..," tiba-tiba dia menjatuhkan diri, berlutut di depanku. "Lupain dia..."
"Eh, jangan gini. Aku nggak suka. Bangun!" perintahku. Untung tidak ada orang disini. Kalau ada pasti kami jadi tontonan.
"Aku nggak akan bangun sebelum kamu nerima aku," katanya keras kepala.
Disambarnya tangan kananku. Digenggamnya erat di dadanya.
"Harry!! Apa-apaan sih!" Hampir 3 tahun berteman, tidak pernah sekalipun dia berani menyentuhku dengan alasan seperti ini.
"Aku nggak akan lepasin sampai kamu bilang 'iya'," ancamnya.
Kutarik tanganku paksa. Benar saja, dia memilih tubuhnya terhuyung tanpa melepaskan tanganku.
"Har, jangan keras kepala!" teriakku.
"Kamu tau kita sama-sama keras kepala," katanya.
"Jadi kamu maunya gimana, Har?" tanyaku pasrah. Tentu saja aku tahu betapa kepala batunya kami. Kalau salah satu tidak mengalah, nggak akan pernah ada kata selesai.
"Tolong, lihatlah ke arahku saja. Hanya padaku. Dan lupakan dia," matanya menatapku penuh kesungguhan.
"Kamu tau kalo setelah ini hubungan kita pasti terasa berbeda. Dengan aku menerima kamu ataupun menolak kamu, pasti persahabatan ini nggak akan pernah sama."
Dia menunduk. Masih dengan menggenggam tanganku.
"Aku siap. Apapun jawabanmu, aku akan berusaha nggak mengubah sikapku sama kamu."
"Bukankah kamu nggak pernah mau pacaran dengan orang yang dekat sama kamu? Kamu sendiri yang bilang gitu kan?" tanyaku dengan suara datar.
"Ya. Tapi sekarang aku merasa seandainya aku tetap diam, aku akan kehilangan kamu dan nggak akan ada kesempatan lagi."
"Maksud kamu?" tanyaku tidak mengerti.
"Sejak aku tau kamu mulai memperhatikan Ahmad, aku udah nggak tenang. Apalagi melihat kamu kemaren melakukan hal bodoh gara-gara dia, aku benar-benar nggak bisa berfikir. Tadinya aku pikir kamu nggak akan pernah tertarik pada cowok manapun di sekolah ini. Hingga suatu saat aku akan memantaskan diri untuk mendapatkanmu. Tapi dengan keadaan seperti ini dan kemungkinan yang ada, aku benar-benar bisa kehilangan kamu," kata-katanya membuatku tercenung.
"Apa kamu pikir aku akan bilang ke dia kalo aku suka, trus kamu pikir dia nggak mungkin menolakku, gitu?" aku mengambil kesimpulan.
"Ya..," jawabnya singkat.
"Ya ampun, Har.. Apa kamu pikir aku sebodoh itu, setelah apa yang aku liat di atas sana?" aku menepuk dahiku dengan tangan kiri. Dia belum melepas tangan kananku.
Aku menghela nafas panjang.
"Aku nggak akan menjatuhkan harga diriku buat hal seperti itu. Kamu tau kan, buat aku perempuan itu..."
"Untuk dipilih, bukan memilih," jawabnya lancar.
"Dan sekarang aku memilihmu Rinjani Azzahra. Maukah kamu menjadi pacarku?"
__ADS_1
Aku merasakan telapak tanganku dingin dan berkeringat di genggaman tangannya. Memoriku dengannya, sejak hari pertama bertemu sampai detik ini berdatangan bergantian. Tawa kami, senyum kami, kebahagiaan saat bersama, saat-saat menyebalkan, kekonyolan yang tak pernah habis.. Apa aku akan kehilangan semua itu saat aku katakan 'tidak'?
Kulihat lelaki yang masih berlutut di depanku. Dia selalu menatap langsung pada lawan bicaranya. Dan sekarang, dia sedang menatapku. Ada harap di matanya. Sanggupkah aku memupuskan harap itu dan menggantinya dengan kekecewaan?
"Ri..," panggilnya membuyarkan lamunanku.
"Tanyakan sekali lagi, Har," pintaku.
Dia menarik nafas.
"Rinjani Azzahra, maukah kamu menjadi pacarku?" tanyanya lagi.
"Ya, Rizaldy Jauharry, aku mau," jawabku akhirnya.
Matanya membulat seakan tak percaya aku akan menjawabnya seperti itu.
"Makasih, Ri.. makasih.. Aku janji, aku bakal lakuin apapun buat kamu. Asal itu bisa bikin kamu bahagia," katanya bersungguh-sungguh.
Aku merasa mataku memanas dan ada selaput tipis disana yang memburamkan penglihatanku.
"Iya.. iya.. udah, berdiri. Aku ga mau ada orang lain yang liat," kataku sambil menarik tanganku dan segera menghapus air mata yang nekat keluar dari tempatnya dengan punggung tangan.
Dia berdiri di depanku dengan senyum yang lebar dan mata berbinar.
Semoga keputusanku tidak salah.
Kami berdua jadi salah tingkah. Bingung mau berkata apa.
"Udah sana, gih. Aku masih ngerjain kuis," usirku.
"Tapi beneran kan, kamu nerima aku?" tanyanya memastikan.
"Iya."
"Aku takut ini cuma mimpi," katanya konyol.
"Mau aku bantu cubit?" tanyaku sambil mengangkat tangan bersiap mencubit lengannya.
"Nggak, nggak usah. Biarin aja. Seandainya pun ini cuma mimpi, aku nggak pengen bangun lagi," katanya sambil menangkap tanganku yang hendak mencubitnya.
"Kamu mau ngegombalin aku?" tanyaku kesal.
"Nggak, siapa yang gombal? Aku serius sama omongan aku," katanya.
"Udah.. sana.. sana.. tar aku nggak beres-beres lagi. Mana aku ada janji sama Dewi buat belajar bersama," omelku.
"Aku tunggu ya, aku anter pulang," katanya.
"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri."
"Kita belajar bersama."
"Nggak usah, kamu udah pinter," aku berdecak. Mulai kumat lagi nih nyebelinnya.
"Pokoknya aku tunggu di depan," katanya sambil mengecup tanganku yang masih dia pegang.
"Harry.. jijik ih!" teriakku.
Harry udah berlari menjauh.
"Jangan lama-lama ya, Sayang!" teriaknya lagi.
Iiiihh.. kalo masih disini, benjol tu anak.
__ADS_1
Aku berbalik dan duduk lagi di depan meja. Menulis lagi soal-soal kuis untuk lusa.
Tapi entah kenapa senyum ini nggak mau pergi dari bibirku.