DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Pernyataan diluar dugaan


__ADS_3

Aku masih marah pada Harry.


Dia seenaknya mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan.


Istirahat kedua ini aku langsung berlari ke perpustakaan. Ga pengen liat orang yang menyebalkan itu.


Perpustakaan kosong, seperti biasa.


Hanya Pak Asep yang senantiasa setia duduk di mejanya. Sambil sesekali memeriksa buku-buku dan mencocokannya dengan data yang ada padanya.


"Pak Asep.. ," panggilku.


"Apa, Ri?" jawabnya.


"Kalo Harry nyariin aku bilang aja ga ada ya," pintaku.


"Kenapa?" tanyanya kepo.


"Lagi kesel aja sama dia," jawabku.


"Dari dulu juga kalian begitu," katanya.


Lha itu Bapak tahu.


"Ya Pak, ya..."


"Iya..," katanya akhirnya.


"Makasih."


Aku berjalan kesisi lain ruangan ini. Sisi yang tidak terlihat dari arah pintu masuk. Dan mulai membaca.


Tak berapa lama terdengar suara pintu perpustakaan terbuka lalu tertutup lagi.


Terdengar suara Pak Asep mengobrol dengan seseorang. Harry kah? Lalu terdengar suara pintu terbuka dan tertutup lagi.


Tak ada suara. Berarti bukan dia.


Aku kembali membaca.


Teman-temanku jarang pergi ke perpustakaan karena menurut mereka tempat ini menyeramkan.


Tapi selama lebih dari 2 tahun aku diam disini, tak ada yang aneh dengan tempat ini.


Wajar kalau tempat ini terasa lembab dan berbau kurang sedap.


Ruangan ini kurang mendapat cahaya matahari.


"Lho, ada kamu, Ri," sebuah suara terdengar dari barisan rak yang menyekat ruangan ini.


Aku menengok ke arah sumber suara.


"Eh, Bapak.. Saya juga ga tau kalo ada Bapak," jawabku sambil tersenyum.


Pak Zein guru Matematika kelas 10. Dulu aku pun diajari Matematika olehnya ketika awal masuk SMA.


"Lagi apa?" tanyanya.


"Ya lagi baca dong, Pak. Masa iya saya lagi masak disini," jawabku.


Pak Zein tertawa. Dia berjalan ke arahku dan duduk tepat di depanku, terhalang meja.


"Baca apa?" tanyanya.


Aku memperlihatkan buku yang kubaca. Sebuah novel trilogi berjudul Sepatu Dahlan.


Beliau mengangguk-angguk.


Pak Zein adalah salah satu guru kesayanganku. Selain Pak Kardi, guru Fisika dan Pak Iwa, guru Bahasa Inggris.


"Bapak lagi apa di perpus?" tanyaku.


"Tadi disuruh Kep Sek buat manggil Pak Asep. Kirain ga ada orang. Lagian Pak Asep juga ga bilang kalo ada orang," katanya.


Aku hanya tersenyum.

__ADS_1


"Oya, selamat ya atas lombanya kemarin," katanya. "Kamu mau hadiah apa?"


Selain beliau mengajar dengan cara yang mudah dipahami, beliau juga baik dan perhatian. Bahkan untuk moment tertentu, beliau tak segan untuk memberikan hadiah. Tak hanya untukku tapi juga untuk anak berprestasi lainnya.


"Ngga usah, Pak. Makasih," jawabku.


"Gapapa bilang aja. Mau coklat?" tawarnya. Dia tau apa kesukaanku.


"Jangan Pak. Serius. Ga usah repot-repot," aku benar-benar tidak mau menyusahkannya.


"Em.. Ri.. Kemarin sama Harry lagi ya?" tanyanya mengingatkanku pada makhluk menyebalkan itu.


"Iya, Pak."


"Kamu punya hubungan khusus sama dia?"


"Ngga, Pak.. ngga..," sanggahku cepat.


"Oh, syukurlah," gumamnya.


Aku mengerutkan kening.


"Kamu punya pacar?" tanyanya lagi.


"Ngga."


"Masa?"


"Suer, Pak," kataku sambil mengangkat dua jariku membentuk huruf V.


"Ada yang kamu suka?"


Aku diam. Masa harus curhat juga sama Pak Zein. Secara Pak Zein juga kenal baik dengan Ahmad.


"Ngga ada?" tanyanya memastikan, karena aku masih tetap diam.


"Gimana kalau Bapak bilang, Bapak suka sama kamu?"


What?


Kututup novel yang kubaca.


"Bapak suka sama kamu, Rinjani. Suka sebagai laki-laki terhadap perempuan. Bukan sebagai guru terhadap muridnya."


Rasanya leherku tercekik. Nafasku hampir berhenti. Dan tak ada suara yang keluar dari mulutku.


Aku ingin lari dan menyembunyikan wajahku yang dengan tidak tahu diri tiba-tiba terasa panas. Dan bisa dipastikan seperti apa wajahku sekarang.


"Bapak becanda ya. Bapak mau nge-prank aku ya," tuduhku padanya.


"Bapak serius, Ri. Kapan Bapak pernah becanda?" wajahnya benar-benar datar. Tak ada senyum jahil disana.


"Bapak pernah ngejailin aku waktu kelas 10 semester pertama. Bapak inget? Aku sampai ngegebrak meja Bapak," aku benar-benar mengingat peristiwa itu.


Peristiwa yang membuatku makin dekat dengan Pak Zein.


...


Hari itu sehabis pelajaran Matematika, Pak Zein memanggilku ke kantor. Karena itu adalah jam istirahat, kantor penuh tidak hanya oleh para guru tapi juga murid yang berkepentingan dengan guru-guru tertentu. Seperti aku saat ini.


"Silakan duduk," kata Pak Zein sambil berjalan ke arah lemarinya.


"Iya Pak, makasih," ucapku sambil menarik kursi di depan mejanya.


Akupun duduk manis disana.


Pak Zein pun duduk berhadapan denganku dibatasi meja.


"Ri, Bapak mau manggil orang tua kamu kesini," kata-kata Pak Zein membuatku terkejut.


Disodorkannya sebuah amplop dengan kop surat berlogo sekolahku. Surat resmi.


"Emangnya ada apa ya Pak?" tanyaku berusaha sesopan mungkin.


"Kamu udah bikin masalah, dan kamu sekarang masih nanya ada apa?" kata-katanya mulai meninggi.

__ADS_1


Aku berusaha mengingat apa yang aku lakukan hingga Pak Zein sampai berkata demikian.


Rasanya aku ngga berantem di area sekolah.


Ngga juga malakin dan ngebully siswa lain.


Nyontek? Lebih ga mungkin.


Jadi apa?


"Maaf Pak, saya bener-bener ga tau salah saya apa," kataku mulai menatapnya menantang.


"Kamu ga tau salah kamu apa? Oh, jadi kamu merasa suci gitu? Ga pernah punya salah?" kata-katanya membuatku meradang.


Kugebrag mejanya dengan kedua tanganku. Aku sontak berdiri.


"Kalau Bapak bisa membuktikan saya bersalah, saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan, Pak! Ga perlu panggil-panggil orang tua saya!" seruku membuat seisi kantor menoleh padaku. Tapi aku tidak peduli.


"Ya ngga bisa begitu, walau bagaimana pun orang tua kamu harus tahu kelakuan kamu di sekolah," kata Pak Zein bersikukuh.


"Apa hak Bapak memanggil orang tua saya? Bapak hanya guru mata pelajaran!" bentakku. Air mataku mulai membasahi pipi. Bukan karena sedih atau takut tapi karena aku marah! Sangat marah!


Rasanya ingin aku melompati meja ini dan menarik kerah kemejanya yang selalu rapi itu.


Tiba-tiba seseorang mengusap bahuku.


Aku menengok ke belakang.


Pak Rifat, wali kelasku di kelas 10-2 tersenyum sambil berusaha menengahi pertengkaran kami.


"Ada apa ini? Kok Pak Zein bikin nangis anak saya," katanya pelahan.


"Ini Pak Rifat..," Pak Zein memperlihatkan amplop yang ada di atas meja. "Saya mau memanggil orang tua Rinjani."


Pak Rifat memperhatikan amplop itu tanpa menyentuhnya. Kemudian beliau tertawa.


"Selamat ya, Ri..," ucapnya sambil menarik tanganku untuk bersalaman.


Aku bingung, tidak mengerti.


"Ini surat undangan untuk orang tua kamu. Untuk penyerahan beasiswa ya Pak Zein?" tanya Pak Rifat tanpa melepas genggaman tangannya.


"Iya, Pak," sahut Pak Zein sambil tertawa.


Aku baru menyadari aku sedang dijahili oleh Pak Zein.


Aku kembali menangis. Kali ini tangis bahagia.


"Ko nangis lagi?" tanya Pak Rifat.


"Makasih, Pak," masih dengan tangis. Kucium tangannya takzim.


Pak Rifat mengelus kepalaku lembut.


Aku mengalihkan pandanganku kepada Pak Zein. Pria itu tertawa sampai lesung pipinya terlihat di kedua pipinya yang putih.


Beliau merentangkan kedua tangannya.


Langsung kutabrak tubuhnya sampai membentur lemari.


Aku teruskan tangisku disana.


"Maaf ya, Pak," ujarku lirih. Antara senang, malu dan gengsi.


Hari itu Pak Zein baru mengetahui kalau aku adalah anak yatim piatu.


Dan membahas tentang orang tua adalah hal yang paling aku hindari.


Beliau memaklumi dan tidak pernah membahasnya lagi.


Sejak saat itu kami jadi dekat.


...


"Tapi kali ini Bapak serius, Ri," katanya.

__ADS_1


"Ngga Pak, ngga bisa. Ini ngga mungkin," tolakku.


"Bapak beneran suka sama kamu. Bukan cuma suka, Bapak mencintai kamu."


__ADS_2