DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Penawaran


__ADS_3

Tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka. Disana berdiri seorang lelaki dengan wajah pucat.


"Ri.. kamu gapapa?" tanya Harry.


"Gapapa gimana? Liat nih mukaku. Enak aja gapapa," sungutku.


"Sorry.. abisnya kamu sih minta dilempar, udah dilempar eh malah bengong," dia terlihat menyesal. Sangat menyesal.


"Kayaknya mulai hari ini sampe minimal 2 minggu kedepan aku pasti jadi bahan ledekan anak-anak satu sekolah," kataku sambil memasang muka sedih.


"Maaf..," ulangnya lagi sambil menunduk.


Kupukul bahunya keras. Dia langsung mendongak.


Aku tertawa keras. Senang liat wajahnya yang ngeselin itu berubah merana.


"Gapapa kali Har," langsung kuganti mimik mukaku. Nyengir.


"Gapapa gimana? Itu muka kamu, idung kamu..," ucapnya, melihat hidungku diplester.


"Dari tadi di kelas dia udah ribet aja tau, Ri. Dia khawatir banget. Takut kamu gegar otak atau amnesia," kudengar suara Kurnia, disusul tawanya seolah mengolok-olok.


Kurnia muncul di depan pintu dengan dua tangan di saku celananya.


"Ko pada kesini? Kan lagi pelajaran," tanyaku heran.


"Pak Nur nya lagi ke kantor, makanya kita bisa kesini sebentar. Kuman satu ini nih, ngajakin mulu kesini. Udah dibilangin kamu gapapa," jawab Kurnia.


"Thanks ya. Tapi serius aku gapapa ko. Jangan jadi pikiran," ucapku serius. Karena walau bagaimana pun aku tahu persis ini salahku, bukan salah Harry. Cuma aku ga mungkin bilang alasan sebenarnya. Mau ditaro dimana mukaku.


"Udah sana gih. Bentar lagi juga aku balik ke kelas," usirku.


"Iya, iya, kami pergi. Cepet balik ke kelas ya," kata Harry.


Aku mengangguk. Mereka berlalu.


"Harry perhatian banget ya sama kamu," Nina bersuara setelah mereka menghilang.


"Sama aja sama ke yang lain. Kalau tadi sih kayaknya dia merasa bersalah karena ngehajar aku pake bola," aku tertawa terbahak. "Padahal bukan salah dia."


"Trus salah siapa?" tanya Nina sambil tersenyum. Hanya dia satu-satunya orang yang tau tentang perasaanku pada Ahmad. Makanya aku kaget ketika Harry tahu tentang masalah ini.


"Jangan-jangan..," dia melirikku dengan pandangan menggoda. "Ada apa-apa ya di lapangan?"


"Ngga ada apa-apa," sergahku segera. "Aku balik ke kelas ya." Aku langsung kabur.


"Ri, kalau butuh obat ambil sendiri di sanggar ya!" aku masih sempat mendengar teriakan Nina saat aku berlari ke arah tangga ke kelasku.


Begitu aku berhasil menaiki tangga kedua, langkahku langsung terhenti. Ahmad baru saja menutup pintu kelasnya. Dan sekarang dia berdiri tepat di depanku.


"Udah baikan, Ri?" tanyanya membuat jantungku berdetak lebih kencang.


"Iya, udah baikan, makasih," aku berusaha tersenyum sewajar mungkin. Masa iya aku mo marah-marah trus nyalahin dia atas apa yang terjadi sama aku.


"Aku balik ke kelas dulu ya," pamitku sambil mengangguk.


"Iya..," diapun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Gimana ini, semakin aku deket sama dia semakin aku ga bisa mengontrol diri. Malu-maluin.


...


"Ri, aku anter pulang ya," tawar Harry.


"Ga usah," kataku sambil membereskan buku-bukuku.


"Gapapa, aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan," dia masih terus mendesakku.


"Har, Ri, dipanggil Pak Rifat tuh," Siska, anak kelas sebelah melongokkan kepalanya ke kelasku yang masih menunggu waktu untuk pulang.


Aku dan Harry saling berpandangan.


"Oke," jawab kami bersamaan.


...


Aku dan Harry berjalan beriringan menuju ke kelas kami. Tinggal beberapa anak yang masih tinggal di kelas, sisanya sudah pulang sejak bel berbunyi.


"Aku anter pulang ya," Harry masih saja bersikukuh dengan tawarannya tadi.


"Ga usah , aku gapapa," entah berapa kali aku harus bilang.


"Mau bareng sama kami?" tawar Dewi, teman sekelasku juga.


"Aku sama temen-temen aku mo jalan-jalan ke mall yang di bawah itu. Rumahmu deket situ kan, Ri?" tanyanya.


"Iya," jawabku.


Aku melihat Gita menyikut Dewi, seolah dia keberatan aku pulang bareng mereka.


Tapi Dewi membisikkan sesuatu padanya sampai akhirnya Gita diam saja.


"Gapapa aku pulang bareng kalian?" tanyaku memastikan.


"Iya, yuk. Kita rame-rame ko. Ada beberapa temen aku yang di kelas IPS juga," katanya sambil tersenyum.


"Tuh kan Har, banyakan. Aku bareng mereka aja ya. Lagian kamu ada Rohis kan?" kataku.


Harry terlihat gamang. Ada raut entah apa yang tidak kumengerti di wajahnya.


Kurnia menepuk bahunya. Sepertinya dia baru datang dari mushalla.


"Ayo!" ajak Kurnia pada Harry.


"Ya udah deh. Ati-ati yah," kata Harry.


"Bye, Ri," Kurnia melambaikan tangan sambil membalikkan badan.


"Enak ya deket sama cowok-cowok keren di sekolah," kata Gita.


Aku hanya tersenyum. Kami menuruni tangga bergantian. Ternyata di depan gerbang sudah ada beberapa anak kelas IPS yang menunggu kami. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pada mereka. Mereka terlihat berbisik satu sama lain. Mereka menatapku dengan pandangan yang membuatku tak nyaman.


Pasti gara-gara kejadian di lapangan tadi, pikirku.


Akhirnya kami berjalan berenam. Kami berjalan bersisian di trotoar. Cewek-cewek di depanku tampak mengobrol dengan suara pelan sambil cekikikan.

__ADS_1


"Ehm.. Riri rumahnya deket mall situ ya," Dewi mencoba memulai pembicaraan. Dewi teman sekelasku. Tapi kami tidak terlalu dekat. Sewajarnya teman sekelas saja.


"Iya," jawabku. "Mau main sekalian, yuk."


"Ngga ah, ga enak. Masa ga janjian tau-tau kami datang ke rumahmu. Kerja kelompok juga bukan. Nanti mamamu marah," tolak Dewi.


"Ngga ko, ngga papa, serius. Lagian aku tinggal sama kakek nenekku. Aku udah ga punya orang tua," jawabku.


"Sorry.. sorry.. aku ga tau," sergahnya segera.


"Gapapa lagi. Nyantai aja. Udah biasa," kataku segera.


"Jadi kamu kalau harus bayar biaya apa-apa, siapa yang bayarin?" tanya Dewi.


"Kalau SPP kan aku udah dapet beasiswa dari sekolah. Kalau bayar apa-apa biasanya paman sama bibiku yang suka gantian bayarin. Kalau uang jajan sama beli buku-buku sih kakak aku yang tiap hari ngasih," jelasku sambil terus berjalan.


"Kalau pengen jalan-jalan atau shopping kayak kita-kita gini?" dia masih terus bertanya.


Aku tertawa.


"Ya, kalau aku masih punya tabungan dari kejuaraan karate atau hadiah dari lomba atau apalah itu, ya aku pergi. Kalau ngga terlalu urgent sih biasanya aku ga pernah main."


"Kamu ga pengen kayak kami?" tanya Dewi hati-hati.


"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.


"Ya kayak kami-kami ini. Jalan-jalan, shopping, main, punya hp bagus, barang bagus..."


"Mana bisa aku kayak gitu. Kan keluarga kita juga masing-masing, mana bisa disamain," kataku sambil menggeleng. Konyol.


"Bisa, kenapa ngga," balas Dewi. "Daripada kamu tiap hari ikutan ekskul ini itu ga menghasilkan, mending kamu ikutan sama kami."


Aku masih mencerna apa yang sedang dia bicarakan.


Untuk kelas 12, ekskul tidak diwajibkan lagi. Kami ikut ekskul hanya untuk mendampingi dan sekedar menyalurkan hobi.


"Pernah kepikiran kerja part time?" tanya Dewi.


"Aku, Kurnia dan Harry pernah kerja part time di restoran siap saji," ceritaku. Tapi memang benar adanya. Kadang aku juga bingung sama mereka. Orang tua mereka memiliki pekerjaan yang bagus. Entah kenapa waktu itu kami punya pikiran yang sama tentang part time.


"Trus ngapain aja kerjanya?" tanyanya.


"Cuci piring sama beres-beres."


Dewi tertawa terbahak-bahak. Keempat temannya yang berjalan di depan kami langsung menoleh ke arah kami.


"Emang kenapa? Ada yang lucu?" tanyaku heran.


"Aku ga percaya kalian lakuin itu," dia masih tertawa meskipun tidak sekeras sebelumnya.


"Ngapain kerja capek-capek kayak gitu. Pasti gajinya juga kecil kan?" matanya sampai berair mentertawakanku.


"Daripada ngelakuin kerjaan konyol gitu, gimana kalau aku tawarin kerjaan lain? Kerjanya gampang, ga lama, waktu bisa kamu sesuaikan sendiri. Ga perlu capek-capek tapi dapet duitnya gede. Kamu bisa beli apapun yang kamu mau. Kalaupun ngga, kamu bisa tabung buat kuliah kamu nanti biar ngga nyusahin keluarga dan saudara-saudaramu. Mau?"


Aku mengernyitkan kening. Mana ada kerja yang begitu. Apalagi dengan status kami yang masih pelajar.


"Kerja apa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


__ADS_2