
Kerja apa yang ga capek, gampang, waktu bisa disesuaikan dan dapet duit banyak?
"Kerja apa?" tanyaku pada Dewi.
"Mau ikutan?" dia malah balik bertanya.
"Tergantung. Kalau jualan atau MLM aku ga punya modal," jawabku jujur. "Main saham pun demikian," lanjutku.
Dia hanya tersenyum.
"Kalau kamu mau tau, ikut aja kami sebentar," katanya.
Ko aku jadi berfikiran yang ngga-ngga ya. Tapi aku berusaha berfikir positif. Siapa tahu benar kata Dewi, aku bisa kerja part time terus nabung buat kuliahku nanti, jadi ngga membebani keluargaku.
Kami berjalan kurang lebih 15 menit sampai ke mall yang dimaksud. Rumahku paling berjarak 200 meter dari sini. Gita dan teman-temannya berhenti di pintu masuk kendaraan bermotor.
"Lho, kok Riri ikut terus? Ga jadi pulang?" tanya Gita.
"Ngga, Riri ikut kita," jawab Dewi.
"Kamu yakin, Wi?" tanya Febi, temannya yang lain, dengan nada khawatir.
Gita menarik tangan Dewi, menjauh dari kami. Dia mengatakan sesuatu dengan mimik marah. Tapi tidak terdengar sampai tempat kami berdiri.
Mereka terlibat percakapan yang sengit. Dan akhirnya Dewi dan Gita mendatangi kami.
"Yuk!!" ajak Gita pada teman-temannya yang lain.
Dewi pun menghampiriku.
"Yuk..," ajaknya juga.
"Ke dalem?" tanyaku.
"Iya..."
Aku berfikir sejenak. Menimbang-nimbang.
"Yuk," akhirnya ku iyakan ajakannya.
Gita dan teman-temannya sudah menghilang dari pandangan.
Dewi terus berjalan menggandeng tanganku.
"Wi, Gita marah ya aku ikut sama kamu?" tanyaku pelan.
"Ah udah biasa. Palingan juga dia ngiri sama kamu," jawab Dewi.
"Ngiri kenapa?" tanyaku.
"Ya semuanya. Kamu pinter, kamu cantik, kamu berprestasi, temen-temenmu juga anak-anak top semua."
__ADS_1
Kenapa mereka selalu berfikir begitu tentangku. Mereka tidak mengenalku dengan baik. Lalu mengapa mereka menjugdeku dengan predikat demikian.
Dewi terlihat membuka layar handphonenya. Mengutak-atik barang tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Kita kesini aja yuk," dia menarik tanganku lagi.
"Wi..," panggilku.
"Ya..."
"Jujur aku kan ga deket sama kamu, kenapa kamu berbaik hati nawarin aku kerja part time?" tanyaku.
"Ga tau ya," dia tertawa kecil, "aku suka aja sama kamu, aku percaya sama kamu. Apalagi barusan kamu bilang udah ga punya orang tua."
"Kamu sendiri?"
"Aku? Ehm.. orang tua aku juga bercerai. Ibu aku ninggalin aku sama Bapakku. Bapakku nikah lagi dan sekarang kami tinggal bersama ibu tiriku itu," Dewi masih memegang tanganku melewati pengunjung lain yang berlalu lalang.
Hatiku terenyuh. Entah kenapa aku jadi iba padanya. Memang aku pun tidak punya orang tua, tapi itu karena mereka meninggal. Sedangkan Dewi, dia masih memiliki keduanya, tapi tidak bisa bersama keduanya.
"Apa ibu tiri kamu baik?" entah kenapa aku bertanya begitu. Dipikiranku yang namanya ibu tiri itu selalu negatif. Padahal banyak ibu tiri yang menyayangi anak tirinya dengan tulus seperti anak kandungnya sendiri. Semoga begitu pun dengan Dewi.
"Apa menurutmu kalau ibu tiriku baik aku bakal pergi main seharian?"
Deg! Ternyata begitu.
Kami berhenti di sebuah karaoke keluarga.
Dewi bertanya pada seseorang disana dan orang itu mengantarkan kami ke sebuah ruangan.
"He eh," jawabnya.
Jujur, aku ga suka ruangan ini, ditambah penerangannya yang remang-remang membuatku sakit kepala.
Dewi terlihat memilih lagu. Aku mau menanyakan tentang penawarannya. Belum sempat aku bertanya, terdengar suara pintu terbuka dari luar. Sinyal bahayaku langsung berbunyi. Dalam posisi duduk aku sudah bersiap siaga.
Dua orang lelaki paruh baya dengan kemeja dan jasnya masuk ke ruangan kami.
"Hai, Wi..," sapa salah satu dari mereka sambil mencium pipi Dewi kanan dan kiri. Begitu pun pria kedua.
"Kamu bawa temen baru?" tanya pria yang berkemeja biru langit.
"Iya, ini temenku, Om," jawab Dewi.
Om? Om nya siapa? Om nya Dewi?
"Cantik juga, tapi keliatan nakal," kata pria dengan kemeja hitam.
Nakal? Siapa? Aku?
Tiba-tiba pria dengan kemeja hitam itu mendekatiku. Tanpa bahasa dia duduk di sampingku dan berusaha merangkulku. Kutepis tangannya dengan keras sampai dia mengumpat.
__ADS_1
Aku sudah reflek berdiri menjauh dari sofa. Menatap mereka bertiga dengan tajam.
"Apa maksudnya ini?" bentak pria berkemeja hitam itu.
"Maaf, Om. Temenku ini baru sekali ini ikut sama aku. Mungkin dia belum faham," suara Dewi terdengar mengiba.
"Wi, siapa mereka?" tanyaku nyaring.
"Mereka yang memberi kita pekerjaan, Ri," jawab Dewi.
"Dari tadi kamu bilang pekerjaan.. pekerjaan.. sebenarnya pekerjaan macam apa ini?" tanyaku tanpa menurunkan volume suaraku.
"Kita cuma nemenin mereka nyanyi, Ri."
Otakku bekerja cepat.
"Ayo Wi, kita keluar dari sini!" seruku sambil berusaha menarik tangan Dewi.
Tapi Dewi malah menahan.
"Ayo!!" teriakku lagi.
"Aku mau disini, Ri," bagai disambar petir Dewi memberi jawaban yang diluar prediksiku.
"Kamu ga mungkin kan disini sama mereka," ujarku tak percaya.
"Kalau kamu mau pergi, pergilah. Kami bisa cari perempuan lain," seru pria berkemeja hitam.
"Ngga Om, aku mau disini nemenin Om," kata-kata Dewi benar-benar tidak masuk ke dalam akalku.
Bagaimana ini, apa aku harus menghajar keduanya dan memaksa Dewi pergi. Tapi Dewi tidak mau pergi. Dan kalau aku membuat kekacauan disini aku bisa kena skors. Aku masih pakai baju seragam dengan logo dan lokasi sekolahku menempel disana.
"Terserah kalo itu mau kamu. Kalo ada apa-apa, telpon aku," kataku sambil menyambar tasku dan segera keluar dari ruangan itu.
Aku beristigfar berulang kali. Entah apa yang aku pikirkan sekarang. Aku bingung. Bagaimana aku harus bersikap. Banyak sekali spekulasi dalam kepalaku. Aku berjalan bergegas diantara pengunjung yang makin padat karena waktu semakin sore.
"Riri.. Rinjani!" sebuah suara memanggilku. Suara yang sangat aku kenal.
Aku berbalik. Dari arah karaoke tadi, Harry dan Kurnia berlari mengejarku.
"Kamu dari mana? Ngapain kesini?" tanya Kurnia dengan tersengal-sengal.
"Kurnia.. Harry.. Kalian ko bisa disini?" tanyaku terkejut.
"Ngga sopan, ditanya malah balik nanya," kata Kurnia. "Tadi Harry cerita kamu pergi sama Gita sama temen-temennya juga. Kami khawatir. Makanya kami kejar kamu kesini," jelas Kurnia.
Ya Allah, aku bersyukur punya temen-temen yang baik dan perhatian kayak mereka. Berasa punya dua kakak cowok yang selalu berusaha melindungiku kapanpun dan dimanapun.
"Dari tadi kan aku udah nahan kamu. Kamu sekarang gimana, baik-baik aja kan?" tanya Harry khawatir.
"Jangan ngobrol disini ya. Kita pulang dulu aja ke rumahku. Kita ngobrol disana. Kayaknya masalah ini ga cuma menyangkut aku doang, tapi bawa-bawa nasib orang lain," kataku.
__ADS_1
Harry dan Kurnia mengangguk bersamaan. Kami bergegas keluar dari mall itu.
Ada apa dengan hari ini? Tadi pagi hidungku hampir patah karena dihajar bola oleh sahabatku sendiri. Sekarang, lebih parah. Aku tidak mau berspekulasi dengan apa yang terjadi. Tapi aku harap Dewi baik-baik saja disana.