DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Hujan


__ADS_3

"Aku butuh penjelasan," kata Harry dengan tatapan dingin.


"Penjelasan buat apa?" tanyaku.


"Ada apa antara kamu sama Pak Zein?" tanyanya dengan nada yang tidak enak didengar.


"Lha, kan kamu tau sendiri aku sama Pak Zein kayak gimana," kataku sambil berjalan keluar.


Nggak mungkin aku cerita tentang apa yang pernah terjadi antara aku sama Pak Zein.


"Kenapa mesti bisik-bisik?" tanyanya sambil berusaha mensejajariku.


"Itu rahasia perempuan," kataku. "Masih kepo?" tatapku galak.


"Aku nggak suka cara kamu ngobrol sama Pak Zein," kata Harry.


Aku menghentikan langkahku.


"Jangan bilang kamu cemburu," kataku langsung menatap wajahnya.


"Emang nggak boleh?" tanyanya.


Aku tertawa.


"Kalo mo jealous, liat-liat dulu orangnya. Masa iya mau jealous sama Pak Zein," kataku.


Harry hanya diam.


Sehabis raport dibagikan, para orang tua dipersilakan langsung pulang. Sedangkan kami, para murid kembali dikumpulkan di kelas untuk pengumuman lainnya.


Aku meneruskan langkahku di bawah pohon-pohon rindang yang menggugurkan daun-daunnya.


Aku setiap hari berangkat dan pulang sekolah melewati jalan ini. Dan bukan sekali dua kali Harry menemaniku menapaki jalan ini. Tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.


"Ri, dua minggu ini mungkin nggak kamu bisa keluar?" tanya Harry.


"Maksudnya?" aku mengernyit.


"Pasti waktu bakal terasa lama banget kalo aku nggak ketemu kamu," kata-kata Harry bikin aku melongo.


Dia nggak salah ngomong?


Aku mengerjap-kerjapkan mataku. Berusaha membuatku tersadar dari keadaan yang kaku ini.


"Hei..," disenggolnya lenganku. "Malah ngelamun."


"Ya, kamu kan tau jadwalku. Paling hari Minggu lari, trus siangnya karate. Lainnya nggak ada kayaknya."


"Tetep aja cuma bisa ketemu hari Minggu," katanya.


"Ya main aja ke rumah," kataku.


"Boleh?" tanyanya sambil menarik tanganku sampai aku berhenti melangkah.


"Kenapa nggak boleh? Lagian kakek sama nenekku udah apal sama kamu," ujarku.


"Ntar endingnya aku diajak main catur lagi sama Kakek, kalo kita diem di rumahmu tapi nggak ngerjain apa-apa."


"Trus maumu gimana?" tanyaku.


"Kalo kita keluar maen, mungkin nggak?"


"Ya izin aja ke Kakek. Kan biasanya juga gitu." kataku acuh sambil terus berjalan. Harry melepaskan tanganku.


"Beda dong, Ri. Kan biasanya aku minta izin buat lomba, nganterin laporan, cari bahan buat kerja kelompok..."

__ADS_1


"Sekarang mau ngajak aku pergi kencan, gitu?" potongku to the point.


"Itu tau," kata Harry senang.


"Ya, udah.. tinggal izin," kataku lagi.


Dia seperti berfikir.


"Kamu nggak usah anter aku pulang, Har. Takut ujan. Gih pulang aja, mumpung blom jauh," kataku sambil mendongak ke arah langit.


"Nggak, pokoknya aku anter pulang. Mulai besok kan udah libur, nanti aku nggak ketemu kamu lama," dia memasang wajah memelas.


"Keujanan jangan salahin aku ya," kataku.


"Nggak akan," digandengnya tanganku. "Yuk, biar lebih cepet."


Aku melihat tangan kami yang bertautan. Aku tidak berniat melepaskannya.


Tapi secepat-cepatnya kami berjalan, air hujan turun lebih cepat.


"Gimana nih, lanjut atau neduh dulu?" tanya Harry.


"Neduh dulu aja, Har," kataku.


Kami berlari ke arah pertokoan yang ada di pinggir jalan dan berteduh.


"Aku kan udah bilang, kamu pulang aja. Beneran ujan kan?" omelanku mulai meluncur.


"Ujan kan cuma air, Ri," katanya menyebalkan.


"Iya, tapi kan tetep bisa bikin basah. Bisa bikin sakit," aku masih mengomel.


"Bukan air yang bikin aku sakit. Tapi kalo kamu ninggalin aku, itu yang bikin aku sakit."


"Semua pacar kamu, kamu gombalin kayak gini?" tanyaku sambil melihat ke arah lain.


"Nggak, blom pernah," kata Harry. "Ngapain aku gombalin mereka, orang mereka yang ngejar aku. Paling mereka duluan yang rayu-rayu aku," katanya pede.


"Hadeuh..," gumamku.


"Ko 'hadeuh'?" tanyanya.


"Nggak ilang-ilang itu kepedean," kataku.


Bukannya membalas kata-kataku, dia malah melihat kearahku dengan pandangan yang tidak kumengerti.


"Apaan sih? Ko liatin akunya kayak gitu? Ada yang aneh?" tanyaku sambil memegang wajahku sendiri. Nggak mungkin ada lipstik belepotan atau maskara yang luntur karena aku tidak pernah memakai barang-barang seperti itu.


"Nggak ada apa-apa," katanya. "Tapi liat kamu dengan rambut basah keujanan gitu kok keliatannya lain ya?"


Langsung kuusap wajahnya dengan tangan kanan.


"Istigfar woi! Pasti mikirnya macem-macem nih," aku langsung memasang wajah marah.


Dia benar-benar beristigfar.


"Udah ah, mending pulang aja yuk," ajakku.


"Masih gerimis, Ri," kata Harry.


"Nggak pa pa cuma hujan ini," kataku sambil berlari kecil.


"Tuh kan, kamu licik. Tadi aku bilang gitu, kamu ngambek. Sekarang kamu yang bilang gitu," sungut Harry.


"Kan kamu sendiri yang bilang, kalo air ga bikin sakit. Yang bikin sakit itu kalo kamu ninggalin aku," kataku sambil cekikikan.

__ADS_1


"Dasar!" teriak Harry. "Udah, jangan lari-lari. Nanti kepleset."


Aku memelankan langkahku.


Brug!


Aku merasakan sesuatu yang berat diatas kepalaku.


Sebuah jaket dengan wangi parfum yang sangat kukenal. Aku menoleh. Harry tersenyum dengan tetesan air di seragamnya.


"Aku pake cardigan, Har. Ini, kamu pake aja," kukembalikan jaketnya.


"Jangan, kamu pake aja buat nutupin kepalamu. Biar nggak pusing."


"Seumur-umur kalo aku keujanan trus aku pinjem jaket kamu, nggak pernah tuh kamu kasih," sindirku.


"Kan sekarang lain," katanya sambil tertawa kecil.


Jaketnya kukerudungkan di atas kepala. Kuhirup wanginya yang memang kusuka. Entah mengapa hatiku menghangat. Apakah ada rasa lain yang tumbuh di hatiku?


Tak berapa lama, kami sampai di depan gang rumahku.


"Nih, makasih ya," kataku sambil menurunkan jaketnya yang basah dari atas kepalaku.


"Sama-sama," katanya.


"Kamu cepetan pulang aja, ya. Nggak usah mampir," kataku.


"Kamu nggak pengen gitu bikinin aku teh anget?" tanyanya.


"Nggak! Dah sana cepet pulang. Nanti masuk angin," usirku.


"Dua minggu ke depan kan libur, gimana kalo aku kangen kamu?"


"Nggak usah kayak orang susah gitu. Kamu punya hp, punya kuota, tinggal telpon atau video call. Lebay!" kataku.


"Boleh aku ngeliatin kamu sebentar lagi?" pintanya.


Ni bocah kenapa sih. Aku terbiasa melihat semua tingkah ajaibnya, tapi nggak pernah dia seperti ini.


"Har..," kataku dengan suara ditekan.


"Iya, iya.. aku pulang," dia langsung melipat jaketnya di lengannya.


"Aku pulang ya," katanya.


"Iya," jawabku pendek.


"Kamu nggak mau bilang 'hati-hati di jalan'?"


"Iya.. hati-hati di jalan ya," kataku dengan suara manis yang dibuat-buat.


"Nggak akan bilang 'miss u'?"


"Kamu mau pulang sekarang atau aku lempar sepatu nih," aku mencopot sebelah sepatuku.


"Iya.. iya.. aku pulang. Tapi minta flying kiss dulu dong," katanya dengan mengedipkan sebelah mata.


"Kamu masih ngomong juga, yang ada bukan flying kiss, tapi flying shoe, mau?" kataku sambil melotot.


"Oke.. oke.. bye..," dia berjalan tergesa sambil melambaikan tangan.


Kulihat punggungnya yang menerobos gerimis mulai menjauh.


Macem-macem aja.

__ADS_1


__ADS_2