DIA, SAHABATKU

DIA, SAHABATKU
Selamat tinggal


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19.50 WIB. Kurnia, Nina, Dewi dan Ahmad yang sudah tiba sejak habis magrib, masih menemaniku mengobrol.


Sebentar lagi aku akan berangkat. Kak Hali, kakakku semata wayang yang akan menemaniku ke Malang. Ia meminta cuti selama beberapa hari dari pekerjaannya agar semua urusanku di sana selesai.


Aku tak bisa menahan tangisku ketika aku harus berpamitan pada dua sosok renta yang sudah mengasuhku sejak kecil.


"Kek, doain Riri ya, biar Riri lancar kuliahnya. Biar Riri bisa bahagiain Kakek dan Nenek nanti," tangisku sambil mencium tangan Kakek yang sangat kucintai. Tangan yang selalu mengusap rambutku dengan lembut dan mengingatkanku akan kerasnya dunia.


Kakek tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya air mata yang menjadi jawabannya.


"Nek, maafin Riri ya, kalo selama ini Riri selalu ngerepotin Nenek dan Kakek. Riri janji akan membuat Nenek bangga sama Riri." Kupeluk erat tubuh tua yang sudah menggantikan peran Mamaku sejak usiaku tujuh tahun.


Nenek hanya mengusap rambutku.


"Hati-hati ya, Ri. Jaga diri baik-baik. Jaga tingkah lakumu. Jaga sopan santunmu. Kamu mau ke tempat orang. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung," nasehat Nenek.


"Om," aku beralih pada Kurnia, "nitip Kakek dan Nenek, ya. Sering-sering main ke sini, temenin Kakek main catur."


"Iya, Ri. Insya Allah. Aku akan sering-sering mampir ke sini."


Aku sangat percaya padanya. Bahkan Kakek dan Nenekku juga sudah menganggap Kurnia dan Harry seperti cucu mereka sendiri. Ya, Kurnia dan Harry...


"Sebenernya aku pengen banget meluk kamu, Om. Tapi kayaknya nggak usah, tar Fitri ngambek sama aku," kataku dengan tawa kecil diantara isakan. "Salam buat dia sama anak-anak PMR lain, ya." Aku menyodorkan kepalan tanganku untuk bertos seperti yang biasa kami lakukan.


Aku berpindah pada Nina. Kupeluk erat gadis berhijab itu. Lama. Nina menemaniku sejak kelas 10. Kami sangat dekat. Untukku, dia bukan lagi sekedar sahabat, dia sudah seperti saudara kandungku. Berat rasanya mengucapkan salam perpisahan kepadanya.


"Sering-sering kabarin aku ya, Ri," katanya dengan berlinang air mata.


"Pasti, Nin."


Tak perlu kata untuk mengungkapkan kasih sayangku padanya. Dia sudah tahu betapa besar aku menyayanginya.


Begitu aku melepaskan pelukanku dari Nina, Dewi langsung menghambur ke dalam pelukanku.


"Hati-hati di sana ya, Ri. Jangan lupain aku," Dewi pun menumpahkan air matanya di bahuku.


"Iya, Wi. Kamu juga jaga diri, ya. Kamu pasti kuat. Yakinlah, nanti kamu pasti bangga pada dirimu sendiri," ujarku sambil mengelus punggungnya. Akhirnya Dewi melepas pelukannya.


Berat sekali untuk melangkah pergi dari rumah tempat aku dibesarkan meskipun itu untuk mengejar cita-cita. Sekali lagi aku mencium tangan kedua orang tua yang telah membesarkanku itu. Aku mengucap salam dan langsung melangkah pergi tanpa menengok ke belakang lagi. Air mataku berjatuhan tak terbendung.


Kak Hali dan Ahmad segera mengikuti langkahku. Setengah berlari, Ahmad mengejarku. Dia menyodorkan sapu tangan birunya untuk menghapus air mataku. Dirangkulnya bahuku untuk membuatku tenang.

__ADS_1


Dibukakannya pintu belakang mobil untuk Kak Hali. Kemudian dibukakannya pintu depan sebelah kiri untukku. Segera dimasukkannya carrierku ke dalam bagasi lalu dia pun duduk di belakang kemudi.


Suasana canggung amat terasa di dalam mobil. Tak ada yang bicara barang sepatah kata pun.


"Hemm, Ri. Nanti kalo kamu udah naik kereta, kabarin aku, ya. Jam berapa pun itu. Meskipun mungkin akan aku baca besok pagi," akhirnya Ahmad bersuara.


"Iya," jawabku singkat.


Kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke stasiun kereta api, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Perjalanan kami pun berakhir. Ahmad membuka bagasi dan mengeluarkan bawaanku. Dia membantu membawakan travel bag milik kakakku.


Kami bertiga duduk di kursi ruang tunggu untuk calon penumpang dan pengantarnya. Kereta kami baru akan datang kurang lebih tiga jam lagi. Kami baru bisa masuk ke peron sejam sebelum kereta kami datang. Kak Hali yang membaca situasi, buru-buru membuka layar ponselnya dan berpura-pura sibuk.


Ahmad tiba-tiba menggenggam jemariku.


"Ri, seandainya...."


"Jangan pake pengandaian, Mad. Kamu tau kan, kalo kata 'andai' adalah pintu masuk setan ke dalam hati kita," selaku.


"Aku...."


"Kamu mau bilang kamu sayang sama aku, 'kan?" aku tersenyum. "Makasih, Mad. Kalo memang kita berjodoh, sejauh apapun aku pergi, aku pasti bakalan balik lagi sama kamu. Tapi kalo ternyata kita tidak berjodoh, sekeras apapun kita berusaha, kita nggak akan pernah bisa bersama."


Ahmad menghela napas panjang.


"Makasih, Mad. Aku sangat menghargainya," kutumpuk tanganku di atas tangannya yang sedang menggenggam tanganku. "Kamu tau, aku bangga pernah menyukaimu selama setahun lebih. Kamu memang pantas untuk disukai. Banyak sekali hal yang menarik darimu, Mad."


"Lalu, apakah sekarang aku masih sama di matamu?"


Aku tidak bisa menjawabnya.


"Kamu cowok yang baik banget. Bentar lagi juga kamu pasti dapet cewek yang baik dan segera melupakanku," ujarku.


Tak ada suara diantara kami selama beberapa saat.


"Udah, pulang gih. Udah malem," ingatku.


"Aku nggak boleh nunggu sampe keretanya dateng, ya?" tanyanya.


"Nggak!" tegasku. "Nanti orang tuamu khawatir, lho."


Dengan berat hati dia beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Hati-hati, ya. Aku sayang sama kamu," bisik Ahmad. "Kak, nitip Rinjani, ya," kata Ahmad sambil mencium tangan Kak Hali untuk berpamitan.


"Pasti aku jagain dong, Mad. Kan aku kakaknya," Kak Hali tertawa mendengar pinta Ahmad.


Ahmad pun melambaikan tangan dan mulai berjalan menjauh. Kulihat punggungnya yang makin lama makin terlihat kecil.


Kadang apa yang kita inginkan tak selalu bisa kita dapatkan. Ketika aku begitu mencintainya, dia hanya menganggapku bintang di langit. Tak pernah ada niat di hatinya untuk menggapaiku. Dan ketika cintaku telah habis untuknya, dia menawarkan banyak cinta untukku.


"Satu orang lagi," sindir kakakku. "Berapa banyak cowok yang begitu sama kamu?"


"Aku nggak segitunya kali, Kak. Nggak semua cowok bisa ngedeketin aku kayak gitu. Aku gitu sama Ahmad juga karena aku pernah suka sama dia lama. Yang lainnya paling sama Kurnia."


"Harry?"


"Jangan omongin dia," kataku ketus.


"Nggak usah boong. Kakak tau perasaan kamu gimana."


Dan waktu dua jam pun kami habiskan untuk mengobrol tentang banyak hal. Meskipun sering kali diselingi dengan menguap.


Akhirnya pengeras suara memberitahukan kami bahwa calon penumpang kereta yang akan kami tumpangi bisa mulai memasuki peron. Kami mengantri sambil memperlihatkan kartu tanda pengenal dan karcis yang kami miliki.


Tak berselang lama, kereta pun tiba. Kami segera memasuki gerbong yang sesuai dengan karcis kami. Segera kunaikkan carrierku dan travel bag Kak Hali ke tempat penyimpanan barang di atas kepala kami.


Aku duduk di samping jendela. Kulihat orang masih berlalu lalang di luar sana. Ini sudah melewati tengah malam, tapi suasana di stasiun masih ramai. Para calon penumpang berjalan tergesa menaiki gerbongnya masing-masing karena kereta akan segera berangkat.


Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang sedang berlari di antara orang-orang di luar peron. Orang itu ditahan oleh para petugas yang bertugas di pengecekan. Dia terlihat berdebat dengan petugas.


Peluit tanda kereta akan berjalan terdengar nyaring. Aku masih memperhatikan orang-orang di pos pengecekan. Betapa terkejutnya aku, ketika melihat orang yang tadi berniat menerobos pos pengecekan. Orang itu mirip sekali dengan Harry.


"Ya ampun, segitunya dia nempel di otakku sampe semua orang keliatan kaya dia," ucapku dalam hati. Aku tersenyum smirk.


Sesuatu yang mustahil bila Harry ada di sini. Mau apa dia? Lagipula ini udah lewat tengah malam.


Aku menyandarkan kepalaku di kursi dan menutup mata. Kulafalkan tekad untuk melupakan semua kenanganku bersama Harry, karena itu adalah alasan utamaku untuk pergi jauh dari sini.


Selamat tinggal, Harry.


Selamat tinggal semua kenangan.


Aku akan meninggalkan semua rasaku untukmu disini.

__ADS_1


Selamat tinggal.


-tamat-


__ADS_2