
Aku berbaring diatas blankar. Aku sendiri. Tidak pernah ada orang yang berada di sanggar PMR ketika jam istirahat. Ya, sanggar dibuka ketika jam pelajaran usai atau ketika ada yang membutuhkan obat-obatan yang tidak ada di UKS.
Kupandangi dinding berwarna putih di depanku. Ada dua ekor cicak yang berkejaran disana. Tapi entah kenapa pikiranku tidak disana.
Kutarik nafas panjang, kembali mencoba merangkai peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari ini. Tentang cinta segitiga antara Fitri, Harry dan Kurnia. Juga aku sebagai Mak Comblangnya. Dan dalam misi ini, terjadi kesalahfahaman antara aku, Harry dan Ahmad. Ah, ribet banget.
Kupejamkan mataku, berusaha menenangkan pikiran. Kucoba kembali me-restart otakku.
Kutanyakan lagi pada diri ini apa yang sebenarnya kuinginkan.
Aku ingin menjadi yang terbaik dalam segala hal. Sudah jelas itu yang kuingin.
Untuk apa?
Untuk mendapatkan banyak teman? Tidak!
Untuk membuat orang lain terkagum-kagum? Tidak!
Aku hanya membutuhkan beasiswa itu.
Ya, beasiswa agar aku bisa belajar di sekolah ini tanpa harus mengeluarkan biaya. Agar tidak membebani kakak dan anggota keluarga yang lainnya.
Dan itu hanya bisa kudapat kalau aku jadi Juara Umum.
Lalu, apa masih perlukah ada Ahmad di kepalaku?
Aku bimbang.
Tiba-tiba lagu I Have A Dream terdengar dari saku rokku. Kukeluarkan benda pipih yang mengeluarkan suara itu. Ada wajah Fitri disana. Dia memanggil.
"Kak.. Kakak dimana?" tanyanya di ujung sana.
"Di sanggar, Fit. Kenapa?"
"Aku kesana ya Kak," tanpa mendengar jawabanku, ditutupnya panggilan itu.
"Dasar bocah..," gerutuku.
"Kak..," kepala Fitri melongok ke dalam ruangan yang pintunya tidak kututup rapat.
"Apa, Fit?" aku bangkit memposisikan diri untuk duduk.
"Tadi pagi Kakak cari aku ke kelas ya?" tanyanya.
"Iya," sahutku.
Dia diam. Sepertinya dia mengerti apa yg ingin aku bicarakan.
"Gimana kemarin?" tanyaku to the point.
"Hem.. kayaknya aku gagal, Kak. Kak Harry ga suka sama aku," jawabnya.
"Kamu bilang kalo kamu suka sama dia?" tanyaku lagi.
"Iya..."
"Trus.. kamu bilang juga kalo kamu minta tolong ke Kakak buat nyomblangin kalian?"
Dia menghela nafas.
"Kak, ada orang lain yang Kak Harry suka."
__ADS_1
"Oya? Setau Kakak sih selama hampir 3 tahun ini cuma 1 orang yang pernah ditembak sama Harry." Aku mengingat-ingat. "Tapi itu udah lama banget, waktu kelas 10. Sampe sekarang mereka ga pernah saling menyapa. Kayaknya putusnya ga baik-baik. Masa sih dia blom bisa move on juga."
"Bukan mantannya..," ujar Fitri.
"Salah satu cewek-cewek yang ngejar dia?"
"Bukan..."
"Trus siapa dong?" tanyaku tak sabar.
"Kak Riri."
"Hah? Aku?" aku langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Ngga lah, Fit. Ga mungkin."
"Aku serius, Kak. Waktu aku ngajak Kak Harry ngobrol, dia ga pernah ngeliat ke arah aku. Yang dia liat cuma Kakak. Waktu aku cuma jalan berdua sama dia, dia sama sekali ga memperhatikan apa yang aku bicarakan. Dia terus menoleh ke belakang. Dan terakhir waktu aku bilang aku suka sama dia, dia cuma senyum. Dia bilang, dia cuma nganggap aku adik dan ga bisa membalas rasa sukaku."
Aku liat dia menunduk, menyembunyikan air mata.
Aku turun dari blankar dan duduk di sampingnya. Kuusap punggungnya.
"Fit, dari awal kan Kakak udah bilang kalo Kak Harry ga akan mau sama cewek yang deket sama dia. Dia ga akan jadian sama cewek yang dia anggep adik. Soalnya dia takut nyakitin. Dia cuma main-main sama cewek-cewek di luar sana. Kalo Kakak sama dia tu ga pernah ada apa-apa. Kami cuma berteman. Udah gitu doang. Mungkin kamu blom biasa liat gitu. Tapi memang kami sedekat itu."
Fitri masih terisak.
"Harry bukan cowok yang tepat buat kamu. Ngapain coba kamu kejar-kejar. Kaya kamu ga punya harga diri aja. Mending pilih cowok yang mencintai kamu," kataku.
"Maksud Kakak?"
"Ada orang lain yang suka sama kamu."
"Siapa?"
"Siapa Kak?"
"Kakak ga bisa ngomong sekarang. Biar orangnya sendiri yang ngomong sama kamu," kataku masih berteka-teki.
"Siapa Kak? Jangan bikin aku penasaran," buru Fitri.
"Dia bakal ngomong sendiri Fit. Ga lama. Udah sekarang hapus air matamu. Ga usah nangisin Harry. Dia blom almarhum," kataku sambil mengambilkan tissue diatas meja.
Fitri tersenyum geli.
"Besok Kakak ga berangkat. Kakak lomba di luar sekolah. Mungkin abis itu orangnya baru bakal ngomong sama kamu."
"Kakak kenal sama cowok itu?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Apa menurut Kakak dia pantas buat aku?" tanyanya lagi.
"Ngga tau ya, itu gimana kaliannya. Tapi kalo liat dari karakter sih kayaknya bakal cocok. Dia orang yang dewasa, serius, bawel sih.. tapi dia baik," jawabku.
"Kak Kurnia ya?" tebaknya.
"Ngga tau. Emang kalo orang itu Kurnia kamu mau?" kucoba mengorek sedikit perasaannya.
"Ngga tau juga. Tapi kan Kak Kurnia sama Kak Harry sobatan, kayaknya ga mungkin." jawabnya.
"Iya, ga mungkin," kataku. "Kalo Kurnia, prinsipnya sama kayak aku. Seandainya bisa, kami cuma mau satu orang dalam hidup kami. Yang pertama dan terakhir."
__ADS_1
"So sweet..," kata Fitri. Dia tersenyum.
"Kenapa Kakak ga sama Kak Kurnia aja?" mulai lagi ni bocah.
"Kamu tu yah, semua orang aja dijodoin sama Kakak. Udah ah, Kakak mo balik ke kelas. Bentar lagi mo masuk," aku berdiri dan menggerak-gerakkan tangan mengusirnya keluar.
Aku mematikan lampu dan mengunci pintunya.
Fitri mengandeng tanganku dan ikut berjalan ke arah kelas.
...
Sebelum jam 7, Harry dan aku sudah berdiri di depan ruang Wakasek. Hari ini kami akan mengikuti Olimpiade tingkat kota dan kabupaten.
Aku masih memikirkan tentang yang terjadi kemarin.
"Sttt.. Ri.. kamu kenapa sih? Mukamu ga enak banget diliatnya," Harry menyikut lenganku.
Aku memonyongkan mulutku.
"Makin jelek tau."
Aku tarik bibirku malas.
"Kamu belajar ga?" tanyanya masih dengan berbisik.
"Belajarlah," jawabku singkat.
"Kamu nyadar ga, kamu tuh baperan banget," ujarnya.
"Bodo."
"Kamu mau, suatu saat ada yang manfaatin kamu karena kamu baperan kayak gini," cerocosnya.
Aku diam.
"Kamu masih kepikiran si Ahmad ya?" tebaknya.
"Kalo kamu suka, kenapa kamu ga bilang aja sama dia."
"Never. Mau segimananya aku suka sama cowok. Ga akan pernah ada kata 'suka' keluar dari mulutku duluan," kataku.
"Gengsi. Tar ada yang nyamber duluan baru tau rasa."
"Bukannya gengsi. Tapi buat aku, cewek itu kodratnya untuk dipilih, bukan untuk memilih. Dan cewek punya hak untuk menolak atau menerima. That's it."
"Lha terus kenapa mukamu masih aja ditekuk kayak gitu dari kemaren. Kalo ternyata dia menilaimu buruk dan ga milih kamu, harusnya kamu siap dong," mulai nih cowok ceramah pagi-pagi.
Males aku nanggapinnya kalau udah gini. Yang ada bukannya ikutan Olympiade Biologi, jadinya ikutan lomba debat. Soalnya kami sama-sama keras kepala.
"Kalo kamu mau dia berfikir positif lagi sama kamu ya liatin dong, kalo kamu memang pantas dinilai positif. Kita pergi sekarang ga cuma bawa nama kamu lho, kita bawa nama sekolah. Kalo nanti hasilnya jelek yang malu ga cuma kamu, sekolah juga. Buktiin sama dia kamu masih sesempurna sebelumnya, bawain dia pialanya!"
Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba rasanya dadaku penuh dengan semangat. Tanganku mengepal di kedua sisi tubuhku.
"I'm ready!! Aku bakal bawain dia piala itu dan lanjut tingkat provinsi!" seruku yakin.
"Gitu dong, ini baru namanya Rinjani yang aku kenal," Harry tersenyum lebar.
Didorongnya tinjunya kearahku. Kuadukan tinjuku dengan tinjunya sekuat tenaga.
"Aww.. sakit tau. Kira-kira dong kalo mau toss. Semangat sih semangat tapi ga gitu-gitu juga kale," sungutnya sambil mengibas-ngibaskan jari-jarinya.
__ADS_1
Aku nyengir.