
Sejak kemarin rumah baru itu telah bersih dan rapi,artinya bisa segera ditempati.
Dan udara hari ini pun cerah..
Saat yang tepat untuk kami pindahan kerumah itu.
🍃Beberapa saat kemudian
Kopper kembali di masukkan ke dalam mobil oleh mas Hadi dan dibantu oleh Bayu.
Setelah berpamitan dengan mbok Jum dan Bayu,kami pun siap berangkat.
"Mbok Jum,,Bayu makasih sudah di ajak tinggal," kata mas Hadi.
"Kami pamit mbok,Yu..kalau ada waktu main lah kerumah" kataku lalu menyalami mereka.
"Insha Allah,,kapan-kapan kami akan mampir" kata mbok Jum.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam jawab mereka.
🍡🍡🍡
Mobil yang membawaku dan mas Hadi mulai bergerak pelan menyusuri jalan desa,maunya sih lewat jalan samping rumahnya mbak Ajeng saja tapi mobil tak bisa masuk, karena hanya berupa jalan setapak,udah gitu banyak pepohonan.
Sehingga kami harus sedikit memutar melewati jalan kedua yang lebih lebar dan beraspal.
Tak lama..Mobil berhenti di halaman depan rumah itu.
Ku perhatikan rumah baruku sesaat dari dalam mobil,suram. Mungkin karena letaknya terpencil,juga agak ke ujung,sehingga sedikit membuat jarak dengan rumah lainnya.
Membuat ku tak punya tetangga dekat,selain rumah bercat hijau yang berada 200 meter dari rumah baruku ini.
Masih sempat ku lihat dua orang ibu-ibu yang asik berbincang tadi saat mobil melewatinya,kini tengah memperhatikan kami dari arah rumah mereka.
Dia memandang seksama ke arah ku.
Yang sudah bisa ku pastikan ucapannya
"Pasti itu tetangga baru"
setelah melihat kedatangan kami yang kini menurunkan beberapa koper dan kardus dari dalam mobil.
Mungkin karena keingintahuannya yang begitu besar sehingga mereka tidak cukup hanya melihat dari kejauhan saja,,dan kini berjalan mendekat ke arahku.
Lalu..
"Pagi,,baru pindahan neng?" Sapa mereka
"Ehh pagii..iya ibu-ibu"
"Sepertinya bukan dari desa ini??"kata salah satu ibu yang berdaster biru itu,yang ngakunya bernama bu Ida.
"Benar sekali kami pindahan dari kota"jawabku
Berarti kita akan jadi tetangga neng,itu rumah ibu yang bercat hijau,,kata ibu tadi
Iya neng,kalau rumah ibu disebelahnya yang ada kios kecil di depannya,nama saya bu Sari.
"Iya bu,,saya Maya,,senang berkenalan dengan ibu berdua"
"Artinya sekarang kita tetanggaan neng,jadi jangan sungkan kalau mau minta tolong apa" kata mereka lagi.
"Iya bu,,makasih"
Ketika asik berbincang mas Hadi memanggilku dari dalam rumah.
"Sayang..tolong kemari sebentar"
"Iya mas"
"Ibu-ibu maaf ya ditinggal dulu"
"Tak apa neng,kami juga mau balik"
Masih sempat ku dengar percakapan keduanya meski setengah berbisik sebelum meninggalkan halaman.
"Akhirnya rumah ini laku juga,padahal udah lama ditawarkan namun tak ada yang berani beli meski dijual dengan harga murah"
"Bagaimana mau cepat laku bu Ida,wong banyak demitnya gitu"
"Husshh!! jangan keras-keras nanti neng Maya dengar dia jadi takut,kasihan kan,baru juga pindahan."
"Semoga mereka betah ya bu Ida"
"Iya bu Sari,semoga saja..mungkin jika ada yang menempati,demit-demit itu akan terusik dan menjauh dari rumah itu"
"Iya bu Ida..begitulah kalau rumah lama dibiarkan kosong"
Entah apa yang mereka bicarakan setelahnya aku tak mendengarnya lagi,seiring langkah mereka yang semakin jauh.
("Pantesan rumah ini dijual dengan harga murah oleh mbak Ajeng,tapi apa boleh buat sudah ke beli ini" batinku)
Aku segera beranjak,,masuk kedalam rumah teringat mas Hadi yang memanggilku tadi.
"Iya mas ada apa panggil Maya?"
"Koq lama di luar sayang?"
"Tadi ada ibu-ibu,,tetangga sini yang ngajak ngobrol"
"Owhh pantesan"
"Bikinkan mas kopi dong"
"Sebentar ya mas,Maya rebus airnya dulu"
__ADS_1
"Okkey sayang"
Aku lalu beranjak ke dapur,perabot dapur yang kemarin sebelum dibersihkan sempat menumpuk di satu tempat di lemari penyimpanan,kini telah bersih dan bisa langsung digunakan,sehingga aku tak repot lagi mencari perabot itu,,termasuk ceret yang akan ku gunakan sekarang untuk merebus air,,kompor gas pun telah terpasang siap digunakan meski yang ada disini hanyalah tabung gas 3 kg,,namun aku tertolong karenanya.
🍃Kembali pada kesibukan ku di dapur..
Ketika aku sedang mengisi air ke dalam ceret di westafel yang ada di sana,tiba-tiba tengkuk ku ada yang meniup,terasa dingin,membuat ku merinding.
Begitu pun bayi dalam kandunganku,,yang kembali bergerak sangat aktif,,apa mungkin bayiku turut merasakan apa yg kurasakan saat ini?? Entahlah..
Setelah meletakkan ceret itu ke atas kompor,,aku pun segera menyalakannya.
Selama menunggu air mendidih aku menyapu lantai dapur,mencoba menepis ketakutanku dengan tetap beraktifitas disana,namun ketika semakin mendekat ke arah toilet aku mendengar suara tangisan.
Dan suara itu..
Terdengar Seperti suara tangisan bayi..tapi bayi siapakah gerangan?? Sedang bayiku belum lahir dan kami cuma tinggal berdua dirumah ini.
"Apa aku salah dengar??"
Kembali ku tajamkan pendengaranku,ketika aku sedang fokus mendengarkan,aku dikejutkan saat sebuah tangan menepuk pundak ku, membuatku terlonjak kaget karenanya,lalu segera menoleh,ternyata mas Hadi telah berdiri dibelakangku.
"Sayang koq berdiri disini,,bengong lagi,ada apa? Itu airnya sudah mendidih sedari tadi,bunyinya kedengeran sampai ruang tengah loh"
"Astaga maaf ya mas,,Maya terlalu fokus sama nyapunya"
"Masa sih??Perasaan dari tadi kamu cuma berdiri saja memperhatikan toilet."
Ya sudah ayo buruan buatkan mas kopi,,biar semangat lagi beres-beresnya"
"Iya mas"
Aku pun segera menyeduh milk coffie kesukaan suamiku lalu membawanya ke ruang tengah dimana mas Hadi telah menunggu dengan duduk bersandar di soffa yang ada disana.
Tanpa ku sadari,sebelum pergi ke ruang tengah,,di pojokan dekat toilet,wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya tengah berdiri disana,,menggendong seorang bayi,tengah menatapku nanar dari balik rambutnya yang tergerai semata kaki.
🍡🍡🍡
Udara malam ini terasa begitu dingin,,angin pun bertiup sedikit kencang,,sepertinya hujan akan segera turun.
Suara petir terdengar bersahutan,,membuat suasana semakin mencekam.
"Kratak..kratakk..." beberapa kali ku dengar suara itu berulang..
Lalu
"Brakk!!" Suara yang begitu nyaring sukses membuat jantung ku hampir copot karenanya.
Mas Hadi yang semula fokus dengan laptopnya pun gusar dibuatnya.
"Mas..suara apa itu??"
"Entahlah sayang,,tapi sepertinya suara jendela yang dihempaskan angin,mungkin ada jendela yang lupa dikunci,,biar mas lihat."
"Nggak usah mas,,biar Maya saja yang lihat,,sepertinya dari arah samping"
Aku melangkah menyusuri rumah ini,,mencari tau asal suara.
Aku mendekat ke arah jendela memeriksa kuncinya,,benar saja kuncinya terlepas sehingga tidak bisa menutup dengan baik.
"Hemmm..Tugas baru mas Hadi sudah menanti,,kunci jendela ini minta diganti sepertinya" gumamku pelan seraya meraih daun jendela itu untuk kembali menutupnya.
Namun seketika gerakan tanganku pada jendela yang terbuka itu menjadi terhenti saat mataku menangkap seorang gadis kecil tengah bermain ayunan.
"Siapa gadis kecil itu??"
Aneh sekali,,main koq sampai malam gini,gak dicari sama orang tuanya apa?" Tanya ku dalam hati.
Aku seperti terhipnotis,dengan terus memperhatikan gadis kecil itu,yang tengah berada di atas ayunan,namun tiba-tiba ayunannya berayun menjadi sangat kencang dan semakin kencang membuatku takut saat melihatnya,,tapi berbeda dengan gadis kecil itu yang nampak begitu senang,,semakin kencang ayunan itu berayun dia semakin tertawa senang,,namun tawanya itu berbeda,,tawa yang sukses membuat kudukku meremang.
"Anak yang aneh,,seperti bukan manusia saja" batinku
Dan tiba-tiba gadis kecil itu menolehkan kepalanya ke arahku,dengan mata yang berlubang berlumuran darah dan seringai menakutkan saat dia menunjukkan kedua bola matanya yang copot yang kini berada di telapak tangannya yang terulur
,seolah dia bisa membaca isi pikiranku barusan tentangnya dan membenarkan dugaan ku jika dia bukan manusia.
"Aaaarrgghh..." aku berteriak seraya menutup mataku lalu seketika jatuh lemas tak berdaya di bawah jendela.
Pingsan.
Perlahan ku buka mataku,,ku lihat wajah mas Hadi begitu cemas,,dia menatapku intens,bingung dengan yang terjadi ketika aku tiba-tiba pingsan dekat jendela yang masih terbuka lebar.
🍡🍡
Mas Hadi yang menyadari aku sudah siuman lalu mengusap lembut kepalaku.
"Alhmdulilah kamu sudah sadar sayang"
"Maya dimana mas?"
"Kamu dikamar,,mas yang bopong kamu saat pingsan tadi"
"Maya pingsan mas??"
"Iya sayang,,ketika mas dengar teriakan kamu,mas segera mencarimu dan saat mas temukan, kamu telah tergeletak di lantai,tak sadarkan diri tepat dibawah jendela yang terbuka"
"Lalu..dimana anak kecil perempuan yang tadi main ayunan itu mas??"
"Anak perempuan kecil yang mana sayang??" Saat mas menutup jendela sesaat sebelum mengangkatmu mas tak lihat ada siapapun disana"
"Masa sih mas??"
"Benar sayang,,tak ada siapa pun disana saat itu,,lalu apa yang membuatmu pingsan??"
"Sewaktu Maya mau menutup jendela yang terbuka itu,Maya melihat seorang anak perempuan kecil sedang bermain dengan ayunan,ketika Maya sedang asik memperhatikan tiba-tiba dia menoleh ke arah Maya sambil memperlihatkan kedua bola matanya yang terlepas dan berada di telapak tangannya"
"Maya takut mas,saking takutnya sampai-sampai tak sadarkan diri"
__ADS_1
"Itu mungkin halusinasi mu saja sayang,karena kamu yang terlalu capek akhir-akhir ini"
"Gak mas,Maya gak berhalusinasi,kejadian itu nyata"
"Sudah jangan terlalu dipikirkan,,tidurlah..sudah malam"
Aku menurut saja,,ku pejamkan mataku namun aku tak bisa tidur kejadian tadi benar-benar membuatku shock,,dan itu nyata bukan halusinasi seperti kata mas Hadi yang seolah tak percaya dengan penuturanku.
Aku masih bisa merasakan sentuhan lembut tangan mas Hadi pada kepalaku yang kini berbaring di sampingku.
Sebelum tangannya berpindah ke perutku,,mengusap dan mengajak bayi dalam kandungan ku bicara seperti kebiasaannya sebelum tidur.
Sentuhan tangannya pada perutku ku rasakan semakin pelan lalu hilang,,ku buka mataku untuk memastikan,,benar saja rupanya mas Hadi telah tertidur.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati aku memindahkan tangan mas Hadi dari perutku,,lalu bangun dari tempat tidur,,duduk bersandar pada bantal yang ku sandarkan pada sandaran tempat tidur.
Kembali pikiran ku dipenuhi berbagai macam pertanyaan tentang kejadian tadi yang sukses membuat kepala ku berdenyut karenanya.
"Siapa gadis kecil itu??"
"Kenapa kedua bola matanya terlepas??"
"Apakah dia manusia atau demit??"
"Lalu jika dia demit apa tujuannya menampakan diri di depanku??"
Pertanyaan yang kini hadir dibenakku.
Ketika fokus dengan sibuknya pikiran ku,,kembali aku mendengar suara tangisan bayi sama seperti waktu itu.
Ku tajamkan pendengaranku,,karena suara dengkuran mas Hadi yang sedikit keras membuat suara itu tak terdengar jelas dari mana datangnya.
Aku beranjak dari tempat tidur,,keluar dari kamar.
Disini aku bisa mendengar jelas suara tangisannya,,iya benar suara tangisan bayi tapi bayi siapa??"
"Jangan-jangan ada orang yang membuang bayinya dan menaruhnya di teras??" Pikirku
Aku lalu berjalan menuju teras,,ku buka sedikit gorden yang ada disana,,namun aku tak menemukan sesuatu yang mencurigakan diluar,,hanya keheningan yang ku dapati.
Sesaat suara tangisan itu hilang..
"Mungkin aku salah dengar" batinku
Ketika aku akan melangkah menuju kamar,,suara tangisan itu kembali terdengar,,ku tajamkan indera pendengaranku dan sepertinya suara itu berasal dari arah dapur.
Aku pun kembali melangkahkan kaki ku menuju kesana guna memenuhi rasa penasaranku.
Aku melangkah pelan,,sedikit waspada pada keadaan.
Tapi ketika sampai di dapur,,aku tak menemukan ada siapa-siapa disini atau hal mencurigakan,,semua perabot dapur juga terata rapi di tempatnya.
Dan suara tangisan itu semakin jelas terdengar,,aku berusaha mengikuti asal suara,,kaki ku terus melangkah menuju ke arah toilet yang ada di ujung dapur, suara itu seolah menuntunku padanya,,aku berhenti di depan toilet yang pintunya tertutup.
Suara tangisan itu semakin jelas terdengar ditelingaku.
Itu artinya memang ada bayi di dalam toilet ini tapi bayi siapa??"
"Apa ada orang yang bersembunyi disini,,bisa saja dia masuk lewat jendela yang tiba-tiba terbuka tadi" pikirku
Aku meraih pegangan pintu toilet untuk membukanya dan memastikan pendengaran ku barusan, jika memang ada bayi didalam sini"
Aku tekan pegangan pintu itu lalu ku coba mendorongnya namun tidak bisa,pintu itu seperti terkunci dari dalam.
"Aneh..koq pintunya gak bisa dibuka?? Jangan-jangan benar ada orang bersembunyi di dalam bersama bayinya" pikirku.
Aku terus berusaha mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga,,namun tetap tak bisa dibuka,sampai sebuah tangan mencengkeram pundakku,,sontak membuat ku terpekik kaget,,aku segera menoleh,,ternyata mas Hadi telah berdiri dibelakangku,,entah sejak kapan dia berada disana aku tak menyadarinya karena terlalu fokus pada suara tangisan itu yang kini seolah lenyap setelah kedatangan mas Hadi.
"Mas kamu ih..Bikin kaget aja deh"
"Sayang koq disini,,kalau mau kencing kenapa gak pakai toilet yang ada dikamar saja??"
"Tadi Maya dengar suara bayi menangis mas,,sepertinya dari dalam toilet ini,,saat Maya mau ngecek,,pintunya malah susah dbuka seperti terkunci dari dalam."
"Masa sih?? Kamu salah dengar kali sayang,,mana mungkin disini ada bayi"
"Seriusan mas,,tadi Maya dengar suara bayi menangis dari dalam toilet ini"
"Sini biar mas buka pintunya,,kita lihat sama-sama benar ada bayi tidak"
Mas Hadi lalu membuka pintu toilet itu,,dengan sangat mudah pintu itu terbuka,,hanya sekali dorongan saja berbeda ketika aku membukanya tadi yang membutuhkan tenaga ekstra yang seolah terkunci dari dalam.
Dan benar apa yang dikatakan mas Hadi tak ada apa-apa di dalam toilet apalagi bayi.
("Mungkinkah aku salah dengar??tapi suara itu jelas adanya berasal dari dalam toilet ini" batinku)
"Lihatkan sayang?!tak ada bayi disini,,sepertinya kamu lelah dan harus banyak istirahat,,agar pikiranmu bisa tenang,,kamu jangan mikir yang aneh-aneh..ingat bayi kita"
"Iya,,mas benar,,mungkin Maya lelah sehingga menjadi seperti ini"
"Ayo sekarang kita ke kamar,,tidur..ini sudah larut"
"Iya mas"
Mas Hadi lalu merangkul ku,,berjalan beriringan menuju kamar.
Namun tanpa ku sadari setelah berbalik badan,,beberapa bayi tergeletak di lantai toilet,,berlumuran darah.
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
With Love
__ADS_1
DianadieNcess😘