DIA ADA DISANA

DIA ADA DISANA
PART 32 KEJUTAN TAK TERDUGA


__ADS_3

      Ajeng sedikit berkeringat ketika baru saja sampai di depan pintu rumahnya.


Dengan tak sabar dia membuka kunci pintu yang tadi diberikan Andini sesaat sebelum dia pamit pulang dari rumah mas Hadi.


Setelah pintu terbuka Ajeng segera masuk,,lengang dan agak pengap hawa yang terasa didalam karena dari kemarin rumah tak terurus,jendela juga tidak dibuka bagaimana udara luar bisa masuk pikirnya.


Ajeng membuka beberapa jendela di ruang tamu dan ruang tengah,,terasa lebih terang sekarang,pengap pun berkurang karena udara telah bersikulasi.


Ajeng segera menuju kamarnya,, meletakkan tas yang tadi dibawanya di atas buffet, lalu membersihkan dan menyapu lantai diruangan itu.


Kegiatan bersih-bersihnya berlanjut hingga ke ruang tengah dan ruang tamu juga teras dan yang terakhir membersihkan dapur.


Namun saat dia sibuk bersih-bersih di dapur dia merasakan ada sekelebatan bayangan melintas di belakangnya.


Sesaat dia berbalik namun tak ada siapa pun disana.


Dan Ajeng memilih mengabaikan saja hal itu.


Ajeng kembali melanjutkan aktifitasnya,,namun seketika dia berhenti menyapu saat mendengar suara seseorang meminta tolong dan suara itu persis suara nyai Sekar sang ibu.


"Ajeeng...Toloongg ibuuu Ajeeengg" jeritnya lirih namun menyayat,,seketika Ajeng merinding dibuatnya.


("Suara siapa sebenarnya,,sama persis dengan suara ibu" batinnya.)


Setelah satu jam berjibaku dengan peralatan kebersihan, Ajeng segera menyelesaikan aktiiftasnya di dapur yakni memasak nasi dan membuat telur dadar,,yang nanti akan diberikan untuk sarapan sang ibu,nyai Sekar yang menghuni kamar rahasia di ruang bawah tanah,,setelah selesai dia kembali ke kamarnya,,menghidupkan ac lalu mandi.


Rasa gerah berganti dengan rasa segar saat guyuran air dari shower menerpa kepala dan tubuhnya.


Enggan rasanya dia mengakhiri mandinya kalau saja tak mengingat ibunya di ruang bawah tanah itu belum ditemuinya sejak kepergiannya kemarin.


Dia berpikir untuk mendatanginya sebentar lagi seraya membawakan sarapan untuknya.


Sesaat teringat akan kejadian tadi malam ketika diperjalanan menuju pulang,,dia seperti melihat seseorang berwajah mirip sang ibu melintas di depan mobil yang mengantarnya.


Dan keadaan yang menggenaskan itu selalu terbayang di pelupuk matanya hingga saat ini.


Ajeng telah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumahan yang biasa dia pakai,apalagi kalau bukan kedemenannya para emak,,daster. Lalu duduk didepan meja rias,,menyapukan sedikit bedak tabur ke wajahnya juga lipstik berwarna peach,,wajahnya pun terlihat lebih fresh saat ini.


Dia kemudian beranjak dari kamarnya,,menuju dapur,,berhenti didepan meja makan,,lantas membuka tudung saji mengeluarkan telur dadar dari dalamnya lalu menaruh nasi dari rice cooker ke dalam bakul nasi,,kemudian membawanya menuju kamar sang ibu di ruang bawah tanah.


🍃Di Kamar Rahasia Ruang Bawah Tanah


"Klontang..Klontang..Praaaang.."


Nampan yang dibawa Ajeng terhempas seketika,,semua yang dibawamya berhamburan,,piring dan gelas pecah.


Pecahan piring dan gelas berserakan di lantai.


Nasi di dalam bakul nasi juga berhamburan kemana-mana.


Seiring dengan teriakan Ajeng saat melihat sang ibu sudah tidak bernyawa dengan keadaan menggenaskan,,leher membiru akibat cekikan,,mata melotot dan lidahnya yang menjulur sama persis dengan penampakan yang dilihatnya menyerupai wajah sang ibu yang melintas di depan mobilnya tadi malam.


Seketika Ajeng lemas,,jatuh terduduk di lantai dekat mayat sang ibu,,Ajeng menangis sejadi-jadinya.


Segala rasa bercampur jadi satu,kesedihan,,penyesalan,,iba juga rasa sakit,,karena mengingat dosa yang telah dilakukan sang ibu bertahun silam.


Ajeng masih berada di kamar itu,,terduduk di dekat mayat sang ibu mencoba memperbaiki wujud sang ibu yang menggenaskan dengan menutup kedua matanya dengan telapak tangannya,,namun telah berulang kali dicobanya namun tetap tidak bisa tertutup.


Ajeng hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang terjadi mungkin peristiwa ini cara yang kuasa menunjukkan akibat dari perilaku sang ibu selama hidupnya.


"Bukankah apa yang kita tanam itu yang akan kita petik?!"


Disela isak tangisnya,Ajeng hanya bisa berdoa,memohonkan ampunan untuk sang ibu atas dosa-dosanya.


Masih duduk bersimpuh dalam kesedihan yang mendalam,Ajeng mengingat semua moment indah bersama sang ibu ketika dia masih kecil hingga mulai beranjak dewasa.


Baginya ibunya adalah yang terbaik dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.


Hanya saja bujuk rayu setan telah menyesatkannya terlalu jauh bahkan sangat jauh dari Rabbinya,,sehingga dia tak memikirkan baik buruk segala tindakannya diakibatkan rasa dendam yang terlalu besar pada madunya yang tidak diketahui dimana keberadaanya kini,entah masih hidup atau telah tiada.


Ajeng juga teringat peristiwa tadi malam,ternyata apa yang dilihatnya bukan halusinasinya tapi lebih tepatnya firasat,mungkin yang dilihatnya waktu itu adalah roh sang ibu yang berusaha pamit padanya.


Dan rasa gelisah itu adalah firasat lain yang menyertainya.


Bukan hanya itu,,Ajeng memikirkan bagaimana cara dirinya untuk mengatakan pada orang-orang tentang ibunya yang telah meninggal sedangkan dulu semua orang tahu jika sang ibu telah meninggal dan mereka ikut menguburkannya.


"Lalu yang sekarang apa?!!"


Semua orang akan mengira ini lelucon murahan yang ku buat untuk menutupi sesuatu,sebuah lawakan receh dimana diriku telah mengganti jenazah ibu ku dengan gedebong pisang.


Akan kah sesuatu yang selama ini ku rahasiakan bisa termaafkan oleh mereka meski mereka mengetahui alasan ku yang sebenarnya sampai aku melakukan semua ini nantinya"


Begitu banyak pertanyaan di otakku yang sukses membuat kepala ku berdenyut


Aku benar-benar dalam dilema saat ini,satu sisi aku harus meminta tolong warga untuk memandikan dan menguburkan jenazah ibuku disisi lain aku takut penjelasan apa yang harus kuutarakan nanti di depan semua orang.


Tapi aku harus secepatnya membuat keputusan mengingat jenazah ibuku yang  segera di kuburkan.


Sepertinya ini keputusan terbaik menurut Ajeng,bagaimana dirinya menjelaskan itu urusan nanti pikirnya,yang penting jenazah sang ibu tidak terlantar seperti ini.


Untuk sementara Ajeng menutupi mayat ibunya yang kini terbaring kaku dengan sebuah kain jarik yang biasa dipakai sang ibu jika sedang pakai kebaya.


Ajeng lalu segera membereskan peralatan beserta nasi dan telur dadar yang berhamburan dilantai,juga membersihkan sisa pecahan kaca dari piring dan gelas yang terjatuh tadi.


Setelah semua beres dan bersih,Ajeng beranjak dari kamar itu,meninggalkan mayat sang ibu,lalu kembali ke kamarnya.


 


🍃Ajeng's Room


  Di kamarnya Ajeng mondar mandir,,bingung dan tak tau harus melakukan apa,,pikirannya menjadi buntu seketika.


Mengambil ponselnya dan menghubungi Andini.


"Bagaimana pun Andini harus tahu perihal ini,,dia cucu Eyang satu-satunya,,terlepas dia nanti bisa memaafkan atau tidak semua tindakan ku,,itu urusan belakangan" pikirnya.


Terdengar nada sambung,,telpon diterima..


Ajeng 📞 : " Asslamualaikum" Sapa Ajeng dengan lemah dan suaranya yang masih terisak.


Andini 📞 : " Waalaikum Salam..Iya mamah ada apa?! Suara mamah koq gitu kayak orang habis nangis saja,mamah pilek ya?!!"


Ajeng📞 : "Andini..sebelumnya mamah minta maaf..(hiks..hiks,kembali terisak),,Kamu secepatnya pulang nakk".


Andini📞 : "Lohh koq mamah menangis?! Ada apa sebenarnya mahh?!"


Ajeng 📞 : "Mamah tak bisa menjelaskannya lewat telpon nakk,,sebaiknya kamu cepat pulang,,mamah tunggu".


Andini📞: "Baiklah mahh,,Andini segera pulang"


Telpon berakhir..


Setelah mendapat telpon dari ibunya Andini lalu pamit pulang pada yang lainnya membuat mereka bertanya apa yang terjadi sehingga dia mendadak pulang.


Namun mereka menghargai Andini dengan memperbolehkannya pulang tanpa banyak bertanya,,namun Hadi bisa menebak jika ada sesuatu yang tengah terjadi.


"Maaf Andini harus pulang dulu mas,mbak"


"Iya Din,,nanti kalau ada apa-apa kabari ya" pesan mas Hadi sebelum pergi.

__ADS_1


"Pasti mas,,Semuanya Andini pamit,,Assalamualaikum"


"Waalikum salam" jawab mereka semua.


 


Andini sedikit melajukan motor metiknya agar bisa cepat sampai rumah. Sang mamah yang menangis tadi benar-benar membuatnya penasaran pada apa yang terjadi sebenarnya di rumah"


 


Sesaat kemudian motor Andini memasuki halaman rumahnya,,setelah memarkirkan motornya,,Andini mengetuk pintu rumahnya yang terkunci.


Ajeng membukakan pintu untuknya,lalu memeluk Andini dalam tangis yang sejadi-jadinya.


Membuat Andini semakin bingung dengan apa yang terjadi.


"Mahh..Ada apa sebenarnya?!!"Kenapa mamah emosional seperti ini?!"


"E-Eyang mu nakk...E-eyang mu.."


Kata Ajeng terbata disela isak tangisnya


"Eyang?!!" Ada apa dengan Eyang mahh. Mamah kangen Eyang?!! Sini Andini anter ke makam Eyang biar mamah gak sedih lagi seperti ini.


(Andini berpura-pura tidak tahu dengan semua rahasia ibunya padahal dia tahu kala itu eyangnya masih hidup)


"E-eyang baru saja meninggal nak!"


"Apa mahh?!!" Mamah jangan mengada-ada,,bukan kah Eyang telah lama meninggal?!!"


"Tidak nak..baru saja,,maafkan mamah,,begitu banyak rahasia yang mamah tutupi dari kamu selama ini,,mungkin ini saat yang tepat kamu mengetahui semua ceritanya"


"Rahasia?!! Rahasia apa mahh?!!".


"Banyak sayang,,begitu banyak,,saking banyaknya mamah tidak tahu harus memulainya dari mana"


"Apakah tentang kematian Eyang yang selama ini mamah palsukan?!! Atau tentang kamar rahasia di ruang bawah tanah yang sengaja mamah buat untuk menyembunyikan keberadaan Eyang dari orang-orang?!!"


Seketika Ajeng terkejut,mendengar penuturan Andini barusan.


Dia tidak menduga Andini telah mengetahui semuanya.


"Da-darimana kkamu tahu nak,,ppadahal mamah belum menceritakannya sama kamu" kata Ajeng seakan tidak percaya.


"Andini mencoba mencari tahu sendiri mah,,semua berawal dari perilaku mamah yang begitu protektif dengan kamar yang ada di dekat dapur tepatnya yang berseberangan dengan meja makan itu,,mamah seolah mencegah Andini untuk masuk kesana dengan berbagai alasan menyertainya,yang kata mamah hanya tempat penyimpanan barang lah,,banyak tikus lah,,banyak debu lah dan alasan lainnya lagi yang mamah buat,namun justru alasan dan perilaku mamah yang absurd itu membuat Andini semakin besar untuk menyelidikinya,,juga pada saat mamah memindahkan Eyang ke sebuah kamar rahasia di ruang bawah tanah itu,Andini tak sengaja melihatnya.


Bahkan Andini telah menjelajahi lorong rahasia dan kamar Eyang tanpa sepengetahuan mamah,,ini semua Andini lakukan karena ketidakjujuran mamah sama Andini,,sehingga Andini berusaha  mencari tahu sendiri dengan cara Andini,,dan sepertinya keberuntungan itu berpihak pada Andini sehingga Andini bisa dengan mudah menemukan tiga anak kunci di dalam sebuah kotak kecil berwarna hitam yang ada dibawah kolong tempat tidur mamah"


"Sekali lagi mamah minta maaf,,semua ada alasannya kenapa mamah berbuat seperti itu,,tapi nanti saja mamah menceritakannya karena Eyang mu harus segera diurus pemakamannya,,tapi mamah bingung bagaimana cara mmah menghadapi orang-orang sementara mereka tahu jika Eyang telah lama meninggal dunia"


"Saran Andini,,ikuti kata hati mamah,,feeling is good mahh"


Mamah tak perlu takut,,katakan kebenaran itu meski menyakitkan,,mamah tidak sendiri,ada Andini disini yang akan terus mendukung mamah"


"Makasih nakk,,andai mamah tau kamu sedewasa dan sebijaksana ini mamah takkan menyimpan rahasia ini sendirian,,jujur rahasia ini beban berat yang mamah tanggung selama  hidup mamah,,tapi setelah mamah jujur sama kamu mamah merasa lebih plong meski masih sedikit was-was menghadapi orang-orang nanti"


"Masalah itu harus dihadapi mah,,bukan ditinggalkan tanpa penjelasan"


"Tak ku kira putri kecil ku telah sedewasa ini" seraya memeluk erat putrinya.


"Ayo kita lihat eyang mu dibawah,,tapi mamah minta kamu gak terkejut melihat keadaan jenazahnya nanti ya nak"


"Baik mahh,,Ayo"


Ajeng dan Andini lalu menuju lorong rahasia dengan senter ditangan.


Sampai di kamar eyangnya itu,,Andini melihat eyangnya yang terbujur kaku dengan bertutup kain jarik.


"Yakin mahh" perlahan Ajeng membuka kain penutup dibagian wajah sang ibu..


Betapa terkejutnya Andini melihat keadaan jenazah sang Eyang yang menggenaskan itu,,namun Andini berusah menguasai dirinya.


"Sudah mah tutup lagi aja" tanpa terasa bulir bening itu menetes di sudut matanya,,yang segera di usapnya sebelum jatuh pada jenazah sang eyang.


"Ayo Din bantu mamah memindahkan  jenazah eyang mu ke atas,,agar memudahkan pelayat untuk mengurus eyang mu nanti."


Ajeng lalu merapikan sprai yang menjadi alas tidur nyai Sekar selama ini,mengambil bantalnya.


Namun saat Ajeng mengambil bantal itu,,selembar kertas yang dilipat ikut terjatuh tepat di kaki Andini.


"Lohh apa ini mahh?!! Tanya Andini seraya mengambilnya.


Andini membukanya,lalu membaca tulisan yang ada disana.


"Ini sepertinya mantra mahh,,silahkan mamah baca sendiri"


Andini lalu memberikan kertas itu pada Ajeng,,Ajeng pun membacanya.


Sesaat kemudian..


"Benar nak ini sebuah mantra"


"Kenapa eyang menyimpan mantra ini mah,dari tulisannya seperti mantra pemanggil"


"Entah lah nakk mungkin berkaitan dengan masa lalu beliau"


"Masa lalu beliau?!!" Masa lalu yang seperti apa mah?!!"


"Nanti saja ya mamah ceritakan semuanya,,tidak sekarang..Karena kita harus menyiapkan pengurusan jenazah eyang"


"Baik mahh"


"Ayo kita bawa eyang ke atas nakk"


  


Ajeng dan Andini lalu mendorong tempat tidur beroda itu,dengan eyang yang terbaring kaku di atasnya tertutup kain jarik.


Ajeng dan Andini lalu meletakkan dipan eyang di ruang tengah.


"Din mamah ke rumah pak RT dulu ya,,untuk memberitahu perihal eyang mu ini,,semoga dia bisa menerima alasan mamah memalsukan kematian eyang mu dulu"


"Iya mahh"


Ajeng lalu pergi ke rumah pak RT yang tak terlalu jauh dari rumahnya.


🍃Di rumah Pak RT


 Sesampainya di rumah pak RT tanpa membuang waktu Ajeng langsung menceritakan maksud dan tujuannya .


Dia mengatakan jika ibunya baru saja meninggal dan hal ini tentu membuat pak RT terkejut lantas bertanya..


"Apa saya tidak salah dengar bu Ajeng?!! Ibu sampean baru saja meninggal?!! Bukan kah beliau sudah lama tiada,,sejak dua tahun lalu kalau gak salah?!"


"Bu Ajeng ini bisa saja bercandanya"


"Tapi pak RT saya tidak sedang bercanda,ini serius,,sebelumnya saya minta maaf karena telah melakukan kebohongan publik atas meninggalnya ibu saya dua tahun lalu,,semua itu saya lakukan karena ada alasannya."


"Lalu apa alasan sehingga bu Ajeng melakukannya?!!"

__ADS_1


"Karena ibu terjangkit penyakit menular dan saya tidak mau orang lain terjangkit sehingga saya harus mengungsikan beliau ke suatu tempat,,saya malu jika ibu saya ketahuan mengidap penyakit itu pak,sehingga saya menciptakan kebohongan dengan kematian palsu itu.


"Saya minta tolong sama pak RT untuk membantu saya menenangkan warga jika ada diantara mereka yang tidak terima dengan penjelasan saya nantinya."


"Baiklah bu Ajeng,,saya akan berusaha membantu anda,,sekarang dimana jenazah ibu mu biar bisa segera di urus pemakamannya"


"Ada dirumah pak"


"Baiklah nanti saya umumkan dimesjid jika ibu anda meninggal agar warga mengetahui jika saat ini ada warganya yang terkena musibah"


"Baik pak,terimakasih atas bantuannya,,saya pamit pulang dulu"


"Sama-sama bu Ajeng,,semoga ibu sekeluarga diberi ketabahan atas musibah ini,,Aamiin".


"Aamiin,terimakasih pak RT"


"Saya permisi,,Assalamualaikum"


"Waalaikum Salam"


Ajeng lalu melangkah kan kakinya menuju rumah.


  


🍡🍡🍡


  


    Andini masih fokus dengan surah Yassin yang tengah dibacanya saat ini disamping jenazah sang eyang.


Namun sesaat kemudian fokusnya terbagi,,saat mata indigonya menunjukan keberadaan sang eyang yang berdiri di pojokan menatap sedih pada jenazah yang terbujur kaku itu.


"Eyang?!! Kau kah itu?!!" Andini mencoba berinteraksi dengan roh sang eyang yang kini nampak menangis.


Sesaat kemudian pergi berlalu.


Andini kembali melanjutkan membaca surah Yassin itu sampai selesai.


Sampai Ajeng tiba dan duduk disampingnya ikut membacakan surah Yassin.


Tak lama terdengar pengumuman dari mesjid,,yang di lakukan oleh Pak RT.


"Asaalamualaiku Warahmatullahi Wabarkatuuh"


Innalilahi wainnailahii rojiuun..


Telah berpulang ke rahmatullah salah satu warga kita yang bernama


"Nyai Sekar Binti Raden Wijaya"


" Ibunda dari Ibu Ajeng"


Semoga almarhumah di ampunkan segala dosanya,dilapangkan kuburnya dan di mudahkan jalannya menuju Jannah,,untuk keluarga yang ditinggalkan semoga selalu diberi kesabaran dan ketabahan atas musibah ini.


"Aamiin.."


"Demikian pemberitahuan dari kami,,terimakasih Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh"


Pak RT mengakhiri infonya.


   


   Bisa ditebak..Setelah mendengar pengumuman dari speaker mesjid para warga pun menjadi heboh,,bahkan beberapa dari mereka keluar dari rumah untuk memastikan apa yang mereka dengar barusan.


Apalagi yang namanya ibu-ibu kalau  sudah kumpul pastilah jadi rame,,apalagi kalau bukan ngerumpi membahas masalah yang sedang viral ini,yakni meninggalnya nyai Sekar.


"Ehh bu Ida dengar gak pengumuman barusan?!"Katanya yang meninggal itu nyai Sekar,,tapi bukan kah nyai Sekar sudah meninggal sejak dua tahun lalu?" Tanya bu Sari.


"Iya bu Sari,,aneh ya.." kata bu Ida.


"Iya aneh banget,apa yang terjadi sebenarnya ya?!!" Tanya bu Endah lagi.


"Entahlah ibu-ibu,,tapi biar lebih jelas kita kesana aja melayat"


Kata bu Fatma lagi.


"Iya benar,,ayo" kata bu Sari.


"Tunggu ya aku nutup kios dulu" kata bu Ida.


Lantas mereka pulang ke rumah masing-masing dan bersiap untuk melayat.


🍡🍡🍡


    Sebagian pelayat sudah mulai berdatangan ke rumah duka.


Tentu saja mereka bertanya-tanya,,kenapa bisa begini,,padahal yang mereka tahu nyai Sekar sudah lama meninggal.


Apalagi ibu-ibu yang memenuhi ruang tengah saat ini begitu penasaran pada jenazah yang kini tertutup kain jarik itu.


Salah satu tetangga yang agak keppo dengan urusan orang lain mulai mencari tahu,,dia tak lain adalah bu Entin,yang terkenal suka menggunjingkan orang.


Dan meninggalnya nyai Sekar ini ibarat makanan lezat untuknya.


Bu Entin mulai terihat mendekati jenazah,perlahan kedua tangannya mendekati kain jarik penutup jenazah akan membukanya.


Untung Ajeng sempat melihat apa yang akan dilakukan bu Entin,,dia lalu memperingatinya dengan baik-baik agar tak menyinggung perasaannya,,karena setiap pelayat yang masuk dan akan melihat jenazah sang ibu,Ajeng pasti akan memperingatinya lebih dulu untuk tidak membuka penutup wajahnya.


Meski bu Entin ini telah diberitahu oleh Ajeng dari awal kedatangannya namun sepertinya dia ngeyel karena kekeppoannya yang terlalu tinggi untuk mencari bahan rumpian.


"Maaf bu Entin,,kami pihak keluarga meminta dengan sangat untuk tidak membuka penutup jenazah,,dikarenakan penyakit menular yang di derita almarhumah,,kami tidak ingin yang lain tertular" Kata Ajeng.


Bu Entin lalu mengurungkan niatnya dan menggeser posisinya yang semula berada dekat jenazah kini sedikit menjauh dengan wajah yang  ditekuk.


Ajeng masih sempat mendengarnya berkasak kusuk dengan orang yang duduk disampingnya.


"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan deh bu,,sampai-sampai penutup jenazah tidak boleh dibuka,,bukankah nanti juga akan dibuka oleh pemandi jenazah?! "Bagaimana dengan mereka,,apa gak tertular penyakit juga nantinya?!!" Ucapnya agak nyaring agar yang lain ikut mendengar.


"Tapi yang aku dengar yang akan memandikan keluarga sendiri,,mbok Jum,,beliau itu kan selain ahli memasak juga bisa memandikan jenazah" kata bu Fatma.


"Nggak tau sih aku kalau itu,tapi feeling ku kuat jika ada sesuatu yang disembunyikan di balik kain jarik penutup itu" katanya lagi.


"Sudah lah ibu-ibu,,lebih baik kita mendoakan almarhumah daripada sibuk menggibah"celetuk bu Yem.


Bu entin sontak terdiam setelah mendengar penuturan bu Yem.


Mendengar kasuk kusuk tadi Ajeng berinisiatif akan mengatakan alasan kenapa dirinya melakukan kebohongan publik dan melarang jenazah sang ibu dibuka,,meski alasan yang akan diutarakannya nanti pun sebuah kebohongan namun demi menjaga nama baik dan tak ingin membuka aib sang ibu pada orang luar jadilah dia memilih untuk mengatakan hal itu,yang sudah dipikirkannya di awal.


 


🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


N/B :


Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.


Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.


                                With Love

__ADS_1


                             DianadieNcess😘


__ADS_2