
Hari ini setelah sarapan mas Hadi pagi-pagi sekali langsung berangkat mengajar,,biasanya dia selalu bersenda gurau dulu dengan ku sebelum berangkat,namun hari ini dia hanya sempat mengajak bicara bayi kami sebentar seraya mengusap lembut perutku,,lalu segera pamit,katanya hari ini akan ada rapat dewan guru dan dia tak mau terlambat.
Aku mengantarnya hingga ke pintu,,mobil yang dikendarai mas Hadi bergerak perlahan meninggalkan pekarangan,,seiring senyuman dan lambaian tangannya padaku yang masih berdiri di depan pagar untuk menguncinya setelah mas Hadi berangkat.
Namun saat aku fokus akan mengunci pintu pagar,,seorang ibu paruh baya yang kemarin melihat ku dengan begitu intens,,lewat di jalan depan rumah.
Sebagai tetangga yang baik tentunya aku pun menyapanya..
"Pagi Bu...Mau kemana??" Sapa ku padanya berbasa basi.
"Ehh Neng..(seraya mengingat),siapa namanya maaf ibu lupa.."
"Maya bu"
"Ohh iya neng Maya..ibu mau ke kebun"
"Jadi ibu punya kebun?!"
"Iya..Kebun jagung neng,,itu sebelahan sama sawahnya neng Ajeng."
"Ohh gitu,,lalu rumah ibu dimana??O'iya maaf nama ibu siapa??"
"Rumah ibu seberang rumah bu Ida,,itu yang catnya warna tosca,,kelihatan koq dari sini"
O'iya kita belum saling kenal ya neng,,habis baru hari ini kita ngobrol,,nama ibu..Sartiyem,,tapi panggil saja bu Yem biar lebih mudah di ingat."
"Baik bu"
"Gimana,,apa neng Maya kerasan tinggal disini??"
Lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar darinya,sama seperti ibu-ibu lain disini.
Dan setiap itu juga,,aku harus berusaha menutupi kenyataan sebenarnya jika memang benar ada sesuatu yang berbeda dari rumah ini.
"Sejauh ini kerasan sih bu" jawab ku atas pertanyaannya.
"Benar neng??!!" Tanyanya setengah menyelidik,seolah tak mempercayai jawaban ku tadi.
"Beneran bu Yem"
"Tapi kenapa ibu merasa tidak begitu ya neng,neng sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu" katanya lagi.
Aku terdiam sejenak sibuk dengan pikiran ku pada sosok yang ada dihadapan ku kini.
"Dia seperti bisa membaca pikiran ku tentang rumah ini" batinku.
"Gak koq bu Yem,,tak ada yang saya sembunyikan tentang rumah ini,juga rumor yang beredar jika warga sering melihat penampakan-penampakan lewat sini.
"Selama saya tinggal disini,,tak pernah merasa terganggu atau diganggu"
"Syukurlah kalau begitu,,ibu permisi ke kebun dulu ya neng,,jaga diri baik-baik juga bayi dalam kandungan neng,bahaya mengintai,,dia ada disana"
Ucapnya seraya berlalu dari hadapanku dengan ekspresi wajah yang sulit ku artikan maknanya.
Kata terakhir yang di ucapkan bu Yem barusan sukses membuatku bingung,,cemas dan bertanya-tanya.
"Bahaya mengintai??!!" Tapi..bahaya apa??!"
Dan koq bu Yem bisa tau jika saat ini aku tengah hamil padahal perutku belum terlalu terlihat apalagi setiap hari kalau dirumah aku menggunakan daster longgar,,bahkan bu Ida dan bu Sari yang sering ngobrol dengan ku saja tak tau jika aku sedang hamil.
"Jangan-jangan...Bu Yem ini paranormal atau semacam cenanyang gitu??!!"
"Atau mungkin indigo?!!"
Seingatku dia juga mengatakan "dia ada disana??!!"
Lalu...siapa gerangan si "dia" yang dimaksud olehnya tadi??"
Pertanyaan yang bermunculan dibenakku saat ini.
Membuat Kepala ku pusing dibuatnya.
Aku segera masuk ke dalam rumah.
Hawa berbeda kembali kurasakan saat berada di dalam rumah ini,dan sama seperti biasanya aku selalu merasa ada yang memgawasi.
Namun aku memilih untuk tak memperdulikannya karena ku tau hal gaib itu memang ada,,bukankah manusia dan jin hidup berdampingan hanya alamnya saja yang berbeda.
__ADS_1
Dan satu yang pasti,aku mempunyai Allah yang akan melindungi ku.
🍡🍡🍡
Pagi semakin beranjak siang,,aku segera mengakhiri me time ku dari rebahan,,lalu kembali menyibukkan diri di dapur memasak makan siang untuk mas Hadi,,yang sebentar lagi pulang,,sejak tadi malam dia minta dibikinin sup ayam,,makanan favoritnya.
Namun kesibukan aktifitas ku di dapur harus terganggung karena aku dengan jelas mendengar tapak kaki kuda di bagian belakang rumah yang disusul suara ringkikannya,,lalu hening.
Beberapa saat aku tertegun,,mencoba memperjelas pendengaran ku barusan.
"Seperti suara ringkik kuda?!" Tapi setahuku di bagian belakang rumah hanya ada kebun karet dan di sekitar sini tak ada yang memiliki peternakan kuda atau tetangga yang memelihara kuda" batinku.
Rasa penasaran pun menguasaiku...
Membuatku berhenti dari kesibukanku memasak demi mencari tahu apa yang ku dengar tadi,dengan mengintip dari celah kecil yang ada di dinding dapur.
Karena aku merasa suara itu berasal dari jalan setapak di bagian belakang rumah.
Dari celah kecil itulah,aku mengamati keadaan sekitar,,namun tak ada siapa pun ku dapati disana,,meski dalam harap aku ingin sekali melihatnya.
Cukup lama aku berdiri dengan posisi masih mengintip di celah kecil itu,,untuk mencari tahu,,sampai aku dikejutkan kembali oleh suara gaduh disertai lengkingan menyayat seperti orang yang kesakitan,,berbarengan dengan perut ku yang tiba-tiba berdenyut dan gerakan bayi dalam kandungan ku yang sangat aktif,,disusul perasaan gelisah yang kini menyergapku.
"Tenang sayang,,ibu disini bersama mu" gumamku lirih mengajak bayi ku bicara.
Usapan lembut tangan ku dibagian perut sedikit bisa membuat bayiku tenang,,gerakannya tak seaktif tadi saat suara jeritan itu terdengar.
"Suara siapakah itu?? Sepertinya dari dalam rumah ini?!! Tapii..Disini tak ada orang lain selain aku. " Ahh..mungkin aku salah dengar" batinku.
Kembali ku teruskan aktifitas ku yang sempat tertunda tadi,,memasak makan siang.
Dan Semua harus selesai sebelum mas Hadi pulang,karena aku gak mau jika suamiku menunggu sampai aku selesai masak dengan perut lapar.
🍡🍡🍡
🍃Di Ruang Rahasia
Asap tebal menyelimuti ruangan kecil yang menjadi kamar rahasia itu,,membuat Nyai Sekar yang kini terbaring lemah tak berdaya di atas sebuah dipan dengan kasur kecil diatasnya menjadi mengap-mengap dan terbatuk karena merasakan sesak pada bagian dadanya akibat kepulan asap yang datang tiba-tiba itu.
Lama kelamaan asap tebal itu perlahan menipis seiring dengan hadirnya sosok wanita berkemben kuning dengan mahkota menghiasi kepalanya yang kini mencengkram leher Nyai Sekar dan menatap tajam penuh amarah padanya,,membuat Nyai Sekar menjerit tertahan,,merasakan kesakitan yang teramat sangat.
"Hei kau manusia laknat!!!" Jangan ingkar janjimu,,jika tidak tanggung akibatnya!!" Hardiknya dengan suara tegas menggelegar.
"Maafkan saya Ratu tapi sampai detik ini saya belum menemukan tumbal terakhir untuk diserahkan pada Ratu"
"Sekar..Sekar..Dengar Sekar aku tidak mau tau!!! Kamu telah melakukan perjanjian itu sejak puluhan tahun lalu dan kamu harus segera menyerahkan tumbal terakhir,,kalau tidak nyawa mu taruhannya!!!"
"Camkan itu Sekar!!!"Jika kamu tak ingin celaka!!!"
"Tapi...Ratu..saya tidak tau harus mencari dimana lagi bayi itu,sedangkan saya berada dalam pasungan".
"Bodoh!!! Bodoh sekali kamu Sekar,kenapa tidak kau minta anak perempuan mu itu untuk membuka tali pengikat mu itu heh?!!"
"Ajeng tidak mau membukanya Ratu,,dia telah mengetahui semuanya!!!"
"Yang kamu cari ada disini,,di salah satu bagian yang terhubung dengan rumah ini!!!"
"Dirumah ini?? Apa maksud mu Ratu?!"
"Benar sekali Sekar,,bahkan bayi itu sangat istimewa,,dan aku menginginkannya!!! Kamu dengar Sekar?! Aku menginginkannya!!!"
Bawa dia padaku sebagai tumbal terakhirmu,,sebelum semuanya terlambat!!!"
"Aku tidak mau tau Sekar,,sebelum purnama ke-4 kamu harus menyerahkan tumbal terakhirmu!!! Kalau tidak nyawamu sebagai gantinya!!!" Hahahahahaaaaa..."tawa Nyi Ratu memenuhi ruangan,,lalu menghilang bersama kereta kencananya diikuti suara tapak kaki kuda yang semakin menjauh.
Tentu saja hanya Maya yang mendengarnya,,suara derap langkah kaki kuda itu sudah pasti membuat Maya yang tengah memasak terkejut untuk yang kedua kalinya.
Aku segera berlari menuju celah di dinding dapur,,lalu kembali mengintip pada celah kecil yang ada disana,,namun lagi-lagi dia tak menemukan apapun disekitar situ,,rasa penasaran benar-benar telah menguasai ku saat ini.
🍡🍡🍡
Setelah kepergian Ratu Manika,,ratu kerajaan gaib itu,yang dipuja Nyai Sekar selama ini dalam ritual sesat pada perkumpulan sekte hitamnya,,membuat wajah tirus yang menampakkan tonjolan tulang pipinya terlihat pucat pasi.
Karena teringat ancaman Ratu Manika tadi.
Bagaimana nyai Sekar tidak cemas,,sesuai perjanjian di awal jika semua tumbal diserahkan kepada Ratu Manika dan sebagai imbalannya,Ratu Manika akan mengabulkan keinginan pemujanya,,apapun itu asalkan bisa memenuhi persyaratan darinya,,jika tidak,konsekuensi besar akan ditanggung pemujanya yang melanggar perjanjian,,seperti yang terjadi dengan Nyai Sekar yang telah ingkar dengan janjinya.
__ADS_1
"Kemana aku harus mencari tumbal terakhir itu??!" Batinnya
"Bukankah tadi Nyi Ratu sempat berkata jika aku bisa mendapatkannya dirumah ini,,tapi..bayi siapa??!! Apakah Ajeng sedang hamil? Tapi tidak mungkin,,suaminya telah dua tahun yang lalu meninggal dan dia sampai saat ini belum bersuami",lalu kalau bukan Ajeng siapa??!"
Pertanyaan yang hadir dibenak Nyai Sekar saat ini.
"Apa mungkin Ajeng punya hubungan dengan laki-laki lain sekarang dan dia menyembunyikan kehamilannya"
Dugaan Nyai Sekar pada putrinya itu.
"Atau Jangan-jangan dia tidak mau melepaskan ku dari pasungan ini karena dia tak mau aku mengetahuinya jika dia tengah hamil dan takut bayi dalam kandungannya aku ambil"
Batinnya lagi..
Berbagai praduga hadir dibenak Nyai Sekar saat ini..
"Aku harus mencari tahu semuanya,,dan jika itu benar aku takkan berdiam diri,,dan aku pasti akan mengambil bayi itu darinya meski dia darah dagingku sendiri ketimbang nyawa ku menjadi taruhannya"
Batinnya.
🍡🍡🍡
Disaat yang sama..Ajeng dengan tergopoh-gopoh dan seraya berlari menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah tempat ibunya di sembunyikan.
Bagaimana tidak dari rumahnya dia mendengar sang ibu berteriak keras seperti orang ketakutan.
Membuat Ajeng menghentikan kegiatannya beberes rumah,,tanpa pikir panjang dia melemparkan sapu itu ke pojok ruangan.
Nampak tergesa dia berlari menuju lorong rahasia itu dengan lentera ditangan,dia menuruni beberapa undakan yang menjadi tangga penghubung antara rumahnya dengan lorong rahasia itu.
Tak lama berjalan tibalah dia di depan sebuah pintu.
Sesaat kemudian Ajeng nampak memasukkan anak kunci ke sebuah pintu rahasia yang ada disana,,tempat dimana sang ibu berada.
Kriiieeettt....
Bunyi pintu yang di dorong pelan oleh Ajeng.
"Ajeng...kau kah itu??" Kata sang ibu,,yang sedang terbaring lemah dengan mata menatap nanar langit-langit kamar.
"Iya bu ini Ajeng,,ibu kenapa berteriak seperti orang ketakutan begitu??"
Harusnya ibu tidak menimbulkan kegaduhan,,nanti bisa didengar orang lain atau tetangga,,kalau tidak semuanya akan ketahuan bu,,juga tentang kematian palsu ibu"
"Sudah lah Ajeng kamu tak perlu menasihati ibu!!!"tolong buka tali ijuk pengikat ini,,jika kamu tak ingin ibumu ini sengasara!!"
"Maafkan Ajeng bu,,Ajeng tak bisa penuhi keinginan ibu"
"Kenapa Ajeng?!!"
Apa kamu takut jika ibu akan makan janin dalam kandungan mu itu heh?!"
"Apa maksud ibu??!" Janin??" Janin apa bu??! Bukankah ibu tau setelah mas Ikhwan meninggal hingga detik ini Ajeng belum bersuami,,jadi gimana Ajeng mau hamil lagi bu?!"
"Kenapa ibu bisa berkata begitu??"
Ajeng tak mungkin bohong karena dari indera penciumannya yang tajam Nyai Sekar juga tidak mendapati aroma janin itu pada diri Ajeng.
"Sudah lupakan saja pertanyaan ibu tadi,,wajar kan ibu bertanya karena selama ini ibu berada dalam pasungan,,tidak tau apa-apa tentang dunia luar"
"Dengar ya bu,,meski Ajeng kelak bersuami lagi,,Ajeng takkan pernah memberitahu ibu tentang kehamilan Ajeng,,karena Ajeng tau tujuan ibu sebenarnya apa juga tentang pertanyaan ibu tadi,,tak lain dan tak bukan hanya untuk mendapatkan bayi untuk tumbal terakhir ibu"
Seketika rona wajah Nyai Sekar berubah merah padam,,menyiratkan amarah setelah mendengar penuturan sang putri yang ternyata telah mengetahui tujuannya dibalik semua itu.
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
With Love
DianadieNcess😘
__ADS_1