
Tak lama berselang Hadi,,Maya,mbok Jum dan Bayu mendatangi rumah duka.
Sama seperti yang lainnya mereka juga terkejut setelah mendengar pengumuman tadi pagi dan telpon dari Andini yang mengabarkan jika eyangnya baru saja meninggal.
Sesampainya mereka dirumah duka,,Hadi lalu menemui Ajeng untuk menanyakan kenapa hal ini bisa terjadi.
"Mbak..bagaimana bisa bude Sekar baru dinyatakan meninggal bukankah beliau sudah meninggal sejak dua tahun lalu?!Ada apa sebenarnya ini mbak?!"Tanya Hadi
"Nanti saja ya Di mbak gak bisa menjelaskannya sekarang dan lagi pelayat sedang banyak-banyaknya"
"Iya mbak,,tak apa,Hadi maklum"
"Makasih Di pengertiannya"
Semua nampak sibuk,,hanya aku saja terlihat berdiam diri,2duduk di antara para pelayat sambil merangkai bunga dan daun kelapa dibarengi dengan membacakan dzikir dan doa yang ditujukan untuk almarhumah.
Sebagian lagi memotong daun pandan kecil-kecil yang dicampur dengan aneka bunga sebagai taburan di tanah makam.
Beberapa pelayat duduk di dekat jenazah seraya membacakan surah Yassin,,nampak tak jauh dari wadah tempat bunga,sebuah teko kaca berisi air doa yang nantinya akan turut disiramkan pada tanah makam,berharap yang meninggal mendapat ketenangan.
Di atas kain jarik penutup jenazah nampak sebuah kertas bertuliskan nama almarhumah "Nyai Sekar Binti Raden Wijaya" agar memudahkan pelayat yang akan mengirimkan doa untuknya.
Namun lama-lama aku bosan juga terus duduk selain itu kaki ku kesemutan karena terlalu lama duduk dengan posisi kaki ditekuk.
Perlahan aku akan berdiri namun sedikit susah karena perutku yang besar ini,iya sekarang kehamilan ku masuk bulan ke-8,,benar-benar tak terasa tinggal 2 bulan saja aku sudah akan melahirkan.
Melihat aku yang susah berdiri,mbok Jum yang kebetulan lewat di depan ku segera membantu dengan memegangi kedua tanganku.
"Makasih mbok"
"Sama-sama neng,,O'iya neng Maya mau kemana?!" Kan si mbok sudah bilang jangan terlalu capek,,dan satu lagi si neng gak usah nengok jenazah,,katanya pamali buat ibu hamil"
"Baik mbok,,Maya cuma mau keluar nemuin mas Hadi,disini agak gerah"
"Yowes..sini si mbok anterin"
Mbok Jum berjalan disamping ku,bersama mencari mas Hadi yang saat ini terlihat duduk dengan Bayu dan beberapa orang bapak-bapak yang tak lain adalah tetangga dekat sini.
"Mbok itu disana mas Hadi sama Bayu"
"Ohh iyo, ayo neng"
"Sampai sini saja mbok,Maya bisa koq jalan sendiri ke sana"
"Yakin kamu nduk?!!" Kakinya gimana masih kesemutan?!"
"Sudah mendingan mbok,,Maya jalannya pelan-pelan saja koq"
"Yowes mbok tinggal yo,,sebentar lagi jenazah akan dmandikan."
"Iya mbok,,makasih loh sudah anterin Maya"
"Opo sih nduk kamu iku bilang makasih mulu koyok sama siapa saja"
"Si mbok tinggal yo.."
"Iya mbok"
Mbok Jum lalu kembali masuk ke dalam rumah
Sedang aku nyamperin mas Hadi yang duduk dibawah pohon rindang bersama Bayu dan beberapa orang lainnya.
"Loh koq kesini sayang?! Kamu gak kenapa-napa kan?!"
"Gak papa mas,mau nyari udara segar aja habis di dalam agak sumpek"
"Ohh ya sudah ayo duduk,,disini adem,,tunggu sebentar mas ambilkan kursi dulu" seraya berlalu,,tak lama kembali dengan membawa sebuah kursi plastik dan meletakkan disampingnya,,aku lalu duduk disana,,benar kata mas Hadi disini terasa lebih adem.
Dari tempat ku duduk saat ini aku bisa melihat mbok Jum tengah bercakap-cakap dengan mbak Ajeng,entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Sedang Andini masih tak beranjak dari duduknya di dekat jenazah sang Eyang sambil mengaji.
"Benar-benar anak sholehah Andini itu ya mas,,beruntung sekali laki-laki yang menikahinya nanti"
"Iya sayang,,mbak Ajeng sukses mendidiknya menjadi seperti sekarang,tapi selain itu almarhum ayahnya Andini setahu mas juga orang yang mengerti agama"
"Apakah sebelumnya di keluarga besar mas Hadi ada yang memiliki kemampuan melihat yang tak kasat mata seperti Andini?!"
"Sepertinya turunan dari kakek buyut sayang,,banyak cerita tentang beliau dari almarhumah ibu dulu tentang kakek yang punya sahabat dari dunia lain"
"Ohh pantesan,,biasanya sih yang begitu itu faktor keturunan mas"
__ADS_1
Perbincangan ku dan mas Hadi seketika terhenti saat aku melihat Andini celingukan nampak mencari sesuatu.
"Mas coba lihat Andini itu sedang nyari apa?!!"
Mas Hadi lalu melihat ke arah yang ku maksud.
"Entahlah sayang"
Sekilas mata ku dan Andini saling tatap dia tersenyum lalu mendekat ke arah ku,,sempat ku lihat Bayu yang duduk disamping mas Hadi menjadi salah tingkah,,aku pun mencoba menyembunyikan senyuman ku atas tingkahnya takut dia malu.
"Ternyata pada disini,,pantesan gak kelihatan di dalam" kata Andini.
O'iya kalau mbak Maya capek istirhat di kamar Andini saja mbak"
"Mbak senang disini Din,,adem habis pohonnya rindang,,iya Din nanti jika capek mbak akan istirahat disana"
"Dengan senang hati mbak,,panggil saja Andini nanti jika mau istirhat biar Andini anter" katanya lagi.
"Baiklah adikku cantik" jawabku membuatnya bloushing dan salting karena sekarang Bayu ikut menatapnya.
"O'iya mas Hadi sama mas Bayu lagi sibuk nggak?!" Tanya Andini
"Gak koq Din,,emang ada apa?! Perlu bantuan?!!" Tanya mas Hadi dan Bayu
"Iya nih mas"
"Bantuan apa itu Din?!" Katakan saja kata mas Hadi.
"Bantu ngisi air buat mandinya eyang"
"Bisa,,tentu saja bisa Din,,ya kan mas?!!ayo mas Hadi kita isi airnya" kata Bayu antusias karena Andini yang meminta tolong.
Membuat kami bertiga tergelak melihat tingkah kocaknya.
"Bayu...Bayu..Ada-ada saja dia itu kata mas Hadi seraya berjalan mengikutinya menuju ruangan belakang yang akan digunakan untuk memandikan jenazah dimana telah terdapat beberapa baskom besar tempat menampung air.
Tanpa membuang waktu mas Hadi dan Bayu mengisi air di wadah-wadah itu sampai semua terisi penuh.
Sementara Andini menemaniku,sepertinya dia gak mau meninggalkan ku sendirian,mungkin mengingat pengalaman kemarin, alasan lainnya karena wanita hamil apalagi anak pertama itu aromanya sangat wangi bagi para lelembut.
"Andini kalau sibuk silahkan,di tinggal saja mbak disini gak papa koq"
"Andini belum akan sibuk mbak,,tohh ada mamah yang menjaga jenazah eyang,,mungkin sibuknya nanti saat jenazah akan dimandikan,rencana Andini sama ibu yang akan ikut membantu mbok Jum memandikan"
"Ohh begitu,,untung saja ada si mbok ya yang serba bisa,,semoga si mbok panjang umur biar semua orang bisa tertolong karenanya"
🍡🍡🍡
Semua baskom telah terisi air,,tugas mas Hadi dan Bayu akhirnya selesai,,jenazah siap dimandikan,,para pelayat khususnya para ibu-ibu dan remaja putri yang ikut melayat mulai membacakan surah yassin termasuk aku yang kini duduk di antara pelayat lain,,sedang Andini dan mbak Ajeng telah berada diruangan tempat jenazah eyang dimandikan. Mbok Jum pun telah bersiap-siap.
Beberapa saat sebelum prosesi memandikan jenazahnya di mulai,,Ajeng lebih dulu memberitahu mbok Jum agar jangan kaget melihat wujud sang ibu di akhir hayatnya.
"Maaf sebelumnya ya mbok,,Ajeng hanya mau kita bertiga yang memandikan ibu,,mengingat keadaan ibu yang seperti ini,,Ajeng harap mbok Jum tidak berubah pikiran setelah melihatnya."
"Insha Allah gak neng,,apa dan bagaimana pun keadaan jenazah di waktu terakhirnya si mbok akan menjaga rahasianya untuk diri mbok sendiri,,itu adalah kode etik pemandi jenazah,,sebab itu aib seseorang,,sebisanya harus di tutupi"
"Makasih banyak ya mbok"
"Keadaan ibu yang beginilah yang membuat Ajeng mengatakan pada orang-orang jika ibu terjangkit penyakit menular,,agar tak ada yang membuka penutup jenazah dan melihat keadaan ibu yang sebenarnya,,karena pasti akan jadi gunjingan,,Ajeng gak mau itu terjadi mbok" seraya menangis.
Andini pun ikut terisak seraya memeluk sang mamah untuk menenangkannya.
"Sudah Ajeng,,Andini kalian jangan menangis,,doa kan saja beliau agar di ampuni segala dosanya dan diberi ketenangan disana."
"Ayo lebih baik kita segera mulai saja,mengingat sebentar lagi masuk waktu sholat dzuhur.
"Bukankah beliau akan dikebumikan setelah ba"da dzuhur?!"
"Iya mbok,silahkan mulai saja"
Dengan perlahan mbok Jum membuka kain jarik yang menutupi wajah dan keseluruhan badan jenazah.
Seketika mbok Jum terkesiap,,tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya barusan,,dan selama dia memandikan jenazah baru kali ini dia menemui akhir ajal yang seperti ini,,namun mbok Jum berusaha menguasai diri dan menyembunyikan keterkejutannya.
"Kalian sudah siap?!! Tanya mbok Jum pada Ajeng dan Andini"
"Iya mbok" kata mereka berdua.
Mbok Jum lalu memulai prosesi pemandian jenazah Nyai Sekar.
Dia membacakan doa-doa sebelum menyiramkan air itu ke tubuhnya.
__ADS_1
Setiap guyuran air setiap itu pula doa tersemat untuknya melalu air mandi itu.
Dan setiap kali guyuran air mandi yang dibarengi dengan bacaan doa itu mengenai tubuh Nyai Sekar setiap itu juga tubuh kaku itu mengeluarkan asap.
Ternyata bukan hanya mbok Jum yang melihatnya,,Ajeng dan Andini pun sama,,mereka juga melihatnya.
Lantas Ajeng bertanya...
"Kenapa tubuh ibu berasap mbok,seperti bau terbakar?!!"
"Entahlah Jeng,,hanya Allah yang tahu,,kita hanya bisa mendoakan beliau semoga di ampuni segala dosanya,,dimudahkan jalannya menuju Jannah"
Bukankah tugas kita sebagai anak terus mendoakan orang tuanya meski mereka telah tiada?!"
"Iya mbok,,benar sekali"
Mbok Jum kembali melanjutkan kegiatannya memandikan jenazah
Sementara Ajeng dan Andini ikut membersihkan tubuh nyai Sekar,dengan mengusap pelan dan meratakan air ke seluruh tubuhnya,,juga membersihkannya.
"Bagaimana Ajeng,,Andini apakah menurut kalian almarhumah sudah bersih dari najis dan hadas?!!
"Iya mbok,,semua sudah bersih"
"Itu artinya mandinya akan selesai"
"Setelah ini si mbok akan dibantu beberapa rekan untuk mengafaninya"
"Tapi mbokk?!! Bagaimana dengan keadaan ibu yang begini,,Ajeng gak mau orang-orang menggunjingkan ibu,,biar bagaimana pun Ajeng akan berusaha menutupi aib beliau"
"Kamu tenang Ajeng,,ayo sama-sama kita memohon pada yang kuasa agar almarhumah ditolong dan ditutupi aibnya."
"Baiklah mbok"
Sesaat kemudian Ajeng dan Andini nampak diam dengan mata terpejam. Dalam diamnya mereka berdoa memohon agar almarhumah diberi pertolongan,,ditutupi aibnya dan di ampuni segala dosanya.
Begitu pun dengan mbok Jum berusaha dengan doa memohon pada Allah swt agar membantu jenazah nyai Sekar untuk menutupi aibnya.
Kini mata nyai Sekar yang semula melotot,,sekarang sudah tertutup dengan sapuan tangan mbok Jum di di kedua matanya.
Begitu halnya dengan lidahnya yang menjulur sangat panjang,,sekarang menjadi lebih tertarik ke dalam,,sehingga mulutnya bisa ditutup meski sedikit dari bagian lidah depan masih tergigit bibirnya.
Sekarang keadaan Nyai Sekar sudah lebih baik dari di awal tadi.
Ajeng dan Andini yang melihatnya pun tak henti mengucap syukur kepaada Allah swt,karena telah menutupi aib sang ibu.
"Sekarang tinggal prosesi akhir,jenazah diwudhukan" kata si mbok.
Setelah selesai diwudhukan,,jenazah nyai Sekar lalu di gotong menuju ruangan yang telah disekat dengan beberapa kain dimana telah menunggu beberapa rekan mbok Jum untuk mengkafani jenazah.
Semua fokus dengan tugasnya masing-masing,,aroma cendana menyeruak disekitarnya,,membuat kepalaku sedikit pusing karena aromanya yang tajam.
Sesaat kemudian jenazah selesai dikafani,,kembali ditutup dengan kain jarik keseluruhan tubuhnya
Pelayat masih berdatangan,,sebagian ibu-ibu tetangga ada yang sibuk memasak dibagian belakang rumah yang sengaja di set seperti dapur umum yang atapnya dari terpal yang telah dipasang oleh mas Hadi,,Bayu dan para bapak-bapak tetangga mbak Ajeng,,disitulah mereka memasak untuk hajatan sepulang dari pemakaman nanti.
🍡🍡🍡
Adzan Zuhur berkumandang dari mesjid di ujung jalan,,jenazah nyai Sekar lalu dibawa ke mesjid untuk disholatkan.
Namun pada saat jenazah akan diangkat,,beberapa orang yang mengangkatnya termasuk mas Hadi dan Bayu nampak kesusahan mengangkatnya,,jenazah menjadi sangat berat.
Sehingga salah seorang bapak tanpa sengaja kakinya terselengkat,,sedikit oleng dan akan terjatuh,,sehingga membuat posisi jenazah dalam usungan ikut oleng dan jatuh berdebum,membuat para pelayat terkejut,,lalu membantu meangkatnya kembali ke usungan.
Ajeng dan Andini kembali berairmata tatkala melihat jenazah sang ibu yang terjatuh.
Setelah jenazah telah kembali berada dalam usungan,mereka mencoba mengangkatnya lagi,,mas Hadi dalam diamnya memohon kepada Allah agar semua urusan dipermudah,,sepertinya Allah mendengar doa mas Hadi,,jenazah berasa sedikit lebih ringan tak seberat tadi.
Untung saja bu Endah sudah pulang kalau tidak jatuhnya jenazah nyai Sekar tadi akan menjadi bahan rumpian darinya.
Mereka yang meangkat usungan jenazah nampak kepayahan,,mereka merasa berjalan dengan sangat lambat karena jenazah yang agak berat tapi masih untung bisa di angkat,,padahal mereka berjalan dengan cepat.
Setelah dengan berbagai kendala menyertainya akhirnya sampai juga Jenazah nyai Sekar di mesjid dan siap untuk disholatkan.
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
__ADS_1
With Love
DianadieNcess😘