
Ba'da magrib,,Andini dan Ajeng tengah bersiap pergi ke rumah bik Lila,,malam ini akan diadakan acara syukuran plus pengajian menyambut pernikahan mbak Nia besok.
Sesampainya di rumah bik Lila,,terlihat kesibukan orang-orang yang tak lain beberapa tetangga dekat juga kerabat yang membantu terlaksananya acara malam ini.
Melihat kedatangan Ajeng dan Andini,,bik Lila segera menghampiri lalu mengajak keduanya masuk.
"Mbak Nia nya mana bik?!!" Tanya Andini.
"Di kamar Din,,lagi persiapan,tadi masih latihan mengaji sama ustadzah Muna,,samperin gih biar mamah mu disini bantuin bibik"
"Njihh bik,,mahh Andini ke mbak Nia ya"
"Iya nakk,,tapi ingat jangan digodain mulu mbaknya"
"Iya deh mahh"
Saat sudah di depan pintu kamar mbak Nia,,lamat-lamat Andini mendengar orang yang tengah mengaji,,siapa lagi kalau bukan mbak Nia,,sesekali ditingkahi oleh suara ustadzah Muna yang memperbaiki pelafalannya jika ada yang kurang tepat.
Andini lalu mengetuk pintu kamar itu,,terdengar suara mbak Nia yang menyuruh masuk,,Andini membuka perlahan pintunya,,melihat kedatangan Andini,,Nia tersenyum manis padanya.
"Hai Din,,sudah datang tohh,,ayo sini" ucap mbak Nia ramah diiringi senyuman yang sama oleh ustadzah Muna.
"Baru aja sampai ,,lanjutin aja ngajinya mbak"
"Okke Din,,Ayo bu ustadzah"
"Sekali lagi ya Nia,,biar lebih mantap" kata ustadzah Muna
"Njih ustadzah" jawab mbak Nia.
Andini masih disitu,,enggan beranjak saat mendengar mbak Nia mengaji,,begitu merdu suaranya,,pelafalannya juga pas,,gak salah bik Lila memilih ustadzah Muna untuk mengajarkan mbak Nia mengaji.
Karena ustadzah Muna memang terkenal di desa ini sebagai Qoriah terbaik dan sering memenangkan lomba sejenis.
Tak sampai lima belas menit aku melihat mbak Nia diajarkan cara baca Al-Quran yang benar dengan tajwid yang pas juga irama yang merdu,,mamah memanggil ku yang kini melongokkan kepalanya pada daun pintu yang terbuka sedikit.
"Din,,kemari sebentar bantuin mamah menata hidangan"
"Njih mahh,,mbak Nia,,ustadzah Muna Andini permisi dulu ya"
"Iya Din kata mbak Nia dan ustadzah Muna bersamaan
Andini dan mamahnya terlihat sibuk menata hidangan dan aneka kue di atas meja,,sementara bik Lila tengah bersiap untuk menyambut tetamu yang sebentar lagi datang.
Tak lama bik Lila keluar kamar,,dengan gamis dan hijab putihnya,,sementara Pakde Tikno suami bik Lila menggunakan kemeja berbahan batik,,menambah wibawanya sebagai seorang lurah di desa ini.
Pak Tikno terlihat berjalan menuju teras depan,,saat tamu laki-laki yang tak lain warga desa Lingga mulai berdatangan.
Bik Lila menghampiri Ajeng dan Andini yang masih sibuk menata meja.
"O'iya Jeng,,kamu bisa gak dandanin Nia,,sebentar lagi kan tamu akan berdatangan,,perias datang hanya untuk acara nikahan sama resepsi besok saja"
"Gitu ya bik,,gimana ya,,mbak tau sendiri kan Ajeng dari dulu gak bisa dandan,,apalagi buat dandani orang"
"Yahh gimana ini..masa Nia gak di make up,,biar elok dilihat gituh maksudnya Jeng,,meski natural saja riasannya,,biar lebih fresh"
"Kamu bisa gak Din,,dandani mbak mu??!" Tanya mamah yang di iyakan sama bik Lila.
"Gimana Din bisa gak?!!" Tanya bik Lila lagi.
"Andini coba ya mah,,bik..tapi mbak Nianya mau gak didandani,,siapa tau mbak Nia gak suka wajahnya di rias"
"Gak koq Din,,mbak Nia mu itu terserah bibik aja,,gimana baiknya"
"Ohh gitu bik,,ya udah Andini ke kamar mbak Nia dulu"
"Iya,,tolong ya Din,,siapin mbak mu itu,,sebentar lagi tamu-tamu akan datang"
"Iya bik,,jangan cemas Andini akan buat mbak Nia cantik malam ini"
"Makasih banget loh Din" kata bik Lila.
"Njih bik,sama-sama"
"Andini ke mbak Nia dulu ya mah,bik" seraya berlalu menuju kamar mbak Nia sesaat setelah ustadzah Muna keluar dari kamar dan bergabung dengan para tetangga lainnya yang kini mulai berdatangan.
🍃Dikamar mbak Nia..
Andini masih terlihat sibuk mewarnai wajah mbak Nia,,setelah sentuhan terakhir dengan mengoleskan lipstik warna peach di bibir mbaknya itu,,make over ala Andini selesai juga,,hasilnya amaze..wajah mbak Nia terlihat lebih fresh,,dengan riasan natural namun mampu membuat mbaknya itu terlihat berbeda,,menambah kecantikan alaminya.
Andini juga membantunya menata hijab yang disesuaikan dengan gamis putih berbahan siffon yang dikenakannya malam ini.
Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasakan perbedaan dari tampilan kesehariannya yang memang sederhana.
Namun kesederhaannya itulah membuat mas Attar calon suaminya bertekuk lutut dan segera memperistrinya.
Setengah jam kemudian mbak Nia telah siap..
Mbak Nia terlihat masih mematut diri didepan cermin saat Andini akan mengajaknya keluar,bik Lila juga sudah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya berharap putrinya itu segera menunjukan dirinya pada para tamu.
"Ayo mbak,,mereka telah menunggu" ajak Andini
"Sebentar Din,, gimana penampilan mbak saat ini?!"
"Perfecto!!" Mbak terlihat sangat cantik"
"Benarkah Din?!!"
"Benar mbak,,semuanya terlihat sempurna,,ayo mbak kita keluar"
"Makasih lohh Din udah riasin mbak"
"Sama-sama mbak,,smoga mbak suka sama hasil kreasi Andini"
"Hhemmm..sangat suka Din,,natural seperti maunya mbak"
Andini membuka kan pintu kamar untuk mbak Nia,,lalu berjalan beriringan menuju ruang tengah dimana acara syukuran digelar.
Para tamu terlihat memenuhi ruangan bahkan sampai ke halaman depan rumah,,untung telah dipasangkan tenda tadi siang sehingga tidak takut lagi jika semisal hujan turun.
"Semoga saja malam ini cerah"doa Andini dalam hati.
Setengah jam kemudian acara syukuran dimulai,,dan tibalah saat yang dinantikan,,lantunan ayat suci Al-Quran menggema memenuhi ruangan,,suara mbak Nia yang merdu menambah syahdu suasana malam ini,,semua tamu nampak khidmad mendengarkan ayat demi ayat yang di lafazkan mbak Nia hingga selesai,,mbak Nia telah menamatkan mengaji Al-Qurannya.
Semua mengaminkan saat doa-doa terlantun dari ustadzah Muna di sesi terakhir,,menandakan acara sebentar lagi selesai.
Saat yang dinantikan pun tiba,,acara penutup,,makan-makan.
Satu jam telah berlalu,,setelah membantu beres-beres peralatan makan,,Andini dan Ajeng pamit pulang,,karena besok harus bangun pagi-pagi untuk bantu-bantu di acara inti yakni pernikahan sekaligus resepsi nya mbak Nia.
Dimana bik Lila telah menugaskan untuk Ajeng menjadi penyambut tamu dan Andini menjadi pagar ayu,,meski Andini belum diberi tahu jika pagar bagusnya adalah bayu.
__ADS_1
Mereka akan dipasangkan besok dan ini akan menjadi suprise buat keduanya.
🍡🍡🍡
Keesokan harinya...
Dari jam 3 subuh Ajeng sudah bangun,,hari ini dia sengaja bangun lebih awal,,karena harus memasak dan mengantarkan makanan itu ke ruang bawah tanah untuk Nyai Sekar.
Ajeng tak ingin Andini mengetahuinya,,karena jika tidak akan banyak pertanyaan yang terlontar dari putri kesayangannya itu,,dan dia tak ingin merusak moodnya hari ini dengan pertengkaran.
Setelah berkutat dengan peralatan dapur,,akhirnya selesai juga dirinya menyiapkan hidangan untuk ibu tercintanya,,dua bakul nasi bersama lauk pauknya tertata rapi di dalam keranjang besar,,siap diantarkan.
Dengan keranjang ditangan kiri dan lentera di tangan kanan Ajeng menuruni undakan demi undakan menuju ruang bawah tanah.
Ajeng merasakan hawa dingin menyergapnya,,bulu kuduknya menjadi meremang saat melewati lorong gelap itu,,untunglah cahaya dari lentera yang dibawanya sedikit membantu penerangan disana.
Andaikan Ajeng punya kemampuan seperti puterinya Andini mungkin dia akan bisa melihat begitu banyak makhluk tak kasat mata yang tengah memperhatikannya.
Bisa-bisa dia takkan berani menginjakan kakinya lagi di tempat itu.
Ajeng membuka pintu yang menjadi kamar sang ibu.
"Kriiieett.."
Pintu terbuka..Ajeng masuk ke dalam..
Nyai Sekar yang semula tertidur sedikit terusik dengan kedatangan Ajeng.
"Kau kah itu Ajeng??!"
"Iya bu..maaf jika kedatangan Ajeng menganggu tidurnya"
"Ada apa Ajeng??!"
"Ini sarapan buat ibu,sengaja Ajeng bawakan lebih awal"
"Tumben sekali??Ada apa?!"
"Hari ini Ajeng ada keperluan bu,,harus berangkat lebih pagi"
"Sepenting itu kah sehingga kamu harus pergi pagi?"
"Iya bu,,bantu-bantu acara di rumah bik Lila,,Nia menikah hari ini"
"Owhh begitu,,ya sudah pergilah"
"Apa ibu mau makan sekarang?!" Biar Ajeng suapin"
"Nanti saja,,ibu makan sendiri"
"Pergilah"
"Ajeng permisi dulu bu"
"Iya.."
Ajeng lalu kembali ke ruang atas setelah mengunci pintu kamar rahasia sang ibu.
Ajeng telah kembali ke rumahnya,,jam telah menunjukan pukul 6 pagi,,segera dia pergi ke kamar Andini untuk membangunkannya.
Terdengar ketukan di pintu kamar Andini,,lalu suara Ajeng yang memanggilnya.
"Andini..nakk..bangun sayang"
Ajeng masuk ke kamar,,tak di dapatinya Andini disana.
Dia lalu memeriksa kamar mandinya,,tak jua Andini ditemukannya.
"Lohh kemana perginya Andini?!!"
"Apa dia sudah bangun?!sewaktu aku di ruang bawah tanah tadi?!!"
Berbagai pertanyaan hadir dibenaknya.
Ajeng lalu segera keluar dan menutup kembali pintu kamarnya.
Ketika akan berjalan ke arah pintu depan,,Ajeng menemukan keberadaan Andini yang sedang berolahraga pagi di halaman rumahnya.
"Hemm..rupanya gadis itu sedang olahraga tohh?!"
"Andini!!! Ternyata disini,,mamah barusan dari kamar kamu,,mamah kira belum bangun"
"Mamah kemana aja,,tadi Andini mau pamit,,tapi mamah gak ada dikamar,,di dapur juga gak ada,,jadinya Andini pergi jogging"
"Mamah di taman belakang,,Ya udah sekarang mandi,,sarapan terus siap-siapa ke acaranya mbak Nia."
"Njih mahh,,sebentar lagi"
("Taman belakang?!!" Hahaha..yang benar saja mahh,,ke ruang bawah tanah kali..hemm..mamah..mamah..selalu saja begitu, batin Andini)
🍡🍡🍡
Jam setengah tujuh pagi Andini dan Ajeng telah bersiap akan pergi ke rumah bik Lila.
Hari ini penampilan mamah terlihat berbeda,,dengan kebaya berbahan brokat,warna marun pemberian bik Lila kemarin yang katanya semua keluarga inti memakai busana seragaman untuk hari ini,,dan mamah nampak begitu ayu,,sangat terlihat sekali ningratnya.
Aku juga tak mau kalah sama mamah,,dengan busana yang sama hanya saja model kebayanya sedikit berbeda yang disesuaikan dengan usia ku yang masih belia.
"Pintar juga mbak Nia memilihkan busana untukku" batinku.
Andini dan Ajeng lalu berangkat menuju rumah bik Lila.
Sesampainya disana,,sudah terlihat kesibukan disekitar kediaman bik Lila.
Meski para tamu undangan belum hadir karena masih agak pagi,,tapi para kerabat dan tetangga telah berkumpul,,dan membantu persiapan demi lancarnya acara sakral hari ini.
"Untunglah Din,,kita belum terlambat"
"Iya mah"
Setelah berjabat tangan dengan pakde Tikno,,suami bik Lila kami pun dipersilahkan masuk.
"Ayo Jeng,,Din masuk,,bibik sama mbak mu ada di dalam sedang siap-siap" kata Pakde Tikno.
"Njih Pakde,,kami ke dalam dulu"
Melihat kedatangan kami,,bik Lila segera menghampiri,,bik Lila terlihat begitu anggun dengan kebayanya yang sama persis seperti kami.
"Mbak Nianya mana bik?!!"
"Di kamarnya Din,,sedang di rias,,samperin aja Din kalo mau,,tohh sebentar lagi giliran mu didandanin"
__ADS_1
"Koq Andini pakai didandanin segala bik? Kan cuma jaga tamu bareng mamah"
"Siapa bilang?!! Kamu akan jadi pagar ayu,,lupa ya kan beberapa hari lalu bibik sudah bilang ke mamah kamu buat kasih tahu"
"Mamah gak ada kasih tau bik,,mamah pasti lupa kan?!!"
"Iya nak,,mamah kelupaan,,maaf ya"
"Ya udah gak papa,,Andini cuma kaget aja,,jika ada pagar ayu,,lalu pagar bagusnya siapa bik?!"
Sebelum menjawab bibik nampak celingukan,,seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
Sesaat kemudian wajah bik Lila sumringah seiring dengan bunyi decit rem sepeda..
"Nahh itu dia yang jadi pagar bagusnya udah dateng" seru bik Lila.
Sontak Andini dan mamahnya menoleh ke arah yang dimaksud bik Lila,,nampak sosok pemuda yang familiar bagiku bersama ibunya.
"Mas Bayu,,gak salah??!" Gumam ku lirih,,tiba-tiba ada getar aneh menyusup di hati Andini saat senyum manis pemuda itu tergambar di wajah handsomenya saat dia menyalami pakde Tikno selaku yang punya hajat dan juga lurah didesa ini.
Nampak Bayu mengenakan busana batik yang sama dengan yang dikenakan pakde Tikno dan mbok Jum juga mengenakan kebaya dengan warna dan bahan yang sama seperti kami.
Sesaat hadir pertanyaan dibenakku..
"Koq Bayu sama mbok Jum juga seragaman kayak kami,,apakah mereka salah satu kerabat dekat keluarga bik Lila??"
Entahlah,,nanti akan ku tanyakan,,karena saat ini aku masih setengah gak percaya jika mas Bayu pasangan ku dan dalam beberapa jam ke depan akan selalu bersama duduk di meja depan dekat pintu masuk,,jagain buku tamu.
"Hemmm...benar-benar deh bik Lila ini,sungguh suprise yang luar biasa" batinku.
"Nahh Din,,nakk Bayu yang akan jadi pagar bagusnya,,setuju kan?!!"
"Emmmhh...i-iyaa bik" jawab Andini dengan ekspresi sedikit ragu juga malu tapi mau.
Mbok Jum dan Bayu mendekat ke arah kami,,tentu saja membuat Andini salah tingkah,,begitu pun dengan Bayu,,sesaat mata mereka saling tatap,,lagi-lagi getar aneh itu hadir di hati keduanya.
"Lohh Ajeng,,ternyata kerabat dekat juga tohh?!! Tanya mbok Jum.
"Iya mbok,,ayahnya Andini putra almarhumah ibu Retno,,almarhumah adalah kakak tertua dari bik Lila"
"Oaalaaahh gitu tohh silsilahnya,,baru tahu si mbok"
"Nahh kalo mbok Jum hubungan kekerabatannya dari siapa?"
"Yo dari suaminya Lila,,Tikno iku keponakan si mbok"
"Owhh gitu...waahhh baru tahu kitanya ternyata punya hubungan kekerabatan" celetuk mamah membuat kami semua tertawa.
"Kan kalo gak ketemuan di acara ini gak saling tahu jika kita-kita ini kerabat" kata bik Lila.
Tak lama asisten penata rias keluar untuk memanggil siapa yang akan di make over selanjutnya.
"Maaf permisi bu,,siapa lagi yang akan dirias?!! Tanya asisten itu pada bik Lila.
"Ini dik,,dua pasangan muda mudi ini,,mereka akan jadi pagar ayu dan bagusnya"
"Ohh njih bu,,mari mbak,mas ikut saya"
Andini dan Bayu lalu mengikuti asisten perias menuju ke sebuah kamar tamu yang kini berubah fungsi menjadi ruang make up.
Ketika baru masuk,yang pertama kali membuat Andini takjub adalah mbak Nia yang kini tengah duduk di salah satu sofa dengan anggunnya,,memakai kebaya modern semata kaki,,warna putih plus hijab senada ditambah selayer panjang yang juga warna putih berbahan brokat satu set sama kebaya,,ditambah tiara kecil di atas kepalanya membuat riasan wajahnya yang natural semakin bersinar,,menambah kesempurnaannya sebagai calon manten.
Mbak Nia benar-benar seperti ratu saja,,anggun..
"Eh Din,,sini..sekarang giliran mu untuk di rias." Sapa mbak Nia.
Ketika melihat Bayu ikut masuk ke dalam mbak Nia berseru..
"Wahhh ada Bayu juga,,mau dirias juga kamu Yu?!!" Tanyanya
"Gak tau juga nih mbak,,Bayu cuma ikut aja saat disuruh kesini sama si mbaknya"
"Kalian itu mau dipasangkan menjadi pagar ayu sama bagus,,yahh siapa tau kalian berikutnya yang nyusul jadi manten" goda mbak Nia sudah pasti membuat wajahku bloushing karenanya,,sama halnya dengan Bayu yang jadi salting setelah mendapat godaan dari mbak Nia.
"Hemm masnya hanya perlu di rias sedikit koq biar lebih fresh" kata asisten perias.
Benar saja tak lama Bayu udah selesai,,hanya tinggal menunggu Andini yang sekarang tengah di make up oleh periasnya dengan riasan natural.
Setengah jam kemudian semua telah ready,,Bayu terus saja curi-curi pandang ke Andini,,bagaimana tidak Andini selalu saja terlihat cantik dimatanya dan hari ini kecantikan itu semakin terpancar darinya membuat Bayu semakin menaruh hati padanya.
Begitu pun dengan Andini,,Bayu selalu terlihat gagah dan handsome baginya.
Untuk semenit mereka saling tatap,,mencoba mencari tahu getar yang tengah menjalari hati keduanya dan perasaan tidak bisa dibohongi..jika keduanya punya rasa yang sama.
Ketika keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing,,mereka harus dikejutkan oleh panggilan bik Lila...
"Bayu sama Andini apa sudah selesai di rias?! Tamu sudah mulai berdatangan" tanya bik Lila
"Sudah mahh,,ini mereka udah mau ke depan" jawab mbak Nia
"Ya Allah putri ku,,cantik pisan..manglingin kamu nakk" celetuk bik Lila saat melihat penampilan putrinya hari ini.
"Benarkah mahh?!!"
"Benar nakk,,mamah doakan semoga kamu selalu bahagia,,langgeng ya"
"Aamiin,,makasih doanya mahh"
"Barusan mamah dapat telpon dari Attar,,katanya dia dan rombongan sebentar lagi tiba."
Benar saja tak lama Andini dan Bayu stay di depan,,rombongan manten prianya datang.
Mas Attar terlihat begitu gagah berjalan paling depan di antara para rombongan,,diapit oleh kedua orang tuanya,,diiringi para kerabat.
Singkat cerita akhirnya prosesi ijab kabul pernikahan mbak Nia dan mas Attar berjalan lancar,,kini mereka telah dinyatakan resmi sebagai suami istri.
Setelah acara pernikahan kelar,,dilanjutkan dengan resepsi, terlihat jelas kebahagiaan kedua insan ini dari senyuman yang selalu menghiasi wajah keduanya saat para undangan bergantian menyalami mereka di pelaminan.
Begitu halnya dengan Andini dan Bayu sejak dipasangkan sebagai pagar ayu-pagar bagus direspsi itu keduanya kini menjadi semakin dekat,meski masih sebatas penjajakan.
Jam satu siang pesta pun usai,para tamu dan sebagian kerabat telah pamit pulang,,begitu pula dengan Andini dan Ajeng yang kini telah tiba di rumah.
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
With Love
DianadieNcess😘
__ADS_1