
Kami berjalan menuju rumah itu,,tak terlalu jauh jaraknya,,cuma jalan kaki sebentar,,melewati bagian belakang rumah mbak Ajeng, berbatasan dengan kebun karet yang juga milik keluarga besar Raden Sastro,,ayah mbak Ajeng yang kini telah di wariskan padanya.
🍡🍡🍡
Setelah melewati perkebunan karet,,langkah kami terhenti di depan sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari beton,,yang dibeberapa bagian sudah terkelupas dan memudar catnya karena termakan cuaca.
Disisi samping kiri dan kanannya di kelilingi pepohonan,,suasana disana terasa teduh namun agak gelap karena rimbunnya pepohonan membuat sinar matahari sedikit terhalangi karenanya.
Begitu juga dengan taman yang ada di samping rumah,,yang dihiasi dengan sebuah ayunan kayu,,mungkin milik mbak Ajeng atau Andini sewaktu kecil,,pikirku.
Dan entah kenapa baru saja sampai di tempat itu aku merasakan merinding di sekujur tubuh,,dan seperti ada yang meniup tengkuk ku,dingin. Aku menoleh ke arah belakang,tak ada siapa-siapa,,hanya Andini yang berdiri disampingku,,sedang mas Hadi dan lainnya sudah akan masuk sesaat setelah pintu rumah dibuka oleh mbak Maya.
Melihat tingkah ku yang sedikit aneh Andini bertanya.
"Kenapa mbak??"
"Ehh..gak papa Din,mbak baik-baik saja"
"Itu ayunan yang disana punya siapa?
"Ohh itu katanya mainan masa kecil mamah"
"Emang kenapa mbak Maya??"
"Gak papa Din,mbak cuma tanya"
"Hemm rupanya mereka mengawasi" gumamnya lirih namun sempat ku dengar meski samar sambil terus menatap rumah itu intens.
"Apa Din??"
"Ehh..Gak mbak..ayo kita masuk" ajaknya padaku.
(Mereka siapa yang dimaksud Andini??" Lalu kenapa mereka mengawasi?" Batinku)
Namun sibuknya pikiranku harus terhenti saat mas Hadi yang berdiri di dekat pintu memanggil ku untuk segera masuk.
"Sayang,,kamu gak ingin melihat rumah baru kita?"
"Iya mas..sebentar"
Entah mengapa ketika baru pertama kali melangkahkan sebelah kaki ku di pintu masuk,jabang bayi dalam kandunganku menjadi bergerak sangat aktif tak seperti biasanya,seperti tidak tenang.
Ku usap perutku,sambil membaca doa yang selalu di ajarkan mas Hadi.
"Sayang jangan takut ada bunda disini,,kita baca doa sama-sama ya,,gumam ku lirih"seraya mengusap perutku.
Sesaat gerakan bayi ku mulai berangsur reda,,tak seperti tadi yang terus bergerak dan menendang-nendang seperti sedang merespon sesuatu.
Entah lah aku juga tidak mengerti,namun aku bisa merasakan jika bayi ku di dalam perut seolah gelisah dan tidak suka berada disini.
Aku segera menepis pikiran buruk itu,,yach mungkin karena berada di tempat baru dan belum terbiasa sehingga seperti ini,,pikirku mencoba menghalau kegundahan.
Rumahnya sih bagus,hanya tak terawat saja,,namun aura yang di pancarkannya sedikit berbeda menurut ku.
Mungkin setelah di ganti warna catnya yang sudah pudar,,kesuraman yang di tawarkannya akan sirna,,sepertinya beberapa pohon juga perlu dipangkas dahannya agar sinar matahari bisa masuk,,pikirku.
"Gimana sayang,,kamu suka gak sama rumahnya"
"Iya mas,,hanya saja.."
__ADS_1
Belum sempat aku mengatakan mas Hadi keburu dipanggil sama mbak Ajeng.
"Di..Hadi..kesini sebentar"
"Mas ke mbak Ajeng dulu ya sayang"
"Iya mas"
Mas Hadi bergegas mendatangi mbak Ajeng yang barusan memanggilnya. Sedang aku masih sibuk melihat-lihat sementara mbok Jum,,Bayu juga Andini sibuk bersih-bersih,meski sesekali mata mereka beradu pandang dan saling tersipu,,karena perasaan saling suka keduanya yang tak bisa dibohongi,,dan tingkah kedua pasangan belia itu sukses menghadirkan senyum di wajah ku.
🍃Kembali ke perbincangan antara mas Hadi dan Mbak Ajeng.
"Iya mbak,,ada apa?"
"Gini loh Di,,mbak mau beritahu kalau pintu gudang dibagian belakang jangan dibuka,,soalnya penuh sama beberapa barang,,kalau pintunya dibuka semua perkakas akan langsung berhamburan keluar"
"Ohh gitu ya mbak.."
"Iya Di,,mbak gak mau kalau nanti kalian malah dibuat repot karenanya"
"Okkey mbak"
"Ini semua kunci rumah termasuk kunci gudang mbak serahkan sama kamu,,karena rumah ini telah resmi menjadi milik mu"
"Baik mbak,,saya terima ya"
"Ingat ya Di pesan mbak tadi"
"Pasti mbak"
Udah ayo kita lanjutin lagi bersih-bersihnya,paling sebentar lagi juga kelar dan kalian bisa langsung pindahan kemari"
"Iya mbak,,kalau Hadi terserah gimana istri aja,,kalau dia mau hari ini hayo,,kalau besok juga gak papa"
"Maaf ya mbak saat mas Ikhwan meninggal Hadi gak bisa datang,,kebetulan waktu itu Hadi mewakili sekolah tempat Hadi mengajar untuk mengikuti seminar pendidikan di Jogja"
"Gak papa Di,,mbak ngerti koq"
Ketika kami sibuk dengan aktifitas masing-masing tiba-tiba terdengar teriakan Andini dari arah belakang..
"Aaaaaaaaaa..mamaaa..."
Membuat kami menghentikan aktifitas seketika.
"Di,,itukan suara Andini?! Apa yang terjadi dengannya koq teriak kencang gitu"
"Iya mbak, ayo kita lihat!!"
Dengan langkah tergesa dan setengah berlari mas Hadi dan mbak Ajeng menuju ke arah belakang rumah,,yang diikuti oleh kami semua untuk mencari tahu penyebab Andini berteriak histeris.
Tiba di belakang rumah kami melihat Andini berdiri terpaku tak jauh dari pohon kamboja yang ada disana yang sengaja ditanam oleh ibunya mbak Ajeng dengan bak sampah masih di tangan.
Dan entah kenapa bayi dalam kandunganku kembali bergerak begitu aktif,,sama seperti di awal kedatanganku tadi.
"Tenang sayang,,bunda disini" gumamku pelan seraya mengusap perutku untuk menenangkannya.
Seketika dia menjadi tenang,,namun pikiranku seolah tak mau lepas dari Andini.
"Apa yang terjadi dengan Andini??" pikirku
__ADS_1
"Andini,,kamu kenapa nak?!" Tanya mbak Ajeng saat baru sampai.
Dia tidak merespon,,hanya diam mematung menatap nanar ke arah pohon kamboja itu.
Kami semua mendekat padanya lalu..
"Andini!!" Panggil mbak Ajeng lagi.
Namun tak ada jawaban. Andini masih tetap diam tak bergeming seolah tak mendengar.
Melihat gelagat berbeda mas Hadi membacakan doa dan meniup ubun-ubunnya lalu memanggilnya..
"Andini!!" Seraya menepuk bahunya,,membuatnya tersadar.
"I-iya..mas Hadi"
"Kamu kenapa cah ayu??" Tanya mas Hadi.
"Iya nak kamu kenapa teriak kencang sekali? Ada apa??" Kamu gak kenapa-napa kan??" Mbak Ajeng sedikit panik.
"Gak papa mahh,,tadi Andini cuma kaget liat ada tikus disana waktu mau buang sampah"
"Oalaahh cah ayu iki,,buat si mbok jantungan saja"
"Benar kamu gak papa Din??" Tanya ku
"Iya mbak Maya,,Andini gak papa,,cuma kaget"
"Syukurlah,,ayo kita masuk" ajak mbak Ajeng
Namun sempat ku lihat sekilas wajah mas Hadi yang sedikit cemas saat melihat Andini.
"Kenapa mas,,koq liatin Andini seperti cemas gitu??"
"Ah gak koq sayang perasaan kamu aja kali,ayo kita bersih-bersih lagi ajaknya padaku,,meski aku tau dia melakukan itu untuk menghindari pertanyaan ku barusan.
Sebenarnya aku juga merasa ada yang aneh dari sikap Andini,,seolah tidak mendengar sama sekali saat dipanggil dengan jarak yang begitu dekat.
("Apa yang membuat Andini bertingkah aneh seperti tadi??"batinku) Pertanyaan yang sudah pasti takkan mendapat jawabannya.
Karena Andini memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya,,dengan apa yang dilihatnya tadi di dekat pohon kamboja itu,banyak bayi kecil yang terbaring di tanah,dengan dada berlubang,berlumuran darah,,dan jantungnya lenyap.
Sama ketika dia tau memiliki kemampuan melihat mereka yang tak kasat mata,,dia memilih mendiamkan saja,,karena baginya kemampuannya itu adalah kekurangan dirinya,,sehingga dia lebih memilih merahasiakannya bahkan dari mamahnya sendiri,,mbak Ajeng.
Andini indigo..itu realitanya.
Realita yang selama ini disembunyikannya.
("Maafkan Andini,,Andini tak mau kalian cemas,dan takut berada di rumah ini jika Andini ceritakan yang sebenarnya apa yang telah Andini lihat." Batinnya)
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
With Love
DianadieNcess😘
__ADS_1