
🍃Ajeng House's 🏡
Pagi-pagi sekali Ajeng telah menyibukkan diri di dapur,,memasak sarapan untuknya dan Andini.
Setengah jam berjibaku dengan penggorengan akhirnya dua porsi nasgor plus telur ceplok terhidang dimeja makan.
Ajeng lalu mendatangi Andini ke kamarnya..
"Tokk...tokk.." terdengar ketukan di pintu kamar Andini..
"Andini..sayang..bangun nakk"
"Iya mahh..Andini sudah bangun koq mahh,,masuk aja,,gak di kunci" jawab Andini dari dalam.
Pintu terbuka,,Ajeng melangkah masuk mendekati Andini yang tengah merias dirinya di depan cermin.
"Wahh anak mamah pagi-pagi sudah cantik aja nih,,tumben jam segini sudah rapi??!"
"Tuh kan mamah lupa,,bukan kah hari ini mamah mau ajak Andini ke rumahnya bik Lila,,bantu-bantu nyiapin acara nikahan putrinya,mbak Nia??"
"Owhh iyaa sayang,,mamah lupa,,tapi sebelum pergi kita sarapan dulu ya"
"Iya mah,,mamah duluan aja sebentar lagi Andini menyusul,,sedikit lagi kelar koq"
"Iya sayang,,mamah duluan ya"
Cepat susulin mamah ke meja makan,karena setelah ini kita harus ke pasar dulu membeli sesuatu untuk bik Lila."
"Baik mahh"
Ajeng segera berlalu dari kamar Andini,kembali ke dapur.
Lalu menyiapkan sebakul nasi beserta lauknya untuk sarapan Nyai Sekar sebelum dirinya pergi ke rumah bik Lila.
Tergesa Ajeng melangkahkan kaki,,dengan nampan di tangan menyusuri lorong rahasia menuju kamar sang ibu.
Ajeng membuka pintu kamar dimana Nyai Sekar berada.
Melihat kedatangan Ajeng,,Nyai Sekar memejamkan mata,,enggan melihatnya,,tak ada sambutan hangat seperti biasanya,rupanya nyai Sekar masih menyimpan kekesalan dihatinya setelah pertengkaran mereka kemarin.
"Bu,,ini Ajeng bawakan sarapan"
"Letakkan saja disana!!"
"Ayo bu,,Ajeng suapin"
"Gak usah!! Ibu bisa makan sendiri!! Jawab Nyai Sekar ketus"
"Tapi bu.."
"Pergilah Ajeng,,ibu pengen sendiri!"
"Bu..Sekali lagi maafkan Ajeng yang tidak bisa memenuhi maunya ibu"
Seraya berlalu dari hadapan Nyai Sekar.
Tak terasa bulir bening membasahi kedua pipinya,,namun segera di usapnya agar Andini tidak curiga dan bertanya "Apa yang membuat mamahnya menangis".
Ketika Ajeng membuka pintu ruangan yang bersebelahan dengan dapur itu,,dia dikejutkan oleh keberadaan Andini yang kini tengah berdiri di depan pintu.
"Mamah..koq disini,ngapain sih mahh??Andini udah nunggu dari tadi buat sarapan bareng"
Ajeng berusaha menutupi ekspresi terkejutnya dari Andini dan mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang di ajukannya tadi.
"Ini lohh nakk,mamah nyari nampan ini,,yang biasa dipakai udah retak"
(Semoga saja Andini tak curiga" batinnya)
"Owhh gitu ya mahh,,pantesan waktu Andini cari di kamar mamah gak ada"
(Mamah..mamah..sampai kapan mamah menyimpan rahasia di kamar itu??!" Andini bisa merasa jika nampan itu hanya alasan mamah saja agar Andini tidak mencurigai sesuatu,,tunggu saja mahh..Andini akan cari tahu kebenarannya" Batin Andini)
"Ya udah,,ayo sayang kita sarapan baru berangkat"
"Iya mah..ayo"
Melangkah beriringan menuju meja makan,,lalu menyantap hidangan yang tersaji,,nasi goreng telur ceplok plus teh hangat menu sarapan pagi ini.
Tapi Andini merasa ada yang berbeda dari sang mamah,,untuk beberapa saat mamahnya itu terdiam,,hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di piringnya saja.
Paling sesekali dia menyuapkan ke mulutnya.
Perbedaan itu terlihat jelas di mata Andini.
"Mahh..mamah.."
"I-iya sayang,,ada apa??!" Sedikit terkejut dengan panggilan Andini.
"Kenapa mamah melamun?!!"nasi gorengnya koq cuma di aduk-aduk saja gak di makan,,emang mamah lagi mikirin apa sih mahh sampai segitunya??"
"Gak ada sayang,,mamah hanya kepikiran barang apa yang akan mamah berikan buat nikahan mbak Nia mu itu"
"Owhh kirain ada apa,,kita pikirin sambil jalan aja nanti mahh,sekarang mamah habisin dulu makannya"
"Iya sayang.." lalu tersenyum ke arah Andini dan meneruskan sarapannya.
Jawaban Ajeng tadi hanyalah kamuflase saja untuk menutupi kegalauannya akan pertengkarannya dengan sang ibu Nyai Sekar,yang membuat Ajeng kepikiran dan berada dalam dilema.
Namun dia berusaha menutupinya dari Andini.
🍡🍡🍡
Dengan menaiki motor matic Ajeng dan Andini lalu berangkat menuju pasar yang ada di desa Lingga.
Tiba di pasar Andini segera memarkirkan motornya di parkiran khusus roda dua yang ada di depan pasar,,lalu masuk ke dalam bersama sang mamah.
Setelah selesai membeli beberapa barang keperluan juga hadiah untuk pernikahan,,mereka pun segera pergi ke rumah bik Lila dengan membawa beberapa oleh-oleh yang akan diberikan untuk acara syukuran nanti malam.
🍡🍡🍡
Setelah 20 menit perjalanan dari pasar tibalah mereka di depan rumah bergaya kuno milik bik Lilla,,dimana semua ornamennya terbuat dari kayu jati.
Nampak kesibukan terlihat disana,,canda tawa menghiasi aktivitas warga yang turut membantu persiapan jelang pernikahan besok dan syukuran nanti malam.
Dibagian samping rumah sengaja di buat menjadi dapur dadakan,,dengan beratapkan terpal yang diikat tali pada ke empat tiang yang sengaja di didirikan disana,,dimana terdapat beberapa ibu-ibu tetangga yang sedang terlihat sibuk memasak untuk acara syukuran nanti malam.
Melihat kedatangan kami bik Lila segera menghampiri.
"Akhirnya yang ditunggu datang?!!,kemana aja kalian koq baru nongol??" Bibik udah nungguin dari tadi" Sapa bik Lila dengan suara khasnya yang lembut.
__ADS_1
"Tadi ke pasar dulu Bik..O'iya ini Bik buat acara nanti malam" kata Ajeng seraya menyerahkan beberapa kotak berisi kue pada bik Lila.
"Oalaah Jeng..koq repot-repot pakai bawain oleh-oleh segala,,kalian datang aja udah syukur"
"Gak repot koq Bik,,cuma kue ini"
"Makasih lohh Jeng,,Andini..Ayo masuk,,bantuin bibik masak hidangan buat nanti malam"
"Sama-sama Bik" kata mamah
Seraya mengikuti bik Lila masuk ke dalam rumah namun langkah mereka seketika berhenti saat aku pamit kembali ke rumah dengan alasan ponsel ku ketinggalan.
"Lohh kamu mau kemana Din,,baru juga sampai kata mamah dan bik Lila sedikit heran.
"Ponsel Andini ketinggalan dirumah mahh,,bik jadi Andini mau pulang sebentar untuk mengambilnya"
"Ohh gitu,,ya udah cepatan balik sini ya kata mamah dan bik Lila"
"Njih mah,,bikk,,Andini pamit dulu ya"
"Hati-hati di jalan Din" pesan mamah.
"Pasti mahh"
Motor Andini segera melaju membelah jalanan desa menuju rumahnya.
Sebenarnya ketinggalan ponsel itu hanyalah alasan Andini untuk bisa kembali ke rumah,,selain agar hadiah pernikahan untuk besok tidak ketahuan bik Lila dan mbak Nia,,karena jika ketahuan takkan menjadi suprise lagi nanti juga karena alasan yang lebih penting,,yakni mengetahui isi dalam ruangan rahasia yang ada di rumahnya,,yang mampu membuat Ajeng,,sang mamah berbohong padanya.
Dan Andini rupanya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini,,saat sang mamah tidak sedang di rumah, Andini bisa melakukan aksinya dengan leluasa.
Ajeng tentu saja tidak curiga sedikit pun dengan alasan yang dibuat putri kesayangannya itu.
🍡🍡🍡
Setibanya di rumah,setelah meletakkan hadiah untuk mbak Nia di kamarnya,tanpa buang waktu dan dengan langkah tergesa Andini segera menuju ruangan itu,,dia bertekad akan mencari tahu kebenaran dugaannya selama ini,juga tentang penglihatannya dulu ketika sang mamah memindahkan Eyang nya ke kamar itu.
Rasa ingin tahunya begitu besar, seiring dengan pertanyaan-pertanyaan yang hadir dibenaknya sejak lama.
"Kenapa mamahnya melakukan kebohongan publik tentang kematian Eyang?"
Lalu di susul pertanyaan lainnya seperti...
"Apa alasan mamah menyembunyikan Eyangnya di tempat itu??"
("Ini kesempatan ku mencari tahu semuanya",,batin Andini)
Yang kini telah berdiri di depan pintu ruangan itu.
Memegang handlenya lalu segera melakukan dorongan pada pintunya namun tak bisa dibuka..pintu terkunci.
"Sial!!!" Pakai dikunci lagi pintunya" Andini mengumpat.
Lalu setengah berlari Andini menuju kamar sang mamah,,mencari kunci ruangan itu.
Andini menggeledah setiap laci bufet,,namun tak jua menemukannya,,hanya ada beberapa anak kunci cadangan untuk lemari yang ada disana.
"Dimana sih mamah menyimpannya??"kalau di sembunyikan gini sudah pasti ruangan itu ada apa-apanya" gumam Andini pelan.
Namun di saat Andini akan melangkahkan kakinya menjauhi meja rias itu,,tanpa sengaja kakinya mengenai sesuatu di bawah kolong meja rias,,membuat langkahnya terhenti seketika.
Menyadari ada sesuatu di sana dia spontan berjongkok untuk memastikan benda apa yang ada dibawah kolong itu.
Ternyata sebuah kotak hitam kecil Andini temukan disana,,benda yang tadi tak sengaja tersenggol kakinya.
"Kotak apa ini?!!" Batin Andini
Lama dia tertegun menatap kotak kecil itu yang kini berada di telapak tangannya,namun karena rasa penasarannya pada isi di dalam kotak itu,,Andini segera membukanya.
Nampak tiga anak kunci,,tak ada yang lainnya disana,,hanya anak kunci itu,,namun salah satunya mempunyai tanda merah di salah satu sisinya.
("Mamah..mamah..ada-ada aja dehh..anak kunci koq disimpan di kolong" batinnya)
Awalnya Andini tidak menyadarinya..kenapa kotak kecil berisi anak kunci itu ada di kolong tempat tidur.
Sampai akhirnya dia menyadari sesuatu..tak mungkin jika mamahnya menyembunyikan anak kunci di dalam kotak kecil di bawah kolong jika bukan sesuatu yang penting.
("Jangan..jangan...itu kunci ruangan rahasia mamah" batinnya)
Andini segera mengambilnya lalu kembali menuju ruangan itu untuk mencoba kecocokan ketiga kunci.
🍡🍡🍡
Berdiri di depan pintu dengan anak kunci di tangan.
Perlahan namun pasti Andini memasukan anak kunci itu..sesaat kemudian terdengar bunyi "Ceklek"
Tanda pintu berhasil dibuka..
"Yess!!! Berhasil!!!" Serunya girang saat pintu berhasil dibuka.
Namun keriangan itu hanya sesaat sebelum kecemasan melandanya.
"Deg..deg..deg..." irama jantung Andini terdengar
bertalu disertai ketegangan yang menyelimuti saat pintu di dorong perlahan olehnya.
Andini berdiri di depan pintu yang kini terbuka lebar.
Tak ada perabotan,,hanya ruangan kosong dengan beberapa kardus besar di pojokan dan sebuah pintu.
("Tuhh kan..mamah lagi-lagi bohong,,disini tak ada perabot dapur seperti yang mamah bilang,,juga tikus-tikus itu,,mana?? Tak ada satu pun tikus" batinnya.)
"Lalu..yang disana itu pintu apa?!!Apa ada ruangan lagi dibaliknya?!!"
Pertanyaan yang kini hadir dibenak Andini.
Dengan langkah panjang Andini segera mendekat ke pintu yang ada disana,,mengamati sejenak,,lalu mencoba membukanya namun lagi-lagi terkunci..
"Terkunci!!!" Terussss kemana lagiii nyarii kunciinyaa" gumamnya pelan.
Ketika tengah berpikir,,Andini tiba-tiba mendengar suara rintihan dari
balik pintu itu.
Bergegas Andini menempelkan kupingnya pada daun pintu,,menajamkan pendengarannya.
Lamat-lamat suara rintihan itu masih terdengar,,Andini semakin penasaran pada sesuatu yang ada dibalik pintu.
__ADS_1
("Suara siapa gerangan??!!"Apakah ada seseorang terkurung disana atau kah itu Eyang??!!") Batinnya.
Andini mengintip dari lubang kunci,,hanya gelap yang ditemukannya.
Ketegangan semakin menderanya saat tangannya menyentuh gagang pintu ketika akan membukanya,,namun pintu terkunci.
"Sial!!!lagi-lagi terkunci" gumam Andini lirih.
"Kunci??!! Dimana pula kunci pintu ini?! Pikirnya.
Namun Andini menyadari saat memperhatikan ketiga anak kunci yang kini ada di tangannya,,kembali mencoba salah satu terkecuali kunci pintu yang barusan terbuka.
Hanya ada dua anak kunci yang akan di cobanya,,anak kunci yang sama dengan anak kunci pertama yang telah berhasil membuka pintu ruangan itu lalu anak kunci bertanda merah di salah satu sisinya.
Dan Andini memutuskan untuk mencoba anak kunci bertanda merah dengan memasukkannya pada lubang kunci namun sepertinya tidak cocok karena pintu tidak merespon dan tak bisa dibuka.
Andini lalu mencoba kunci yang tersisa,,dan Cocok!!
Terdengar bunyi "ceklek" saat kunci diputar olehnya,,pintu terbuka.
"Sepertinya keberuntungan berpihak padaku" gumamnya pelan.
Tanpa membuang kesempatan Andini segera menarik handle pintu itu,,hal pertama yang Andini dapati hanyalah kegelapan.
Dengan bantuan penerangan pada ponselnya Andini bisa melihat beberapa undakan sebelum lorong yang terbentang dibawah sana yang entah dimana ujungnya.
Dan Andini baru tahu jika di salah satu bagian rumahnya ada ruang bawah tanah.
"Tuh kan benar..mamah merahasiakan sesuatu lagi dari Andini" batinnya.
Bukannya takut dengan lorong gelap itu,Andini malah antusias menaklukannya meski hanya berbekal penerangan dari ponsel saja.
Rasa penasaran benar-benar telah menguasainya,,sehingga mengindahkan beberapa bayangan juga beberapa penampakan yang melintas disekitar lorong.
Andini seolah tak memperdulikan mereka yang tak kasat mata itu,,karena dia sudah terbiasa akan kehadiran mereka,,namun dia menyimpan rahasia itu sendirian karena baginya six sence yang ada padanya adalah kekurangan dirinya,,andai bisa memilih Andini akan memilih terlahir sebagai anak yang tanpa six sence,,karena tidak mudah mengemban amanah itu.
Andini terus melangkahkan kaki pelan menyusuri lorong untuk memenuhi rasa penasarannya.
"Hemm..cukup panjang juga lorong ini" batinnya.
Andini terus berjalan,,sampai langkahnya terhenti di depan sebuah pintu tepat dibagian tengah lorong.
("Ruangan apa lagi ini?!!!"
Benar-benar banyak pintu rahasia di rumah ini" batinnya)
Masih memperhatikan dengan intens ke arah daun pintu.
Mencoba mencari tahu apa gerangan yang ada dibalik pintu itu,,dengan menajamkan pendengarannya.
Namun hanya hening yang didapatinya,,tak ada lagi suara rintihan seperti di awal tadi.
Lagi-lagi Andini mengintip melalui celah kecil pada lubang pintu.
Ruangan dengan pencahayaan remang-remang,,hanya itu yang bisa Andini lihat dari celah lubang kunci.
"Sebenarnya ruangan apa ini??!! Jangan-jangan mamah sembunyikan Eyang disini,,tapi jika benar,apa alasannya Eyang ditempatkan disini??!" Batinnya
"Tiit...tiit.." bunyi ponsel yang memberitahukan jika daya batrainya semakin berkurang membuyarkan Andini dari sibuk pikirannya pada isi dibalik pintu yang ada dihadapannya kini.
Andini lalu mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu meski tangannya telah tertempel pada gagangnya.
"Aku harus cepat kalau tidak aku akan terjebak disini dalam gelap karena baterai ponsel ku yang tinggal sedikit" pikirnya.
Namun rasa penasarannya tak berhenti sampai disitu saat dirinya kembali melihat sebuah pintu lagi di ujung lorong.
"Lalu yang disana pintu apa lagi?!!"
"Ahhh..rumah ini ternyata menyimpan banyak misteri dan aku baru mengetahuinya sekarang" batinnya
Andini melangkah tergesa menuju pintu di ujung lorong.
Meski keringat membasahi tubuhnya,,namun tak menyurutkan niatnya untuk mencari tahu rahasia yang tersimpan di rumah barunya ini.
Kira-kira 150 meter jarak dari pintu tengah ke pintu ujung lorong,,membuat Andini sedikit tersegal karena langkahnya yang sengaja di percepat olehnya mengingat penerangan pada ponselnya yang mulai meredup.
Akhirnya Andini berada di depan pintu ujung lorong,,tanpa buang waktu Andini kembali mengamati ruangan itu melalui lubang kunci.
Gelap,,tak ada cahaya disana,,berbeda dengan ruangan tengah tadi yang berrcahaya remang-remang.
"Tiitt...tiittt"
Kembali ponsel Andini memberi peringatan akan daya baterai yang semakin berkurang.
"Astagfirullah..aku harus cepat keluar dari sini kalau tidak aku akan terjebak dalam gelap" pikir Andini.
Dengan langkah panjang dan sedikit berlari Andini segera menuju pintu utama.
Seiring daya baterai yang tersisa 20% Andini akhirnya menaiki undakan dan berhasil keluar dari ruang bawah tanah lalu kembali menutup pintu utama dan menguncinya.
"Waoww..ini seperti mimpi saja,,benar-benar petualangan yang seru!!!"
Yachh..aku sepertinya harus kembali lagi kesana nanti,,isi di balik kedua pintu itu membuatku penasaran!!!"
Gumam Andini pelan dengan nafas yang masih tersengal.
Senyum kemenangan menghiasi wajahnya yang berkeringat akibat lama berada di lorong gelap nan pengap itu.
"Astaga..jadi lupa sama mamah dan bik Lila yang tengah menunggu,,tadi kan Andini bilang cuma sebentar" batinnya.
Andini lalu kembali ke kamar mamahnya mengembalikan kotak tempat kunci itu,,beserta ketiga kuncinya.
Awalnya Andini berpikir akan menyimpan kunci-kunci itu sendiri agar dia bisa kembali lagi kesana nanti jika dia menginginkannya.
Alasan lainnya,,dia ingin melihat reaksi sang mamah saat tahu ketiga kunci itu telah berpindah tangan padanya,,namun di urungkan niatnya karena dia lebih tertarik dengan petualangan serunya tadi dan melihat sendiri isi dibalik pintu rahasia itu lebih dulu tanpa harus bertengkar dengan sang mamah.
Setidaknya Andini sudah tahu dimana sang mamah menyimpan kunci-kunci itu,,sehingga jika nanti dia akan kesana lagi,,dia tau dimana keberadaan kuncinya.
Setelah mengembalikan kotak berisi kunci itu,Andini pun lalu bergegas berangkat ke rumah bik Lila dimana sang mamah telah menunggunya dalam kecemasan.
🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
N/B :
Buat Readers..Don't forget Like,,Comen,,en Share"y.
Like,,Comen en Share dari para Readers semangat buat Author berkarya.
With Love
DianadieNcess😘
__ADS_1