Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Sebatas Gurauan


__ADS_3

Pagi harinya, Rakapun pulang karena kondisinya yang memang sudah lebih baik. Dia ingin menyelesaikan masalah administrasi di rumah sakit itu, namun saat dia menanyakan masalah itu kepada kasir, ternyata biayanya sudah dibayarkan oleh pak Junaidi.


Rupanya, semalam sebelum pak Junaidi pulang, dia telah membayar semua biaya perawatan Raka ditempat tersebut. Akhirnya, Raka, ibu Sophia, dan juga Roni, mereka pergi meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke rumah mereka. Tadinya, pak Junaidi berencana untuk menjemput dan mengantarkan mereka pulang. Namun, karena Noni yang masih uring-uringan, diapun tidak jadi untuk datang ke rumah sakit itu dan menjemput mereka.


'' Raka! Sebaiknya, untuk beberapa hari ini kamu tidak usah pergi berjualan dulu! Kamu istirahat aja dirumah untuk memulihkan kondisi tubuh kamu.'' ucap ibu Sophia saat mereka sudah berada didalam rumah.


'' Iya bu. Tapi Raka tidak bisa untuk tidak pergi ke kampus. Soalnya, kalau Raka tidak datang dan tanpa ada keterangan yang jelas, Raka bisa di DO dan beasiswa Raka akan dicabut.'' ujarnya.


'' Tapi bukannya sekarang ini sudah cukup siang. Apa nanti kamu nggak terlambat masuk kelas? Kan biasanya kamu itu berangkatnya pagi-pagi terus!'' ujar ibu Sophia, sambil mengumpulkan pakaian kotor milik Raka dan memasukkannya kedalam keranjang pakaian.


'' Ya sebenarnya sih Raka sudah terlambat bu! Tapi gak apa-apa. Biar nanti Raka masuk pada kelas berikutnya aja.'' jawab Raka.


'' Ya sudah. Tapi kamu harus hati-hati ya! Jangan sampai terjadi apa-apa lagi sama kamu.''


'' Iya bu, Raka akan ingat pesan ibu. Sekarang, Raka mau siap-siap dulu.'' ucap Raka, kemudian pergi membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu bersiap pergi ke kampus.


Meskipun belum seratus persen kondisi tubuhnya kembali seperti semula, namun berkat perawatan di rumah sakit kemarin hingga pagi hari ini, tubuh Raka sudah bisa dikatakan kembali sehat. Seluruh rasa sakit yang tadinya dirasakan oleh Raka, kini sudah tidak lagi seperti kemarin.


'' Bu, Raka berangkat dulu ya! Assalamualaikum.'' ucap Raka berpamitan kepada ibu Sophia.


'' Iya nak. Hati-hati dijalan! Wa'alaikumsalaam warahmatullah..'' sahut ibu Sophia yang sedang berada di dapur, kemudian pergi kedepan untuk mengantarkan Raka sampai didepan pintu.


'' Oh iya Raka, jangan lupa! Kalau sudah nggak ada kegiatan di kampus, kamu harus cepat pulang!'' ucap ibu Sophia, saat Raka hendak pergi dengan membawa motor maticnya.


'' Iya bu.'' jawab Raka singkat.


Seperti biasa, Raka dengan santai mengendarai motornya pergi ke kampus. Meskipun untuk kelas pertama dia sudah terlambat masuk, namun dia tidak terburu-buru membawa motornya. Dia lebih memilih untuk mengutamakan keselamatan, daripada harus terburu buru mengejar waktu yang memang sudah terlambat tersebut.


Setelah melewati persimpangan, Raka kemudian membawa motornya memasuki jalan lintas yang cukup lebar. Namun sayangnya, meskipun jalan itu cukup lebar, tetapi banyak sekali lubang-lubang dibadan jalan itu, akibat kurang baiknya mutu kontruksi jalan tersebut. Ditambah lagi, jalan itu banyak dilalui mobil-mobil besar yang membawa muatan berat. Baik mobil-mobil yang membawa hasil karet dan sawit, ataupun bahan-bahan untuk pembangunan calon ibukota.


Tepat pada saat Raka berada didekat sebuah lubang yang tergenang air, sebuah mobil Land Cruiser melaju cukup kencang dan ingin menyalip Raka. Akan tetapi, karena pengemudinya yang sedang terburu-buru, dia jadi tidak sadar kalau didepannya ada kubangan air. Pengemudinya sempat mengerem untuk memperlambat laju kendaraannya. Namun, meskipun mobilnya sudah agak lambat dan mencoba menghindari kubangan tersebut, ternyata salah satu roda belakangnya masih sempat masuk kedalam kubangan air tersebut.


Alhasil, air yang ada di kubangan tersebut, muncrat dan mengenai tubuh dan motor milik Raka. Pengemudi mobil itu lantas menghentikan mobilnya. Dia lalu membuka kaca mobil sebelah kiri, dan melihat kearah Raka untuk meminta maaf. Namun, begitu tau kalau ternyata pengendara motor itu adalah Raka, dia malah tertawa terpingkal-pingkal.


'' Hey bocah jelek! Sorry ya, saya tadi nggak sengaja. Dan saya lagi buru buru. Nih, buat cuci motor dan cuci baju kamu!'' seru pengemudi mobil itu, sambil melemparkan uang sebesar seratus ribu kearah Raka dan segera pergi.


'' Astaghfirullahal'adziim...'' ucap Raka membatin.


Dia tidak tahu siapa lelaki tersebut. Bahkan, dia sendiri baru pertama kalinya melihat orang tersebut. Namun, ucapan dan tingkah lakunya, sangat mirip dengan Noni. Sambil mengelus dada, dia kemudian mengambil uang yang tergeletak tak jauh darinya.


Karena hampir seluruh pakaiannya kotor terkena air kubangan tadi, Raka dengan terpaksa kembali ke rumah dan tidak jadi pergi ke kampus. Dengan pakaian seperti itu, mana mungkin dia akan pergi ke sana. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah jika besok dia akan disidang oleh dosen pembimbingnya yang terkenal cukup galak itu.

__ADS_1


'' Pi.. Hati-hati dong bawa mobilnya. Liat nih! Hampir saja kepala Bella benjol kejedot kursi tadi.'' ujar seorang gadis yang duduk di kursi belakang mobil Land Cruiser tersebut.


'' Ya maaf Bella! Papi kan lagi buru-buru. Hari ini papi ada meeting dengan klien. Kalau sampai terlambat, bisa kacau urusan proyek papi.'' sahut lelaki yang bernama Daniel, ayah dari gadis tersebut.


'' Ya tapikan, gak harus sampai segitunya atuh Pi. Kalau kita sampai kenapa-napa, apa nggak lebih gawat lagi?'' ujar Bella.


'' Ini gara-gara mami kamu tuh, pake minta diantar ke salon segala. Mana lama banget lagi. Kamu juga, suruh bawa mobil sendiri gak mau. Jadinya, papi juga kan yang repot.'' keluh Daniel.


'' Inikan pertama kalinya Bella masuk kampus Pi, masak Bella harus bawa mobil sendiri. Lagian, papi kan perlu bertemu dengan dosen pembimbing Bella nanti.'' sahut Bella.


Daniel adalah manager baru disebuah cabang perusahaan besar dari Jakarta. Sebelum di tugaskan disini, Daniel merupakan wakil manajer di kota Bandung. Karena ada pergantian, diapun di promosikan menjadi manajer untuk cabang perusahaan di kota ini. Dia sendiri, baru satu minggu pindah ke kota ini. Karena masih mengurus surat pindah, istri dan anaknya baru bisa datang kesini kemarin sore.


Maka dari itulah, hari ini Bella baru bisa datang ke kampus. Dan untuk itu juga, Bella meminta ayahnya untuk mengantarkannya menemui pihak kampus, meskipun ayahnya sudah mengurus perpindahan kuliahnya beberapa hari yang lalu.


'' Eh Pi, papi tadi ngomongin siapa sih pake bilang bocah jelek bocah jelek? Emangnya, papi kenal ya sama orang itu?'' tanya Bella yang tadi sempat melihat kearah Raka.


'' Ooh tadi! Pemuda yang pake motor itu?'' ucap Daniel.


'' Iya pi. Kok papi gitu amat sih sama dia. Perasaan, dia itu gak jelek-jelek amat kok.''


'' Papi sih nggak kenal. Cuma, beberapa hari yang lalu, papi pernah pergi ke pasar sore. Waktu itu terjadi keributan disana. Dan saat itu, dia sedang diomelin oleh seorang anak perempuan, dan anak perempuan itu memanggilnya dengan sebutan bocah jelek. Makanya papi ikutan menyebutnya seperti itu.''


'' Iya iya! Papi ngaku salah. Tapi tadi itu, papi juga nggak berniat seperti itu kok. Papi cuma spontan aja saat melihat bocah itu yang keliatannya sangat lugu.'' sahut Daniel yang kembali teringat bagaimana Raka cuma diam saat Noni mengomelinya.


Sementara itu. Raka Sudah kembali kerumahnya. Ibu Sophia merasa terkejut, karena melihat Raka kembali lagi dan seluruh pakaiannya terlihat basah dan kotor. Dia merasa begitu khawatir dan mengira kalau Raka kembali bertemu dengan para preman itu lagi.


'' Raka, kamu kenapa lagi nak. Apa orang-orang itu kembali berbuat jahat sama kamu?'' tanya ibu Sophia sambil mengamati wajah dan tubuh Raka.


'' Enggak kok bu. Raka tidak apa-apa. Hanya saja, tadi pas dijalan Raka kecipratan air kubangan saat sebuah mobil lewat didekat Raka. Jadinya ya seperti ini.'' jawab Raka menenangkan ibunya.


'' Lah terus, kamu jadi nggak ke kampusnya?'' tanya ibu Sophia.


'' Kayaknya enggak dulu deh Bu. Biar besok aja Raka pergi ke kampusnya. Sekarang Raka mau istirahat aja dirumah.'' jawab Raka lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk.


'' Oh iya Raka, kamu sudah memberitahu Naya belum, kalau untuk beberapa hari ini kamu tidak buka kedai?'' tanya ibu Sophia saat Raka hendak pergi ke kamar mandi untuk kembali membersihkan diri karena kejadian tadi.


'' Sudah bu. Raka tadi sudah mengirim pesan sama Naya.'' jawab Raka lalu kembali berjalan menuju kamar mandi.


'' Ya udah kalau gitu. Kirain kamu belum ngasih tau dia. Kasian kan kalau dia nanti pergi dan nungguin kamu disana. Ya udah, sana kamu mandi lagi!'' ujar ibu Sophia lalu pergi kebelakang untuk membuat minuman hangat untuk Raka.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Raka lalu duduk-duduk di ruang keluarga sambil membuka-buka ponselnya. Beberapa pemberitahuan pesan masuk menghiasi layar ponselnya. Dia kemudian membaca satu persatu pesan tersebut.

__ADS_1


'' Eh Ka! Kamu kemana sih gak masuk dan gak ada keterangan. Kamu dicariin pak Gultom tuh! Katanya, kamu harus menemui dia dikantor besok.''


'' Hati-hati lho Ka! Kamu tau sendiri kan bagaimana the killer itu. Kamu harus punya alasan yang tepat, biar nggak di DO dari kampus kita.''


'' Siapa lagi yang bisa bantuin aku ngerjain tugas, kalau kamu sampai di DO.'' isi pesan dari seorang bernama Helen, cewek yang sangat menyukai Raka, akan tetapi Raka sama sekali tidak meresponnya.


'' Bro ngapa gak masuk? Ada mahasiswi baru di kelas kita lho! Kayaknya, bakalan jadi bintang kampus nih.'' sebuah pesan lain dari salah satu teman cowok di kelasnya.


Terhadap pesan pesan dari teman temannya tersebut, Raka hanya menjawab alakadarnya saja. Saat ini, dia sedang memikirkan alasan apa yang harus dia katakan, saat nanti dia menghadap dosen pembimbingnya yang super galak itu. Dia tidak ingin, peristiwa yang dialaminya diketahui oleh banyak orang. Akan tetapi, dia juga masih belum tahu apa yang harus dia katakan kepada dosen the killer tersebut.


Bagaimanapun juga, akan sangat disayangkan jika nantinya dia dikeluarkan dari kampus tersebut. Selain kampus tersebut merupakan kampus favorit, tidak sembarang orang yang bisa kuliah disana. Hanya anak-anak orang kaya dan anak yang berprestasi saja yang bisa kuliah disana.


'' Kak, kenapa kita gak jualan? Apa kak Raka sakit?'' tanya Naya yang datang berkunjung sore harinya, dan tidak mengetahui kejadian yang menimpa Raka dan ibu Sophia kemarin.


'' Gak papa kok Nay. Kak Raka cuma kecapean. Mungkin setelah beberapa hari istirahat dan minum obat, kakakmu bisa berjualan lagi.'' sahut ibu Sophia menjawab pertanyaan Naya.


'' Apa iya begitu kak? Jangan-jangan, Ini pertanda kalau kakak udah waktunya punya istri!'' celoteh Naya dengan begitu polosnya.


Mendengar Naya berkata seperti itu, baik Raka maupun ibu Sophia jadi terkekeh. Ucapan Naya ini, malah jadi hal yang menghibur mereka. Dalam hal lain, Naya yang sering ditempa kesusahan hidup, memang terlihat lebih dewasa. Tapi dalam hal seperti ini, Naya tetaplah seorang anak-anak yang masih belum mengerti apa-apa.


'' Hhh... Nay..Nay. Kamu itu ada-ada saja. Apa hubungannya orang kecapean dengan waktunya punya istri?'' ucap Raka terkekeh.


'' Ya jelas ada dong kak. Kan, kalau kak Raka udah punya istri, nanti ada yang bantuin. Biar kakak nggak kecapean gitu!''


'' Emm... Bener juga tuh Nay. Ya udah kalau gitu! Kamu aja yang jadi istri kakak. Kamu mau kan? Hhh..'' seloroh Raka mencandai Naya.


'' Ih, kak Raka ini apaan sih kak. Naya kan masih kecil, mana boleh menikah! Lagian, kita kan saudara, ya bu?'' ujarnya sambil meminta dukungan dari ibu Sophia.


Ibu Sophia yang duduk disebelah Naya tersenyum. Sejak hari itu, dimana ketika dia meminta Naya supaya menganggapnya sebagai ibunya, Naya sudah tidak canggung-canggung lagi bersikap manja kepada ibu Sophia dan Raka. Begitu pula sebaliknya. Raka dan ibu Sophia sudah benar-benar menganggap Naya sebagai bagian dari keluarga mereka.


Maka dari itu, meskipun Naya dan Raka bukan saudara sedarah. Namun, baik Raka maupun Naya, keduanya tidak pernah berpikir ataupun berkeinginan untuk menikah. Bagi keduanya, ikatan persaudaraan antara mereka seperti sekarang ini, sudah lebih baik daripada ikatan pernikahan. Oleh karenanya, ucapan Raka tadi, memang semata mata hanyalah gurauan belaka.


'' Tuuh kan kamu juga tahu Nay. Kakak juga masih terlalu muda untuk menikah. Jadi, tidak ada tuh hubungannya kakak kecapean sama pertanda waktunya kakak punya istri.''


'' Kakak juga masih punya banyak PR dalam kehidupan ini. Sekarang ini, kakak masih ingin mengejar cita-cita kakak.''


'' Kakak ingin jadi orang sukses biar bisa bahagiain ibu. Beli rumah, punya usaha yang maju, dan juga bisa terus bantuin kamu sampai kamu selesai kuliah.'' ujar Raka penuh keyakinan.


Mendengar Raka mengatakan hal tersebut, ibu Sophia dan Naya begitu terharu. Tanpa terasa, mata ibu Sophia berkaca-kaca. Hatinya begitu terenyuh dengan penuturan yang diucapkan oleh Raka tersebut. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Namun, dia masih belum sanggup untuk mengatakannya sekarang-sekarang ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2