
Belum jauh Bella dan Silvi melewati pintu gerbang kampus, dibelakang mereka, muncul Raka dengan membawa motor matic miliknya. Tak berapa lama kemudian, Helen menyusul dengan membawa mobil CR-V warna merahnya, yang kemudian mereka menuju tempat parkir kampus tersebut.
'' Nah..! Itu mereka! Apa kubilang? Betulkan!'' ujar Silvi saat keduanya melihat kedatangan Raka dan Helen.
'' Kok bisa kompak gitu ya? Apa jangan-jangan, mereka itu berjodoh kali ya!'' lanjutnya berkomentar dan tidak tahu kalau tadi malam Raka dan Bella baru saja jadian.
'' Ih, ngomong apa sih kamu Sil? Mereka itu, cuma kebetulan tau!'' sahut Bella yang merasa tidak rela, jika Raka dan Helen dikatakan berjodoh.
'' Lho, kok kamu jadi sewot gitu sih Bell. Emm.., kamu cemburu ya? hihihi.. Udah...! Gak usah dipikirin. Raka itu, orangnya memang aneh kok. Cowok-cowok yang lain, mereka pada berlomba-lomba mengejar cewek cantik dikampus kita. Tapi dia, eeh.., dia malah nolak cewek-cewek cantik yang mendekatinya. Jangan-jangan!?..'' celoteh Silvi dan tidak melanjutkan kata-katanya.
Bella yang sedikit banyak mengetahui tentang alasan, mengapa Raka tidak mau menjalin hubungan dengan cewek-cewek tersebut, dia tidak memperdulikan celotehan Silvi. Namun, kata-kata terakhir Silvi yang menduga-duga tentang Raka tersebut, dia jadi penasaran. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Silvi.
'' Jangan-jangan apaan sih Sil? Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh deh tentang dia.''
'' Ya gitu! Jangan-jangan, dia itu.., jeruk doyan jeruk, atau pria gak normal.'' jawab Silvi dan langsung bergidik setelah mengatakan hal tersebut.
'' Ngaco ah kamu Sil! Raka itu, dia pria normal tau! Kamu jangan asal bicara saja.'' bantah Bella yang juga tidak rela jika Raka disebut lelaki tidak normal.
'' Hemm, sok tau kamu Bell. Kalau dia bukan lelaki seperti itu, pasti dia udah punya pacar dong! Coba kamu pikir! Dikampus kita ini, hampir semua ceweknya anak orang kaya atau orang yang punya jabatan. Seperti Helen, kamu, aku dan juga yang lain. Sementara dia itu, cuma dari keluarga biasa. Masa iya, kalau pria normal gak tertarik sama cewek-cewek seperti kita.'' ujar Silvi berargumen.
'' Silvi, Raka itu punya alasan tersendiri kenapa dia menolak semua cewek yang mendekatinya. Bahkan, dia itu termasuk pria yang cukup setia lho!''
'' Dia selalu menolak saat didekati oleh cewek yang lain, itu karena hatinya sudah terpaut kepada seseorang. Dan dia tidak ingin, dia membagi hatinya selain untuk orang tersebut.''
Mendengar penuturan Bella., Silvi jadi terdiam. Dia memang tidak pernah melihat, kalau Raka berbuat sesuatu yang aneh ataupun yang macam-macam. Diapun menyadari, jika Raka itu termasuk orang yang memiliki pendirian. Tidak seperti kebanyakan orang, yang mumnya suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
'' Waah..., sepertinya kamu lebih banyak tau tentang dia ya! Padahal, kalian kan baru beberapa hari kenalan. Atau jangan jangan, seseorang yang kamu maksud tadi itu kamu sendiri ya Bell'?'' ujar Silvi mulai menduga-duga.
Ditanya seperti itu, Bella hanya tersenyum. Dia lalu berjalan menuju ruang kelas mereka. Sebenarnya, saat ini Bella ingin menunggu dan menyapa Raka terlebih dahulu. Namun, melihat kalau Silvi sepertinya mulai penasaran tentang dirinya, Bella jadi berpikir untuk membuat sedikit kejutan untuk Silvi ataupun lainnya.
'' Ayo ah, kita masuk ke kelas dulu!'' ajak Bella kepada Silvi.
'' Eh Bella! kamu belum jawab pertanyaanku tadi lho! Ayo katakan! Apa memang orang yang kamu sebut itu adalah kamu sendiri?'' tanya Silvi penasaran, saat mereka sudah berada didalam ruang kelas.
'' Ya bisa dibilang seperti itu Sil!'' jawab Bella sambil tersenyum.
'' Oh.., jadi sebenarnya, kamu itu pacarnya Raka ya Bell? Waah..., beruntung banget kamu ya Bell, punya cowok ,yang setia seperti itu. Tapi kok, kalian tidak terlihat seperti sepasang kekasih sih?'' tanya Silvi heran.
'' Ya soalnya, kita baru resmi jadian tadi malam Sil. Walaupun sebenarnya, kita udah lama saling mengenal dan saling menyukai.'' jawab Bella berterus-terang.
'' Tapikan, bukannya selama ini kamu tinggal di Bandung. Sementara Raka, dia selalu berada disini. Darimana kalian bisa saling mengenal? Apa dari medsos?'' kembali Silvi mencecar Bella dengan berbagai pertanyaan, dan hanya dijawab oleh Bella dengan anggukan.
...----------------...
Sementara itu, ditempat parkir. Baru saja Raka berjalan beberapa langkah setelah memarkirkan motornya. Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh suara Helen yang memanggilnya. Raka segera menoleh kearah sumber suara. Tak jauh dari tempat dimana dia berada, Helen yang juga baru keluar dari mobilnya, dengan wajah yang masih terlihat agak kesal, dia segera menghampiri Raka.
'' Ka! Tunggu aku! Aku pengen ngomong sama kamu.'' seru Helen sambil berjalan mendekati Raka.
'' Ada apa sih Hel? Kok kamu kelihatan kesel gitu!'' sahut Raka, setelah Helen berada didepannya.
__ADS_1
'' Iih..! Ada apa ada apa? Kamu kok nyebelin banget sih sekarang.'' gerutu Helen sambil mencubit lengan Raka.
'' Aduh..! Kamu itu ya Hel! nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba maen cubit aja. Sakit tau!''
'' Lagian, aku nyebelin bagaimana sih maksudmu? tanya Raka yang merasa heran dengan sikap Helen tersebut.
'' Nyebelin bigimini sih?'' ucap Helen mengulang pertanyaan Raka, namun dengan mulut yang di miring-miringkan.
'' Lho emang iya kok? Aku tuh, beneran gak tau yang kamu maksud Hel, nyebelin bagaimana sih maksudmu?'' ujar Raka tampak semakin bingung.
'' Kamu jangan pura-pura gak ngerti deh Ka! Semalam, kenapa kamu gak telepon balik aku? Aku tuh, nunggu-nunggu sampai lama dan ketiduran.'' ujar Helen menceritakan dirinya semalam.
'' Oh.., ya maaf Hel! Kamu kan nggak bilang kalau kamu minta ditelepon balik! Lagi pula, semalam setelah kamu telepon, aku juga terima telepon dari Bella.''
'' Tuuh..kan! Bella lagi.. Bella lagi? Kamu pacaran aja sana sama Bella! Huh, nyebelin!'' ucap Helen, lalu dengan kesal langsung pergi dengan cepat meninggalkan Raka.
Raka yang melihat Helen seperti itu, dia jadi bingung harus berkata apa. Dia hanya bisa memandang Helen yang berjalan menuju ruang kelas mereka. Meskipun berulang kali Raka mengatakan kepada helen, kalau dia tidak bisa menerima cinta darinya, namun rupanya Helen masih belum ingin menyerah.
Selama Raka belum punya kekasih, Helen masih ingin terus mengejarnya. Raka juga merasa sedikit tidak enak hati, jika saja Helen tau, kalau sekarang dia menjalin hubungan dengan Bella. Namun, entah cepat ataupun lambat, Helen juga pasti tau, kalau dia dan Bella sekarang sudah jadian.
'' Helen...! Akhirnya, kamu nongol juga. Ditunggu-tunggu dari tadi!'' Seru Silvi yang langsung menyongsong kedatangan Helen.
'' Eh, kamu tau nggak? ternyata.., si Raka! Umm..! Eumm..!" belum selesai Silvi berkata, Bella langsung menghampiri Silvi dan membekap mulutnya.
'' Sil..! Jangan sekarang! Please.'' bisik Bella ditelinga Silvi, sambil terus membekap mulut Silvi hingga Silvi meronta-ronta.
'' Tolong ya Sil..! Please..?!'' lanjut Bella, sembari tangan kirinya menggelitiiki pinggang Helen.
Silvi akhirnya dapat bernapas dengan lega, setelah Bella melepaskan tangannya yang tadi membekap mulutnya. Silvi langsung berbalik melihat kearah Bella. Dia ingin berkata kepada Bella. Namun, belum sempat dia membuka mulutnya, Bella langsung memberinya isyarat melalui tatapan matanya.
'' Kalian lagi ngapain sih pada kayak gitu? Silvi, kamu tadi mau ngomong apaan? Emangnya, ada apa dengan Raka?'' tanya Helen yang keheranan melihat polah keduanya.
'' A, anu Hel. Tadi.., tadi perasaan, Raka ada didepan kamu. Kok sekarang dia belum keliatan!'' ucap Silvi mengalihkan pembicaraan yang tadi ingin dikatakannya.
Baru saja Silvi berkata seperti itu, Raka malah muncul dari balik pintu. Serempak mereka menoleh kearah Raka. Raka tersenyum dan berjalan menuju tempat duduknya. Berbeda dengan Bella, Helen malah terlihat kesal melihat Raka yang tersenyum seperti itu.
'' Tuh! Orang yang kamu tanyain udah datang. Sana, kalau kamu mau ngomong sama dia!'' ujar Helen dengan jutek, lalu pergi ketempat duduknya.
Silvi yang melihat sikap Helen yang tidak seperti biasanya, dia jadi terbengong. Setahu dia, Helen biasanya paling semangat saat melihat Raka. Tapi pagi ini, Helen malah terlihat sebaliknya. Silvi lalu memandang kepada Bella dan berkata:
'' Bella, apa dia lagi ngambek sama kamu gara-gara kamu dan Raka...?'' tanya Silvi sambil memandang Bella dan Raka bergantian.
Bella hanya mengangkat kedua bahunya, dia lalu kembali ketempat duduknya yang berada disebelah Helen. Melihat Bella akan kembali ketempat duduknya, Helen pura pura sibuk membuka-buka buku yang dibawanya. Namun, meskipun dia terlihat sedang sibuk membaca, tapi sebenarnya, kedua matanya malah selalu memperhatikan Bella dan Raka secara bergantian.
'' Hey Helen! kamu lagi baca apaan sih? Liat! Itu bukunya sampai kebalik.'' bisik Bella sambil senyum-senyum.
Karena sedang tidak konsen dan hanya pura pura membaca, Helen jadi tidak sadar kalau buku yang dibacanya ternyata kebalik. Setelah Bella memberitahunya, dengan sedikit malu-malu Helen pun buru-buru membenahi posisi bukunya tersebut.
'' Hel.., Selesai mata kuliah hari ini, tolong jangan pulang dulu ya! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.'' ujar Bella setengah berbisik.
__ADS_1
Helen hanya diam dan tidak memberikan respon apapun terhadap perkataan Bella. Dia masih berpura pura membaca buku, namun pikirannya saat ini sedang berkelana kemana mana.
'' Helen.., kamu dengar tidak apa yang barusan aku katakan?'' tanya Bella yang mengira kalau Helen tidak mendengarkan perkataannya.
'' Hey.. Helen! kok diam aja sih?'' Bella kembali menegur Helen yang masih tidak merespon.
'' A, apa yang tadi kamu katakan?'' Helen terkejut setelah Bella kembali menegurnya.
'' Sepulang kuliah nanti, aku ada perlu sama kamu. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakan?''
'' Emm.. Gak tau ya! Soalnya aku sibuk banget hari ini!'' ujar Helen membuat alasan.
'' Please dong Hel! Ini penting untuk persahabatan kita, aku gak mau ada perselisihan diantara kita. Walaupun persahabatan kita belum lama, tapi buatku, kamu sahabat terbaikku disini. Please..!! Sebentar.. aja.'' pinta Bella memohon.
Meskipun didalam hati Helen ada rasa cemburu kepada Bella, namun melihat ekspresi wajah Bella yang terlihat begitu memelas, dan bahkan tampak lucu, Helen akhirnya mengiyakan permintaan dari Bella. Dia bahkan jadi terkekeh melihat ekspresi Bella tersebut.
'' Iya iya! Tapi tolong, jangan pasang wajah seperti itu Bella! Dan juga nanti sebentar saja ya, soalnya aku sibuk.'' ucap Helen sambil sedikit menahan tawanya.
Mendengar jawaban dari Helen, Bella pun merasa senang. Dia berharap, setelah mereka berbicara nanti, Helen bisa kembali bersikap seperti sebelumnya, dan tidak lagi uring-uringan seperti dua hari belakangan ini. Diapun langsung mengacungkan dua buah jempolnya kepada Helen.
Karena hari ini hanya ada satu mata kuliah, merekapun bisa lebih cepat pulang dari hari-hari biasanya. Seperti yang telah disepakati bersama, Bella mengajak Helen untuk berbicara mengenai permasalahan yang sedang mereka hadapi, agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka.
'' Helen, bagaimana kalau kita bicaranya di cafe saja! Biar suasananya lebih rileks dan nyaman.'' usul Bella saat tengah bersiap keluar dari ruang kelas.
'' Oke! Tapi berhubung kamu yang ajak, nanti kamu yang bayarin ya.'' ucap Helen membuat permintaan.
'' No problem. Yang penting, masalah ini cepat clear, dan kita bisa kembali seperti sebelumnya.''
'' Oh iya, boleh gak kalau Raka juga kita ajak? Bagaimanapun juga, dia itukan masih ada kaitannya dengan masalah ini.'' usul Bella.
'' Ya.., terserah kamu ajalah. Aku no komen.'' ucap Helen lalu bangkit dari tempat duduknya.
Baru beberapa langkah Helen berjalan, Bella yang masih merapikan perlengkapan tulis miliknya, dia segera memanggil Helen.
'' Eh Helen, tunggu tunggu tunggu! Aku ikut kamu ya? Soalnya aku gak ada kendaraan ke cafe-nya.''
Buru-buru Bella mengejar Helen. Namun, tiba-tiba dia berhenti berjalan. Dia baru teringat, dia belum memberitahu Raka. Sambil berjalan menghampiri Raka, Bella meminta kepada Helen untuk menunggunya ditempat parkir.
'' Mas Raka! Tolong mas ikut kami ke cafe ya! Kita akan membicarakan tentang hubungan kita kepada Helen. Aku tidak ingin, gara-gara kita ini, hubungan pertemanan dengan Helen jadi retak. Untuk itu, tolong nanti mas Raka juga ikut menjelaskan kepada Helen.'' pinta Bella kepada Raka yang juga hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Raka mengiyakan permintaannya, Bella segera pergi menyusul Helen yang sudah lebih dulu keluar dan menunggunya ditempat parkiran. Merekapun akhirnya sampai di cafe yang dituju, yang berada didalam pusat perbelanjaan tak jauh dari kampus tersebut.
Setelah mencari tempat yang dirasa paling tepat, Bella, Helen dan juga Raka, ketiganya lalu mulai berbincang bincang disana. Sembari menunggu pesanan mereka, Bella mengawali membuka perbincangan tersebut. Dia meminta kepada Helen, agar nantinya Helen tidak terbawa emosi karena cemburu.
'' Helen..! Mohon pengertianmu ya Hel! Kamu sendiri sekarang tahukan, kalau ternyata Raka adalah pemilik akun Erlang biru yang selama ini aku cari.''
'' Aku sendiri juga tidak menyangka, kalau pada akhirnya aku bisa bertemu dengannya disini. Bagiku, ini seperti mimpi. Tapi sejujurnya, Meskipun aku tahu kamu sangat menyukai mas Raka, namun kamu juga harus paham, jika antara aku dan mas Raka sudah sejak lama saling mengenal.''
'' Jadi, tolong jangan beranggapan, kalau aku merebut mas Raka darimu. Karena bagaimanapun juga, kami sudah cukup lama menjalin hubungan. Ya.. walaupun secara resminya baru tadi malam kami jadian.''
__ADS_1
...****************...