Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Meninggalkan Rumah


__ADS_3

'' Hallo boss! Ternyata bocah itu masih tidak mengindahkan peringatan dari kita. Dia sekarang malah sedang asik berduaan dengan Bella.''


'' Oke boss! Baik-baik. Aku akan terus mengawasinya. Boss tenang aja! Saya jamin, tidak ada selangkah pun dari setiap gerak-geriknya yang terlepas dari pengawasanku. Oke! Siap siap.''


Dari sebuah kedai kopi di seberang jalan, tak jauh dari kedai serabi milik Raka. Seorang pemuda sejak tadi terus mengawasi Raka dan Bella. Rupanya dia adalah anak buah Clayton yang diberi tugas untuk memata-matai mereka berdua. Usai melaporkan apa yang dilihatnya kepada Clayton, pemuda itupun kembali masuk kedalam kedai, sambil matanya terus melihat kearah kedai milik Raka.


Menjelang tengah hari, kue serabi buatan Raka pun telah habis terjual. Karena Raka ingin kembali menjenguk dan menemani Naya yang sedang merawat kakeknya, Raka sengaja tidak berjualan pada sore harinya. Tadinya, Bella juga ingin ikut bersama Raka pergi ke rumah Naya. Namun, karena sudah sejak pagi Bella pergi dari rumah, maka Raka meminta Bella untuk segera pulang ke rumahnya.


Raka merasa khawatir, jika Bella tidak segera pulang, kedua orang tua Bella nantinya malah akan melarang mereka untuk kembali bertemu. Dan tentunya, itu akan jadi masalah bagi hubungan mereka berdua.


'' Mas Raka, aku ikut kerumah kamu ya? Kita kan udah lama menjalin hubungan. Udah lebih dari satu bulan, tapi kamu masih belum juga mengenalkan aku pada ibumu.''


'' Sekalian, aku juga ingin ikut menjenguk kakeknya Naya yang sedang sakit. Boleh ya?'' pinta Bella, saat keduanya sedang mengemasi peralatan yang ada di kedai tersebut.


Meskipun Bella sudah berulangkali meminta kepada Raka agar dia diperkenalkan kepada ibunya. Namun, permintaannya itu belum juga dikabulkan oleh Raka. Raka sendiri sebenarnya juga berkeinginan untuk memperkenalkan Bella kepada ibunya. Namun, karena ada pertimbangan lain, maka Raka belum berani melakukan hal tersebut, sampai dia menemukan waktu yang tepat untuk melakukannya.


'' Bella, maaf! Aku bukannya tidak mau mengenalkan kamu pada ibuku. Tapi sepertinya untuk saat ini, momennya masih belum pas. Tolong kamu sabar dulu ya! Insyaallah, jika nanti waktunya sudah tepat, aku pasti akan mengenalkanmu pada ibuku.''


'' Dan lagian, kamu juga sudah sejak pagi pergi dari rumah. Papi dan Mami kamu pasti nyariin. Enggak baik kalau kamu tidak segera pulang Bell!'' ucap Raka menasehati Bella.


'' Iya mas..! Bella tau. Tapi kapan mas Raka mau ngajak Bella untuk ketemu sama ibunya mas Raka? Jangan cuma bilang nanti nanti terus. Apa mas Raka nunggu Bella dilamar orang?'' sahut Bella dengan sedikit kesal.


'' Bella.., kok kamu ngomongnya gitu sih? Apa yang kulakukan sekarang ini, semuanya untuk kebaikan kita berdua kedepannya Bell. Apa kamu mulai bosan denganku, sampai kamu ngomongnya begitu?'' ujar Raka sedikit kurang senang dengan kata-kata Bella barusan.


'' Mas..! Aku bukannya bosan berhubungan denganmu mas Raka. Tapi, aku juga pengen seperti yang lain. Ada waktu untuk jalan berdua, dapat perhatian lebih dari kekasih dan juga calon mertua, pokoknya gitu deh, biar hubungan kita ini keliatan serius gitu mas! Tapi kalau seperti ini terus, aku gak tau ini mau dibilang apa!'' ujar Bella tampak mulai murung.


'' Bella sayang..! Lihat aku baik-baik! Apa menurutmu aku gak serius sama kamu? Apa menurutmu semua yang kulakukan ini bukan demi untuk bisa mewujudkan impian kita?'' ucap Raka sembari memegang lembut kedua bahu Bella.


Untuk beberapa saat, Bella hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia juga masih belum paham dengan apa yang dimaksud oleh Raka. Sedangkan Raka juga belum menceritakan masalah yang sebenarnya, tentang syarat yang diajukan oleh kedua orang tua Bella kepadanya.


Namun, ucapan Raka yang memanggilnya dengan sebutan sayang tadi, cukup membuat hatinya sedikit bahagia. Untuk pertama kalinya sepanjang mereka menjalin hubungan, baru kali inilah Raka memanggilnya dengan sebutan sayang seperti itu. Oleh karena itu juga, wajah Bella yang tadi sedikit muram, kini tampak lebih cerah dari sebelumnya.


'' Kamu panggil aku tadi apa?'' tanya Bella ingin mendengar kembali kata-kata yang diucapkan oleh Raka.


Raka tersenyum. Dia sepertinya tahu apa yang ada dalam benak dan pikiran Bella. Karena dia ingin Bella bisa tersenyum lagi sebelum pulang kerumahnya, Raka pun akhirnya kembali mengulang kata-kata yang tadi diucapkannya dan ingin didengar oleh Bella.


'' Bella sayang.., Cantikku, manisku, bidadariku.. Percayalah! Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti segala yang kulakukan ini. Jadi, please... tolong mengertilah dan bersabar sedikit sampai aku benar-benar siap melakukan seperti apa yang kamu inginkan dariku.'' ucap Raka, sembari merapatkan kedua telapak tangannya didepan wajahnya.


'' Iya deh iya..! Aku akan mencoba untuk bersabar, sampai kamu bisa mewujudkan keinginanku. Demi kamu, dan demi cinta kita berdua.'' sahut Bella, lalu menggenggam kedua telapak tangan Raka yang masih terkatup tersebut.

__ADS_1


'' Ya udah, aku pulang ya! Salam buat Naya dan juga ibumu. Maaf aku tidak bisa ikut menjenguk kakeknya yang sedang sakit. Dah.. mas Raka! See you again in the campus tomorrow. Love you..'' ucap Bella, lalu beranjak menuju tempat dimana mobilnya berada.


'' Dah juga Bella...! Love you to so much.'' sahut Raka tersenyum manis, sambil terus memandangi Bella hingga Bella masuk ke dalam mobil dan mobil itupun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah kepergian Bella, Raka lalu segera menutup kedainya. Usai menutup kedai, Raka lalu berjalan menuju tempat dimana dia memarkirkan motornya, dan segera pulang ke rumahnya. Namun, belum juga Raka menaiki kendaraannya, tiba-tiba:


'' Dreeet dreet..dreett.''


'' Hallo! Assalamualaikum.. Apa? Innalillahi Wainnailaihi roji'un.. Iya iya, aku segera kesana.'' jawab Raka pada panggilan telepon tersebut, lalu segera pergi beranjak dari tempat itu.


Dengan terburu-buru, Raka membawa motornya pulang. Namun, arah yang ditujunya bukan rumahnya sendiri, melainkan dia menuju rumah Naya. Barusan, Raka mendapat kabar kalau kakeknya Naya meninggal. Maka dari itulah, dia langsung menuju kesana untuk membantu mengurusi prosesi pemakaman kakeknya Naya.


Sesampainya Raka dikediaman Naya, disana tampak sudah banyak orang yang juga ikut membantu mengurusi jenazah almarhum. Ibu Sophia dan Roni juga sudah berada disana. Begitu melihat kedatangan Raka, Naya langsung menghambur dan memeluk Raka.


'' Kak..! Huu.. Kakek meninggal kak! Sekarang Naya sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Huu huu..'' tangis Naya meledak saat berada dalam pelukan Raka.


'' Yang sabar ya Nay! Sudah menjadi kodratnya, yang hidup pasti akan mati. Kita semua juga pasti akan mati. Hanya saja, kita tidak tahu kapan kematian itu akan menghampiri kita.''


'' Kamu juga jangan bilang kalau kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi Nay, kamu masih punya kak Raka dan ibu. Selama kakak dan ibu masih ada di dunia ini, kamu masih memiliki kami Nay. Kamu jangan lupa itu!'' Ucap Raka sembari mengusap lembut kepala Naya.


'' Sekarang, kamu jangan terlalu bersedih lagi Nay. Ikhlaskan kakekmu yang hari ini pergi menemui Tuhan-nya. Biarkan dia pergi dengan tenang. Kita doakan, semoga beliau diterima dan ditempatkan ditempat yang layak disisi-Nya.'' lanjut Raka, lalu membimbing Naya masuk kedalam ruangan dimana jenazah kakeknya berada.


Seorang berpakaian rapi dengan jas dan dasi serta membawa tas khas para pengacara, turun dari mobil tersebut dan mendatangi mereka. Dibelakangnya, beberapa orang aparat setempat juga mengikutinya. Setelah mengucapkan salam kepada Raka dan yang lainnya, mereka lalu duduk di atas tikar bersama dengan yang lainnya.


'' Maaf bapak ibu! Apa disini ada ahli waris dari almarhum?'' tanya pengacara tersebut, setelah sebelumnya pak RT memperkenalkan dia kepada ibu Sophia, Raka dan Naya.


'' Iya pak, Ini Naya cucunya almarhum. Kalau saya saudara angkat dari Naya dan ini ibu saya. Maaf! Kalau boleh tau, Ada apa ya pak?'' tanya Raka setelah menjelaskan.


'' Begini mas, ibu dan dek Naya. Sebelumnya kami turut berduka atas meninggalnya almarhum. Kami juga minta maaf kalau kedatangan kami ini, sekiranya kurang patut dan kesannya terlalu buru-buru.''


'' Tapi mau bagaimana lagi. Kami hanya menjalankan tugas dari klien kami, untuk menyampaikan hal penting kepada ahli waris almarhum atau yang mewakilinya.'' ucap sang pengacara itu membuka kata.


'' Jadi begini mas, ibu. Biar tidak bertele-tele, kami langsung saja pada poinnya. Menurut perjanjian yang ada didalam berkas ini, klien kami dan almarhum telah membuat kesepakatan.'' lanjut pengacara tersebut sambil mengeluarkan map berisi berkas surat-surat perjanjian.


'' Belasan tahun yang lalu, almarhum telah menjual tanah dan pekarangan rumah ini pada klien kami. Waktu itu, atas kebijakan klien kami, karena merasa kasihan dan ingin membantu keluarga almarhum, klien kami tetap mengijinkan keluarga almarhum untuk tetap menempati tanah dan rumah ini, hingga batas yang sudah ditentukan.''


'' Dengan meninggalkannya almarhum sendiri, sesuai dengan kesepakatan yang tertulis dalam berkas-berkas yang ada, maka ini merupakan batas maksimal keluarga almarhum untuk menempati tanah dan pekarangan ini.''


'' Maaf! Bukan maksud kami untuk mengusir. Tapi saat ini, klien kami memang sedang membutuhkan tanah dan pekarangan ini untuk perluasan proyek. Kalian bisa lihat sendiri, pembangunan proyek yang ada dibelakang sana. Secepatnya, disini juga akan segera dilakukan hal yang sama seperti yang sedang klien kami jalankan.'' jelas pengacara tersebut.

__ADS_1


'' Dan mengenai keabsahan surat perjanjian ini, kalian bisa melihat dan menanyakan langsung kepada pak RT dan yang lainnya. Atau mungkin barangkali almarhum sendiri pernah berwasiat kepada dek Naya selalu ahli warisnya!'' ucap pengacara tersebut sambil menunjukkan surat perjanjian kepada Raka dan yang lainnya.


Raka lalu memeriksa surat-surat tersebut. Diperhatikannya surat-surat itu dengan seksama. Setelah merasa tidak ada yang aneh dengan surat-surat tersebut, diapun lalu menanyakan kepada Naya seperti yang disarankan tadi oleh sang pengacara. Saat ditanya oleh Raka, Naya mengangguk. Almarhum kakeknya memang pernah bercerita tentang masalah itu kepadanya. Karena hal itu jugalah, Naya merasa sedih.


'' Jadi, kapan kapan kami harus meninggalkan rumah ini pak?'' tanya Raka.


'' Secepatnya mas. Karena rencananya, besok atau lusa, rumah ini akan kami bongkar dan diganti dengan bangunan lain.'' jawab pengacara tersebut.


'' Apa tidak bisa kalau menunggu sampai seminggu lagi pak. Kami sudah terlanjur mengumumkan, bahwa mulai nanti malam, selama satu minggu kedepan, disini akan diadakan doa bersama untuk almarhum.'' ujar Raka meminta waktu.


'' Maaf mas, ibu, dan juga dek Naya. Dalam dunia bisnis, waktu adalah uang. Kalau kami harus menunggu lagi, tentunya klien kami akan banyak mengalami kerugian.''


'' Menurut kami, waktu yang sudah diberikan oleh klien kami untuk almarhum dan keluarganya, ini sudah cukup lama lho! Sampai belasan tahun lamanya. Jadi kami harap, kalian juga bisa memahami kondisi ini.'' sahut pengacara tersebut.


Mendengar jawaban dari pengacara itu, Raka dan ibunya saling pandang. Mereka merasa bingung harus berbuat ataupun berkata apa. Suasana di dalam ruangan itupun menjadi hening untuk beberapa saat. Naya yang masih merasakan kesedihan, tanpa terasa air matanya kembali menetes.


Karena tidak ada yang berbicara, pak RT yang duduk disebelah pengacara tersebut, akhirnya ikut angkat bicara.


'' Maaf sebelumnya mas, ibu dan Naya. Kami selaku aparat di wilayah ini, terus terang ikut prihatin dengan keadaan ini. Namun, kami juga tidak bisa membantu lebih untuk mengatasi hal ini.''


'' Hanya saja, kami ingin sedikit memberi usulan, bagaimana kalau acara doa bersama untuk almarhum tetap kita adakan, tapi tempatnya kita alihkan di masjid sekitar sini. Untuk waktunya, tetap seperti yang tadi telah diumumkan, hanya tempatnya saja yang berbeda.''


'' Dan untuk masalah penyampaian pengalihan tempat ini, biar nanti kami sendiri yang menyampaikannya kepada warga.''


'' Selain itu, untuk masalah hidangan baik berupa makanan ataupun minuman bagi yang hadir nanti, kalian juga tidak perlu memikirkannya. Sudah menjadi kebiasaan warga disini, kami sendiri yang akan menyiapkan semua itu sebagai bentuk rasa simpati kami kepada keluarga yang berduka. Bagaimana mas, ibu, Naya? Apakah kalian setuju?'' tanya ketua RT, setelah tadi sempat berunding dengan beberapa tokoh masyarakat yang ada di ruangan tersebut.


Ibu Sophia dan Raka kembali saling pandang. Mereka kemudian menoleh kearah Naya dan meminta persetujuan darinya untuk masalah tersebut. Naya hanya bisa pasrah dan menyetujui bagaimana pendapat dari Raka dan ibunya.


'' Baiklah pak RT dan semuanya. Kami setuju dengan usulan kalian. Kami juga akan segera membawa Naya untuk tinggal bersama kami sore ini juga.''


'' Adapun untuk masalah doa bersama bagi almarhum kakeknya Naya, sebelumnya kami sangat berterimakasih sekali kepada pak RT dan warga sekitar.''


'' Tentunya, kami juga tidak bisa membalas kebaikan kalian semua. Kami hanya bisa berdoa, semoga kebaikan bapak-bapak ataupun ibu-ibu masyarakat yang ada disini, nantinya dicatat dan dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan yang berlipat ganda.'' jawab Raka.


'' Aamiin...'' serempak orang yang ada di ruangan itupun mengaminkan ucapan Raka.


'' Jadi bagaimana? Apakah kalian tidak keberatan jika secepatnya lokasi ini dikosongkan?'' tanya pengacara itu kembali ingin memastikan.


Secara bersamaan, Raka, Naya dan juga ibu Sophia ikut mengangguk. Melihat hal itu, baik pengacara, aparat setempat, dan juga beberapa tokoh masyarakat yang ada disana, mereka bisa bernafas dengan lega, setelah sebelumnya mereka merasa khawatir dan sedikit tegang. Mereka khawatir, jika masalah ini akan menimbulkan konflik antara pihak terkait dengan pihak ahli waris. Namun ternyata, semuanya bisa berjalan tanpa ada masalah sedikitpun.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2