
'' Assalamualaikum..,'' ucap Topan dan Helen, setelah turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah kontrakan ibu Sophia.
'' Wa'alaikumsalaam..'' Jawab ibu Sophia dan Naya bersamaan, terdengar dari dalam rumah.
Karena mendengar suara mobil berhenti didepan rumah, ibu Sophia dan Naya mencoba mengintip dari balik kaca jendela depan, untuk mencari tahu siapa yang datang tersebut. Ibu Sophia yang belum pernah bertemu dengan Topan, dia lantas bertanya kepada Naya mengenai siapa pemuda yang datang bersama Helen tersebut.
Meski Naya sendiri baru sekali bertemu dengan Topan, diapun segera mengenali siapa pemuda yang datang bersama Helen tersebut. Naya-pun segera memberitahu ibu Sophia, bahwa pemuda itu adalah temannya Helen dan sekaligus temannya Raka juga.
'' Kak Helen, kak Topan, mari masuk! Kok tumben malam-malam begini datang kemari. Oh iya! Apa kakak berdua ini enggak bareng sama kak Raka?'' sapa Naya langsung bertanya tentang Raka.
Topan dan Helen saling berpandangan. Mereka jadi bingung untuk menjawab pertanyaan dari Naya tersebut. Sebenarnya, tujuan kedatangan mereka sendiri adalah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada ibu Sophia dan Naya saat ini. Baik Topan maupun Helen, mereka belum ingin memberitahukan masalah Raka kepada mereka berdua. Meskipun Naya dan ibu Sophia masih menyunggingkan senyum saat menyambut kedatangan mereka, namun, Topan dan Helen masih bisa melihat kekhawatiran dari wajah keduanya.
'' Emm.., begini Nay, ibu! Saat ini mas Raka sedang ada keperluan yang mendesak dan tidak bisa ditunda. Dan kebetulan, tadi pas kalian sedang berbicara ditelepon, kami mendengar percakapan kalian.''
'' Oleh karena itu, tadi kami meminta kepada mas Raka, agar membiarkan kami saja yang datang kemari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi disini.'' ujar Topan sengaja berbohong kepada ibu Sophia dan Naya.
'' Betul Bu. Saat ini Raka benar-benar sedang genting, eh maksudnya, sedang ada hal yang sangat penting. Makanya, sebagai wujud solidaritas kami sebagai teman, kami tidak ingin Raka jadi bingung. Untuk itu, kami juga mohon maaf kalau kedatangan kami ini dianggap lancang karena sudah ikut campur urusan keluarga ibu.''
'' Tapi beneran kok bu! Terus terang kami tidak punya maksud apapun selain hanya ingin membantu Raka dan juga ibu.'' sahut Helen yang tanpa sengaja sedikit keceplosan tersebut.
Ibu Sophia yang sangat mengenal bagaimana sifat dan karakter Raka, dia tidak percaya kalau Raka sampai seperti itu. Dia lalu berbisik menyuruh Naya untuk kembali menghubungi ponsel Raka.
'' Dreeet..dreeet..dreett.'' terdengar suara getaran ponsel yang ada di saku Topan.
Begitu tahu kalau Naya menghubungi ponsel milik Raka yang saat ini ada padanya, Topan jadi kebingungan. Diapun mulai panik, ketika Naya dan ibu Sophia melihat kearahnya. Karena melihat Topan yang hanya diam, sementara suara getaran ponsel itu berasal dari dalam sakunya, ibu Sophia lalu menegur Topan.
'' Nak, itu ponselmu kayaknya bunyi, kenapa enggak segera kamu angkat?'' tegur ibu Sophia memperingatkan Topan.
'' Enggak apa-apa bu. Paling itu cuma notifikasi SMS dari operator jaringan.'' jawab Topan berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Karena panggilannya masih belum tersambung dengan Raka, Naya kembali mengulanginya hingga beberapa kali. Akan tetapi, tetap saja panggilan itu tidak juga terhubung. Malahan, dia jadi merasa heran, karena setiap kali dia mencoba menghubungi nomor milik Raka, saat itu juga akan terdengar suara getar dari saku Topan.
'' Nak! Tolong katakan pada ibu sejujurnya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Raka?'' tanya ibu Sophia tiba-tiba, sambil menatapi wajah Topan dan Helen secara bergantian.
'' Ibu tahu kalian berbohong kan? Apa menurut kalian, ibu ini tidak tahu bagaimana sifat dan karakter anak sendiri?''
'' Sudahlah nak! Bilang terus terang saja! Kenapa dan dimana dia sekarang? Kalian tidak perlu menutup-nutupi semuanya dari ibu.''
Ibu Sophia yang mulai paham kalau Topan dan Helen sedang berbohong, dia lantas mendesak keduanya untuk berterus terang tentang apa yang terjadi terhadap Raka. Firasatnya mengatakan, kalau saat ini pasti Raka sedang tidak baik baik saja. Dengan wajah yang tampak cemas dan sedih, berulangkali ibu Sophia meminta agar Topan dan Helen segera mengatakan hal yang sebenarnya.
'' Bu, maafkan kami! Sebenarnya kami tidak berniat untuk membohongi ibu. Kami hanya tidak ingin, ibu jadi semakin cemas memikirkan Raka. Apalagi kami juga tadi mendengar, kalau Naya bilang kalian sedang ada masalah. Betulkan Pan?'' ujar Helen akhirnya memberitahukan hal yang sebenarnya.
'' Apa yang dikatakan oleh Helen memang benar Bu. Kedatangan kami kesini juga karena kami merasa khawatir, kalau-kalau terjadi apa apa dengan kalian. Maka dari itu, kami sengaja kemari untuk memastikan kalau kalian baik-baik saja.'' sambut Topan membenarkan apa yang tadi dikatakan oleh Helen.
__ADS_1
'' Oh iya. Kalau boleh tahu, apa sebenarnya yang terjadi pada kalian? Sampai-sampai kalian tampak panik seperti itu.'' lanjut Topan menanyakan perihal yang sedang dialami oleh ibu Sophia dan Naya.
Ibu Sophia lantas menceritakan kepada Topan dan Helen, tentang pesan yang disampaikan oleh pak Burhan, selaku pemilik rumah yang dikontraknya tersebut. Yakni, bahwa mulai besok pagi, rumah yang dikontraknya itu harus sudah dikosongkan atas ancaman dari seseorang.
Topan manggut-manggut mengerti. Dia memperkirakan, kalau hal ini pasti ada hubungan dan kaitannya dengan orang-orang yang hendak mencelakakan Raka. Atau setidaknya, ini adalah ulah dari Clayton yang ingin membalas dendam terhadap Raka.
'' Jadi, bagaimana dengan Raka anakku? Apa dia baik-baik saja? Terus, kenapa sampai sekarang dia belum pulang juga?'' tanya ibu Sophia makin tidak sabar untuk mendengar kabar tentang Raka.
'' Jadi begini Bu. Saat ini mas Raka sedang berada di rumah saya. Soalnya, tadi ada orang-orang yang hendak mencelakakan mas Raka. Maka dari itu, demi keamanan mas Raka, dia sekarang kami sembunyikan dirumah saya.''
'' Dan berhubung kalian juga ada masalah seperti ini, sebaiknya kalian juga ikut bersama saya untuk sementara waktu. Saya khawatir, kalau malam ini kalian masih disini, orang yang menyuruh kalian untuk segera meninggalkan rumah ini nanti berubah pikiran.'' ujar Topan yang juga dibenarkan oleh Helen.
Karena sudah tidak ada pilihan yang terbaik untuk saat ini, ibu Sophia akhirnya menyetujui usulan dari Topan. Mereka kemudian segera mengemasi barang dan pakaian yang bisa dibawa untuk saat ini. Setelah semuanya siap, mereka berempat segera pergi meninggalkan rumah tersebut dengan menaiki mobil milik Topan.
Beberapa saat kemudian, merekapun sampai disebuah rumah yang ternyata tidak kalah mewah dari rumah keluarga Bella. Dua orang penjaga keamanan segera menyambut kedatangan mereka. Dengan penuh hormat, kedua sekuriti itu langsung menyapa Topan dan membukakan pintu mobil untuknya.
Tidak hanya Naya dan ibu Sophia yang tercengang melihat kemegahan rumah milik Topan. Bahkan, Helen yang selama ini satu ruangan di kampus dengan Topan, dia tidak menyangka kalau penampilan Topan selama ini, ternyata tidak sesuai dengan identitas Topan yang sebenarnya.
'' Tuan muda! Tuan Leo dan yang lainnya sudah menunggu tuan didalam.'' bisik salah satu dari sekuriti itu kepada Topan.
Topan mengangguk. Dia lalu mengajak ibu Sophia dan yang lainnya untuk segera masuk kedalam rumah. Dia juga meminta kepada sekuriti itu, untuk membawa barang milik ibu Sophia dan Naya, serta memberitahu pembantunya untuk mempersiapkan kamar untuk mereka berdua.
'' Nay, Ibu. Sambil nunggu kamar kalian dipersiapkan, kalian tunggu disini dulu ya! Kami mau ada perlu sebentar.'' ujar Topan yang kemudian pergi keruangan lain, diikuti oleh Helen.
'' Leo! Bagaimana keadaannya sekarang? Apa sudah ada perkembangan?'' tanya Topan, saat Leo menyambutnya didepan sebuah ruangan khusus, dimana Raka saat ini berada.
'' Sudah tuan muda. Operasinya sudah dilakukan dengan baik saat dirumah sakit tadi. Sekarang, teman tuan muda sedang dalam perawatan dokter dan tim medis, yang sengaja saya minta untuk merawat teman tuan muda disini.''
'' Saya juga sudah meminta kepada mereka, supaya menyiapkan semua obat-obatan, dan juga peralatan yang terbaik yang mereka punya. Agar nantinya, mereka bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk teman anda tuan.'' ujar Leo kepada Topan.
'' Baik! Terimakasih leo. Kamu sudah melakukan seperti apa yang aku inginkan. Oh iya, ada satu lagi. Mulai malam ini, tolong perketat penjagaan. Tapi jangan terlalu mencolok. Karena aku tidak ingin, kalau nanti sampai menimbulkan kecurigaan.'' pinta Topan, lalu masuk bersama Helen untuk melihat keadaan Raka.
'' Baik tuan muda!'' sahut Leo sambil membukakan pintu untuk mereka.
Setelah masuk dan melihat kondisi Raka yang sedang dalam perawatan, Topan dan Helen lalu keluar. Mereka lalu kembali keruangan dimana ibu Sophia dan Naya berada. Ibu Sophia yang melihat kedatangan Topan, dia langsung bertanya kepadanya tentang dimana Raka.
'' Ibu, Naya, tolong kalian jangan kaget dan yang sabar ya! Sebenarnya...''
Topan lalu menceritakan kepada ibu Sophia dan Naya, tentang kejadian yang telah menimpa diri Raka. Dia juga meminta keduanya, agar tidak terlalu cemas dan khawatir. Bagaimanapun juga, saat ini kondisi Raka sudah lebih baik dari sebelumnya.
Meski sudah diminta agar tidak terlalu panik dan sedih, ibu Sophia tetap saja merasa shock saat mendengar penuturan dari Topan. Dia lalu meminta Topan, agar menunjukkan dimana Raka saat ini berada. Topan lalu mengantarkan keduanya ke ruangan tersebut, sambil menemani mereka untuk beberapa saat.
Meski bisa dikatakan kalau kondisi Raka sudah lebih baik dari sebelumnya, namun saat ini Raka masih dalam keadaan koma. Wajahnya juga masih tampak sedikit pucat, setelah sebelumnya dia sempat mengalami saat-saat yang kritis, akibat hampir kehabisan darah karena luka-lukanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, ibu Sophia dan Naya tak kuasa menahan air matanya. Keduanya lantas menangis sesenggukan, sambil memandangi tubuh Raka yang penuh dengan luka-luka tersebut.
'' Kenapa semalang ini nasibmu nak? Hiks hiks. Kenapa, ada orang yang tega berbuat seperti ini padamu? Padahal, sejak ibu menemukan dan merawatmu, kamu tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun. Hiks hiks.''
Melihat ibu Sophia dan Naya yang berderai air mata, Topan serasa tak tega. Tanpa sadar, matanya juga ikut berkaca-kaca. Dia lalu mendekati ibu Sophia dan Naya, kemudian berkata:
" Ibu, Naya. Kalian yang sabar ya! Mas Raka pasti akan sembuh seperti sedia kala. Saya akan berusaha sebisa mungkin, agar mas Raka bisa berkumpul kembali bersama kalian. Sekarang, kalian istirahatlah. Biar suster saja yang menjaga mas Raka disini.''
'' Tidak nak! Biarkan ibu tetap disini. Ibu ingin menemaninya sampai dia sadar dari komanya.'' pinta ibu Sophia kepada Topan.
'' Bu..! Ibu dan Naya juga butuh istirahat. Kalau kalian tidak istirahat, kalian nanti bisa sakit. Kalau kalian sakit, mas Raka pasti akan lebih merasa sedih. Jadi, biarkan suster yang menjaganya malam ini. Besok, kalian kan bisa menemani mas Raka lagi.'' bujuk Topan yang tidak tega melihat ibu Sophia yang tampak lelah.
'' Lagi pula, kalau mas Raka nanti sewaktu-waktu sadar, suster pasti akan memanggil ibu untuk datang kemari.'' lanjut Topan, lalu mengajak keduanya untuk beristirahat dikamar yang sudah dipersiapkan untuk mereka.
Meskipun ibu Sophia tampaknya cukup keberatan, namun pada akhirnya, ibu Sophia dan Naya menuruti apa yang dikatakan oleh Topan. Dengan diantarkan oleh pembantu rumah tersebut, mereka kemudian pergi ke kamar untuk beristirahat disana.
'' Ayo Hel! Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Kalau kamu kelamaan disini, aku khawatir kedua orang tuamu nanti akan kebingungan mencarimu.'' ajak Topan sambil meraih pergelangan tangan Helen dengan lembut.
Tanpa banyak protes, Helen yang memang sudah mulai terlihat mengantuk, dia segera bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan mengikuti Topan, lalu masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Topan yang mengemudikan mobilnya.
Dalam perjalanan pulang tersebut, Helen terus melihat kearah Topan dengan tatapan penuh rasa kagum. Menyadari kalau Helen terus menatapnya, Topan jadi sedikit salah tingkah. Untuk itu, diapun lantas bertanya kepada Helen, apakah gerangan yang membuat dia menatapnya seperti itu.
'' Ada yang aneh ya Hel dengan diriku?'' tanya Topan, tapi tetap fokus mengemudikan mobilnya.
'' Eng.., enggak kok Pan! Enggak ada yang aneh denganmu.'' jawab Helen masih terus menatap Topan.
'' Lah terus, kenapa kamu ngeliatin aku seperti itu?'' lanjut Topan kembali bertanya.
'' Emm.., aku tuh, cuma heran aja sama kamu!''
'' Maksudnya?'' sahut Topan mulai penasaran.
'' Ya.. heran! Sudah dua tahun kita satu kampus dan satu ruangan. Tapi kok, aku baru tau ya kalau kamu itu ternyata bukan orang biasa.''
'' Maksud kamu! Bukan orang biasa bagaimana?'' tanya Topan kembali.
'' Ya begitu. Aku benar-benar nggak tau, kalau ternyata kamu itu orangnya baik dan..''
'' Oh.. jadi menurutmu, selama ini aku bukan orang baik gitu?''
'' Eh bukan begitu maksudnya Pan. Tapi yang aku tahu, selama ini kan kamu itu orangnya pendiam, tidak suka bergaul, dan.. tampilan kamu itu lho! Ternyata, beda banget dengan aslinya.'' ujar Helen yang tak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya terhadap Topan.
'' Hhh.., itukan karena kamunya aja yang tidak pernah memperhatikan aku dengan seksama. Apalagi, kamu sendiri selama ini lebih terobsesi dengan Clayton ataupun mas Raka. Iya nggak?''
__ADS_1
Mendengar ucapan Topan tersebut, Helen jadi sedikit merasa malu. Memang, apa yang dikatakan oleh Topan tersebut, hampir seratus persen benar adanya. Selama ini, dia memang tidak begitu memperhatikan Topan, karena dia terlalu sibuk mencari perhatian Raka, usai putus hubungan dengan Clayton.