Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Buah Simalakama


__ADS_3

Awalnya, Rico tidak ingin menceritakan apa tujuan dirinya mengumpulkan uang. Akan tetapi, karena Clayton terus menerus menanyakan perihal tersebut, akhirnya Rico-pun dengan sedikit malu-malu mengatakan tujuannya itu kepada Clayton.


'' Emm.. Sebenarnya, aku mengumpulkan uang itu karena aku ingin membeli mobil sport impianku Clay. Kamu tau sendiri kan, aku suka banget sama mobil seperti itu! Kamu juga tahu, kalau diantara serombongan teman-teman, mobilku-lah yang paling jelek.'' ujar Rico tampak sedih.


'' Oh.., jadi itu tujuanmu sering minta uang tips dariku? Ya ya ya! Aku ngerti sekarang.Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu gak minta dibelikan saja sama orang tuamu? Kan orang tuamu juga kaya!'' sahut Clayton mengomentari Rico.


'' Clay.. Clay. Aku itu tidak seberuntung kamu, yang kalau ingin sesuatu tinggal ngomong terus dikasih. Orang tuaku sangat perhitungan dalam memberiku sesuatu. Kalau menurut mereka sesuatu itu tidak penting, maka mereka tidak akan mau memberikannya.''


'' Makanya, demi bisa mewujudkan keinginanku itu, aku harus berusaha sendiri untuk bisa mendapatkannya.''


'' Oh.., jadi begitu ceritanya! Pantes aja mobilmu memang yang paling jelek diantara yang lain. Tapi bolehlah bolehlah. Ternyata kamu bisa juga belajar sedikit mandiri.'' ucap Clayton sambil manggut-manggut.


'' Iya Clay. Aku sendiri kadang berpikir, apa gunanya aku berada ditengah-tengah keluarga kaya. Kalau toh, aku juga tidak bisa melakukan apapun seperti anak-anak orang kaya yang lain. Tapi untungnya, di kampus masih ada yang lebih buruk nasibnya dari aku. Salah satunya si bocah miskin itu!'' ujar Rico teringat Raka.


'' Eh Clay! Ngomong-ngomong soal bocah miskin itu, apa yang akan kamu lakukan padanya. Bukannya Bella masih menjalin hubungan sama dia?'' tanya Rico setelah teringat pada Raka.


'' Tenang aja Ric. Tidak lama lagi, mereka pasti akan putus. Kedua orang tua Bella bilang, mereka akan meminta bocah miskin itu untuk menjauhi Bella secepatnya. Jadi, untuk sementara ini kamu cukup awasi bocah itu.''


'' Tapi, kalau nanti ternyata bocah itu masih juga dekat-dekat dengan Bella, kita akan buat dia menyesal karena tidak mau mendengar peringatan kita yang kemarin.'' ucap Clayton tampak serius.


Saat berkata seperti itu, Clayton dengan tatapan matanya yang tajam, dia memandang jauh kedepan. Dalam benaknya, terlintas sebuah rencana untuk melakukan sesuatu kepada Raka. Dia tidak ingin, jika tujuannya untuk mendapatkan Bella, ada yang menghalang-halanginya termasuk juga Raka yang merupakan kekasih Bella.


'' Oh iya Ric. Selain bocah miskin itu, kita juga sepertinya harus memberi pelajaran kepada Helen. Meskipun tidak secara langsung, dia juga sudah menjadi penghalang untuk aku mendapatkan Bella.''


'' Tapi Clay, bagaimana caranya kita memberi pelajaran terhadap dia? Kamu sendiri tahukan, orang tua Bella juga bukan orang sembarangan. Kalau sampai ketahuan, bisa habis kita.'' ujar Rico tampak bingung dan khawatir.


Untuk beberapa saat, Clayton hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Rico. Dia tampaknya sedang berpikir keras, agar dia bisa membuat Helen tidak lagi menjadi pengganggu apa yang menjadi tujuannya.


Tempo hari, Clayton juga gagal membuat Helen menuruti keinginannya seperti pacar-pacarnya yang lain. Akan tetapi, dia tidak bisa mengintimidasi Helen, karena Helen juga mengancam akan meminta ayahnya untuk membawa masalah ini ke ranah hukum. Untuk itulah, Clayton lebih memilih untuk menjauhi Helen daripada nantinya dia bermasalah karena Helen.


Selang beberapa menit kemudian, Clayton berbisik kepada Rico. Rico manggut-manggut tanda mengerti dengan apa yang dibisikkan oleh Clayton kepadanya.


Sejurus kemudian, Clayton membawa mobilnya ketempat dimana dia dan teman-temannya berkumpul. Rico lalu memberitahu mereka agar nanti malam mereka kembali berkumpul ditempat ini. Tidak berselang lama, Clayton, Rico, serta teman-temannya yang lain, mereka membubarkan diri untuk kembali berkumpul pada malam harinya.


......................


Pagi itu. Bella yang sejak kemarin siang belum bisa menghubungi Raka, dia berangkat pagi-pagi ke kampus. Dia ingin menemui Raka dan membicarakan sesuatu dengannya. Dia berharap, pagi ini Raka juga sudah sampai disana seperti biasanya. Akan tetapi, saat dia telah sampai di kampus, ternyata Raka masih belum tampak batang hidungnya.


Sementara itu. Karena terlalu sibuk, meskipun Raka telah melihat ada pesan dan panggilan tak terjawab dari Bella, namun dia masih belum sempat untuk membalas pesan ataupun menghubungi balik panggilan tersebut. Bahkan, dia juga belum sempat memberitahu kepada Bella, kalau kakeknya Naya meninggal.


Semalam, dia juga langsung ketiduran setelah pulang menghadiri acara doa bersama untuk kakeknya Naya. Meskipun Raka merasa sedikit khawatir kalau nanti Bella akan marah kepadanya, namun Raka telah siap dengan kemungkinan tersebut.


'' Kak, ayo berangkat! Nanti keburu siang nih! Naya bisa terlambat sampai disekolah.'' ajak Naya yang sudah rapi dengan mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan tas gendongnya.


'' Iya Nay. Ayo!'' sahut Raka, lalu segera menghidupkan mesin motornya, setelah sebelumnya mengeluarkan motor itu dari dalam rumah.

__ADS_1


Keduanya lalu berangkat dengan menaiki motor. Setelah menurunkan Naya didepan pintu gerbang sekolahnya, Raka lalu kembali membawa motornya menuju kampus. Namun, beberapa ratus meter sebelum dia sampai disana, sebuah mobil menghentikannya. Pengemudinya meminta Raka untuk berhenti dan menepi.


'' Eh! Bapak, Ibu, ada apa ya? Apa ada yang bisa saya bantu?'' ucap Raka menyapa kedua orang yang ada di mobil tersebut.


'' Raka! Kami ada perlu sebentar sama kamu. Dan tolong dengerin ini baik-baik ya!'' ucap Bu Linda setelah turun dari mobil, diikuti oleh pak Daniel.


'' Iya Bu, Pak! Silahkan.'' sahut Raka setelah menepikan motornya.


Bu Linda dan Pak Daniel lalu mengatakan sesuatu kepada Raka. Tampak sekali kalau apa yang mereka katakan itu begitu serius. Dilihat dari wajah Raka, tampaknya Raka juga merasa sedikit kecewa dengan apa yang disampaikan oleh kedua orang tua Bella tersebut.


Setelah dirasa cukup, Pak Daniel dan Bu Linda lalu kembali masuk kedalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan Raka yang masih terdiam disana.


Untuk beberapa saat, Raka yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Pak Daniel dan Bu Linda, dia jadi terpaku ditempatnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, sambil terus menatap mobil kedua orang tua Bella yang sudah jauh meninggalkan tempat itu.


Secara kebetulan, disaat Raka masih berdiri diam disana, tanpa dia sadari, sebuah mobil berhenti didekatnya. Pengemudinya lalu membuka kaca pintu mobil tersebut dan menyapa Raka.


'' Hey Ka! Ngapain kamu bengong disitu? Udah kayak patung Liberti aja tuh. Ayo cepat ke kelas! Ntar kena hukum pak Gultom lagi, baru tau rasa.'' ujar pengemudi mobil itu yang ternyata adalah Helen.


Mendengar teriakan Helen, Raka akhirnya tersadar dari lamunannya. Dia segera mengusap kedua matanya, karena tidak ingin Helen tau apa yang sedang terjadi dengannya. Raka lalu tersenyum menyapa Helen, lalu segera menaiki motornya dan segera menuju ke kampus.


'' Mas Raka! Kok kamu datangnya telat banget sih! Aku udah nungguin kamu dari tadi lho!'' ucap Bella saat melihat kedatangan Raka di kelas.


'' Maaf Bell! Tadi aku ada keperluan. Makanya aku jadi sedikit terlambat datang ke kampus.'' sahut Raka saat Bella menghampirinya.


'' Mas! Aku mau ngomong sama kamu. Bisa nggak kita ke taman sebentar?'' pinta Bella sambil menarik lengan Raka.


Karena memang waktunya kelas sudah hampir dimulai, Bella pun akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Raka. Dia kembali ketempat duduknya dan menunda untuk membicarakan sesuatu bersama Raka. Raka sendiri juga sebenarnya ingin berbicara dengan Bella. Akan tetapi, karena waktunya yang tidak memungkinkan, diapun harus menunggu hingga kelas usai.


Waktu berjalan terasa begitu lambat. Baik Bella maupun Raka, keduanya terlihat begitu gelisah. Berkali-kali, keduanya saling melempar pandangan. Hingga setelah beberapa jam waktu berlalu, akhirnya kelaspun usai juga. Segera Bella menghampiri Raka setelah merapikan perlengkapan kuliahnya.


'' Mas Raka! Bagaimana kalau kita ngobrolnya di cafe aja. Udah lama kita juga nggak pergi ke sana.'' ajak Bella kepada Raka.


Hampir saja Raka menyetujui usulan Bella tersebut. Namun, dia teringat kalau siang ini dia juga harus menjemput Naya. Jika dia dan Bella pergi ke cafe, tentunya mereka pasti akan berlama-lama berada disana. Apalagi, apa yang akan mereka bicarakan nanti, sepertinya juga butuh waktu yang tidak sebentar.


'' Maaf Bell! Sepertinya kita nggak bisa kalau ngobrolnya disana. Siang ini, aku harus menjemput Naya. Aku juga tadi nggak sempat ngomong sama dia, kalau hari ini aku nggak bisa jemput dia. Kan kasian kalau nanti dia nunggu-nunggu.'' ujar Raka.


'' Terus, bagaimana denganku? Aku juga ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Lagian, biasanya juga kamu nggak pernah antar jemput Naya.'' ujar Bella yang belum mengetahui perihal Naya sekarang.


'' Bella, kemarin kakeknya Naya meninggal. Sekarang, Naya tinggal bersama kami karena rumahnya sudah diambil alih oleh pemiliknya yang sekarang. Makanya, mulai sekarang Naya pulang perginya bareng sama aku.'' jawab Raka dengan lembut.


'' Innalilahi wainnailaihi roji'un. Jadi kakeknya Naya meninggal mas! Kok kamu nggak ngasih tau aku sih!'' sontak Bella terkejut mendengar kabar dari Raka.


'' Iya Bell. Maaf! Kemarin aku sibuk banget ngurusin pemakaman kakeknya Naya dan juga ngurusin soal pindahannya Naya. Aku juga baru sempat buka hp, setelah aku pulang dari doa bersama untuk almarhum. Karena aku capek banget, aku langsung tidur dan gak sempat balas pesan kamu. Maaf ya Bell.'' ujar Raka dengan ekspresi memohon.


'' Gini aja mas! Apa sore ini mas jualan?'' tanya Bella.

__ADS_1


'' Untuk sore ini, kayaknya aku libur dulu Bell. Selain badanku terasa capek, aku juga kasian sama Naya. Dia masih dalam suasana berkabung. Sebaiknya aku ikut menemani dia bersama ibu di rumah. Emangnya kenapa kamu nanya begitu?'' ujar Raka kemudian balik bertanya.


'' Mas Raka. Ijinkan aku kali ini.. aja aku kerumah kamu. Aku ingin bicara dengan ibumu dan juga sekalian mau ngucapin rasa duka cita atas meninggalnya kakeknya Naya. Please deh mas! Beri aku kesempatan sekali ini dan tolong jangan menolak permintaanku!'' pinta Bella dengan sangat.


'' Tapi Bell, kayaknya..''


'' Tolong deh mas! Selama ini aku udah cukup bersabar menunggu kapan waktunya aku bisa bertemu dengan ibumu. Sudah berapa kali juga, kamu selalu menolak permintaanku ini. Sebenarnya, kamu serius nggak sih sama aku?'' sahut Bella, langsung memotong perkataan Raka.


Raka terdiam untuk beberapa saat. Dalam hatinya dia semakin bimbang. Dia juga merasa tidak enak, karena sudah berkali-kali menolak keinginan Bella untuk datang ke rumahnya dan menemui ibunya. Apalagi, kali ini Bella juga ingin mengucapkan rasa bela sungkawanya kepada Naya. Akan tetapi, di telinganya masih terngiang-ngiang perkataan Bu Linda dan pak Daniel tadi pagi.


Satu sisi, Raka yang merasa tidak enak kepada Bella, dia ingin menuruti permintaan Bella meskipun masih dengan sedikit berat hati. Namun disisi lain, baik ucapan kedua orang tua Bella maupun rasa kekhawatiran ibunya, membuat Raka tidak berani menuruti keinginan Bella.


'' Tapi Bella. Bagaimana nanti kalau...?'' ucap Raka tidak berani melanjutkan kata-katanya.


'' Kalau apa? Kalau Mami dan Papiku tau kita masih menjalin hubungan? Atau..! Kalau ibumu tau status keluargaku dan hubungan kita tidak direstui? Begitukan maksudmu?'' ujar Bella seakan bisa membaca pikiran Raka.


Raka kembali terdiam. Dilema didalam hatinya benar-benar membuat dia merasa seperti berhadapan dengan buah simalakama. Haruskah dia tetap mempertahankan hubungan bersama Bella dan menanggung apapun resikonya, ataukah dia memutuskan hubungan itu dan menjauhi Bella, serta mengorbankan perasaan didalam hatinya.


'' Mas..! Jika kamu memang serius denganku. Mari kita hadapi rintangan ini bersama-sama. Aku rela kok, jika aku harus kehilangan kehidupanku yang seperti sekarang ini.''


'' Aku juga rela, jika aku harus diasingkan oleh Mami dan Papi demi mempertahankan cinta kita! Asalkan kamu juga benar-benar serius dan mau memperjuangkan hubungan ini, aku akan selalu setia mendampingimu sampai akhir hidupku.'' ucap Bella tampak begitu serius, lalu meraih tangan Raka dan meletakkannya di dadanya.


Mendengar perkataan Bella yang tampak begitu tulus, Raka merasa sedikit tenang. Bagaimanapun juga, dia sendiri sangat mencintai Bella. Bahkan, dia sendiri rela berkorban apapun demi bisa mempertahankan cintanya itu bersama Bella.


Setelah keraguan didalam hatinya mulai berangsur hilang, akhirnya Rakapun mengajak Bella untuk datang kerumahnya dan menemui ibunya. Namun, sebelum mereka pergi kesana, mereka juga mampir disekolah Naya untuk menjemputnya.


Karena keduanya masing-masing membawa kendaraan, maka Bella pun mengajak Naya untuk naik mobilnya. Sementara Raka, dia membawa motornya dan berjalan didepan sebagai penunjuk jalan.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 20 menit, merekapun akhirnya sampai di rumah kontrakan yang ditinggali Raka, ibunya, dan juga Naya. Meskipun Naya masih dalam suasana berkabung atas meninggalnya kakeknya, namun ternyata, Naya bisa lebih cepat kembali ceria, karena dia tinggal bersama Raka dan ibu Sophia. Terlebih lagi, kali ini Bella juga ikut datang berkunjung ke rumah tersebut.


'' Assalamualaikum...'' teriak Naya saat sudah berada didepan pintu.


'' Wa'alaikumussalaam..'' terdengar jawaban dari dalam rumah.


Saat mendengar suara Naya yang mengucapkan salam, dari dalam rumah, muncul ibu Sophia yang membukakan pintu. Sambil tersenyum, ibu Sophia langsung menyambut kedatangan Naya. Akan tetapi, begitu dia melihat ada seorang wanita cantik yang baru turun dari mobil dan berjalan kearahnya, dia jadi sedikit terkejut.


'' Assalamualaikum..'' Sapa Bella, hampir bersamaan dengan Raka yang juga mengucapkan salam.


'' Wa'alaikum salaam..'' jawab ibu Sophia bersamaan juga dengan Naya.


'' Bu! Ini kak Bella, pacarnya kak Raka yang sering membantu kita jualan serabi.'' cerocos Naya dengan polosnya, saat Bella baru saja menyalami ibu Sophia.


'' ??...''


Selain Naya. Baik ibu Sophia, Raka dan juga Bella, semuanya jadi terkejut dengan ucapan Naya tadi. Terlebih lagi ibu Sophia. Dia langsung melirik kearah Raka seakan ingin mendengar penjelasan darinya. Sementara Raka, dia tampak seperti kebingungan untuk berkata-kata.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2