Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Bidadari pagi


__ADS_3

'' Mas Bro! kayaknya hidup mas Bro ini hoki banget ya? Udah dapet cewek secantik itu, anaknya orang kaya, dan keliatannya, mbak Bella itu cinta banget sama mas Bro. Benar-benar mujur banget nasib sampeyan mas!'' ucap Roni saat motor yang mereka kendarai sudah keluar dari pintu gerbang perumahan mewah tersebut.


'' Entahlah Ron, sekarang aku malah jadi bingung.'' sahut Raka.


'' Lho kok malah bingung! Bingung kenapa mas Bro? Bukannya sampeyan harusnya senang punya pacar anak orang kaya! Bahkan, sepertinya kedua orang tua mbak Bella juga setuju sama mas Bro?''


'' Gak tau Ron, aku benar-benar bingung sekarang. Apakah aku harus merasa bahagia, ataukah malah sebaliknya?" ucap Raka kembali teringat akan pembicaraannya tadi dengan pak Daniel.


'' Kok bisa begitu sih mas Bro? Emangnya, ada masalah apa sih sampai mas Bro bingung begitu? Bukannya semua kelihatannya baik-baik aja!'' ujar Roni merasa heran mendengar penuturan Raka.


'' Sudahlah Ron! Lain kali aja aku ceritain masalahnya padamu. Sekarang, mendingan kita segera pulang. Aku ingin cepat-cepat nyampe dirumah. Besok kan aku harus kembali buka kedai.'' ucap Raka terlihat menanggung beban didalam hatinya.


...----------------...


Satu bulan telah berlalu. Sejak keduanya mendapatkan ijin dari kedua orang tua Bella untuk menjalin hubungan, Bella tampaknya begitu bahagia. Dia bahkan hampir tiap hari datang ke kedai milik Raka agar bisa selalu bersamanya.


Sebenarnya, Bella selalu berharap agar Raka lah yang mau datang berkunjung kerumahnya. Akan tetapi, karena dia tahu Raka setiap harinya selalu sibuk berjualan sepulang kuliah, Bella bisa memaklumi hal tersebut dan tidak mempermasalahkannya. Apalagi, dia juga diberi tahu oleh Raka, kalau saat ini Raka ingin menabung untuk membeli rumah sendiri agar tidak lagi tinggal dirumah kontrakan.


Bella sendiri ingin membantu Raka dengan menyisihkan uang sakunya. Namun, Raka menolak dengan cara yang halus, sehingga Bella tidak tersinggung dengan penolakannya tersebut. Raka tidak ingin Bella tahu, apa alasan yang sebenarnya yang membuat dia tidak mau menerima bantuan dari Bella. Hingga suatu ketika, saat mereka pulang kuliah.


'' Mas Raka! Besokkan hari libur. Bisa nggak kalau besok mas Raka nggak usah jualan? Aku ingin mas Raka temenin aku jalan-jalan.'' pinta Bella kepada Raka, saat keduanya sedang berjalan menuju tempat parkir.


Seperti biasanya, setiap akhir pekan, Bella selalu meminta Raka untuk mengantarnya pulang. Meskipun Bella memiliki kendaraan sendiri, namun dia tidak mau membawanya ke kampus. Dia hanya minta diantar jemput oleh sopir baru ayahnya, atau sesekali ikut Helen yang terkadang datang menjemputnya.


Dan setiap akhir pekan, sejak mereka jadian dan mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya, Bella lebih memilih untuk diantarkan oleh Raka. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan, karena Bella ingin selalu dapat berduaan dengan Raka. Bahkan, andai saja Raka tidak membuat alasan yang bisa diterima oleh Bella, dia lebih menginginkan supaya Raka lah yang setiap hari datang mengantar jemput dirinya.


'' Maaf Bell, aku gak bisa. Kamu kan tahu sendiri, saat ini aku sedang berusaha untuk menabung agar secepatnya bisa membeli rumah.''


'' Lagi pula kalau aku nggak jualan, para pelangganku pasti nanti banyak yang komplain dan menanyakannya.'' jawab Raka memberi alasan untuk menolak permintaan Bella.


'' Maaf ya Bell! Aku bukannya gak mau ataupun gak ingin. Tapi mau bagaimana lagi! kedua orang tuamulah yang memaksaku harus seperti ini. Ini juga demi kamu Bell.'' lanjut Raka dalam hati.


'' Mas Raka, please..! Kali ini... aja. tolong luangkan waktu untuk kita mas ya! Nanti aku ganti deh kerugiannya mas Raka,'' rengek Bella meminta agar Raka mengabulkan keinginannya.


'' Bella, ini bukan soal ganti ruginya. Tapi soal kepuasan pelanggan. Kalau aku sering libur, bisa-bisa mereka malah kabur dan tidak mau lagi jadi pelangganku. Kalau udah begitu, usaha yang aku rintis selama ini nantinya bukan tambah maju, melainkan malah sebaliknya.''


'' Bell! Kuharap, kamu bisa memahami kondisi dan situasiku saat ini. Aku janji! Lain kali, aku akan meluangkan lebih banyak waktu untukmu.'' ujar Raka mencoba memberikan pengertian kepada Bella.


'' Makanya mas! Harusnya, mas itu cari pegawai buat bantu mas jualan. Terus, buka kedainya juga, jangan cuma sore dan hari libur aja mas!''


'' Bella yakin, kalau kedai mas Raka buka tiap hari dari pagi sampai sore, mas Raka pasti bisa punya banyak tabungan untuk membeli rumah. Dan yang jelas, nantinya mas juga bisa lebih punya banyak waktu untuk melakukan hal lainnya. Ya misalnya untuk kita berdua.'' ujar Bella memberi usulan.

__ADS_1


'' Rencananya sih, kedepannya memang begitu Bell! tapi untuk sementara ini, biarlah berjalan apa adanya dulu. Soalnya, masih banyak yang harus aku persiapkan.'' sahut Raka.


'' Ya tapi kalau bisa, secepatnya dong mas! Soalnya, kalau seperti ini terus, kapan mas Raka ada waktu untuk kita.'' ujar Bella penuh harap.


'' Insyaallah Bell. Mudah-mudahan, itu bisa secepatnya terlaksana.'' jawab Raka sambil memandangi wajah cantik Bella.


''Aamiiin..'' sahut Bella mengaminkan.


Meski merasa cukup kecewa, namun Bella tidak bisa memaksakan keinginannya itu kepada Raka. Selain dia tahu situasi dan kondisinya yang memang masih belum memungkinkan, dia juga masih mencoba untuk sedikit bersabar agar tidak merusak hubungan mereka.


Tidak berapa lama kemudian, merekapun telah pergi meninggalkan tempat parkir dan langsung menuju rumah Bella. Sesampainya mereka disana, Raka menyempatkan diri untuk mampir sebentar, kemudian segera pulang kerumahnya.


Seperti biasanya, sebelum pulang ke rumah, Raka mampir ke toko untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan, untuk berjualan besok yang sudah mulai habis. Namun, saat dia baru saja keluar dari toko tersebut dan hendak menuju motornya, dia bertemu dengan Rico dan beberapa temannya yang kebetulan lewat di tempat tersebut.


'' Hey bocah miskin, tunggu sebentar!'' panggil Rico, lalu segera menghampiri Raka.


'' Ada perlu apa kamu memanggilku Ric? Bukannya kita tidak ada urusan!'' sahut Raka setelah Rico dan teman-temannya berada didekatnya.


'' Santai bro! Gak usah tegang begitu! Santai..!'' ucap Rico sambil menepuk pundak Raka.


Raka yang kurang menyukai sikap dan sepak terjang Rico beserta teman-temannya, dia segera mundur beberapa langkah dan menjaga jarak dari Rico. Meskipun dia tidak pernah berurusan dengan Rico dan gengnya, namun Raka tahu kelakuan buruk mereka. Maka dari itu, meskipun mereka satu ruangan di kampus, tapi Raka tidak pernah bergaul dengan Rico dan teman-temannya.


'' Aku lihat, kamu dan Bella semakin lengket aja. Tapi sayang! Tidak lama lagi, kalian harus berpisah.'' ujar Rico sambil tersenyum mengejek Raka.


'' Sabar bro, sabar...! Aku cuma ingin menyampaikan pesan dari Clayton. Dia sekarang menginginkan Bella. Jadi, sebaiknya kamu sekarang melepaskan Bella dan menjauhinya.'' ujar Rico lagi.


Clayton yang merupakan anak dari pemilik kampus tempat Raka dan yang lainnya kuliah, memang suka gonta-ganti pacar. Bahkan, karena dia merasa memiliki kekuasaan, tidak jarang Clayton suka mengambil pacar orang lain yang merupakan mahasiswi di kampus tersebut, untuk dijadikan sebagai pacarnya. Terutamanya lagi, jika mahasiswi itu memiliki paras yang cantik seperti Bella.


Selain memang memiliki kekuasaan, parasnya yang cukup tampan dan penampilannya yang memang cool, serta pandai mengambil hati para wanita tersebut, membuat Clayton semakin leluasa dalam melakukan aksinya. Berbagai macam cara apapun, pasti akan dilakukan oleh Clayton untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Termasuk dengan ancaman seperti yang dilakukannya saat ini kepada Raka.


'' Rico! Tolong katakan pada Clayton. Aku tidak pernah mengganggu apa yang menjadi urusannya. Maka, jangan ganggu urusanku juga.'' Sahut Raka lalu kembali berjalan menuju tempat dimana dia memarkirkan motornya.


'' Hey bocah miskin! Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Clayton kan? Jangan salahkan aku kalau nanti terjadi apa apa denganmu. Yang penting, aku sudah mengingatkanmu!'' teriak Rico dengan tidak senang karena merasa diacuhkan oleh Raka.


Meskipun diancam seperti itu, namun Raka tidak mengacuhkan perkataan Rico. Dia tetap berjalan lalu menaiki sepeda motornya dan segera meninggalkan tempat tersebut. Melihat hal tersebut, teman-teman Rico jadi merasa kesal. Mereka ingin menghentikan Raka dan menghajarnya saat Raka akan melewati mereka. Namun Rico segera mencegah mereka.


'' Ric! Kenapa kamu tidak membiarkan kami memberi pelajaran kepada anak songong itu?'' ujar salah satu teman Rico diikuti oleh sahutan yang lainnya.


'' Sabar bro! Sabar..! Kita tunggu perintah dari Clayton bagaimana menyikapi bocah miskin itu. Sekarang, ayo kita pergi menemui Clayton dan memberitahukan ini kepadanya.'' ajak Rico sembari tersenyum penuh arti saat memandangi sosok Raka yang semakin menjauh dari tempat itu.


Tak lama kemudian, Rico dan teman-temannya juga segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka lalu pergi ketempat tongkrongan mereka untuk menemui dan melaporkan hal tersebut kepada Clayton. Rico pun menyampaikan apa yang tadi dikatakan oleh Raka kepada Clayton.

__ADS_1


'' Hemm... Jadi bocah miskin itu mau melawanku ya? Oke!, tunggu saja apa yang nanti akan aku lakukan padamu. Dasar orang miskin gak tahu diri!'' ucap Clayton saat mendengar laporan dari Rico.


'' Iya boss. Sepertinya, bocah itu belum tahu siapa boss Clayton. Saat tadi Rico memberitahu pesan dari boss, dia juga malah begitu sombongnya berbicara seperti itu.'' ucap salah satu dari mereka memanas-manasi Clayton.


'' Betul boss. Tadinya, kami juga hendak memberi pelajaran kepada bocah miskin itu. Tapi Rico melarang kami melakukannya.'' sahut yang lain ikut menanggapi.


'' Mm..Maaf Clay! Tadi aku memang melarang mereka melakukan itu. Soalnya aku nggak mau asal bertindak tanpa perintah darimu.'' ujar Rico menjelaskan.


'' Gak papa Ric! Aku juga nggak ingin terburu-buru kok. Kita lihat dulu bagaimana sikap dia selanjutnya. Kalau dia masih seperti itu dan tidak mengindahkan peringatan kita, barulah kita beri dia pelajaran.'' sahut Clayton terlihat tenang, namun pikirannya mulai merencanakan sesuatu.


...----------------...


Pagi itu, Raka baru saja membuka kedai serabi miliknya. Baru beberapa menit dia membuka kedai, Bella sudah datang dengan membawa mobil milik ayahnya. Setelah memarkirkan mobil itu didepan kedai milik Raka, Bella segera turun dan masuk ke kedai tersebut.


'' Waah...! Sepagi ini, kamu udah nyampe disini Bell. Emang, ada apaan ya?'' tanya Raka menyambut kedatangan Bella.


'' Iiih.. Mas Raka ini. Aku kesini kan karena pengen ketemu kamu! Kok kamu malah nanya gitu sih? Gak senang ya kalau aku kesini?'' sahut Bella sedikit sewot, lalu duduk di kursi tak jauh dari posisi Raka berada.


Melihat muka Bella yang tadi tampak ceria dan kini tiba-tiba jadi cemberut, Raka jadi tersenyum. Dia lalu menghampiri Bella dan duduk di kursi yang ada disebelahnya.


'' Bukan begitu Bella. Siapa sih yang nggak seneng kalau pagi-pagi udah didatangi bidadari! Tapi, emangnya Papi sama Mami kamu gak nyariin apa, sepagi ini kamu udah pergi dari rumah? Apalagi, sepertinya kamu juga bawa mobil Papi kamu tuh.'' ujar Raka sembari tersenyum menatap Bella.


'' Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?'' ucap Bella menirukan gaya orang-orang yang sekarang sedang viral dengan virus '' kamu nanya ''.


'' Emm.. Parah nih. Kayaknya kamu udah ikut ketularan virus kamu nanya juga ya! Parah..parah.'' sahut Raka sembari menepuk-nepuk keningnya sendiri.


'' Abisnya, kamu ngeselin sih! Bukannya seneng liat pacarnya datang, eh.. malah nanyanya begitu! Dan itu tadi! Gak usah ngegombal juga kali.'' ujar Bella masih dengan muka ditekuk.


'' Ngegombal?!! Ngegombal apaan? Perasaan, dari dulu aku nggak pernah tuh yang namanya ngegombal!'' sahut Raka terlihat keheranan.


'' Itu tadi! Pake bilang pagi-pagi didatangi bidadari, bukannya itu ngegombal namanya. Basi tau!''


'' Ooh.. itu? Itu bukannya ngegombal Bella. Tapi, aku ngomong yang sebenarnya. Coba deh kamu lihat di cermin itu! Pasti kamu akan melihat bidadari disana.'' jawab Raka sembari menunjuk kearah cermin kecil yang ada disudut ruangan tersebut.


Mendengar ucapan Raka, tanpa melakukan apa yang tadi dikatakan oleh Raka itupun, Bella sudah paham akan apa yang maksudnya. Apalagi, saat berkata seperti itu, Raka juga tersenyum manis sambil terus menatap wajah Bella. Hal itu membuat Bella merasa tersanjung, hingga wajah putihnya jadi bersemu kemerahan.


'' Iih.. ngapain sih kamu liatin aku kayak gitu? malu tau!'' ujar Bella yang semakin grogi karena Raka terus menatapnya sambil senyum-senyum.


'' Kamu begitu cantik, rasanya tak bosan-bosan aku ingin memandangmu.'' ucap Raka tanpa sadar, sambil menyangga dagunya dan tetap menatapi wajah Bella yang kian salah tingkah dibuat oleh Raka.


Bella sendiri jadi tidak tahu harus berbuat ataupun berkata apa. Lidahnya jadi terasa kelu dan sulit untuk berkata-kata. Dia hanya bisa menunduk atau menoleh kearah lain, sambil sesekali melirik kearah Raka yang masih terus menatapnya.

__ADS_1


Setiap kali dia melihat Raka yang masih menatapnya sambil tersenyum itu, apalagi saat tatapan matanya bertemu pandang, jantung dan hatinya jadi berdebar-debar. Darahnya jadi berdesir, dan bahkan tubuhnya serasa melayang-layang dan tidak berpijak di bumi. Hal itu berlangsung hingga beberapa menit dan baru berakhir saat mereka dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil mereka.


...****************...


__ADS_2