
Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik, Bella akhirnya mau menerima tawaran untuk pulang diantarkan oleh pemuda tersebut, dan meninggalkan mobil milik ayahnya itu disana. Setelah Bella masuk kedalam mobil miliknya, pemuda itupun segera membawa mobil tersebut menuju perumahan mewah dimana rumah Bella berada.
Selama dalam perjalanan, mereka terus mengobrol. Rupanya selain tampan, tajir, dan penampilannya yang cool, pemuda itu cukup enak diajak bicara. Hingga Bella yang masih belum tahu siapa pemuda tersebut, dia langsung akrab seakan mereka sudah cukup lama saling mengenal.
'' Eh Bella! Setahuku, kamukan udah punya cowok! Kenapa kamu nggak bareng sama dia?'' tanya pemuda itu saat mereka sedang dalam perjalanan.
'' Oh..! Mas Raka sedang sibuk. Dia sekarang sedang menjenguk keluarganya yang sedang sakit. Aku gak enak kalau harus ngerepotin dia.'' ujar Bella menjawab pertanyaan pemuda itu.
'' Emm... Maaf ya! Tolong jangan tersinggung. Kalau aku tidak salah dengar, bukannya cowok kamu itu cuma seorang pedagang kue? Kenapa sih? cewek secantik kamu nggak cari cowok yang.. keliatan lebih tajir gitu!'' ujar pemuda tersebut sambil melirik mencuri-curi pandang pada Bella.
'' Maaf ya mas! Ini urusan hati. Aku tahu, mas Raka cuma seorang penjual kue dan tidak kaya seperti kamu atau yang lainnya. Tapi buatku, mas Raka adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui.''
'' Selain jujur, tampan, pintar, dia juga punya kemauan untuk berusaha menjadi lebih baik. Buktinya, ya yang sekarang ini dia lakukan. Meskipun usahanya masih kecil-kecilan, tapi dia bisa menafkahi keluarganya dan bahkan, dia juga membiayai sekolah orang lain.''
'' Selain itu, dengan usahanya tersebut, dia juga sedang berusaha menabung untuk membeli rumah dan juga membiayai kuliahnya.'' ucap Bella dengan bangga menceritakan tentang Raka.
'' Kami juga saling mencintai dan saling menerima apa adanya. Jadi, buatku tidak masalah mas Raka itu orang kaya atau bukan. Kami akan menjalani semuanya tanpa harus ambil pusing dengan omongan orang-orang.'' tambahnya.
'' Ya.. Kalau dia sih, sudah pasti bisa nerima kamulah Bell. Kamu itukan, selain cantik, juga dari keluarga orang berada. Mana mungkin dia akan menolak itu! Tentu hanya lelaki bodoh saja yang nggak mau nerima kamu.''
'' Tapi sejujurnya, aku tuh merasa salut sama kamu. Meskipun status sosial antara kalian sangat berbeda, tapi ternyata, kamu bisa nerima semuanya dengan rela. Yaah... Walaupun menurutku tetap sangat disayangkan sih.'' ucap pemuda itu berkomentar, kemudian melirik kearah Bella.
'' Sayang bagaimana maksudmu?'' tanya Bella merasa penasaran.
'' Ya.. Sayang. Kenapa cewek sebaik kamu cuma dapat cowok seperti dia. Coba kalau kamu punya cowok yang lebih dari dia, misalnya.., tapi ini misal lho ya! Misalnya.., aku, atau siapa gitu? Kan keliatannya gak sia-sia!''
'' Sia-sia apanya? Maksud kamu apaan sih ngomong gitu?'' ucap Bella semakin keheranan dengan perkataan pemuda tersebut.
'' Begini lho Bell. Kamu itukan cantik. Selain itu, kamu juga berasal dari keluarga yang terhormat. Kalau kamu punya cowok yang setidaknya setara statusnya dengan keluargamu, itukan berarti kamu bisa menjaga privasi keluargamu dimata orang lain. Tapi kalau seperti sekarang ini, coba kamu pikir! Apa kira-kira keluargamu tidak malu, kalau jadi cemoohan orang banyak?''
'' Maaf ya Bell! Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku juga bisa memahami seperti apa yang tadi kamu katakan. Soal hati memang tidak bisa dipungkiri. Aku juga pernah seperti itu. Tapi, setelah aku pikir baik-baik, ternyata aku baru sadar. Tidak selamanya, kata hati itu benar.'' ujar pemuda itu panjang lebar, seakan sedang mencoba untuk meyakinkan Bella tentang pendapatnya.
'' Maaf ya mas! Jikapun apa yang kamu katakan itu benar, aku rela kok menerima cowokku apa adanya. Bahkan, kedua orang tuaku juga tidak mempermasalahkan semua itu. Buktinya, mereka juga ikut merestui hubungan kami.'' sahut Bella, tidak ingin terpengaruh oleh kata-kata pemuda itu.
'' Apa tadi kamu bilang? Mereka merestui? Hhh... Bella Bella. Kamu lupa ya ini zaman apa? Hhh..''
'' Ih, ngapain sih kamu ketawa gitu? Kamu ngeledek ya?'' ucap Bella kesal melihat pemuda itu menertawainya.
'' Hhh.., Maaf maaf! Aku bukannya ngeledek kamu. Tapi menurutku, kata-katamu tadi emang lucu. Hhh...''
Melihat pemuda itu masih terus menertawainya, Bella jadi merasa kesal. Dia lalu membuang muka dan tidak mau melihat kearah pemuda tersebut. Karena melihat Bella yang tampak kesal, pemuda itupun segera menghentikan tawanya. Dengan lembut, dia lalu menyentuh tangan Bella lalu berkata:
'' Iya deh maaf.. maaf..! Aku benar-benar tidak bermaksud menertawakanmu. Aku cuma nggak percaya, kalau di zaman sekarang ini, masih ada orang yang tidak mementingkan rasa gengsinya. Apalagi untuk orang-orang kelas atas seperti keluargamu.'' rayu pemuda itu mencoba menghilangkan kekesalan Bella.
__ADS_1
'' Ih, apaan sih kamu! Jangan macam-macam ya! Kalau tidak, aku akan teriak dan menyuruh orang-orang itu untuk menghajarmu!'' ancam Bella sembari menepiskan tangan pemuda itu dari tangannya.
Walaupun mobil yang dikendarai mereka berjalan tidak begitu cepat, namun saat ini mereka sudah jauh meninggalkan perkebunan sawit yang tadi cukup sepi. Dan meskipun mereka belum sampai di lokasi perumahan elit tempat tinggal Bella, namun disebelah kanan kiri jalan yang sedang mereka lalui tersebut, tampak beberapa rumah penduduk yang cukup padat.
'' Eh, sorry Bell! Maaf maaf! aku benar-benar gak sengaja. Ini cuma refleksi aku, karena aku tidak bisa melihat wanita yang sedang sedih ataupun merajuk.''
'' Kalau kamu merasa aku ada niat melakukan itu, kamu boleh pukul aku kok. Silahkan pukul saja sesukamu! Aku akan menerimanya sebagai hukuman atas kelancanganku tadi.'' ucap pemuda itu lalu menghentikan mobilnya, kemudian memasang wajahnya bersiap menerima pukulan dari Bella.
Sebenarnya Bella juga merasa sangat kesal atas apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut. Namun, setelah melihat pemuda itu sepertinya serius dengan kata-katanya, diapun jadi tidak tega untuk memukulnya. Akhirnya, Bella hanya diam dan tidak melakukan apapun pada pemuda tersebut.
'' Kenapa kamu cuma diam dan tidak segera memukulku Bell. Nggak apa-apa kok! Jika kamu memang ingin memukulku, aku ikhlas menerimanya.''
Karena tidak ada reaksi apapun dari Bella, pemuda itupun segera membuka matanya yang sejak tadi dia pejamkan. Dia lalu menoleh kearah Bella. Dilihatnya, Bella hanya diam sambil matanya terus menatap ke depan. Kedua tangannya yang tadi berada di pangkuannya, kini dilipat diatas perutnya.
'' Ayo jalan! Kalau nggak, aku turun disini aja.'' ucap Bella dengan muka masih terlihat kesal.
Mendengar perintah Bella, pemuda itupun segera melakukan apa yang diminta oleh Bella. Dia kembali menjalankan mobilnya, karena tidak mau Bella turun dari mobil tersebut. Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendaraipun mulai memasuki pintu gerbang perumahan elit disana.
'' Bella, please! Maafin aku tadi ya! Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya.'' ucap pemuda itu, setelah beberapa lama Bella masih terus diam.
'' Baiklah! Kali ini aku maafkan. Tapi jangan pernah berpikir untuk melakukannya lain kali! Kalau sampai kamu berani melakukannya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Ingat itu!'' ancam Bella kepada pemuda itu.
'' Iya iya! Asal kamu mau memaafkan ketidaksengajaanku tadi, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.'' jawab pemuda tersebut sambil tersenyum kepada Bella.
'' Hanya beberapa kelokan lagi.'' jawab Bella masih n kaku, namun sudah tidak sekesal sebelumnya.
'' Waah.. nggak nyangka ya! Ternyata rumah-rumah disini terlihat begitu mewah dan megah. Pantes aja penjagaannya juga terlihat cukup ketat.'' ujar pemuda itu terus berbasa-basi supaya Bella tidak lagi mengingat kejadian tadi.
Setelah beberapakali mencoba untuk berbasa-basi, pemuda itupun akhirnya berhasil membuat Bella tidak lagi merasa kesal. Sehingga sikap Bella yang tadi terasa begitu kaku, kini kembali seperti semula.
'' Eh ngomong-ngomong, dari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku tentang siapa kamu. Sekarang, coba katakan, siapa sih kamu itu?'' ucap Bella yang merasa penasaran dengan jatidiri pemuda tersebut.
'' Oh iya. Gara-gara keasikan ngobrol sama kamu, aku sampai lupa mengenalkan diriku. Kenalkan! Aku Clayton, Sebenarnya kita satu kampus. Hanya saja, kita beda jurusan.'' sahut pemuda yang mengaku bernama Clayton tersebut, sembari mengulurkan tangannya.
Saat Clayton mengulurkan tangannya, Bella hanya melirik kearah tangan tersebut, namun dia tidak ikut mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Clayton. Setelah beberapa saat uluran tangannya tidak disambut, Clayton kemudian menarik kembali tangannya, lalu menggaruk-garuk kepalanya walaupun tidak terasa gatal.
'' Clayton? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu! Tapi dimana ya? Clayton, Clayton, emm...'' gumam Bella sambil mengingat ingat siapa dan dimana dia pernah mendengar nama tersebut.
'' Oh.. iya aku ingat sekarang! Jadi kamu itu Clayton? Si cowok playboy yang suka mempermainkan cewek-cewek itu! Pantesan..'' ucap Bella tiba-tiba, setelah dia teringat cerita Helen tentang Clayton.
Setelah mengetahui kalau ternyata pemuda yang sekarang sedang bersamanya adalah Clayton, Bella lalu menggeser duduknya mencoba menjaga jarak dari pemuda tersebut. Walaupun sebenarnya, apa yang dilakukannya itu hampir tidak ada bedanya sama sekali dengan posisi duduknya semula.
'' Pantesan!? Pantesan apa?'' tanya Clayton terlihat penasaran dengan kata-kata Bella.
__ADS_1
'' Emm.. Gak papa kok, gak papa.'' sahut Bella, masih tidak mau melanjutkan perkataannya.
'' Oh.. Aku tahu aku tahu! Kamu pasti mengira, kalau aku ini orang yang enggak bener kan? Pasti kamu mendengar cerita tentang aku dari Helen.''
'' Helen.. Helen! Enggak tau kenapa, sejak kita putus, sikapmu jadi seperti itu padaku. Kamu selalu mengatakan kepada siapapun, kalau aku ini cowok playboy yang suka mempermainkan cewek-cewek. Tapi ya gak papalah, it's ok! no problem.'' gumam Clayton lirih, namun suaranya tetap terdengar oleh Bella.
'' Jadi, kamu dan Helen pernah pacaran?'' tanya Bella.
'' Ya.., kurang lebihnya sih seperti itu. Hanya saja hubungan kami nggak lama. Soalnya, Helen itu orangnya sangat cemburuan.''
'' Aku juga nggak paham, kenapa tiba-tiba dia minta putus dariku. Tapi belakangan, akhirnya aku juga tahu, kalau ternyata dia sedang mengejar seseorang. Dan orang itu adalah orang yang sekarang menjadi pacarmu itu Bell.'' ujar Clayton dengan memasang muka sedih.
Setelah mendengar cerita Clayton yang tampaknya tidak dibuat-buat itu, Bella yang tadinya menganggap Clayton adalah cowok yang tidak benar, kini dia mulai ragu. Sebenarnya, siapa yang berbohong diantara Helen dan Clayton.
Dari apa yang dia dengar soal Clayton, Bella yakin kalau Helen tidak mungkin berbohong. Namun, apa yang diceritakan Clayton tentang Helen, dia juga tidak bisa untuk tidak percaya. Pasalnya, Bella juga tahu kalau Helen itu memang orangnya cemburuan dan sangat menyukai Raka.
Akan tetapi, Bella juga tidak ingin dirinya terpengaruh oleh sikap dan kata kata Clayton yang tampak manis tersebut.
Karena itulah, Bella juga terus mencoba mencari tahu, siapa diantara mereka yang sebenarnya berbohong.
'' Emm..! Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Helen tentang kamu itu benar juga ya?'' ucap Bella sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Clayton saat disindir seperti itu.
'' Emangnya, Helen pernah ngomong apa sih sama kamu Bell?'' tanya Clayton menoleh kearah Bella.
'' Ya kalau yang aku dengar sih, kamu itu orangnya keliatannya polos. Tapi sebenarnya, kamu itu malah suka molosin orang. Pantes aja banyak cewek-cewek yang jadi korban kata-kata manismu itu.'' sindir Bella sambil melirik kearah Clayton.
Mendapatkan sindiran seperti itu, raut muka Clayton sedikit berubah. Namun, sebelum Bella menyadari perubahan pada raut muka Clayton, dia cepat-cepat mengalihkan wajahnya kearah lain.
'' Gini ya Bell, kuberitahu kamu. Aku sih, terserah apa kata mereka aja. Mau dibilang begini kek, mau dibilang begitu kek, pokoknya, terserah mereka mau berkata apa. Itukan hak mereka. Lagian, kalau cuma dianggap, kan bukan berarti memang seperti itu.'' ujar Clayton setelah kembali menghadapkan wajahnya kearah semula.
'' Tapi ya seperti itu tadi Bell. Aku sih, terserah apa kata mereka aja. Misalnya mereka atau kamu sendiri menganggapku seperti itu, ya silahkan. Kalau nggak ya juga silahkan. Yang jelas, aku nggak mau ambil pusing dengan anggapan orang-orang tentang aku.''
'' Tapi yang bilang seperti itu, bukan cuma Helen lho. Banyak juga yang ngomong selain Helen. Mereka juga mengatakan kalau kamu itu memang orangnya begitu.'' sahut Bella.
'' Bella Bella. Aku kan tadi udah bilang! Aku tuh, terserah orang menganggapku bagaimana. Aku juga gak takut kalau nanti semua cewek nggak ada yang mau dekat denganku. Sebab aku yakin, kelak aku akan bertemu dengan seseorang yang baik dan tidak hanya memanfaatkan kondisi keluargaku seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini.''
'' Lho! Emangnya selama ini, cewek-cewek yang pernah kamu pacarin nggak ada yang baik ya? Aku dengar, entah sudah berapa kali kamu gonta-ganti pacar.'' ledek Bella setelah mendengar pernyataan Clayton.
'' Memang benar seperti yang kamu katakan Bell. Aku memang sudah beberapa kali ganti pacar. Tapi, mereka semua mau jadi pacarku itu karena mereka punya tujuan. Bukan karena benar-benar tulus mencintaiku.'' sahut Clayton memberi alasan.
Selama perjalanan itu, Bella terus mencecar Clayton dengan pertanyaan ataupun pernyataan yang pernah dia dengar tentang Clayton dari Helen ataupun yang lainnya. Sehingga, terkadang hal itu cukup membuat Clayton merasa jengkel karena dirinya terus tersudutkan. Akan tetapi, pada akhirnya Clayton tetap bisa mengelak dengan jawaban-jawaban yang membuat Bella harus percaya dengan ucapan-ucapan Clayton.
...****************...
__ADS_1