
Sore itu, seperti biasanya. Raka kembali membuka kedai serabinya. Beberapa pelanggan sudah menunggu untuk membeli kue buatan Raka tersebut. Karena semalam Raka tidur terlalu larut, maka sepulang dari shalat Jum'at, Raka mengistirahatkan matanya terlebih dahulu, untuk menghilangkan rasa kantuknya akibat kurang tidur semalam. Maka dari itulah, sore ini Raka sedikit terlambat membuka kedainya.
Meskipun sedikit terlambat, namun hal itu tidak menjadikan para pelanggan dan penggemar kue serabi tersebut menjadi kabur. Mereka tetap setia mengantri untuk bisa mendapatkan kue itu. Karena tidak ada pemberitahuan bahwa hari ini serabinya libur, maka mereka tetap menunggu Raka membuka kedai serabinya. Biasanya, jika Raka tidak berjualan, maka Raka akan memasang pemberitahuan disana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17. 05 waktu setempat. Raka segera memerintahkan Naya untuk segera pulang. Raka memang membatasi waktu untuk Naya, hanya sampai pukul lima sore untuk membantunya berjualan. Selain dia tidak ingin Naya bekerja sampai malam, Naya juga harus belajar dan juga berbenah dirumahnya.
Selain hari libur, Raka memang tidak banyak membuat kue itu. Sehingga, jarang sekali kedainya buka sampai malam. Paling telat sebelum waktu sholat isya, dia sudah menutup kedainya karena jualannya telah habis. Ditambah lagi, saat ini juga adonan kue serabinya sudah hampir habis.
'' Kak, Naya pulang duluan ya!'' pamitnya kepada Raka.
'' Iya Nay, hati-hati dijalan ya!'' sahut Raka sembari memberikan bungkusan kue serabi kepada Naya, untuk dia dan kakeknya.
'' Iya kak, makasih! Assalamualaikum...''
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah..'' jawab Raka sambil memandangi Naya yang mulai beranjak pergi, dengan menaiki sepedanya.
'' Mas, serabinya masih?'' tanya seorang ibu-ibu, setelah turun dari mobil Honda Civic.
'' Masih bu, tapi tinggal dikit lagi. Ibu mau berapa?'' jawab Raka kemudian bertanya balik.
'' Semuanya aja mas! Jadi berapa ya?'' tanya ibu tersebut sambil merogoh uang dari dalam dompetnya.
'' Ibu mau yang ori, apa paket komplit?'' tanya Raka.
'' Yang kompit aja mas.''
'' Emm.. Sebentar Bu ya! Saya buatin dulu biar tau berapanya. Oh iya, silahkan duduk dulu Bu!'' ujarnya mempersilahkan ibu tersebut.
'' Iya mas, makasih.'' jawab ibu tersebut, lalu duduk dibangku yang telah disediakan.
'' Mas jualannya tiap hari ya mas?''
'' Iya bu, tapi hanya waktu sore aja. Soalnya, paginya saya kuliah.''
'' Oh.. jadi mas ini mahasiswa ya? Hebat juga ya mas ini. Masih muda, mahasiswa juga, tapi sudah bisa mandiri. Pasti orang tuanya bangga punya anak seperti mas ini!'' ujar ibu tersebut terkagum kagum.
'' Hhh.. Ibu ini bisa aja. Saya cuma belajar cari rejeki buat bantu orang tua bu. Ya biar bisa meringankan beban orang tua dalam membiayai pendidikan saya.'' ujar Raka merendah.
'' Salut deh sama masnya. Udah ganteng, rendah hati pula. Ngomong-ngomong, masnya udah nikah?'' tanya ibu tersebut.
'' Belum bu, saya masih takut dekat-dekat sama perempuan. Saya juga masih belum siap menikah, dan pengen cari pengalaman hidup dulu. Lagi pula, saya juga pengennya nanti menikahnya kalau umur saya sudah 25.'' jawab Raka yang sedang sibuk memanggang kue serabi..
'' Ngapain takut dekat sama perempuan mas? Lagi pula, biar begini ibu juga perempuan lho! Emang kamu nggak takut?''
'' Maksudnya, saya takut jatuh hati bu! Bukan takut bagaimana. Sementara kalau sama ibu, masa iya saya mau merebut istri orang! Kan aneh bu, he..''
'' Hhh.. Waah..! Masnya ini, ternyata orangnya asik banget ya! Sayangnya, cucu saya laki-laki. Kalau saya punya cucu perempuan, pasti saya suruh dia menikah sama masnya.''
'' Eh jangan bu! Walaupun ibu punya cucu perempuan, ibu juga jangan ngarepin punya cucu menantu seperti saya.''
'' Lho kenapa mas?'' tanya ibu itu terkejut.
__ADS_1
'' Soalnya, masa depan saya itu masih belum jelas bu. Apa ibu nggak kasian sama cucu ibu kalau nanti dia sengsara?'' jawab Raka.
'' Hhh.. Mas ini. Justru dengan sikap mas yang seperti ini, saya jauh lebih percaya, kalau masnya adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Mana mungkin orang yang nanti jadi istri masnya akan sengsara?'' ujar ibu itu makin merasa kagum kepada Raka.
Tanpa terasa, dengan dibawa ngobrol itu, semua kue serabi yang sedang dibuat oleh Raka telah selesai. Raka lalu memasukkan kue-kue tersebut kedalam kotak, dan lalu menyerahkannya kepada ibu itu.
'' Alhamdulillah.. Ini bu, kue serabinya udah siap. Semuanya jadi 150 ribu. Dan karena ini penghabisan, saya juga udah ngasih bonus buat ibu.'' ucap Raka sembari menyerahkan kotak-kotak kue tersebut.
'' Waah... Terimakasih mas. Ini uangnya!'' sahut ibu itu lalu menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu kepada Raka.
'' Ini bu kembaliannya.'' ucap Raka menyerahkan uang pecahan lima puluh ribu kepada ibu tersebut.
'' Udah mas gak usah! Kembaliannya buat mas aja.'' sahut ibu tersebut berjalan menuju mobilnya, sambil menenteng kantong plastik berisi kotak-kotak kue tersebut.
'' Tapi..'' ucap Raka.
'' Udaah.. Ambil aja! Ibu ikhlas kok.'' sahut ibu itu memotong ucapan Raka.
'' Ya udah, terimakasih banyak bu!'' ucap Raka sambil membungkuk dan menangkupkan kedua tangannya.
Karena dagangannya telah habis, Raka segera merapikan peralatan dan segera menutup kedainya tersebut. Namun, saat dia baru saja selesai menutup kedai dan akan menaiki motor maticnya, dia terkejut dengan suara keributan yang terjadi tidak jauh dari tempat dia berada.
'' Bruak! Bruk! klontang..!''
'' Ampun tuan, tolong jangan hancurkan gerobak dagangan saya. Hanya itulah satu-satunya jalan saya mencari makan.'' ucap seseorang sambil merintih kesakitan, setelah dia dijatuhkan ketanah.
'' Hei pak tua! Sudah berapa kali saya bilang. Kalau mau berjualan disini, kamu harus bayar uang keamanan. Tapi kamu masih saja bandel berjualan disini dan tak mau bayar uang keamanan.'' ujar salah satu dari tiga orang preman tempat tersebut.
'' Itu kurang pak tua. Kamu baru ngasih 50 ribu. Sisanya kurang 200 ribu lagi. Ayo cepat bayar sekarang juga! Kalau tidak, saya akan hancurkan gerobak bututmu ini.'' ancam preman-preman tersebut kepada lelaki tua itu.
'' Jangan tuan! Tolong jangan hancurkan gerobak saya. Tanpa gerobak itu, keluarga saya nanti mau makan apa?'' rengek lelaki tua tersebut.
'' Ya kalau begitu, cepat bayar! Jangan tunggu saya lebih emosi lagi.'' ucap preman tersebut dengan kasar.
'' Tapi tuan, saya belum ada uang. Lagi pula, untuk ngumpulin uang segitu, saya harus berjualan berhari-hari. Sedang hasil dari jualan saya saja, keuntunganya hanya puluhan ribu, itupun kalau habis.'' ujar lelaki tua yang berjualan aneka gorengan tersebut.
'' Alaah.. Gak usah banyak omong! Kalau kamu nggak mau bayar sekarang, aku akan hancurkan gerobakmu sekarang juga.''
Karena lelaki tua itu tak kunjung memberikan uang yang diminta, para preman tersebut hendak kembali menendang gerobak dan memukuli lelaki tua itu. Namun, belum sempat mereka melakukannya, mereka dikejutkan oleh suara seseorang.
'' Berhenti! Jangan teruskan perbuatan kalian. Apa kalian tidak punya rasa kasihan terhadap orang tua seperti itu?'' teriak Raka sambil mendekati mereka.
Beberapa orang pengunjung dan pedagang yang ada disekitar tempat tersebut, juga ikut datang dan berkerumun disana. Namun, mereka hanya menonton dan tidak berani melakukan apapun. Mereka merasa takut dengan para preman-preman tersebut, yang memang tidak segan-segan berbuat kasar terhadap siapapun yang menentang mereka.
'' Hei siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur urusan kami. Sudah bosan hidup kamu rupanya.'' ujar preman yang bertubuh gempal, sambil mendekati dan mencengkeram kerah baju Raka.
'' Sabar tuan, sabar! Bukankah ini bisa dibicarakan dengan baik-baik.'' ucap Raka mencoba bernegosiasi dengan para preman tersebut.
'' Hhh... Dasar bocah ingusan! Kamu mau bicara baik-baik dengan kami. Bongkeng, Gepeng! Ajari bocah ingusan ini cara bicara yang baik dengan kita!'' perintah preman yang bertubuh gempal dan merupakan senior dari mereka.
'' Baik kak Gareng!'' seru keduanya dan segera menghampiri Raka.
__ADS_1
Melihat kedua preman itu akan mendekati Raka, orang-orang yang tadi berkerumun segera mundur menjauh. Mereka sudah paham apa yang akan dilakukan kedua preman tersebut kepada Raka. Melihat gelagat yang tidak baik tersebut, Raka menjadi waspada. Namun, dia dengan tenang kembali berkata:
" Paman, tenang dulu paman. Mari kita bicarakan dulu masalah ini secara baik-baik. Semua masalah, pasti bisa diselesaikan dengan kepala dingin, tanpa harus melalui jalan kekerasan.'' ujar Raka sambil mundur beberapa langkah.
'' Oke! Beri kami uang 500 ribu, kami akan anggap masalah ini selesai. Tapi, kamu jangan coba-coba mencampuri urusan kami lagi.'' ucap preman yang bernama Gareng tersebut, dan meminta kedua rekannya untuk menahan diri.
'' Baik! Saya akan kasih uang itu, tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh lagi mengganggu bapak tua itu!'' sahut Raka.
'' Hhh.. Dasar bocah ingusan! Berani sekali kamu tawar menawar dengan kami. Bongkeng, Gepeng, cepat kasih dia pelajaran dan ambil semua uangnya. Belum tau dia dengan siapa dia berurusan.'' perintah Gareng kepada kedua rekannya tersebut.
Tanpa menunggu lama lagi, kedua preman yang bernama Bongkeng dan Gepeng itu, langsung bergerak untuk menghajar Raka. Namun, Raka segera menghindari serangan dari kedua preman tersebut. Karena upayanya untuk memberi pelajaran Raka tidak berhasil, kedua preman itu jadi semakin geram. Mereka lalu semakin gencar melakukan serangan-serangan terhadap Raka.
Meskipun dikeroyok oleh dua orang preman tersebut, namun Raka masih bisa menangkis ataupun menghindari serangan-serangan mereka tanpa melakukan perlawanan. Hal itu membuat Gareng yang menyaksikan pertunjukan itu, jadi semakin kesal. Diapun lantas bergabung bersama dua orang rekannya, untuk mengeroyok Raka.
Tidak disangka, ternyata orang yang bernama Gareng tersebut, cukup pandai dalam ilmu beladiri. Pantas saja, kedua rekannya begitu patuh kepadanya. Menghadapi tiga orang sekaligus, rupanya Raka mulai sedikit kewalahan. Beberapa kali dia terjatuh akibat pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh Gareng.
Meskipun tidak begitu parah, namun pukulan dan tendangan Gareng yang sempat mendarat ditubuh Raka, membuat Raka terlihat cukup menyedihkan. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan tersebut, kini semakin khawatir kalau nanti Raka akan menderita luka yang lebih parah lagi. Namun, mereka juga tidak berani untuk membantu Raka.
'' Sudah tuan! Tolong jangan pukuli lagi anak itu. Dia tidak salah tuan, tolong hentikan semua ini. Tolong siapapun, hentikan mereka!'' teriak lelaki tua penjual gorengan tersebut, tidak tega melihat Raka berkali-kali terkena serangan yang dilancarkan oleh Gareng dan kedua rekannya.
Meskipun lelaki tua itu terus menerus berteriak agar Gareng dan kedua rekannya berhenti menyerang Raka, namun Gareng dan kedua temannya jtu, tidak menggubris perkataan lelaki tua tersebut. Mereka malah semakin gencar menyerang Raka.
Hingga dalam suatu kesempatan, disaat Raka sedang menghindari serangan dari Bongkeng dan Gepeng, Gareng diam-diam mengambil kesempatan untuk melayangkan tendangannya dengan keras kearah belakang kepala Raka. Dia melompat ke udara dan bersiap untuk melepaskan tendangan tersebut.
'' Wush.. Duk, Brukk!''
'' Aahh... Kurang ajar! Siapa kamu? Berani beraninya menyerangku dengan diam-diam!'' ucap Gareng setelah tubuhnya tiba-tiba terpental dan terguling ketanah dengan keras.
Rupanya disaat Gareng melompat ke udara tadi, secara bersamaan, dari arah samping, seseorang yang tahu akan niat Gareng tersebut, juga melakukan hal yang sama. Bahkan, gerakan dan kekuatan tendangannya jauh lebih cepat dan kuat dibandingkan dengan gerakan Gareng. Sehingga, sebelum kaki Gareng menyentuh kepala Raka bagian belakang, tubuh Gareng telah jatuh terlebih dahulu.
'' Hhh.. Bisa lu ye ngomong begitu! Bukanye yang akan elu lakuin juga sama. Dasar semprul lu!'' ujar lelaki yang tadi menyerang Gareng, yang ternyata adalah pak Junaedi.
'' Bajingan pengecut! Kamu orang baru ingin macam-macam dengan kami. Kalau hari ini aku tidak bisa mematahkan kedua kakimu itu orang tua, jangan panggil aku Gareng preman paling ditakuti didaerah ini!'' ucap Gareng, lalu berdiri dan bersiap menyerang pak Junaidi.
'' Hhh... Kagak salah ngomong lu! Siape yang sebenarnye bajingan dan pengecut? Bukanye elu yang cuma bisanye maen keroyokan dan gangguin orang tua. Ayo maju lu! Biar begini-begini juga, gue pernah jadi jawara dikampung sono.'' ucap pak Junaidi sambil mulai memasang kuda-kuda, bersiap untuk melawan Gareng.
Karena bertambah lagi orang yang mau melawan ketiga preman tersebut, maka semakin ramai orang-orang yang datang menyaksikan pertarungan itu. Mereka jadi penasaran, siapa yang nantinya akan menang dan siapa yang akan kalah.
Meskipun mereka belum tahu akan kemampuan pak Junaidi, namun mereka juga berharap, agar sekali-kali para preman tersebut mendapatkan pelajaran. Sudah cukup lama, para preman tersebut suka berbuat semena-mena terhadap para pedagang dan pengunjung tempat tersebut.
Raka yang melihat pak Junaidi datang dan membantunya, dia juga merasa sedikit lega. Dia lalu kembali menghadapi kedua preman yang sejak tadi menyerangnya itu. Namun, dia masih saja tidak menyerang kedua preman tersebut dan hanya menghindari dan menangkis serangan-serangan mereka terhadapnya.
'' Ciaaat.. wush, plak, buk, bamm!''
Setiap kali Gareng menyerang pak Junaidi dengan pukulan ataupun tendangannya, setiap kali itu pula, dia yang malah terkena pukulan dan tendangan balasan dari pak Junaidi. Sementara pak Junaidi, dia dengan mudahnya menangkis dan menghindari serangan-serangan dari Gareng.
Melihat hal tersebut, orang-orang yang tadi hanya diam menyaksikan pertarungan itu, kini mulai bersorak menyemangati pak Junaidi. Sementara Gareng semakin marah karena berkali-kali dia terjatuh dan merasa dipermalukan oleh pak Junaidi.
'' Bongkeng, Gepeng, tinggalkan dulu bocah itu! Bantu aku memberi pelajaran kepada orang tua ini!'' ujar Gareng yang mulai merasa kewalahan menghadapi pak Junaidi.
'' Hhh.. Udah letoy lu ye, ampe minta dibantu segala. Tapi kagak ape-ape. Jangan kate elu bertiga, sepuluh orang model elu elu pade, gue kagak takut. Ayo maju! Biar gue kasih pelajaran kalian sekalian.'' ucap pak Junaidi, lalu kembali memasang kuda-kudanya.
__ADS_1
...****************...