
Sejak menemukan anak kecil itu, Sophia yang terkadang sering melamun saat sedang sendirian, kini dia tampak lebih ceria dan bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Rasa sedih akibat kehilangan anaknya setahun yang lalu, kini seakan terobati dengan hadirnya Raihan bersamanya.
Karena tidak tahu siapa nama asli dari anak tersebut, kakek Wira lalu memberi nama anak itu dengan panggilan Raka, sesuai dengan simbol huruf yang terdapat pada kalung yang dipakainya.
Dalam asuhan Sophia dan kakek Wira, Raihan yang telah berganti nama menjadi Raka itupun, dia dapat tumbuh normal seperti anak-anak pada umumnya. Dia juga mendapatkan perhatian, serta kasih sayang yang penuh dari kakek Wira dan juga Sophia.
Kakek Wira yang melihat adanya aura yang begitu kuat pada diri Raka, dia dengan kemampuannya kemudian membuat suatu pagar ghaib, baik untuk diri Raka sendiri maupun daerah tempat tinggal mereka. Hal ini sengaja dilakukan oleh kakek Wira, untuk menutupi sementara aura yang terdapat pada diri Raka yang begitu kuat tersebut, demi untuk mencegahnya dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Oleh karena itu jugalah, Fadil yang seharusnya bisa mendeteksi dimana keberadaan Raihan anaknya melalui kontak batin, dia jadi tidak bisa melakukannya akibat adanya pagar ghaib yang dibuat oleh kakek Wira tersebut. Rupanya, kemampuan yang dimiliki oleh Fadil dalam hal itu, ternyata masih dibawah kemampuan dari kakek Wira.
Hingga usia Raihan memasuki usia sekolah, kakek Wira-lah yang banyak mengajari dia tentang banyak hal. Berkat bimbingan dari kakek Wira juga, Raihan tumbuh menjadi seorang anak yang baik, serta memiliki berbagai macam kemampuan.
Setelah Raihan beranjak remaja, kakek Wira kemudian mengajak pindah ketempat yang lebih dekat dengan perkampungan penduduk. Raihan alias Raka, diapun disekolahkan di daerah tersebut hingga sampai sekolah menengah pertama. Namun sayang, sebelum Raka lulus sekolah tersebut, kakek Wira keburu meninggal.
Setelah ditinggalkan oleh kakek Wira dan Raka juga telah lulus dari sekolah menengah pertama, Sophia kemudian mengajak Raka untuk pindah lagi ke daerah yang lebih ramai dekat dengan perkotaan. mereka lalu mengontrak rumah disana dan meninggalkan kampung tersebut.
Sebelum kakek Wira meninggal, dia pernah mengatakan kepada Sophia, bahwa suatu saat nanti Raka akan bertemu kembali dengan keluarganya. Maka dari itu, kakek Wira juga berpesan, agar Sophia terus menjaga Raka sampai masa itu tiba.
Sebenarnya, tanpa diminta pun, Sophia yang memang sangat menyayangi Raka, dia pasti akan berusaha untuk menjaga Raka dengan sebaik baiknya. Bagi Sophia, Raka adalah pengganti anaknya yang telah meninggal itu. Apalagi, usia dari keduanya juga sepertinya tidak jauh berbeda.
'' Begitulah nak Topan. Meskipun Raka bukanlah anak kandung ibu, tapi bagi ibu, Raka tidak ubahnya seperti anak ibu sendiri.''
'' Sejak ibu kehilangan anak kandung ibu satu satunya, ibu merasa tidak ada gunanya lagi ibu hidup di dunia ini. Namun, sejak ibu menemukan Raka, ibu seperti menemukan kembali anak ibu. Maka dari itu. Sejujurnya ibu katakan, ibu tidak ingin kehilangan anak untuk yang kedua kalinya.''
Usai menceritakan secara singkat tentang kisahnya menemukan Raka, ibu Sophia juga kembali mengatakan rasa keberatannya jika harus melepaskan Raka. Namun begitu, ibu Sophia juga memang mau tidak mau, dia harus merelakan Raka saat Raka harus kembali kepada keluarganya.
...----------------...
'' Assalamualaikum..! Lil, kok tumben jam segini kamu datang kemari? Emangnya ente nggak ngantor?'' sambut Fadil saat melihat kedatangan Ulil yang berkunjung ke kediamannya.
'' Wa'alaikumsalaam..., Mas Fadil kebiasaan ya! Kan harusnya aku yang ngucap salam lebih dulu.'' sahut Ulil yang baru saja turun dari mobilnya.
'' Ya salahmu sendiri Lil, kenapa ente telat ngucapin salamnya. Lagian, kalau aku nggak ngucapin lebih dulu, ujung-ujungnya, ente juga pasti lupa ngucapin salam kayak biasanya.''
'' He.., mas Fadil ini. Enak aja nuduh aku begitu. Emangnya kapan aku lupa ngucapin salam?'' sanggah Ulil yang tidak ingin dirinya dibilang seperti itu.
'' Hemm.., tuh kan! Ente emang lupaan orangnya Lil. Itu yang kemarin, terus kemarin-nya lagi, sama yang kemarin-nya juga. Kalo aku nggak ngingetin, pasti ente begitu!''
'' He.., itukan cuma beberapa kali aja mas Fadil. Nggak selalu.'' ujar Ulil sambil cengar-cengir.
'' Eh mas Fadil. Ngomong-ngomong, Tiara-nya ada nggak?'' lanjut Ulil sambil celingukan melihat kearah dalam rumah.
Melihat tingkah Ulil yang sedikit berbeda, Fadil jadi merasa heran. Tidak biasanya Ulil seperti itu. Meski dari dulu mereka bersahabat, bahkan sekarang mereka berdua juga sudah menjadi satu keluarga, namun baru kali inilah Ulil tiba-tiba bertanya tentang Tiara.
'' Eh, Lil. Ngapain ente nanyain Tiara begitu? Ingat lho Lil! Tiara itu udah jadi istriku. Ente juga udah punya anak istri. Jadi jangan macam-macam ya!'' ujar Fadil yang bersikap seolah-olah dia cemburu.
'' Ih mas Fadil ini. Curigaan amat sih! Kayak nggak kenal aku aja. Oo.. Aku tahu aku tahu. Mas Fadil cemburu ya? Hhh..'' ucap Ulil yang akhirnya paham dengan maksud Fadil berkata seperti itu.
Meskipun mereka sudah tidak semuda dulu. Namun, pesona Tiara yang merupakan kembang desa pada masanya dulu, rupanya sampai kini masih tidak memudar. Apalagi, Tiara juga memang pandai merawat diri. Sehingga walaupun telah bertambah usia, akan tetapi, Tiara bahkan masih tampak seperti seorang gadis remaja.
__ADS_1
Hal itu memang diakui baik oleh Ulil maupun Fadil sendiri. Oleh sebab itu, wajar juga jika sekiranya Fadil yang makin bertambah cinta dan sayang kepada Tiara, dia jadi sedikit khawatir kalau Ulil masih menyimpan perasaan terhadap Tiara seperti saat mereka masih remaja dulu.
'' Mas Fadil. Mas Fadil nggak usah berpikir yang aneh-aneh sama aku ya. Kita ini berteman sejak kecil lho! Ya..walaupun aku akui, kalau sekarang Tiara memang keliatan tambah cantik. Tapi istriku juga tidak kalah cantik dengan Tiara.''
'' Lah terus, ngapain ente celingukan dan nyariin Tiara begitu? Sebenarnya, ente kesini itu mau nyariin aku apa Tiara?'' tanya Fadil dengan heran.
'' Sst.. mas Fadil. Sini-sini! Sebenarnya, aku ada kabar penting buat kalian. Tapi berhubung ada sesuatu dan lain hal, sebaiknya Tiara jangan sampai mengetahuinya terlebih dahulu.''
Sambil celingukan kesana-kemari, Ulil lalu meminta Fadil untuk menjauh dari depan pintu Villa mewah miliknya, yang merupakan hadiah dari Sintya saat Fadil dan Tiara menikah dulu. Mereka kemudian mencari tempat yang dirasa tepat untuk berbicara diarea sekitar villa tersebut.
'' Ada apa sih Lil? Ngapain harus sembunyi dari Tiara segala? Bukannya lebih enak kalau kita ngobrolnya didalam aja!'' ujar Fadil merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Ulil.
'' Justru itu mas Fadil. Aku nggak tega ngomongnya kalau sampai Tiara ikut mendengar apa yang ingin aku sampaikan ini. Lebih baik, biar nanti mas Fadil aja yang ngasih tau masalah ini kepada Tiara.''
'' Ya udah. Sekarang, coba ente ngomong. Ada hal penting apa sebenarnya, sampe ini tidak boleh didengar oleh Tiara segala.''
'' Ini soal Raihan mas.'' ujar Ulil setengah berbisik.
'' Raihan? Emangnya ente udah dapat kabar soal dia Lil?'' tanya Fadil penasaran.
'' Iya mas Fadil. Barusan, Topan tadi telpon. Dia bilang, saat ini dia sudah bertemu dengan Raihan. Bahkan, saat ini Raihan sedang bersamanya di rumahnya.''
'' Ente serius Lil?'' tanya Fadil seakan tidak percaya.
'' Iya mas, Alhamdulillah. Akhirnya Topan bisa menemukan Raihan putra mas Fadil disana.'' jawab Ulil dengan serius.
'' Alhamdulillah.. Akhirnya kami bisa menemukanmu juga anakku. Terimakasih ya Allah, terimakasih.'' ucap Fadil begitu gembira mendengar kabar tersebut.
'' Lil.., makasih ya! Berkat bantuan anakmu, akhirnya Raihan bisa ketemu juga. Sebaiknya aku harus menyampaikan ini kepada Tiara. Dia pasti akan sangat gembira mendengar kabar ini.''
'' Eh, jangan mas Fadil! Jangan kasih tau Tiara sekarang. Soalnya...''
'' Soalnya kenapa Lil?'' tanya Fadil jadi keheranan.
Karena penasaran, Fadil-pun terdiam menunggu jawaban dari Ulil. Setelah memastikan tidak ada orang lain disekitar tempat itu, Ulil lalu mengatakan kepada Fadil dengan setengah berbisik, apa yang sebenarnya terjadi dengan Raihan seperti yang diceritakan oleh Topan kepadanya.
'' Begitulah mas Fadil. Topan bilang, saat ini Raihan sedang dalam keadaan koma. Dan menurut dokter yang merawatnya, dia butuh sesuatu atau seseorang yang bisa memberi support, agar dia cepat sadar dari komanya.''
'' Aku yakin, saat ini Raihan sangat membutuhkan kehadiran mas Fadil dan Tiara disana. Tapi aku juga merasa khawatir, kalau kabar ini disampaikan langsung kepada Tiara, dia akan panik begitu mendengarnya.''
'' Maka dari itu, mungkin sebaiknya mas Fadil tidak langsung memberitahu Tiara soal ini sekarang. Biar nanti saja saat kalian sudah ada disana.'' ujar Ulil memberi saran.
Beberapa hari ini, baik Fadil maupun Tiara, keduanya memang sering kepikiran dengan Raihan. Terutama Fadil. Dia yang memang memiliki kemampuan diluar kemampuan orang biasa, akhir-akhir ini dia kembali bisa merasakan adanya aura yang terpancar dari diri Raihan.
Sejak kakek Wira memagari diri Raihan dengan pagar ghaib, Fadil memang kehilangan aura yang terpancar darinya. Hanya saja, karena jarak antara dirinya dengan Raihan yang sangat jauh, serta pengaruh pagar ghaib yang dibuat kakek Wira juga masih ada, Fadil masih belum bisa mengetahui dimana posisi Raihan berada.
Namun begitu, keyakinannya bahwa putranya itu masih hidup, ternyata memang benar adanya. Oleh karenanya, begitu mendengar kalau Raihan kini telah ditemukan, dia langsung sujud syukur dan ingin segera menemui anaknya yang sudah belasan tahun tak pernah dia lihat tersebut.
'' Baiklah Lil. Kalau begitu, sekarang aku akan bersiap-siap pergi ke Kalimantan bersama Tiara. Tapi aku juga harus memberi tahu mama dan papa, kalau kami berangkat lebih awal dari jadwal semula. Ya.. sekaligus, kami juga akan menitipkan Saihan dan Jihan selama aku dan Tiara pergi kesana.''
__ADS_1
'' Oh iya! Apa ente juga mau ikut pergi kesana bersama kami sekarang Lil? Bukannya jadwal kita kesananya masih sepuluh hari lagi.'' tanya Fadil sebelum dia berjalan menuju villanya.
Secara kebetulan, beberapa hari lagi Fadil memang hendak pergi untuk suatu keperluan perusahaan bersama Tiara di pulau tersebut. Akan tetapi, berhubung sekarang Fadil mendapat kabar tentang Raihan yang ternyata ada di pulau tersebut, diapun lantas merubah jadwal keberangkatannya.
Rencananya, Ulil juga akan ikut serta pergi bersama mereka kesana. Selain untuk menemani Fadil dan Tiara, Ulil juga ingin bertemu dengan anaknya yaitu Topan, yang sudah beberapa tahun terakhir ini belum bertemu dengannya.
'' Pengennya sih begitu mas Fadil. Tapi enggak tahu nih, boleh nggak sama ibu Sintya. Mas Fadil kan tahu sendiri bagaimana Mamanya mas Fadil itu. Kalau kelamaan disana, takutnya Mamanya mas Fadil nggak ngasih ijin.'' ujar Ulil seakan minta tolong kepada Fadil, agar dia menanyakan hal itu kepada ibunya tersebut.
'' Ya udah Lil! Nanti aku tanyain sama Mama masalah itu. Tapi enggak ada salahnya juga sih, kalau ente siap-siap untuk pergi bareng kita.'' sahut Fadil, lalu segera masuk kedalam villa mewah miliknya.
'' Oke mas Fadil! Tak tunggu informasinya di rumah.'' ucap Ulil sambil menuju mobilnya, kemudian pergi dari tempat itu.
'' Darimana saja sih A? Aku cari dari tadi juga.'' ucap Tiara yang sejak tadi mencarinya.
'' Emm.. itu! Tadi ada perlu sebentar sama Ulil.'' jawab Fadil lalu duduk diruang tengah sambil menunggu Tiara yang sedang membuatkan teh hangat untuknya.
'' Ulil? Mana? Kok nggak disuruh masuk sekalian?'' ujar Tiara sembari menoleh kearah ruang tamu, mengira Ulil ada disana.
'' Orangnya udah balik lagi Tiara. Dia cuma mau nanyain tentang masalah keberangkatan kita ke Kalimantan.'' sahut Fadil lalu menyeruput teh hangat yang barusan dihidangkan didepannya.
'' Bukannya itu masih sepuluh hari lagi kita pergi kesananya, kok nggak sabar banget sih si Ulil!''
'' Ya.. namanya juga orang lagi kangen Tiara. Kan udah lama dia gak ketemu sama Topan. Kalau gak salah, udah dua tahunan ini mereka gak ketemu.'' ujar Fadil membuat alasan soal Ulil.
Mendengar perkataan suaminya, Tiara jadi terdiam. Diapun jadi teringat dengan Raihan putranya. Sudah lebih dari delapan belas tahun sejak Raihan hilang, hingga hari ini dia belum juga mendengar kabar tentang putranya tersebut.
'' Kok malah ngelamun sih sayang! Gak baik lho pagi-pagi udah manyun kayak gitu. Nanti cantiknya jadi berkurang.'' ucap Fadil lalu memeluk tubuh Tiara dengan lembut dari belakang.
'' A, andai saja Raihan kita bisa ketemu, mungkin...''
'' Sabar Tiara..! Insyaallah, nggak lama lagi pasti kita bisa bertemu dengan Raihan putra kita. Sekarang, kita pergi ke rumah mama dan papa. Siapkan juga seluruh barang yang ingin kamu bawa! Soalnya, kita akan langsung pergi ke Kalimantan hari ini juga.'' bisik Fadil, lalu mengusap air mata Tiara yang mulai menetes dikedua pipinya.
Mendengar kalau hari ini juga Fadil mengajaknya untuk pergi ke Kalimantan, Tiara jadi terkejut dan heran. Bukannya jadwal mereka pergi kesana masih beberapa hari lagi. Oleh karena itu, Tiara yang merasa heran dengan perubahan jadwal tersebut, diapun lalu bertanya kepada suaminya.
'' Sekarang? Bukannya..?''
'' Udah..! Kamu mau ikut nggak? Kalau kamu mau ikut, sebaiknya kamu cepat berkemas!'' ujar Fadil sambil mencubit dagu Tiara, lalu mengecup kening Tiara dengan lembut.
'' Terus! Jihan sama Sehan gimana?'' Kan mereka baru saja pergi sekolah?'' tanya Tiara tampak kebingungan.
'' Sementara ini, biar Sehan sama Jihan sama Mama dan Papa. Minggu depan saat mereka libur sekolah, biar Mama dan Papa yang nganter mereka menyusul kita ke Kalimantan.'' jawab Fadil yang kemudian pergi untuk mengemasi barang yang akan dia bawa.
Meski masih merasa heran dan bingung, tanpa banyak protes, Tiara akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Fadil suaminya. Dia segera mengemasi barang-barang yang akan dibawanya untuk pergi ke Kalimantan.
Setelah dirasa cukup, mereka segera meluncur ke rumah Andika dan Sintya, setelah sebelumnya Fadil menghubungi mereka. Secara kebetulan, keduanya juga masih ada di rumah dan belum pergi ke kantor. Fadil lalu mengatakan maksudnya kepada Andika dan Sintya.
Meskipun Fadil tidak menjelaskan apa penyebab yang sebenarnya kepada Sintya dan Andika. Namun, mereka juga tidak melarang Fadil dan Tiara untuk pergi ke Kalimantan lebih awal. Fadil juga sempat meminta ijin kepada Sintya, agar Ulil bisa ikut menemani mereka pergi ke sana.
Usai meminta ijin dan menitipkan kedua anaknya kepada Sintya, Fadil segera mengajak Tiara untuk pergi ke bandara. Dia juga sempat menghubungi Ulil, lalu memintanya untuk menunggunya disana, serta memesankan tiket pesawat untuk mereka. Sesampainya mereka di bandara, mereka langsung disambut oleh Ulil dan merekapun segera naik pesawat menuju pulau Kalimantan.
__ADS_1
...****************...