Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Ujian


__ADS_3

Saat Helen berkata seperti itu, Raka melirik kearah Topan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Akan tetapi, tanpa disadari oleh Topan, Raka juga sesekali melihat kearahnya dan memperhatikan gerak-geriknya.


'' Waduh! Helen.. Helen. Kamu itu kok aneh ya? Udah tau kamu gak suka sama Rico, Tapi yang ada dalam pikiranmu, ya Rico Rico juga. Lama kelamaan, kamu juga bisa beneran suka sama dia lho!''


'' Ih, amit-amit jabang bayi deh! Kamu jangan ngaco gitu deh Ka. Masa iya aku suka sama Rico! Itu namanya lepas dari mulut buaya, malah masuk ke mulut harimau tau!'' sanggah Helen sambil bergidik.


'' Ya makanya! Daripada kamu mikirin Rico, mending kamu mikirin orang yang jauh lebih baik dari dia. Iya gak Pan?'' ujar Raka tiba-tiba bertanya kepada Topan, sambil tersenyum penuh arti.


Topan yang sedari tadi tampak sedang tidak fokus, ditambah lagi melihat ekspresi Raka yang seperti itu, dia jadi gelagapan dan salah tingkah. Sambil garuk-garuk kepala meskipun tidak gatal, diapun bertanya kepada Raka.


'' Hah! A, apa mas Raka? Maksudnya lebih baik bagaimana apanya?'' tanya Topan sedikit kebingungan dan gelagapan.


'' Tau tuh Raka! Kadang-kadang, dia emang begitu! Enggak tahu maksudnya apa, tiba tiba langsung ngomong seperti itu.'' celoteh Helen mengomentari ucapan Raka.


'' Ya udah.., kalau kalian gak paham apa yang aku maksud, biar waktu yang akan menjelaskannya.'' ujar Raka begitu saja.


Karena Raka tidak mau menjelaskan apa maksud dari perkataannya tadi, Topan dan Helen jadi saling pandang. Namun, mereka juga tidak meminta Raka untuk menjelaskan maksud dari kata-katanya tersebut.


'' Eh iya! Helen, Topan. Bisa aku minta tolong sama kalian sebentar gak?'' ujar Raka bertanya kepada keduanya.


'' Tolong apaan mas?'' tanya Topan balik.


'' Iya, mau minta tolong apaan sih Ka?'' ucap Helen, yang juga merasa penasaran.


'' Begini. Mumpung kalian lagi ada disini, aku mau minta tolong sama kalian berdua. Tolong tungguin kedaiku sebentar ya! Soalnya aku mau jemput Naya disekolah. Sepertinya, ini sudah waktunya dia pulang.'' ucap Raka lalu berdiri dari tempat duduknya.


'' Tapi mas Raka! Aku..!''


Melihat Raka yang hendak pergi, Topan tampak kebingungan. Topan yang memang tidak terbiasa dekat dengan perempuan, dia tidak ingin dirinya ditinggal berdua dengan Helen.


'' Cuma sebentar kok Pan! Nanti aku langsung balik lagi kesini. Lagian, kan ada Helen yang nemenin kamu disini.'' ujar Raka, sengaja memotong perkataan Topan yang tampak keberatan.


'' Jangan lama-lama lho Ka! Aku juga harus cepat balik ke rumah. Soalnya, tadi dari kampus aku langsung kesini.''


'' Iya.. Insyaallah akan aku usahakan secepatnya.'' jawab Raka, seraya berjalan menuju tempat dimana dia memarkirkan motornya.


Sepeninggal Raka yang pergi untuk menjemput Naya, Topan dan Helen yang masih berada di kedai milik Raka tersebut, mereka hanya saling diam. Bahkan Helen yang biasanya suka ceplas-ceplos kalau bicara kepada Raka, dia malah ikut jadi pendiam seperti Topan.


Hingga beberapa menit waktu berjalan, keduanya hanya diam tanpa ada obrolan sama sekali. Baik Topan maupun Helen, mereka seperti tidak memiliki bahan untuk dijadikan sebagai bahan pembicaraan. Sampai akhirnya, mereka dikejutkan oleh suara seseorang yang hendak membeli kue serabi.


'' Permisi mas, mbak! Ini yang jualannya mana ya? Saya mau beli.'' ujar seorang perempuan, sembari matanya mencari-cari dimana keberadaan Raka ataupun Naya.


'' Emm.. Orangnya lagi pergi menjemput adiknya Bu! Tapi kalau ibu mau beli kue serabi, saya bisa membuatkannya untuk ibu.'' sahut Helen dengan pedenya.


'' Oh.. Ya udah, saya pesan 10 bungkus ya mbak! Kalau bisa, tolong agak cepetan sedikit. Soalnya saya lagi buru-buru nih.'' pinta perempuan tersebut kepada Helen.


'' Baik Bu! Silahkan duduk dan tunggu sebentar disana ya! Saya akan siapkan pesanan ibu.''


'' Oh iya mas, eh Pan. Biar cepat, tolong bantuin aku siapin kotak kuenya dong! Sekalian sama kuahnya juga.'' ujar Helen tampak grogi, saat meminta Topan untuk membantunya menyiapkan kotak kue-kue tersebut.


Meskipun masih terasa agak canggung, Topan-pun akhirnya ikut membantu Helen menyiapkan apa yang tadi diminta olehnya. Dia lalu menyusun kotak-kotak kue itu, kemudian memasukkan satu persatu bungkusan kuah kedalamnya.


Setelah semua kotak-kotak itu telah terisi dengan kue dan juga kuahnya, Topan kemudian memasukkan kotak-kotak kue itu kedalam kantong plastik besar, lalu menyerahkannya kepada ibu-ibu yang tadi memesan kue tersebut. Sambil menyerahkan uang kepada Topan, ibu-ibu itu berkata:

__ADS_1


" Makasih ya mas, mbak! Saya doain, semoga kalian berdua nanti cepat menikah dan hidup bahagia.'' ujar perempuan tersebut, lalu tersenyum kepada Topan dan Helen.


Mendengar ucapan perempuan tersebut, Topan dan Helen jadi kaget. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu, sehingga dia berkata seperti itu kepada mereka berdua. Menanggapi perkataan perempuan itu, Topan dan Helen hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada perempuan itu.


Setelah perempuan itu pergi, Topan kembali ketempat duduknya semula. Begitu juga dengan Helen. Namun, keduanya jadi tersenyum geli, saat keduanya teringat akan ucapan perempuan tadi.


'' Hhh.. Ada-ada aja ibu tadi ya! Orang kita pacaran aja nggak, malah bisa bisanya dia bilang seperti itu sama kita.'' ujar Helen sembari terkekeh.


Mendengar Helen berkata seperti itu, Topan-pun ikut tersenyum. Namun, dia tidak ikut berkomentar apapun tentang apa yang dikatakan oleh perempuan tadi. Dia lalu mengambil undangan yang tadi diberikan oleh Helen, kemudian membukanya.


'' Eh Pan. Ngomong-ngomong, kamu nanti datang ke pesta ulang tahunnya Bella sama siapa?'' tanya Helen, ketika dia melihat Topan yang sedang membaca undangan dari Bella.


'' Emm.., nggak tahu ya! Emangnya kenapa?''


'' Ee.., gimana kalau.., kalau kita pergi ke sananya barengan aja?'' ucap Helen tampak ragu-ragu.


'' Oh iya. tapi nanti kamu jemput aku ya!'' lanjutnya dengan sedikit malu-malu.


Mendengar permintaan dan ajakan dari Helen, Topan tidak langsung memberi jawaban. Dia diam sejenak, seolah-olah sedang berpikir dan mempertimbangkan ajakan dari Helen tersebut.


'' Memangnya belum ada yang ngajakin kamu ya Hel? Bukannya apa-apa sih! Tapi takutnya, pas nanti aku jemput kamu, ternyata malah udah ada orang lain yang ngajakin kamu duluan.'' jawab Topan, sembari meletakkan undangan yang ada ditangannya.


'' Eh, enggak kok! Enggak ada yang akan jemput aku! Tapi itu juga kalau kamu-nya nggak keberatan. Kalau nggak! Ya.., gak papa!'' sahut Helen dengan nada suara yang kian merendah.


'' Emm.., baiklah! Insyaallah akan aku usahakan. Tapi nanti kirimi aku alamat rumahmu ya! Soalnya kan, aku nggak tahu dimana rumahmu.'' ujar Topan sembari tersenyum.


...----------------...


'' Assalamualaikum mas Raka! Gawat mas, gawat!'' sapa seseorang dari seberang telepon, tampak panik.


'' Wa'alaikumussalaam.. Ada apa Beh? Gawat apanya?'' sahut Raka jadi kebingungan mendengar ucapan pak Junaidi.


Pagi itu, Raka sedang bersiap untuk mengantarkan Naya pergi ke sekolah. Saat dia sedang memanasi mesin motornya, tiba-tiba ponselnya berdering. Tampak di layar ponsel tersebut, nama dari sang pemanggil yang ternyata adalah pak Junaidi. Akan tetapi, karena pak Junaidi langsung berkata seperti itu, Raka jadi merasa heran dan juga kebingungan.


Karena penasaran, Raka pun meminta pak Junaidi untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Setelah menenangkan diri sesaat, pak Junaidi kemudian menceritakan kepada Raka, akan sesuatu yang sedang dilihatnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Junaidi, Raka awalnya sangat terkejut. Andai kabar itu bukan didengarnya sendiri dari mulut pak Junaidi, mungkin Raka juga tidak akan bisa langsung mempercayainya.


'' Yang bener Beh? Kan kemarin sore masih ada. Masa sekarang sudah nggak ada lagi!'' ujar Raka dengan perasaan yang tidak karuan.


'' Iye mas Raka, beneran! Masa sih Babeh bo-ong. Kalo mas Raka kagak percaya, ni Babeh kirimin potonye! Atau kalo kagak, mas Raka dateng dan liat sendiri deh gimana keadaannye.'' ujar pak Junaidi mencoba meyakinkan.


Beberapa detik kemudian, sebuah Photo kiriman dari pak Junaidi terlihat di layar ponsel milik Raka. Photo yang menunjukkan, dimana kedai milik Raka telah rata dengan tanah, serta habis terbakar. Namun anehnya, beberapa kios maupun toko yang ada disebelah kedai tersebut, semuanya tampak masih utuh berdiri.


Melihat photo kiriman dari pak Junaidi tersebut, Raka menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak dan pikirannya juga terasa kacau. Bukan soal dia kehilangan tempat usahanya. Tapi saat ini, dia sedang membutuhkan banyak pemasukan. Baik untuk angsuran rumah yang barusan dia beli, maupun untuk keperluan lainnya sebagai syarat untuk mendapatkan restu dari keluarga Bella.


Selain itu, untuk sekarang ini tabungan miliknya juga sudah hampir habis. Tidak mungkin baginya, jika dia membangun kembali kedai miliknya tersebut dalam waktu dekat-dekat ini.


'' Ada apa kak? Kok kakak ngelamun gitu?'' tanya Naya saat melihat Raka yang sedang diam mematung.


'' Ada yang merusak kedai kita!'' jawab Raka menunjukkan photo itu kepada Naya.


'' Astaghfirullahal'adziim.. Ya Allah, siapa yang tega berbuat seperti itu kepada kita ya kak?'' seru Naya terkejut melihat photo yang ditunjukkan oleh Raka.

__ADS_1


Saking kagetnya, Naya sampai terperangah melihat photo tersebut. Dengan gugup, Naya lalu bertanya kepada Raka, apa yang hendak dilakukan atas kejadian ini. Raka sendiri hanya terdiam. Dalam benaknya, dia berpikir kalau kejadian ini, pasti ada kaitannya dengan Clayton ataupun para preman yang tempo hari pernah ribut dengannya.


'' Kalian belum berangkat?'' tanya ibu Sophia yang baru saja keluar, serta melihat Raka dan Naya masih berada disana.


'' Bu! Kedai kakak dibakar orang!'' ujar Naya memberitahu ibu Sophia.


'' Astaghfirullahal'adziim.., yang bener Ka! Kapan?'' tanya ibu Sophia terkejut.


'' Iya bu! Ini photonya.'' jawab Naya lalu menyodorkan photo yang ada pada ponsel milik Raka.


'' Ya Allah.., kok bisa begini ya. Siapa yang tega melakukan ini semua?'' ujar ibu Sophia tampak sedih.


'' Nay, ayo kita berangkat dulu. Masalah kedai, biar nanti kakak yang akan mengurusnya. Bu, kami berangkat ya! Assalamualaikum..''


'' Iya nak, tolong hati-hati dijalan. Kalau urusan kedai sudah selesai, kamu langsung pulang ya! Wa'alaikumsalaam..'' sahut ibu Sophia mengantar mereka sampai didepan pintu pagar rumah mereka.


...----------------...


'' Mas Raka yang sabar ya! Babeh ikut prihatin atas kejadian ini.'' sapa pak Junaidi, menyambut kedatangan Raka di lokasi kejadian itu.


'' Iya Beh, makasih.'' jawab Raka singkat.


Saat Raka datang untuk melihat bekas dan puing-puing bangunan kedai miliknya, disana telah ramai dengan banyak orang. Beberapa petugas pasar dan juga polisi, mereka juga datang untuk menyelidiki penyebab hancurnya kedai milik Raka.


Akan tetapi, ada hal yang cukup mengherankan dari kejadian tersebut. Selain hanya kedai milik Raka yang hancur dan terbakar, ternyata tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktu ataupun siapa yang melakukannya. Bahkan, beberapa pemilik toko yang ada disekitar kedai milik Raka tersebut, mereka juga tidak bisa memberikan keterangan yang jelas kepada pihak yang berwenang.


Mereka hanya mengatakan, kalau mereka juga baru mengetahui kejadian itu pagi ini. Oleh karena itu, pihak yang berwenang pun tidak bisa langsung mengambil tindakan atas kasus tersebut. Mereka hanya mengatakan kepada Raka, kalau mereka akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut, hingga ditemukan apa penyebab ataupun siapa yang melakukannya.


Usai memberikan informasi yang diperlukan untuk bahan penyelidikan, Raka kemudian pergi dari tempat itu. Diapun hendak kembali kerumahnya, setelah sebelumnya dia juga berpamitan kepada pak Junaidi yang masih berada disana.


'' Beh.., saya pulang dulu ya! Soalnya ibu tadi pesan, agar saya cepat kembali ke rumah.'' ujar Raka setelah beberapa saat mengobrol dengan pak Junaidi.


'' Iye mas Raka. Ati-ati dijalan dan salam buat ibunye mas Raka ye!'' sahut pak Junaidi mempersilahkan Raka yang hendak meninggalkan tempat tersebut.


Dalam perjalanan pulang, Raka terus berpikir. Mungkinkah semua ini ulah dari Clayton? Apa mungkin sekarang Clayton benar-benar melaksanakan ancaman yang pernah diucapkannya? Huff.., pikiran Raka mulai kacau. Beberapa masalah yang sekarang sedang menghampirinya, itu benar-benar membuatnya tidak bisa lagi untuk berpikir jernih.


'' Ya Allah.., ujian apa lagi yang hendak Kau berikan padaku ya Rabb? Berikan aku kesabaran dalam menghadapinya.'' bisik Raka membatin.


Sesampainya di rumah, Raka langsung masuk ke dalam. Ibu Sophia yang sejak tadi menunggunya, dia langsung menghampiri Raka dan bertanya kepadanya. Raka lalu menceritakan tentang kondisi dan situasi yang terjadi pada kedai miliknya di pasar sore.


'' Nak! Apa sudah diketahui siapa yang melakukannya?'' tanya ibu Sophia, sambil menyodorkan secangkir teh hangat untuk Raka.


'' Belum Bu. Tapi polisi sedang menyelidikinya.'' jawab Raka, kemudian mengambil dan meminum teh yang diberikan oleh ibunya tersebut.


'' Apa mungkin mereka lagi ya nak? Kok nggak ada habis-habisnya ya mereka mengganggu kita.'' ujar ibu Sophia, yang menduga kalau pelaku perusakan tersebut, adalah para preman yang pernah mengganggu mereka.


'' Entahlah Bu. Tapi bisa jadi itu memang ulah mereka. Mungkin mereka tidak puas, karena tempo hari Raka dan Topan pernah menyelamatkan Noni dari mereka.''


'' Oh iya. Terus bagaimana kabarnya Noni? Apa dia sekarang sudah baikan?'' tanya ibu Sophia yang teringat kepada Noni.


'' Alhamdulillah Bu. Kata Babeh Juned sih, Noni sudah sehat seperti semula. Tapi dia belum boleh pergi kemana mana. Soalnya, Babeh Juned masih khawatir, kalau para preman itu akan mengganggunya lagi.''


...****************...

__ADS_1


__ADS_2