Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Menemukan Raihan


__ADS_3

'' Ummi.., Ummi.., tolong Raihan Ummi. Raihan takut!''


'' Nak! Ibu disini, ibu disini! Kamu jangan takut nak! Ibu ada disini menjagamu.'' ucap ibu Sophia menyahuti perkataan Raka yang sedang mengigau.


Sudah dua hari Raka dalam keadaan koma. Dalam komanya, Raka terus mengigau menyebut dan memanggil nama seseorang. Entah apa sebenarnya yang sedang dialami oleh Raka dibawah alam sadarnya, sehingga dia terus mengigau seperti itu.


'' Dokter! Apa yang sebenarnya terjadi dengan anakku Dok? Kenapa anakku masih belum bangun juga? Tidak bisakah dokter membantunya agar dia cepat bangun?'' tanya ibu Sophia begitu cemas dan sedih, karena melihat kondisi Raka yang seperti itu.


'' Maaf ibu! Saat ini anak ibu sedang dalam keadaan koma. Dan sepertinya, didalam alam bawah sadarnya, dia seperti sedang kembali ke masa lalunya. Saya sendiri tidak tahu seperti apa masa lalunya itu.'' ujar dokter yang baru saja memeriksa Raka.


'' Menurut perkiraan saya, selain karena trauma akibat luka-luka yang diderita oleh anak ibu, ada kemungkinan, kalau anak ibu saat ini sedang mengalami tekanan batin yang cukup berat.'' jelas dokter tersebut memberikan kesimpulan.


'' Terus, apa anakku tidak bisa dibantu agar dia bisa cepat sadar dari komanya Dok?'' tanya ibu Sophia, berharap ada alat ataupun obat agar Raka cepat sadar dari kondisi komanya.


'' Maaf ibu! Kemampuan kami baru bisa sebatas membantu memulihkan anak ibu secara fisik. Tapi kalau untuk hal yang semacam ini, terus terang, kita hanya bisa berdoa dan berharap, agar anak ibu ini memiliki tekad dan keinginan untuk bisa sadar dari komanya.''


'' Dengan kata lain, anak ibu sendirilah yang sebenarnya lebih menentukan, apakah dia bisa segera sadar atau tidaknya. Tapi ibu jangan terlalu khawatir. Sebab, saya juga pernah mendengar, kalau ada cara lain yang bisa membantu mempercepat kesadaran dari orang yang sedang koma seperti anak ibu ini.''


'' Apa itu Dok?'' tanya ibu Sophia penasaran.


'' Jadi begini Bu. Cara ini semacam terapi untuk orang yang kehilangan ingatan. Kita bisa mencoba memperdengarkan kepada anak ibu, suara orang yang paling dia sukai atau dia rindukan. Atau, kita bisa melakukan hal-hal lain, yang bisa memicu semangatnya agar dia cepat kembali sadar.'' jelas dokter tersebut memberikan sedikit solusi kepada ibu Sophia.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, ibu Sophia lantas teringat sesuatu. Dia kemudian mengeluarkan sebuah kalung berbentuk hati yang terbuat dari kayu gaharu yang begitu wangi. Pada kalung tersebut, terukir indah huruf '' R '' dan juga tanggal lahir disebaliknya. Topan yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut, dia jadi terkejut saat melihat kalung yang sedang dipegang oleh ibu Sophia.


'' Dokter, bolehkah kalau kalung ini dipakaikan kepadanya. Siapa tahu, ini bisa membantu anakku supaya dia cepat sadar dari komanya.'' ujar ibu Sophia meminta persetujuan dari dokter.


Sejak kalung tersebut dikeluarkan oleh ibu Sophia, tiba-tiba seluruh ruangan tersebut menjadi begitu harum dan wangi. Tercium aroma kayu gaharu yang begitu khas, yang membuat semua orang yang berada didalam ruangan tersebut merasa rileks karenanya. Entah kenapa bisa seperti itu. Namun yang jelas, rupanya kayu gaharu yang dibuat kalung tersebut, ternyata merupakan kayu gaharu terbaik yang pernah ada di seluruh antero dunia.


Setelah mendapat persetujuan dari dokter, dengan hati-hati, ibu Sophia memakaikan kalung tersebut pada leher Raka. Sebuah keajaiban pun terjadi. Tubuh Raka yang tadinya masih terlihat sedikit pucat, secara berangsur-angsur, wajahnya mulai berubah dan tampak lebih cerah.


Semua orang yang ada di ruangan itupun jadi tercengang melihat kejadian tersebut. Bahkan, dokter dan asistennya yang tadi memeriksa kondisi tubuh Raka, mereka jadi merasa heran dengan kejadian tersebut.


'' Bu, maaf! Boleh saya bicara sebentar dengan ibu?'' bisik Topan kepada ibu Sophia, dan tampak seperti orang yang sedang penasaran.


Ibu Sophia mengangguk. Dia kemudian keluar bersama Naya, lalu mengikuti Topan yang lebih dulu keluar dari ruangan tersebut. Pasca melihat adanya perubahan yang cukup signifikan itu, dokter dan asistennya kembali memeriksa kondisi tubuh Raka.


Setelah keluar dari ruangan tersebut, Topan lalu mengajak ibu Sophia dan Naya pergi ke taman yang ada diruang belakang rumahnya. Disana, Topan yang merasa penasaran dan ingin menanyakan sesuatu kepada ibu Sophia, dia lalu meminta mereka untuk duduk di kursi yang ada di tempat tersebut.


'' Bu, maaf sebelumnya. Bisakah ibu mengatakan kepada saya, siapa sebenarnya mas Raka? Apakah mas Raka itu benar anak kandung ibu ataukah bukan?'' tanya Topan tanpa basa-basi.


Mendengar pertanyaan dari Topan, ibu Sophia jadi terkejut. Sejenak, ibu Sophia jadi terdiam dan hanya memandangi Topan dengan penuh tanda tanya didalam hatinya.

__ADS_1


'' Maaf ya nak! Apa sebenarnya maksud dari pertanyaanmu itu? Sejak kecil, Raka memang anak ibu. Ibulah yang merawatnya hingga dia sebesar ini. Terus, kenapa nak Topan tiba-tiba bertanya seperti itu! Apa menurut nak Topan, ibu tidak pantas jadi ibunya Raka? ujar ibu Sophia yang tampak kurang senang, saat Topan bertanya seperti itu kepadanya.


'' Maaf Bu, maaf.. banget! Tolong ibu jangan tersinggung dengan pertanyaan saya tadi. Sejujurnya, saya tidak mempunyai maksud apapun, selain karena saya merasa penasaran dengan siapa sebenarnya mas Raka.''


'' Perlu ibu ketahui. Lebih dari delapan belas tahun yang lalu, keluarga paman saya kehilangan seorang putra pertamanya. Sampai hari ini, mereka juga masih terus berharap, semoga suatu hari nanti, mereka akan bertemu dengan putranya yang hilang tersebut.''


'' Selama beberapa tahun ini, saya juga sedang mencari tahu, dimana keberadaan saudara sepupu saya itu.'' ujar Topan yang mulai menjelaskan maksud dari pertanyaannya tersebut.


'' Terus, apa hubungannya Raka dengan saudara sepupu kamu yang hilang itu?'' tanya ibu Sophia sambil mengernyitkan dahinya.


'' Maaf ya bu! Kalau tidak salah, kemarin ibu sendiri yang bilang. Bahwa ibu menemukan dan merawat mas Raka saat dia masih kecil. Terus, apa ibu tidak tahu? Kalau kalung yang ibu pakaikan dileher mas Raka itu, begitu mirip dengan kalung yang ada difoto ini?"


Sembari berkata seperti itu, Topan lalu menunjukkan sebuah photo dari ponsel miliknya. Dimana pada photo tersebut, tampak seorang anak kecil yang memakai kalung, yang juga sama persis dengan kalung yang dipakaikan oleh ibu Sophia kepada Raka.


" Bu! Tolong katakan terus terang! Benarkah mas Raka itu anak kandung ibu? Atau sebenarnya, dia hanyalah anak angkat ibu!" kembali Topan menanyakan status hubungan antara ibu Sophia dan Raka.


Mendengar penuturan Topan, ibu Sophia kembali terdiam. Dia ingin menyangkal kalau sebenarnya Raka bukanlah anak kandungnya. Akan tetapi, dia juga teringat akan pesan almarhum kakeknya yang mengatakan, jika suatu hari nanti Raka bertemu dengan keluarganya, dia tidak boleh menyembunyikan hal itu dari mereka.


Se-sayang apapun ibu Sophia kepada Raka, namun dia memang tidak berhak untuk menjauhkan Raka dari keluarganya. Maka dari itu, meskipun ibu Sophia merasa sangat khawatir Raka akan menjauh darinya, dia akhirnya mengatakan yang sebenarnya kepada Topan.


" Maaf ya nak! Sebenarnya, Raka memang bukanlah anak kandung ibu. Tapi, sejak Ibu menemukan dan merawatnya saat dia masih kecil, ibu sudah menganggap Raka sebagai anak ibu sendiri. Meskipun Raka bukanlah darah daging ibu, tapi bagi ibu, dia begitu sangat berarti.''


Mendengar jawaban terus terang dari ibu Sophia, Topan pun akhirnya merasa lega. Sekarang dia benar-benar yakin, kalau sebenarnya Raka adalah saudara sepupunya yang telah lama menghilang.


" Bu! Saya tahu ibu sangat menyayangi mas Raka. Tapi ibu juga harus tahu, kalau selama ini kedua orang tua mas Raka juga sangat merindukannya.''


'' Untuk itu, tolong ijinkan saya untuk memberitahu mereka, bahwa putra mereka yang selama ini mereka cari, kini telah saya temukan.'' ujar Topan lalu bersiap untuk menghubungi seseorang melalui panggilan telepon.


Meskipun Topan telah merasa yakin kalau Raka adalah saudara sepupunya yang selama ini dia cari, namun dia tidak ingin melupakan apa yang telah dilakukan oleh ibu Sophia. Sebelum dia menyampaikan kabar itu kepada keluarganya, dia tetap meminta ijin kepada ibu Sophia, agar ibu Sophia tidak merasa terkucilkan nantinya.


Walau dengan sedikit berat hati, ibu Sophia akhirnya menyetujui apa yang akan dilakukan oleh Topan. Bagaimanapun juga, Raka memang berhak untuk bertemu dengan keluarganya. Apalagi, sekarang Raka juga sedang dalam kondisi seperti itu. Tentunya, Raka butuh support agar dia bisa segera pulih dari komanya.


'' Nak Topan. Jika nanti Raka bertemu dan kembali dengan keluarganya, apakah ibu masih bisa menemuinya? Apakah ibu masih boleh menganggap Raka sebagai anak ibu?'' ujar ibu Sophia yang merasa khawatir, jika nanti keluarga Raka tidak memperbolehkan dia menemui Raka dikemudian hari.


'' Bu.., ibu jangan khawatir. Keluarga mas Raka adalah orang yang baik. Tentu mereka tidak mungkin melarang ibu untuk menemui mas Raka kapanpun jika ibu mau. Apalagi, ibu juga sudah merawat dan menjaga mas Raka dengan baik selama ini.'' jawab Topan mencoba membesarkan hati ibu Sophia.


'' Percayalah bu! Meskipun mas Raka nantinya akan kembali kepada keluarganya, saya yakin! Itu tidak akan mempengaruhi hubungan ibu dengan mas Raka. Bahkan dengan Naya sekalipun. Kalian masih akan tetap menjadi bagian dari keluarganya mas Raka.''


Mendengar ucapan Topan, rasa khawatir yang ada di hati ibu Sophia sedikit berkurang. Walaupun dia sendiri belum tahu bagaimana sikap keluarga Raka kepadanya, atau bahkan sikap Raka sendiri nantinya, namun, apa yang dikatakan oleh Topan tersebut, masih bisa membuatnya sedikit merasa tenang.


'' Baiklah nak Topan! Kalau memang seperti itu, silahkan nak Topan memberitahu keluarga Raka. Siapa tahu, dengan kehadiran keluarganya disini, itu bisa membuat Raka cepat sadar dari komanya.'' ucap ibu Sophia dengan yakin.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Topan pun langsung membuat sebuah panggilan. Dia segera menghubungi ayahnya, yang sekaligus merupakan kerabat dari kedua orang tua Raka. Beberapa saat kemudian, panggilan itupun terhubung.


'' Halo! Assalamualaikum yah, ini Topan.'' sapanya mengawali percakapan dengan Ulil ayahnya.


'' Wa'alaikumsalaam.. Pan.., baru aja ayah mau telepon kamu! Eeh.. malah kamu yang duluan telepon. Gimana? Kamu udah kangen sama kami kan?'' sahut suara diseberang telepon, tampak sedikit bergurau.


Seperti biasanya. Setiap kali Topan menghubunginya, Ulil yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya tersebut, dia akan menanyakan hal yang sama kepada Topan. Dia lalu akan berceloteh, sehingga Topan sedikit merasa kesal dengan celotehan ayahnya tersebut.


'' Yah.., udah deh..! Topan kan bukan anak kecil lagi. Masa tiap kali telepon, ayah selalu nanyain itu-itu terus. Ya makan belumlah, ya mandi belumlah, udah kayak mami aja. Bawel banget!'' ucap Topan setelah beberapa saat menunggu ayahnya berhenti berceloteh.


'' Iya iya..! Ayah tau kok kamu udah gede. Ini juga atas permintaan mami kamu lho! Kamu tau sendiri kan bagaimana mami kamu itu? kalau gak diturutin, nanti ayah yang kena omel sama dia.''


'' Eh iya Pan. Ayah ada surprise lho buat kamu. Kamu mau tahu nggak apa surprise-nya?'' ucap Ulil tiba-tiba.


'' Surprise? Apaan tuh Yah? Bukannya ulang tahun Topan masih lama! Kok mau kasih surprise segala?'' tanya Topan penasaran, dan dia jadi lupa kalau dia ingin memberitahukan hal yang penting kepada ayahnya.


'' Sst.., tapi kamu jangan bilang bilang sama yang lain ya! Soalnya, ini tuh sebenernya masih rahasia.''


'' Ayah juga sebenarnya nggak boleh ngasih tau sama siapapun termasuk kepadamu. Tapi.., berhubung kamu itu anak ayah, makanya kamu ayah kasih tau.''


'' Emang apaan sih Yah..? Kok main rahasia-rahasian segala. Bikin Topan penasaran aja.'' ujar Topan makin penasaran.


'' Tuh..kan! Akhirnya kamu jadi penasaran kan? He..'' jawab Ulil tampak senang karena bisa membuat Topan bertanya tanya.


'' Mmm.., ayah mau ngerjain Topan ya? Kalau begitu, Topan juga punya surprise buat ayah dan juga paman besar.'' balas Topan mencoba untuk memancing rasa penasaran ayahnya.


'' Hhh.., kamu mau balas ngerjain ayah ya? Mana bisa.. Ayah ini lebih tua dari kamu lho! Dan tentunya, ayah lebih senior daripada kamu Pan. Hhh..''


'' Eh Ayah. Beneran kok! Topan ada kabar penting buat ayah dan paman besar. Topan gak bohong kok!'' sahut Topan.


'' Kabar penting buat ayah dan pamanmu? Ah yang bener Pan! Kamu gak lagi bercanda kan?'' tanya Ulil mulai serius mendengar perkataan anaknya tersebut.


'' Iya Yah! Ini soal kak Raihan. Topan udah ketemu sama dia. Tapi..''


'' Serius kamu Pan? Beneran kamu udah menemukan Raihan? Alhamdulillah.., tapi, tapi apanya? Kenapa pake tapi segala?''


Mendengar kabar kalau Topan telah menemukan Raihan, anak dari sahabat karib yang sekaligus kini menjadi saudaranya itu, Ulil jadi merasa sangat gembira. Namun, dia jadi tidak tenang saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Topan.


'' Yah.., mungkin sebaiknya ayah meminta paman besar dan bibi secepatnya datang kemari. Ini sangat penting untuk kak Raihan Yah. Tapi tolong jangan bilang ke paman dan bibi, tentang keadaan kak Raihan Yah. Topan nggak mau mereka jadi cemas karenanya.''


...****************...

__ADS_1


__ADS_2