Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Dirawat Di Rumah Sakit


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Raka dan ibunya pergi ke kampung untuk berziarah ke makam kakeknya disana. Lebih kurang selama dua jam perjalanan, Raka mengendarai motor matic miliknya bersama dengan ibunya. Sesampainya mereka disana, Raka dan ibunya langsung menuju rumah lama mereka diujung kampung.


Sekarang, rumah yang dulu mereka tinggali itu, kini ditempati oleh sepasang suami istri yang merantau ke daerah tersebut, bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil, Karena Raka dan ibunya tidak lagi tinggal disana, ibu Sophia mengijinkan sepasang suami istri itu untuk tinggal disana tanpa harus menyewa. Ibu Sophia hanya meminta kepada mereka, agar mereka merawat rumah tersebut.


Setelah beristirahat sebentar dirumah itu, Raka dan ibunya langsung menuju pemakaman umum dimana kakeknya dikebumikan. Meskipun akhir-akhir ini mereka jarang datang berziarah ke makam tersebut, namun kondisi makam milik kakek Raka itu terlihat rapi dan bersih. Itu dikarenakan sepasang suami istri yang menunggui rumah mereka, juga ikut merawat makam tersebut.


Usai membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan berkirim doa untuk kakeknya, Raka dan ibu Sophia kemudian kembali menuju rumah lamanya untuk berpamitan kepada sepasang suami istri itu. Setelah itu, mereka langsung pulang kembali kerumah kontrakannya didekat calon ibukota baru.


Saat kembali pulang kerumah kontrakannya itu, ditengah perjalanan, mereka dicegat oleh sekelompok orang. Sepertinya mereka adalah sekelompok preman yang merupakan teman-teman Gareng. Rupanya, beberapa hari ini Gareng selalu mengawasi gerak-gerik Raka, dan sudah merencanakan untuk membalas dendam atas kejadian waktu itu di pasar sore.


'' Berhenti! Cepat turun!'' bentak salah satu dari para preman tersebut dengan begitu garangnya.


Karena jalannya dihalang-halangi oleh para preman tersebut, Raka dan ibu Sophia segera turun. Namun, baru saja mereka turun dari motor tersebut, para preman itu langsung menangkap Raka dan ibunya. Raka ingin melawan. Namun, karena mereka mengancam akan membunuh ibunya dengan pisau yang sudah berada dileher ibu Sophia, dengan terpaksa, Raka hanya bisa diam dan mengikuti kemauan para preman tersebut.


Para preman tersebut lantas membawa Raka dan ibunya menjauh dari jalan. Di balik semak-semak perkebunan sawit milik sebuah perusahaan, Raka dan ibunya diikat dan dipukuli.


'' Hhh.. Hey bocah ingusan! Inilah akibatnya jika kamu berani ikut campur urusan kami!'' ujar Gareng sambil menjambak rambut Raka.


'' Dan perlu kamu ketahui, ini baru awalnya. Setelah ini, masih ada kejutan buat kamu dan juga laki-laki brengsek dan anak gadisnya yang sok jagoan itu. Hhh..'' Lanjutnya, lalu kembali memukuli Raka yang terikat dibawah pohon sawit.


'' Hey pengecut! Kalau kamu memang laki-laki, lepaskan ikatan ini! Kita bertarung secara jantan. Jangan beraninya seperti ini dan bisanya cuma mengganggu seorang perempuan!'' teriak Raka dengan marah, saat melihat salah satu dari preman tersebut mencoba mengganggu ibunya.


'' Hhh.. Banyak bacot lu! Kemarin saja, kalau bukan karena bantuan laki-laki licik dan gadis itu, kamu sudah pasti terkapar ditanah. Sekarang, kamu mau bertarung melawan kami, hhh.. Ngimpi kamu! Dasar bocah ingusan!'' sahut Gareng terbahak-bahak mendengar ucapan Raka.


'' Hey preman-preman banci! Jangan ganggu ibuku! Siapapun yang berani menyentuh ibuku, aku akan pastikan, besok kalian semua tidak akan lagi bisa melihat matahari terbit!'' teriak Raka semakin keras dan geram.


'' Oh... Jadi wanita itu ibumu ya! Hmm.. Sepertinya lumayan juga. Hhh..'' ucap Gareng, kemudian mendekati ibu Sophia.


'' Bajingan... Lepaskan aku! Jangan ganggu ibuku..!''


Melihat Gareng dan para preman yang lainnya mulai mendekati ibunya, Raka dengan penuh amarah berteriak dengan sekeras-kerasnya. Suaranya terdengar begitu menggelar. Gareng dan teman-temannya sempat terkejut dengan teriakan Raka tersebut dan terdiam sejenak.


Sementara itu, ibu Sophia yang terikat dan mulutnya disumbat dengan kain, dia mencoba untuk berontak sebisa mungkin. Sejak melihat Raka dipukuli oleh para preman tadi, dia ingin memohon agar para preman tersebut berhenti memukuli Raka. Namun, dia tidak berdaya sama sekali. Bahkan, sekarang dia dalam posisi yang lebih berbahaya.


Dengan air mata yang terus bercucuran, ibu Sophia hanya bisa berdoa dalam hati. Agar Tuhan memberikan pertolongan kepadanya dan juga Raka. Dalam hati, dia juga berteriak memanggil almarhum ayahnya.


Tepat pada saat kritis tersebut. Seiring dengan teriakan Raka yang begitu menggema. Tiba-tiba, angin bertiup begitu kencang. Gareng dan para preman lainnya, mereka jadi sedikit panik dengan keadaan tersebut. Dan yang membuat mereka jauh lebih terkejut lagi. Tiba tiba, entah darimana datangnya, muncul dua ekor harimau yang cukup besar dan mengaum begitu keras di depan mereka.


Gareng dan para preman lainnya jadi semakin panik, saat kedua harimau itu mulai mendekati mereka. Gareng dan teman-temannya segera mengeluarkan pistol dari balik baju mereka, dan bersiap menembak kedua harimau tersebut. Namun, belum sempat mereka menarik pelatuk pistol tersebut, kedua harimau itu dengan cepat telah melompat menyerang mereka.


'' Aaaak...'' teriak beberapa orang diantara mereka, akibat terkena cakaran dan gigitan kedua harimau tersebut. Gareng yang melihat rekan rekannya mulai bergelimpangan kesakitan, dia jadi ketakutan. Meskipun ditangannya dia masih menggenggam pistol, namun karena gerakan kedua harimau itu begitu cepat dan ditambah lagi dengan kencangnya angin yang bertiup ditempat itu, membuat dia dan yang lainnya tidak bisa membidik kedua harimau tersebut.

__ADS_1


'' Haumm... Dor..Dor.., Aaaak!'' teriak Gareng penuh kesakitan.


Dia terkejut. Tiba tiba, salah satu dari harimau itu sudah melompat kearahnya, kemudian mengigit tangannya yang sedang menggenggam pistol itu. Reflek, dia menembakkan pistol itu. Namun, dengan tanpa arah yang jelas sama sekali.


Tanpa ampun, dengan begitu ganasnya harimau tersebut menggigit lengan dan melemparkan tubuh Gareng. Hal itu terjadi hingga beberapa kali. Sehingga, hanya rintihan yang cukup memilukan terdengar dari mulut Gareng dan yang lainnya, akibat luka luka berupa cakaran dan gigitan harimau tersebut.


Saat kedua harimau itu tengah sibuk mempermainkan Gareng dan salah satu rekannya, beberapa preman yang masih bisa bergerak, mereka segera melarikan diri. Melihat orang-orang itu sudah tidak lagi berdaya, kedua harimau itu kemudian menghentikan aksinya. Keduanya lalu meraung dengan keras, kemudian pergi dari tempat tersebut.


Raka dan ibunya hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari tempat dimana mereka diikat. Baik Raka maupun ibu Sophia, mereka sebenarnya merasa khawatir, kalau-kalau kedua harimau itu akan menyerang mereka juga. Namun, setelah kedua harimau itu pergi dan menghilangkan entah kemana, Raka dan ibunya kini dapat bernapas dengan lega.


Entah suatu kebetulan ataupun apa, namun yang jelas, kedua harimau itu memang telah menyelamatkan mereka dari Gareng dan teman-temannya. Terutama ibu Sophia yang tadi hendak diganggu oleh para preman tersebut. Mungkin, itulah jawaban dari Tuhan atas doa-doa ibu Sophia yang sedari tadi dia panjatkan dalam hati.


Sementara itu, ditepi jalan dimana motor Raka berada. Sebuah mobil pickup berhenti saat melihat motor milik Raka yang tergeletak disana. Pengemudinya segera turun, karena merasa mengenali sepeda motor tersebut. Dia segera membangunkan motor yang sejak tadi roboh tersebut.


Setelah membenahi posisi motor itu, lelaki tersebut menengok kesana-kemari mencari keberadaan si pemilik motor tersebut. Dia lalu berteriak memanggil-manggil Raka.


'' Mas Raka, mas Raka, kamu dimana? panggil lelaki itu, sembari terus mencari keberadaan Raka disekitar tempat tersebut.


Karena tidak mendengar jawaban dari orang yang dipanggilnya, lelaki itu kemudian beranjak menelusuri bekas tapak kaki, dimana tadi para preman itu membawa Raka dan ibunya.


'' Hemm.. Ada yang kagak beres nih!'' ujarnya membatin.


Rupanya, lelaki tersebut tiada lain dan tiada bukan adalah pak Junaidi, yang secara kebetulan sedang dalam perjalanan pulang, setelah kembali dari mengantarkan pesanan ke beberapa pelanggannya. Setelah beberapa saat melakukan pencarian, akhirnya pak Junaidi menemukan keberadaan Raka.


'' Ibu nggak apa-apakan bu?'' tanya Raka kepada ibu Sophia.


'' Ibu tidak apa-apa nak. Kamu sendiri bagaimana?'' tanya ibu Shopia sambil membelai lembut wajah Raka yang dipenuhi dengan luka lebam, dan bahkan masih ada darah mengalir dari pelipisnya.


'' Aku tidak apa-apa bu! Ini cuma luka kecil.'' ujar Raka yang melihat ibunya meneteskan air mata, karena melihat keadaan Raka.


'' Mas Raka, siape nyang nglakuin ini mas, Ape para preman ntu lagi? ujar pak Junaidi mengulangi pertanyaannya yang tadi belum sempat dijawab oleh Raka.


'' Iya Beh! Memang merekalah yang melakukan ini semua. Tapi, sepertinya mereka punya komplotan yang lebih besar Beh.''


'' Sebaiknya, Babeh dan putri Babeh harus hati-hati. Saya dengar, mereka juga telah merencanakan sesuatu kepada Babeh dan putri Babeh.'' ujar Raka mengingatkan pak Junaidi.


'' Kurang asem! Rupanye, mereka masih belon kapok juga dengan kejadian kemaren.''


'' Aye harus ngingetin Baedah kalo gitu. Anak itu, selaen suka gegabah, die juga suka ngeluyur sendirian.'' sahut pak Junaidi.


'' Iya Beh. Meskipun putri Babeh pandai beladiri, tapi kalau dikeroyok oleh gerombolan preman itu, saya khawatir dia akan kewalahan. Apalagi, para preman itu juga sangat licik. Ini bisa sangat membahayakan keselamatan putri Babeh.''

__ADS_1


'' Iye mas Raka. Aye juga kuwatirnye begitu. Sebaiknye, aye cepet cepet ngasih tau Baedah biar die kagak sering keluar sendirian.''


'' Oh iye mas, kite juga sebaiknye cepetan pergi dari sini. Soalnye, disini terlalu sepi dan perjalanan balik juga masih cukup jauh.'' ujar pak Junaidi, mengajak Raka dan ibunya untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah itu, merekapun segera bangkit dan hendak pergi dari tempat tersebut. Namun, saat Raka hendak bangun dan pergi, tubuhnya tiba-tiba gontai dan merasakan begitu sakit. Rupanya, Gareng dan teman-temannya tersebut, memukuli Raka dengan cukup parah.


'' Mas Raka!'' ucap pak Junaidi dan ibu Sophia hampir bersamaan.


Melihat Raka seperti itu, pak Junaidi segera menangkap tubuh Raka. Dengan dipapah oleh pak Junaidi, Rakapun segera pergi darisana diikuti oleh ibunya. Sesampainya mereka ditepi jalan dimana kendaraan mereka berada, pak Junaidi segera menyuruh Raka dan ibunya untuk masuk kedalam mobilnya.


'' Mas Raka dan ibu! Sebaiknya kalian ikut mobil saya aja. Sepertinya, kondisi mas Raka ini kurang memungkinkan untuk membawa kendaraan sendiri. Biar motornya nanti kita naikkan di bak mobil saja.'' ujar pak Junaidi sembari membukakan pintu mobilnya.


'' Iya Beh. Tapi bagaimana kita bisa menaikkan motor itu. Saya sendiri rasanya tidak kuat untuk membantu mengangkat motor itu keatas bak mobil.'' sahut Raka.


'' Udah kagak usah dipikirin. Sekarang, mas Raka sama ibu naik aje dulu. Biar nanti Babeh cari bantuan buat naikin motornye mas Raka.'' ucap pak Junaidi.


Baru saja pak Junaidi berkata seperti itu, secara kebetulan, sebuah motor yang ditumpangi oleh dua orang laki-laki hendak melewati mereka. Pak Junaidi kemudian menghentikan kendaraan tersebut, lalu meminta tolong kepada mereka untuk membantu menaikkan motor milik Raka.


Setelah menaikkan dan mengikat motor milik Raka, pak Junaidi-pun segera membawa mobilnya kembali ke kota. Dalam perjalanan pulang itu, pak Junaidi mengusulkan, agar Raka dan ibunya pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Namun Raka menolak. Akan tetapi, pak Junaidi tetap membawa mereka ke sana karena melihat kondisi Raka yang seperti itu.


'' Mas Raka! Baeknye, mas Raka istirahat dulu beberapa hari disini, ampe kondisi mas Raka kembali baikan kayak semula. Biar nanti motor dan ibunya mas Raka, Babeh nyang anterin balik ke rumah.''


'' Ibu juga kagak perlu khawatir soal mas Raka. Ibu istirahat aje dirumah. Biar nanti Aye dan Baedah nyang nungguin mas Raka disini.'' saran pak Junaidi kepada Raka dan ibu Sophia, setelah mereka sampai di rumah sakit dan mendapatkan perawatan dari dokter.


'' Maaf Beh! Saya sudah banyak merepotkan Babeh. Saya dan ibu saya juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan Babeh kepada kami.'' ujar Raka yang terbaring diatas kasur rumah sakit itu.


'' Tapi Beh! Kalau boleh saya minta tolong sekali lagi, tolong sampaikan sama dokter, biar saya bisa diijinkan istirahatnya dirumah aja. Rasanya, saya kurang nyaman disini.'' lanjut Raka yang tidak ingin dirinya terus berada di rumah sakit itu.


'' Mas! Mas Raka tadi tau ndirikan ape kata dokter? Mas Raka belon boleh pulang sekarang. Setidaknye, mas Raka baru bisa balik ke rumah besok pagi.''


'' Udah... Mas Raka istirahat aje disini. Soal biaya, mas Raka kagak usah mikirin. Biar biayanye Babeh nyang tanggung.'' ucap pak Junaidi yang mengira kalau Raka mengkhawatirkan masalah biaya perawatan dirinya selama di rumah sakit tersebut.


'' Maaf Beh! Saya bukannya mempermasalahkan soal biaya perawatan saya selama disini. Tapi, saya memang nggak betah kalau lama-lama berada disini.'' sahut Raka menjelaskan.


Pak Junaidi tidak bisa lagi memberikan alasan kepada Raka. Dia lalu menoleh kearah ibu Sophia, dan meminta agar ibu Sophia menasehati Raka, supaya Raka tetap menuruti saran dari dokter dan beristirahat dirumah sakit tersebut. Ibu Sophia yang juga berfikir, kalau sebaiknya Raka mendapatkan perawatan dari dokter dan beristirahat disini, dia lalu menghampiri Raka dan berkata:


'' Raka... Sepertinya, memang sebaiknya kamu istirahat dulu disini. Nanti biar ibu yang temenin kamu disini. Tapi ibu mau pulang dulu untuk ambil pakaian dan keperluan lainnya.'' ucap ibu Sophia, sambil memegang lengan Raka.


'' Tapi bu, Sekarang Raka merasa udah baikan kok. Raka hanya perlu istirahat dan tidur dirumah. Besok, Raka pasti sudah sehat lagi.'' sahut Raka masih menolak untuk beristirahat dirumah sakit tersebut.


Setelah berkali-kali dibujuk oleh ibunya dan juga pak Junaidi, Rakapun akhirnya mau mengikuti saran mereka. Diapun bersedia untuk beristirahat dirumah sakit tersebut, setidaknya sampai besok pagi. Tak lama kemudian, pak Junaidi pergi mengantarkan pulang ibu sopia dan juga menurunkan sepeda motor milik Raka di rumahnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2