Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Jatuh Dari Langit


__ADS_3

'' Terus, Ini enaknya gimana ya bos? Apa kita suruh si jabrik dan si Oneng buat balikin bocah ini aja. Tapi kalau gitu, rugi dong kita.'' ucap Sudi yang kini mulai paham bagaimana situasinya.


'' Gak tau gue! Dibalikin atau kagak, ujung-ujungnya kita bakalan kena juga. Polisi pasti bakal ngusut kasus ini sampai ke akar-akarnya.'' sahut Windi benar-benar merasa bingung dan ketakutan.


Meski Windi sudah cukup berpengalaman dalam hal penculikan dan penjualan anak, tapi kali ini, dia tidak berani menganggap enteng keluarga dari anak tersebut. Dia sudah bisa membayangkan, kalau keluarga Arya Wijaya yang terkenal itu, pasti akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menemukan dan mengusut masalah penculikan salah satu dari keluarganya tersebut.


Kalau sudah seperti itu, bersembunyi di lobang semutpun rasanya juga percuma. Windi yang pernah mendengar kalau kekuatan keluarga ini mencakup berbagai sisi, dia kini telah benar-benar syok. Sebagai contohnya. Belum sampai satu jam, polisi dan media langsung memberitakan masalah tersebut. Padahal, biasanya berita kehilangan itu baru akan resmi diumumkan, bila waktunya sudah mencapai minimal 24 jam.


'' Harusnya, elu kagak sembrono kalau bawa orang Sud. Sekarang, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu nasib, saat polisi menangkap dan menjebloskan kita kedalam penjara.'' ucap Windi dengan penuh keputusasaan.


'' Tapi bos. Bukannya masih ada kesempatan buat kita pergi dari sini. Lagipula, belum ada yang tahu kalau bocah itu ada sama kita.''


'' Sudi.. Sudi! Elu kagak tau apa bagaimana kekuatan keluarga Arya Wijaya? Belum lagi, ayah dari bocah itu juga bukan orang biasa. Gue pernah denger, tuan Fadil itu memiliki kemampuan diluar nalar manusia.''


'' Berapa banyak contoh orang-orang yang pernah bermasalah dengannya, langsung bertekuk lutut tanpa menunggu waktu yang lama. Bahkan gue juga yakin, saat ini tuan Fadil sudah mengetahui dimana keberadaan kita.''


Meskipun belum melihat secara langsung akan kemampuan Fadil, namun Windi memang pernah mendengar desas-desus kalau Fadil memiliki kemampuan yang tidak lazim. Maka dari itu, dalam bayangan pikirannya, dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi terhadap dirinya selanjutnya.


'' Maaf bos! Ibarat nasi sudah menjadi bubur, mungkin kita tidak bisa mengelak dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi kepada kita. Tapi kita juga tidak boleh hanya diam menunggu nasib kita sendiri. Bagaimanapun juga, kita harus berusaha semaksimal mungkin, agar kita bisa lepas dari masalah ini.'' ujar Sudi lalu mendekati Windi.


Entah darimana datangnya pemikiran tersebut, Sudi tiba-tiba berbisik kepada Windi. Windi yang pikirannya sudah terlalu kalut, dia kemudian mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Sudi asistennya tersebut.


Tanpa menunggu lama, Windi segera menghubungi partner bisnisnya yang ada di tempat lain. Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil yang membawa boneka-boneka silikon yang sangat mirip dengan manusia dengan berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari bentuk anak-anak sampai dengan orang dewasa segera datang ditempat itu.


Dengan mobil tersebut, Windi dan Sudi membawa Raihan ke suatu tempat. Sesampainya mereka disana, sebuah pesawat pribadi sewaan milik rekan sekaligus jaringan bisnisnya sudah menunggunya. Mereka lalu membawa boneka-boneka itu yang juga salah satunya ada Raihan disana.


Rencananya, mereka kali ini tidak akan menjual Raihan seperti yang biasa mereka lakukan. Akan tetapi, seperti yang diusulkan oleh Sudi, kali ini mereka akan meminta tebusan kepada keluarga Raihan, setelah mereka sampai di perbatasan pulau Kalimantan dengan negara tetangga.


Atas ide yang diusulkan oleh Sudi, keduanya juga akan meminta uang tebusan yang tidak sedikit kepada kedua orang tua dan keluarga Raihan. Karena mereka juga tahu, kalau Raihan merupakan anak dan cucu pengusaha yang cukup ternama, baik didalam negeri maupun luar negeri.


Nantinya, usai melakukan pertukaran tersebut, mereka juga akan langsung pergi keluar negeri dengan bantuan jaringan mereka yang ada disana. Tentunya setelah mereka mendapatkan uang tebusan tersebut.


Ibarat kata pepatah, '' Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak''. Saat pesawat yang membawa mereka sampai di suatu tempat di daerah Kalimantan, tiba-tiba pesawat itu mengalami kerusakan akibat cuaca yang tiba-tiba berubah menjadi buruk.


Selain memang pesawat tersebut bisa dikatakan sudah hampir tidak layak untuk terbang, sebuah badai juga tiba-tiba menghantam pesawat itu. Di udara, pesawat itu terombang-ambing bahkan hampir terjatuh. Sang pilot segera meminta Windi dan Sudi untuk melompat keluar, karena sudah tidak bisa lagi mengendalikan pesawat tersebut.


Windi dan Sudi langsung panik, begitu melihat sang pilot dan co-pilotnya keluar melompat dari pesawat itu. Sudi segera memakai peralatan terjun payung yang tadi sempat diberikan oleh sang pilot kepadanya. Sementara Windi, dia belum sempat memakai peralatan itu karena dia sibuk menjaga Raihan yang tadi diberikan oleh Sudi kepadanya.


'' Bos, ayo cepat lompat! Ini pesawatnya udah mau jatuh.'' teriak Sudi ditengah kepanikan dan kekacauan saat itu.

__ADS_1


'' Tapi gue. Gue..'' sahut Windi tampak begitu sangat ketakutan.


'' Udah bos! Tidak ada waktu lagi kalau bos masih ingin hidup. Cepat lompat!''


Melihat bosnya yang masih tetap diam ketakutan sambil memeluk tubuh Raihan, Sudi akhirnya menggendong tubuh Windi, lalu membawanya melompat keluar dari pesawat tersebut. Baru beberapa detik mereka keluar dari pesawat yang akan jatuh tersebut, tiba-tiba sebuah kilatan petir menyambar pesawat itu. Akibatnya, pesawat itupun langsung terbakar.


Windi yang terkejut dengan kilatan petir tadi, dia secara spontan melepaskan pelukannya terhadap Raihan. Dengan erat, kedua tangannya dia kaitkan ditubuh Sudi yang juga sama-sama terkejut melihat kilatan petir tersebut.


'' Boom''


Bersama dengan suara guntur usai ada kilatan petir yang menyambar pesawat tersebut, pesawat itupun ikut meledak. Akibat ledakan tersebut, sebuah gelombang kejut menghantam tubuh mereka. Baik tubuh Sudi dan Windi yang sedang saling memeluk, maupun tubuh Raihan yang tadi terlepas dari pelukan Windi. Bahkan, tubuh pilot dan co-pilot yang sudah lebih dulu menjauh dari pesawat tadi, mereka juga ikut terkena gelombang ledakan yang begitu dahsyat tersebut.


...----------------...


'' Lho! Memangnya kenapa Pan? Apa yang terjadi dengan kakakmu Raihan?'' tanya Ulil yang mulai merasa bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi putra sahabatnya tersebut.


Setelah diam dan menarik napas dalam-dalam, Topan akhirnya menceritakan kepada ayahnya, bahwa Raihan saat ini sedang dalam keadaan koma. Dia juga menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Raihan, yang membuat Raihan jadi seperti itu.


'' Yah..! Tapi tolong jangan bilang sama paman Fadil dan bibi Tiara, kalau kak Raihan sedang dalam kondisi seperti ini ya Yah! Ayah cukup bilang kepada mereka, kalau sekarang kak Raihan sudah Topan temukan.''


'' Masalah yang terjadi disini sekarang, biarkan paman dan bibi mengetahuinya saat mereka sudah datang kemari.'' pinta Topan kepada ayahnya.


'' Baik-baik. Ayah akan akan ikuti apa yang kamu katakan. Ayah juga akan langsung sampaikan kabar ini kepada mereka. Insyaallah, jika tidak ada halangan, hari ini juga kami akan datang kesana.'' sahut Ulil.


'' Iya iya. Tolong jaga kakakmu itu baik-baik. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami secepatnya. Wa'alaikumsalaam..''


Usai menutup sambungan telepon tersebut, Topan lalu kembali duduk bersama ibu Sophia dan juga Naya yang sejak tadi menyimak obrolan Topan dan ayahnya yang ada di Jakarta.


'' Bagaimana nak Topan, apa nak Topan sudah memberitahu kedua orang tua Raka? Apakah mereka juga akan datang kemari untuk menemui Raka?'' tanya ibu Sophia harap-harap cemas.


'' Emm.., ayah saya yang nanti memberitahu paman dan bibi Bu. Insyaallah, tadi sih ayah bilang! Kalau kemungkinannya mereka akan datang kemari secepatnya.''


Baru saja Topan selesai menjawab pertanyaan dari ibu Sophia, tiba-tiba muncul Helen bersama asisten rumah tangga rumah tersebut, sambil membawakan minuman dan kue untuk mereka. Helen lalu ikut duduk disebelah Topan, setelah sebelumnya dia menyempatkan diri untuk melihat kondisi Raka.


'' Bu..! Kalau boleh saya tahu, bisakah ibu menceritakan bagaimana ibu bisa bertemu dengan kak Raihan?'' tanya Topan sembari membenahi posisi duduknya.


'' Raihan? Raihan siapa?'' tanya balik ibu Sophia.


Karena tidak mengetahui siapa nama asli dari Raka, baik ibu Sophia, Naya, maupun Helen, mereka jadi penasaran dengan siapa orang yang dimaksud oleh Topan. Terlebih lagi dengan Helen. Dia jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh Topan dan ibu Sophia tersebut.

__ADS_1


'' Jadi begini bu. Sebenarnya, nama asli dari mas Raka adalah Muhammad Raihan. Simbol huruf '' R '' yang terdapat pada kalung itu, juga diambil dari nama panggilannya sendiri, yaitu Raihan.''


'' Saya sendiri tidak tahu, kenapa ibu memanggil kak Raihan dengan nama mas Raka.'' jawab Topan, lalu memberi sedikit penjelasan tentang nama asli dari orang yang dimaksud.


Mendengar penjelasan dari Topan, ibu Sophia akhirnya mulai paham. Dia sendiri juga baru mengetahui, kalau ternyata simbol huruf yang terdapat pada kalung tersebut, merupakan singkatan dari nama anak yang selama ini dia rawat dan dia besarkan.


Sejenak, ibu Sophia hanya diam dan tidak mengatakan apapun kepada Topan. Pikirannya kini kembali pada masa, dimana dia dan kakeknya menemukan Raka alias Raihan belasan tahun yang lalu. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, barulah dia mulai bercerita tentang masalah tersebut.


...----------------...


Sore itu. Ibu Sophia yang waktu itu masih muda. Dia bersama kakeknya sedang dalam perjalanan pulang dari suatu tempat, menuju kediaman mereka yang jauh dari pemukiman penduduk. Dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu, mereka menyebrangi sungai yang cukup luas yang biasanya mereka lalui setiap harinya.


Pada saat itu, entah kenapa cuaca tiba-tiba menjadi buruk. Hujan lebat disertai dengan angin kencang, juga petir dan guntur yang begitu dahsyat mewarnai langit diatas sana. Dengan buru-buru, mereka mencoba untuk mendayung rakitnya, agar bisa segera sampai ditepi sungai tersebut.


Akan tetapi, saat mereka sedang berada ditengah-tengah sungai yang cukup luas tersebut, mereka sempat mendengar suara ledakan di atas langit, bersamaan dengan suara guntur usai ada kilatan petir yang mengejutkan mereka. Sontak, keduanya juga langsung melihat kearah dimana lokasi suara tersebut.


'' Subhanallah! Apa itu kek?'' ujar Sophia yang samar-samar melihat ada sesuatu yang melayang-layang di atas langit, beberapa ratus meter dari posisi mereka berada.


Baru saja Sophia hendak menoleh kearah kakeknya, dia malah jadi terkejut. Tiba-tiba saja, kakeknya itu sudah tidak ada lagi ditempatnya. Dia hanya melihat sebuah bayangan yang berlari di atas air, kemudian terbang ke langit menyongsong sesuatu yang melayang-layang itu.


Disaat Sophia masih terpaku melihat hal yang tidak masuk di akal itu, entah bagaimana bisa, kini kakeknya juga tiba-tiba sudah kembali berada dirakit itu, sambil menggendong seorang anak kecil dalam pelukannya.


'' Sophia! Pegang dia erat-erat. Kita harus cepat membawanya ke rumah.'' ujar kakeknya sambil menyerahkan anak tersebut kepada Sophia.


Meskipun Sophia masih tidak mengerti dengan apa yang barusan terjadi. Namun, dia segera melakukan apa yang dikatakan oleh kakeknya. Dia segera mendekap anak kecil yang diberikan oleh kakeknya itu dalam pelukannya. Usai menyerahkan anak itu kepada Sophia, kakek tua itu segera mendayung perahu rakit itu dengan cepat. Bahkan saking cepatnya, perahu rakit itu seakan terbang di atas air.


Meski begitu. Sophia yang kini lebih terfokus kepada anak kecil yang ada dalam gendongannya, dia bahkan tidak menyadari akan hal itu. Mereka segera berlari menuju kediaman mereka, usai rakit itu sampai ditepi sungai dengan cepat.


Sesampainya mereka di rumah, Sophia langsung memandikan anak itu dengan air hangat yang diberi rempah-rempah yang telah dibuatkan oleh kakeknya. Setelah itu, Sophia lalu menyelimuti anak itu karena dia tidak memiliki pakaian pengganti untuknya.


Melihat bagaimana Sophia memperlakukan anak itu dengan penuh kasih sayang, lelaki tua yang sudah dianggap sebagai kakeknya sendiri oleh Sophia itu jadi tersentuh. Dia lalu mendekati Sophia yang sejak tadi terus memandangi anak kecil yang masih dalam keadaan pingsan tersebut.


'' Sophia! Coba pakaikan baju ini kepadanya. Barangkali ukurannya pas.'' ujar sang kakek sambil memberikan beberapa lembar pakaian anak-anak yang entah dia dapat darimana.


Sejak Sophia ditolong oleh kakek tua yang biasa dipanggil dengan kakek Wira setahun yang lalu. Dia lalu tinggal bersama kakek tersebut di rumahnya. Sophia yang waktu itu tengah putus asa akibat ditinggal pergi oleh suaminya, kemudian dia diusir dari rumah kontrakan, serta anaknya yang masih berumur satu tahun meninggal akibat sakit, dia berniat untuk melakukan bunuh diri.


Pada waktu itu, Sophia sempat melompat kedalam jurang yang sangat dalam dan tidak mungkin lagi bisa terselamatkan. Saat dia bangun dan mengira dirinya telah mati, dia melihat kakek Wira sedang duduk tak jauh darinya.


Awalnya, Sophia mengira kalau kakek Wira adalah sosok malaikat yang akan menanyainya dengan berbagai pertanyaan. Akan tetapi, setelah kakek Wira menjelaskan dan juga menasehati dirinya, diapun akhirnya sadar kalau ternyata dia masih hidup dan ditolong oleh kakek tersebut.

__ADS_1


Usai memakaikan pakaian pada anak kecil itu, Sophia lalu meletakkan anak tersebut diatas balai-balai yang ada di ruangan itu sesuai dengan perintah Kakek Wira. Kakek Wira kemudian memeriksa anak tersebut, sambil mulutnya komat-kamit membaca sesuatu.


...****************...


__ADS_2