
Semburat sinar matahari pagi yang muncul di pucuk pepohonan dari ufuk timur, telah menerangi cakrawala. Sinarnya yang hangat, sedikit mengurangi rasa dinginnya udara pagi hari, setelah hampir semalaman rintik-rintik hujan turun dari langit. Meski tidak begitu deras, namun cukup untuk membasahi bumi yang sudah beberapa hari ini mulai kering akibat tidak adanya hujan.
Normalnya, bulan bulan sekarang memang sedang musim kemarau. Namun, karena perubahan iklim akibat efek pemanasan global, menyebabkan cuaca jadi tidak menentu. Terkadang, panasnya sudah seperti saat musim kemarau. Namun, tiba-tiba hujan turun terus menerus.
Pagi itu, Raka berangkat menuju kampus dengan mengendarai sepeda motor matic miliknya. Usai sarapan dan berpamitan kepada ibunya, dia langsung berangkat menuju kampus melewati jalanan yang penuh dengan kubangan air akibat hujan semalam. Saat Raka sampai dipertigaan jalan, dia menghentikan kendaraannya. Disana, dia melihat seorang anak perempuan yang melambai-lambaikan tangan kepadanya.
'' Kak, aku ikut ya! Boleh tidak?" ujar seorang anak perempuan yang memakai seragam biru putih yang sedang berdiri ditepi jalan dan menghampirinya.
'' Tentu saja boleh Nay. Lagi pula, sekolahmu itukan dekat dengan kampusku. Ayo naik!'' jawab Raka, lalu menyuruh Naya untuk segera naik dan duduk di belakang Raka.
Perlahan, motor matic yang dikendarai Raka kembali berjalan dengan kecepatan sedang. Dia memang tidak pernah berkendara dengan cepat, terkecuali saat-saat tertentu dan penting saja.
'' Tumben, kamu nggak bawa sepeda Nay, emang kemana sepedamu?''
'' Anu kak, ban sepeda Naya pecah. Jadi Naya terpaksa harus naik angkutan umum, atau cari tebengan untuk pergi ke sekolah.''
'' Oh.. Gitu. Ya udah! Mulai besok, kamu pergi ke sekolahnya bareng kakak aja ya. Atau kalau tidak, nanti pulangnya kita mampir ke toko sepeda dan membeli ban baru untuk sepedamu itu.''
'' Tapi Naya belum punya uang untuk membeli ban sepeda kak. Soalnya, uang yang kakak kasih ke Naya kemarin, sudah habis untuk membeli obatnya kakek.''
'' Jadi kakekmu sedang sakit Nay?'' tanya Raka terkejut mendengar kabar tersebut.
'' Iya kak. Asmanya kambuh lagi.'' sahut Naya dengan sedih.
'' Nay, kamu jangan terlalu bersedih gitu! Sepulang dari kampus nanti, kakak mau mampir untuk menjenguk kakekmu.''
'' Oh iya, jam berapa nanti kamu pulang Nay?'' tanya Raka setelah mereka sampai didepan pintu gerbang sekolah Naya.
'' Hari ini Naya pulangnya jam setengah dua belas kak. Soalnya hari ini kan hari Sabtu, jadi pulangnya lebih cepat.'' jawab Naya lalu berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Namun, dia kembali membalikkan badannya karena teringat sesuatu.
'' Eh iya kak! Nanti sore kakak jualan tidak?'' tanya Naya kepada Raka yang bersiap untuk pergi dari tempat tersebut.
'' Insyaallah jualan Nay. Tapi sebaiknya, kamu enggak perlu datang ke kedai Nay.''
'' Loh kenapa kak?'' tanya Naya heran.
'' Kan kakekmu sedang sakit. Mending kamu dirumah aja temenin kakekmu. Kalau nanti dia butuh apa-apa, kan kasian kalau dia ditinggal sendirian.'' ujar Raka memberi saran kepada Naya.
Dua tahun yang lalu, Raka menemukan Naya yang sedang bekerja memunguti sampah. Selain tidak sekolah, tampaknya Naya juga hidup serba kekurangan. Sejak kakeknya yang sudah tua itu sering sakit-sakitan, Naya-lah yang membantu mencari uang untuk biaya hidup mereka sehari-hari.
Naya yang merupakan anak yatim-piatu, dia sudah terbiasa hidup susah seperti ini. Sejak kedua orang tuanya meninggal, dia dipelihara oleh kakeknya. Namun, kakeknya yang hanya seorang buruh kasar tersebut, sekarang sudah tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan mereka. Maka dari itulah, Naya tidak bisa melanjutkan sekolah dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Oleh sebab itulah, Raka kemudian mengajak Naya untuk membantunya berjualan di kedai serabi miliknya. Selain itu, dia juga membantu Naya supaya bisa melanjutkan sekolahnya. Karena Raka membuka kedainya pada sore hari dan hari libur saja, maka Naya bisa ikut bekerja tanpa harus tergganggu waktu sekolahnya.
...----------------...
'' Baedah, bantuin Babeh ngapa! Masa tiap hari, maeen mulu kerjaan elu!'' teriak Junaidi dari dalam rumah, saat Noni akan beranjak pergi dengan membawa motor Kawasaki ninja birunya.
'' Kagak sempat Beh, aye mau latian. Ntar bisa ketinggalan kalau bantuin Babeh dulu.'' sahut Noni yang langsung nangkring diatas motornya.
Junaidi hanya bisa geleng-geleng mendengar jawaban Noni. Anak perempuan satu satunya tersebut, memang suka sekali dengan olahraga beladiri. Dia bahkan tidak pernah merasa jera, meskipun sudah berulangkali mengalami cidera saat latihan.
'' Besok aja Beh! Besok kan hari minggu. Aye janji mau bantuin Babeh.'' lanjut Noni dan bersiap pergi meninggalkan Junaidi yang kini sudah berdiri didepan pintu rumahnya.
'' Janji-janji mulu lu Baedah. Dari taon atu ampe sekarang, janji lu kagak pernah lu tepati. Udah kayak caleg aja! Ntar sok ntar sok, tapi kagak ada realisasinya.'' gerutu Junaidi mengomeli Noni.
__ADS_1
''Beneran Beh! Besok aye bantuin Babeh. Suerr.. Aye berani disamber gledek kalo aye bohong.'' ujar Noni sambil mengangkat dua jarinya diatas kepala.
'' Hus! Sembarangan lu kalo ngomong. Tapi bener ye, awas aja lu kalo bo-ong lagi!'' ancam Junaidi sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Noni.
'' Iya Beh.. Beneran deh. Besok aye bakal bantuin Babeh. Masa ama anak ndiri Babeh kagak percaya! Babeh kan orangnya baek!'' jawab Noni merayu ayahnya.
'' Babeh bukannya kagak percaya ama lu Baedah, tapi elunye aja yang suka bo-ongin Babeh.''
'' Ya udah Beh, aye pegi dulu. Mikum..'' ucap Noni lalu segera menghidupkan mesin motornya.
'' Mikam mikum mikam mikum. Ngucap salam aja kagak bener lu. Ati-ati! Jangan ngebut bawa motornye!'' teriak Junaedi, Namun, Noni sudah ngacir keluar dari pintu gerbang rumah tersebut.
Walaupun Junaidi telah memiliki beberapa rumah makan, namun demi untuk mempromosikan produk olahan jengkol miliknya, dia juga membuka kios disebuah pasar sore sekitar taman. Meskipun namanya pasar sore, namun tempat ini selalu ramai disepanjang hari, terutama pada hari libur.
...----------------...
Pagi berikutnya, Raka baru selesai mempersiapkan peralatan untuk jualannya. Karena hari ini hari minggu, dia sengaja membuka kedainya pagi-pagi sekali. Walaupun dalam hari-hari biasa dia membuka kedainya, namun saat hari libur seperti ini, biasanya pengunjungnya akan lebih ramai dari biasanya.
'' Maaf kak! Naya datang terlambat. Semalam Naya tidur agak larut. Jadinya Naya bangun agak kesiangan.'' ujar Naya dengan napas yang masih tersengal-sengal akibat mengayuh sepedanya dengan cepat.
'' Gak papa Nay, kakak juga baru datang kok. Santai aja! Kamu duduk istirahat dulu sana!'' perintah Raka kepada Naya yang baru saja datang.
'' Bang, kue serabinya dibungkus ya! Minta yang ORI dan kuahnya juga.'' ucap seorang bocah gendut penggemar kue serabi.
'' Oh iya dek! Mohon tunggu sebentar ya. Soalnya, ini baru akan mulai.'' ucap Raka, lalu mempersilahkan bocah gendut itu untuk duduk di kursi yang telah disediakan'.
Sewaktu Raka masih kecil, dia, ibunya, dan juga kakeknya tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian. Bahkan, rumah mereka juga berada diujung desa kecil tersebut. Namun, karena akses menuju tempat sekolah Raka terlalu jauh, ditambah lagi kakeknya yang biasa mengantarnya sekolah juga meninggal, ibunya membawa Raka pindah dan mengontrak sebuah rumah tak jauh dari kota.
Saat Raka lulus sekolah menengah pertama, dia tidak tega melihat ibunya pontang-panting mencari uang untuk membiayai sekolahnya. Dia kemudian mencoba mencari penghasilan sendiri dengan bekerja apa saja sepulang sekolah. Hingga suatu ketika, Raka tertarik untuk berjualan kue serabi, setelah dia menyaksikan acara di tv.
Dia terus mencoba membuat inovasi untuk kue tersebut. Berbagai toping yang menarik namun tetap sehat, membuat semakin banyak yang menyukai kue serabi buatan Raka. Bahkan, untuk orang yang memiliki penyakit diabetes, Raka juga membuat kue serabi dari tepung jagung. Hal ini menjadikan kue buatan Raka ini, tetap aman bagi para penderita penyakit tersebut.
Jajanan tradisional yang sederhana, sehat, nikmat dan mengenyangkan ini, cocok dikonsumsi baik untuk sarapan, makan siang maupun malam, atau juga sebagai camilan. Kue serabi buatan Raka ini, sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet ataupun pewarna kimia. Sehingga akan aman untuk dikonsumsi oleh siapapun, baik anak-anak maupun orang dewasa.
'' Kak Raka, ini ada pesanan buat nanti sore. Jumlahnya lumayan banyak. Kira-kira, diambil nggak ya kak?'' tanya Naya saat ada seorang sopir taksi online yang datang dan membuat pesanan.
'' Itu rejeki Nay, masa tidak diambil!'' ucap Raka lalu dia menghampiri sopir taksi online tersebut.
'' Pak, pesan buat nanti sore ya?'' tanya Raka kepada sopir taksi online tersebut.
'' Iya mas. Bisa nggak ya?''
'' Insyaallah, jam berapa kira-kira mau diambil?'' tanya Raka kembali.
'' Sekitar jam empatan mas. Soalnya yang pesan, mintanya jam segitu!'' jawab sopir tersebut.
'' Baik pak, insyaallah siap! Tapi saya minta DP minimal setengahnya dulu, untuk beli bahan dan topingnya. Soalnya, pesanan anda ini termasuk banyak. Dan untuk sisanya, tolong langsung dilunasi saat pesanan ini diambil. Bagaimana?''
'' Iya mas gak papa. Berapa kira kira totalnya mas?'' tanya sopir taksi online itu.
'' Bapak mau yang paketan apa satuan?'' Raka balik bertanya.
'' Sebentar mas ya! saya tanya sama orangnya dulu!" ujar sopir taksi online itu, yg kemudian menghubungi pemesan.
'' Satu paket isi berapa ya mas?'' tanya sopir itu menyampaikan pertanyaan dari pemesan.
__ADS_1
'' Tiga pak.'' jawab Raka singkat.
'' Oh, kata yg pesannya, dia minta yang paketan aja mas.'' ujar sopir tersebut setelah menghubungi sang pemesan.
'' Untuk topingnya, apa pakai semua atau beberapa saja mas?''
'' Semuanya aja mas, biar lebih bervariasi.'' pinta sopir itu kepada Raka.
'' Baik pak. Sebentar ya! biar saya hitung dulu.''
Raka kemudian menghitung jumlah total kue pesanan sopir taksi online tersebut. Karena pesanan ini cukup banyak, dia tidak lupa memberikan potongan harga dan juga bonus kepada sopir taksi online tersebut.
'' Ini pak, per paketnya dua puluh lima ribu rupiah. Jadi kalau dikali dua ratus lima puluh paket, totalnya jadi enam juta dua ratus lima puluh ribu rupiah.''
'' Yang dua ratus lima puluh ribunya saya potong untuk diskon. Dan nanti saat pelunasan, ada bonus khusus untuk bapak. Bagaimana, apa bapak jadi pesan?'' tanya Raka memastikan jadi tidaknya pesanan tersebut.
'' Jadi mas, memang tadi orang yg pesannya juga sudah ngomong seperti itu sama saya. Ini mas uangnya, sekalian dilunasi.'' jawab sopir taksi online tersebut, lalu menyerahkan uang sebesar enam juta rupiah kepada Raka.
'' Alhamdulillah, terimakasih pak. Ini, bonus untuk bapaknya sekalian juga.'' ujar Raka sambil memberikan uang sebesar dua ratus ribu kepada sopir taksi itu.
'' Wah..! Makasih banyak nih mas, baru kali ini saya dapat bonus sebanyak ini. Nanti saya akan promosikan kue buatan mas ini ke pelanggan pelanggan saya.'' ujar sopir taksi online tersebut begitu gembira.
'' Eh pak tunggu tunggu! Nay, bungkuskan satu paket untuk bapak ini!'' perintah Raka kepada Naya saat sopir tersebut akan pergi.
Naya segera melakukan permintaan Raka. Dia segera membungkus kue serabi sesuai permintaan Raka, lalu menyerahkannya kepada sopir taksi online tersebut.
'' Apaan lagi ini mas?'' tanya sopir itu.
'' Ini sedikit oleh-oleh untuk bapak, barangkali bapak pengen mencicipi kue serabi buatan saya.''
'' Waduh, dapat bonus lagi! Hemm..Aromanya gurih dan sedap banget. Sekali lagi, makasih banget ya mas. Kalau begini sih saya jadi enak nih! hhh..'' ujar sopir itu sembari mencium aroma kue serabi pemberian Raka.
'' Hhh.. Bapak ini bisa aja. Jangan lupa, jam empatan diambil pak ya!'' Raka ikut tertawa karena basa-basi sopir tersebut.
'' Iya mas, so pasti doong! Masa gak diambil, bisa dikomplain saya sama yang pesan. Kan udah bayar!'' sahut sopir itu lalu masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
'' Banyak banget pesanannya, kira-kira buat apaan itu kak ya?'' tanya Naya yang sedari tadi menyaksikan percakapan antara Raka dan sopir tadi.
'' Entahlah Nay! Tapi biasanya, kalau pesan banyak seperti itu tuh, untuk oleh oleh orang selamatan.''
'' Oh iya Nay, ini adonan serabinya kan tinggal dikit lagi. Tolong kamu aja ya yang lanjutin. Aku mau belanja bahan untuk pesanan nanti sore. Sekalian mau minta tolong sama ibu, buat bantuin bikin pesanan, serta mencari orang untuk bantuin bikin serabinya.'' ujar Raka.
'' Iya kak. Siap!'' sahut Naya.
'' Eh iya Nay, nanti kalau udah habis, kamu sekalian beresin dan tutup kedainya. Dan setelah Dzuhur nanti, kamu datang kerumah untuk bantuin bungkusin pesanan tersebut. Dan ini, Bonus buat kamu.'' ujar Raka sambil memberikan uang tiga ratus ribu rupiah kepada Naya.
'' Wah.. Banyak banget bonusnya. Makasih ya kak!'' ujar Naya dengan gembira setelah mendapatkan bonus tersebut.
Raka kemudian pergi meninggalkan kedai tersebut. Dia lalu pergi ke toko langganannya, untuk berbelanja keperluan jualannya. Setelah semua bahan yang dibutuhkan dia dapatkan, dia lalu pulang kerumahnya. Dia juga memberitahukan kepada ibunya, tentang pesanan tersebut.
Mendengar Raka mendapatkan order yang cukup banyak tersebut, ibu Sophia merasa senang. Dia segera menghubungi beberapa tetangga, untuk membantunya dalam menyiapkan pesanan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan bagi Raka dan ibunya, saat dia mendapatkan banyak pesanan, dia akan menggunakan jasa para tetangganya.
Hal itu sangat disambut baik oleh ibu-ibu tetangga ibu Sophia. Karena selain mereka mendapatkan upah dari membantu tersebut, mereka juga bisa ikut mencicipi kue serabi buatan Raka yang cukup terkenal tersebut.
...****************...
__ADS_1