Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Misi Rahasia Ali Topan


__ADS_3

Meskipun didalam hati Helen ada rasa getir, karena kini Raka yang dia harapkan malah menjalin hubungan dengan Bella. Namun, setelah mendapat penjelasan dari Raka sendiri dan juga Bella, bahwa sebenarnya mereka telah lama saling menyukai, Helen akhirnya bisa menerima semuanya.


Dia juga tidak ingin, pertemanan dirinya dengan Bella maupun Raka, menjadi rusak hanya gara-gara Raka jadian dengan Bella. Diapun menyadari, kalau selama ini, Raka memang tidak pernah menaruh perhatian lebih kepadanya, selain hanya sebatas pertemanan saja.


'' Baiklah Bella, Raka. Aku ikhlas kok kalian jadian. Ya walaupun sejujurnya aku sangat menyukai Raka. Tapi, aku tidak ingin hubungan pertemanan kita ini rusak hanya karena keegoisan diriku sendiri.''


'' Aku juga yakin, suatu saat nanti, aku juga akan menemukan orang yang tepat yang aku sukai dan diapun menyukaiku.'' ucap Helen dengan mata yang sedikit berkaca kaca.


'' Helen.., makasih ya. Kamu memang teman yang pengertian. Aku doain, secepatnya kamu dapat cowok yang baik dan sangat mencintaimu!'' ucap Bella lalu bangkit memeluk Helen.


Melihat mata Helen yang berkaca-kaca, Raka seakan tak tega. Dia segera mengalihkan pandangannya kearah lain untuk beberapa saat, hingga Bella dan Helen melepaskan pelukan mereka. Helen segera mengusap air matanya yang hampir saja jatuh dikedua pipinya. Dia lalu tersenyum saat Raka kembali melihat kearahnya.


'' Ka...! Aku ucapin selamat ya! Semoga hubungan kalian bisa sampai ke jenjang pernikahan. Dan walaupun kamu sudah punya seseorang yang kamu cintai, tapi kita masih tetap bisa bertemankan?'' ucap Helen sambil menatap Raka dan tersenyum.


'' Tentu Helen! Kita sudah lama berteman, dan akan tetap berteman sampai kapanpun.'' sahut Raka membalas senyuman Helen.


'' Berarti, saat aku ada tugas, kamu masih mau bantuin aku kan?''


'' Ya iya dong Hel.., masa enggak! Kamu itu gimana sih? Kok mikirnya jadi kayak anak kecil gitu.'' ujar Raka yang merasa heran melihat Helen jadi seperti itu.


Setelah hampir satu jam mereka berada disana, merekapun akhirnya keluar dari cafe tersebut. Karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Helen langsung pulang dengan membawa mobilnya. Sementara Bella yang tidak membawa kendaraan, dia meminta kepada Raka untuk mengantarkannya pulang.


Sebenarnya, bisa saja Bella ikut pulang bersama Helen. Meskipun berbeda blok, namun rumah mereka masih dalam satu komplek, yaitu komplek perumahan mewah di daerah tersebut. Namun, karena Bella ingin mengobrol dengan Raka, diapun lebih memilih agar Raka yang mengantarkannya pulang.


'' Mas Raka! Boleh minta tolong anterin aku pulang nggak? Soalnya, hari ini aku nggak ada yang jemput. Papi sama Mami, mereka sedang ada keperluan dan baru pulang nanti sore. Bisa nggak mas?'' tanya Bella.


'' Emangnya, kamu gak papa apa naik motor butut bareng aku?'' tanya Raka saat hendak berjalan menuju tempat parkir dan diikuti oleh Bella.


'' Ya gak apa-apa lah mas Raka? Terus, emangnya kenapa kalo aku ikut naik motor bareng kamu?'' ujar Bella bertanya balik.


'' Ya kamu kan, biasanya naik mobil bagus! Apa gak takut nanti masuk angin? Dan lagian, kalau nanti ada teman-teman yang liat, apa kamu gak malu?'' jawab Raka menoleh kearah Bella yang sekarang berjalan disebelahnya.


'' Mas...! Aku tuh bukan anak kecil yang gampang masuk angin. Aku juga gak perlu malu kalau nanti dilihat sama teman-teman. Justru aku malah seneng kok! Soalnya, biar mereka tahu kalau sekarang kita punya hubungan.''


'' Beneran, kamu gak malu menjalin hubungan dengan orang seperti aku?'' ujar Raka memastikan kalau Bella benar-benar menyukai dirinya.


'' Mas Raka. Tolong jangan bahas itu lagi! Aku kan udah bilang, aku suka dan akan menerima kamu apa adanya. Aku juga gak perduli apa nanti kata orang. Lagi pula, yang akan menjalani semua inikan kita mas, bukan mereka.''


Mendengar jawaban dari Bella, Raka jadi tersenyum. Dia sekarang yakin, kalau Bella memang benar-benar menyukainya. Bella juga ikut tersenyum membalas senyuman Raka yang tampak begitu memukau tersebut.


Setelah menaiki motornya, Raka dengan berboncengan bersama Bella, diapun membawa motor itu untuk kembali pulang. Sesampainya disebuah pertigaan, Raka membelokkan motornya kearah berlawanan dari jalan yang menuju kediamannya. Dia berbelok kearah kiri, menuju perumahan mewah, tempat dimana Bella dan keluarganya tinggal.


Tak berapa lama kemudian, didepan sebuah rumah yang terlihat begitu mewah, Bella meminta Raka untuk berhenti. Melihat kedatangan Bella, seorang satpam yang berada di pos penjagaan, segera menekan tombol otomatis untuk membuka pintu gerbang rumah tersebut, lalu segera datang menghampiri Bella.


'' Non, non Bella udah pulang?'' sapa satpam itu dengan sopan.


Bella yang berdiri didekat Raka yang masih duduk di atas motornya, segera menjawab sapaan dari satpam tersebut, lalu kembali melihat ke arah Raka dan berkata:


'' Mas Raka, ayo masuk dulu mas! Hari ini cuacanya panas banget. Aku buatin minuman dingin buat mas Raka ya, biar seger. Ayo!'' ucap Bella mengajak Raka sembari memegang lengan Raka.

__ADS_1


'' Emm.., makasih banyak Bell. Tapi.., kayaknya lain kali aja deh. Soalnya, sekarang aku masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Maaf ya! Tolong kamu jangan tersinggung.'' sahut Raka bersiap untuk pergi dari tempat itu.


'' Beneran, kamu enggak mau mampir dulu barang sebentar?'' ujar Bella yang berharap Raka bisa mampir dulu, karena dia masih ingin mengobrol dengan Raka.


'' Iya Bell. Mungkin lain kali aja aku mampirnya.'' jawab Raka, lalu segera menghidupkan mesin motornya.


'' Kenapa buru-buru amat sih mas! Aku kan, masih pengen ngobrol bareng kamu.'' ucap Bella dengan sedikit manja.


'' Bella.., Aku bukannya gak kepingin mampir dan ngobrol sama kamu. Tapi, besok pagi kan aku mau buka kedai serabiku yang udah beberapa hari ini gak buka. Jadi sekarang, aku harus berbelanja untuk keperluan besok.'' jelas Raka.


'' Ooo.. Gitu! Ya udah deh, gak papa. Tapi lain kali, kalau kamu nganterin aku lagi, kamu janji harus mampir ya!''


'' Insyaallah..! '' jawab Raka lalu segera pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri memandangi Raka, hingga bayangan Raka hilang dari pandangan mata.


Sebenarnya, alasan Raka tidak mau mampir saat itu, bukan hanya karena dia memang sibuk. Akan tetapi, selain karena tidak ada orang lain disana kecuali dia dan Bella, saat dia melihat kediaman keluarga Bella tersebut, ada rasa minder didalam hatinya. Dia mulai khawatir, jika nanti kedua orang tua Bella, tidak bisa menerima dirinya menjalin hubungan dengan Bella. Didalam hati Raka, dia mulai mencemaskan apa yang di khawatiran oleh ibunya.


Karena terus kepikiran hal tersebut, dalam perjalanan pulang itu, Raka jadi tidak konsentrasi dalam mengendarai sepeda motornya. Di sebuah pertigaan antara blok perumahan di wilayah tersebut, tiba-tiba dia terkejut karena hampir bertabrakan dengan sebuah sepeda motor sport yang dibawa oleh seseorang.


'' Cuiitt... srett!?''


Hanya beberapa sentimeter saja, kedua kendaraan itu akan saling bersentuhan. Pengendara sepeda motor sport itu membuka kaca helmnya lalu memelototi Raka.


'' Ujug busyett...! Elu lagi elu lagi? Dasar bocah jelek! Bisa kagak sih, aye kagak apes saben ketemu ama elu? Heran banget gue!'' gerutu pengemudi motor ninja sport itu yang ternyata adalah Noni.


'' Maaf neng Baedah! Tadi aku lagi nggak konsen. Tapi neng Baedah tidak kenapa-napa kan?'' tanya Raka, yang secara spontan memanggil Noni dengan panggilan seperti yang biasa pak Junaidi lakukan.


'' Kagak kenape-nape gimane? Enak aje lu ngomong. Jantung gue hampir copot tau!'' bentak Noni dengan kesal.


'' Tapi, bukannya Babeh Juned kalau manggil kamu begitu!'' sahut Raka.


'' Eeh.. Nih orang. Dikasih tau malah ngeyel. Pake panggil Babeh lagi! Sejak kapan nyokap lu kawin Ama Bokap gue?'' ujar Noni makin sewot.


'' Pokoknye, mulai detik ini, gue kagak mau denger elu panggil gue kayak tadi. Dan juga, elu jangan panggil bokap gue dengan sebutan Babeh lagi. Paham!?''


'' Iya neng Noni..!'' jawab Raka sambil cengar-cengir.


'' Kagak usah pake neng juga! Lu kira, umur lu jauh dari umur gue apa? Paling juga, selisih setaun dua tahun'' bentak Noni semakin garang, sebab Raka memanggilnya seperti itu.


Dihadapan Noni kali ini, Raka benar-benar tidak berdaya. Andai bukan karena merasa bersalah, mungkin dia juga tidak akan meladeni Noni seperti yang pernah dilakukannya saat pertama kali mereka bertemu saat itu.


'' Iya iya,.. maaf!'' ujar Raka yang tidak ingin memperpanjang masalah dengan Noni.


'' Ya udah, sono pergi! Ngapain lu masih disitu? Mau gue sikat lu?'' ucap Noni sambil menunjukkan kepalan tangannya kepada Raka.


Setelah mendapat perintah dari Noni, Rakapun segera pergi dari hadapan Noni. Dia juga merasa tidak nyaman, setiap kali berhadapan dengannya. Kata-kata dan sikap Noni yang terlihat garang dan judes tersebut, membuat telinga Raka terasa pedas. Namun, Raka tetap tidak mengambil hati oleh sikap Noni tersebut. Saat akan meninggalkan tempat tersebut, dia masih sempat melayangkan senyuman kepada Noni.


'' Huh! Dasar bocah jelek. Masih sempet-sempetnye senyum kayak gitu. Iihh..!'' gumam Noni sambil bergidik.


Setelah Raka meninggalkan tempat tersebut, Noni pun segera melanjutkan perjalanan menuju tempat latihan beladiri, dimana biasanya dia berlatih. Sementara itu, Raka yang kini telah berada diluar komplek perumahan tersebut, dia lalu menuju toko langgananya, sebelum dia kembali pulang kerumahnya.

__ADS_1


...----------------...


Ditempat lain.


'' Hallo, Assalamualaikum Yah. Kok tumben banget Ayah telpon siang bolong begini! Emang ayah lagi nggak sibuk?'' ucap seorang pemuda yang sedang duduk disudut ruang latihan beladiri.


'' Hemm.. kamu itu ya Pan! Ayah telpon kamu buat nanyain kabar kamu, malah dibilang tumben. Udah berapa bulan ini kan, kamu gak kasih kabar ke kami. Gimana sih kamu itu?'' sahut suara dari seberang telepon.


'' Iya Yah.. Maaf! Akhir-akhir ini, Topan lagi sibuk banget Yah, jadi gak sempat kasih kabar. Mami sama dedek mana Yah? Apa mereka sehat semua?''


'' Alhamdulillah.., semua sehat. Cuma sekarang, mereka lagi ada di Singapura. Katanya sih, mereka kangen sama nenek kamu, dan karena nenek kamu gak bisa datang ke Jakarta, makanya mereka yang pergi kesana.''


'' Ohh.. Syukurlah kalau mereka pada sehat semua. Tapi ngomong-ngomong, Ayah belum jawab salam Topan tadi lho Yah! Ayah kebiasaan, pasti alasannya lupa?'' tebak pemuda tersebut yang ternyata adalah Topan, teman sekampus dan seruangan dengan Raka.


Topan sendiri adalah mahasiswa pindahan dari Jakarta. Belum genap satu tahun, dia pindah ke Kalimantan karena ada tugas dari ayahnya. Karena berasal dari keluarga orang kaya, diapun tinggal di komplek perumahan elit di komplek dimana Bella berada. Hanya saja, karena dia termasuk orang yang cukup tertutup dan pendiam, banyak dari teman-temannya yang tidak tahu akan status sosial diri Topan, termasuk juga Raka.


'' Iya! Wa'alaikumsalaam.. '' jawab suara dari seberang telepon.


'' Telat Yah! udah ngomong kemana-mana, sekarang baru jawab.'' gerutu Topan.


'' Ayah sebenarnya udah jawab salam kamu dari tadi lho Pan, bener!'' sahut suara lelaki lawan bicara Topan, yang ternyata adalah ayahnya.


'' Kapan? Kok Topan gak denger Yah!'' seru Topan sambil mengingat-ingat kapan ayahnya menjawab ucapan salamnya tersebut.


'' Tadi.., sehabis kamu ucap salam. Tapi didalam hati.'' Jawab Ayahnya Topan.


'' Emm.., Ayah kelakuan tuh. Suka ngeles. Entar Topan laporin ke Paman besar, baru tau rasa.'' ancam Topan bercanda.


'' Yah..! Kamu Pan, mentang-mentang orang kepercayaan paman besarmu itu, Ayah sendiri mau dilaporkan. Gak kasian apa sama Ayah?'' gerutu suara lelaki diseberang dengan nada memelas.


'' Iya iya! Topan kasian sama Ayah. Asal Ayah gak seperti itu lagi.'' sahut Topan sambil tersenyum sendiri dan menaikturunkan kedua alisnya.


Di seberang sana, ayahnya Topan juga ikut terkekeh mendengar jawaban dari Topan. Kedua orang anak dan Ayah ini, memang terkadang suka bercanda. Namun begitu, Topan masih tau batasan dalam bercanda terhadap orang yang lebih tua, terutama kepada orang tuanya sendiri.


'' Oh iya Pan! Ngomong-ngomong, bagaimana tugas kamu disana? Apa sudah ada kabar ataupun perkembangannya?'' tanya ayah Topan.


'' Maaf Yah! Topan masih belum bisa menemukannya. Tapi sekarang, Topan sedang menyelidiki seseorang yang Topan curigai. Mudah mudahan, dialah orang yang selama ini kita cari.''


'' Untuk spesifiknya, Topan juga belum bisa memberikan keterangan tentang dia Yah. Sebab, selain Topan sendiri sedang banyak kegiatan di kampus, Topan juga belum yakin kalau itu memang dia. Untuk itu, Topan tidak ingin dia curiga terhadap Topan, saat Topan mencari informasi tentang dia.'' ujar Topan, sepertinya melaporkan tugas rahasia kepada ayahnya.


'' Baiklah kalau begitu anakku. Ayah sangat berharap, kamu bisa menemukan dia. Kasihan Paman besar dan bibimu, sudah lebih dari delapan belas tahun, mereka belum dapat kabar tentang dia.''


'' Sudah dulu ya Pan, Ayah masih ada pekerjaan. Jangan lupa, kalau nanti ada kabar baik tentang dia, kamu cepat-cepat hubungi Ayah. Dan ingat! Kamu juga harus bisa jaga diri dan kesehatan kamu, karena itu juga sangat penting buat kami.'' pesan ayah Topan sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


'' Iya Ayah! Insyaallah, semua pesan dari Ayah, akan selalu Topan ingat. Salam buat Paman besar dan yang lainnya ya Yah. Ayah juga jangan lupa! Harus jaga kesehatan Ayah sendiri.'' balas Topan berpesan kepada Ayahnya.


'' Ya udah, gitu aja dulu. Assalamualaikum..'' sapa Ayah Topan, lalu menutup telepon.


'' Iya Yah. Wa'alaikumsalaam..'' jawab Topan, kemudian menatap jauh ke depan seakan ada yang sedang dipikirkannya.

__ADS_1


'


...****************...


__ADS_2