
'' Dreett.. Dreett.. Dreett..''
Baru saja Raka membuka buku yang akan dia baca, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat siapa pemanggilnya, Raka langsung mengangkat dan menjawab panggilan tersebut.
'' Halo! Ada apa lagi Hel? Makanya, kalau emang ngomongnya belum selesai, gak usah dimatikan dulu teleponnya?'' ujar Raka yang mengira panggilan tersebut dari Helen.
'' Mas Raka! Ini aku Bella.'' Sahut suara dari seberang telepon, yang ternyata adalah Bella dan bukan Helen.
'' Oh.. Maaf Bell! Aku kira kamu Helen. Soalnya, tadi Helen telepon dan tiba-tiba, dia mematikan teleponnya begitu aja.''
'' Mas Raka! Apa kamu sedang sibuk?''
'' Enggak kok Bell! Aku lagi nyantai sambil baca-baca buku aja. Ada apa ya?'' sahut Raka bertanya kepada Bella.
'' Emm... Soal yang tadi pagi mas! Mas Raka belum jawab pertanyaanku tentang akun Erlang Biru. Apa benar mas Raka adalah pemilik akun tersebut?'' tanya Bella masih penasaran.
'' Oh.. Itu! Emm.. Emangnya kenapa kalau itu aku?'' ucap Raka bertanya balik.
'' Ya.. Kalau memang itu kamu, aku.. Aku ya seneng! Karena akhirnya aku bisa ketemu kamu secara langsung. Aku juga bisa dapat jawaban dari kamu kan! Soal apa yang dulu pernah kita bicarakan.'' jawab Bella merasa senang dan sedikit malu-malu.
'' Bell...! Sejujurnya, itu memang aku. Tapi.. Apa kamu tidak menyesal, setelah tahu seperti apa aku dan kehidupanku.''
'' Dunia kita sepertinya sangat berbeda. Sekarang, kamu tahu kan seperti apa kehidupanku? Walaupun aku kuliah di kampus tempat orang-orang kaya, tapi aku hanya orang biasa yang kebetulan beruntung dapat beasiswa untuk kuliah disana.'' ucap Raka merendah diri.
Sebenarnya, didalam hati Raka dia juga ikut merasa senang. Karena kini, dia bisa bertemu dengan Bella secara langsung. Namun, siang tadi saat Raka tidak sengaja melihat mobil yang menjemput Bella, dia jadi sedikit minder.
Walaupun Raka sendiri belum tahu akan status keluarga Bella, akan tetapi, dengan melihat bagaimana kendaraan milik keluarga Bella saja, dia bisa tahu kalau Bella berasal dari keluarga orang kaya. Maka dari itulah, kini Raka mulai sedikit ragu untuk menjalin hubungan dengan Bella.
'' Mas Raka! Aku gak memandang kamu dari segi materi ataupun rupamu. Ya.. Walaupun jujur aku akui, ternyata rupamu juga melebihi dari apa yang pernah aku bayangkan. Tapi intinya bukan itu mas!''
'' Kamu sendiri tahukan? Dulu, jauh hari sebelum kita bertemu seperti sekarang ini, aku juga sudah mengatakan kalau aku suka padamu. Itu artinya, perasaanku padamu memang benar-benar murni dari dalam hatiku mas Raka!''
'' Mas! Kuharap, sekarang kamu bisa menepati ucapanmu yang dulu pernah kamu katakan padaku. Aku juga tetap berharap, kita bisa menjalin hubungan yang lebih serius lagi, tanpa harus melihat bagaimana status kita.''
'' Aku sendiri tidak ingin mempermasalahkan soal status kamu ataupun keluargamu. Bagiku, kamu dengan segala yang ada padamu, itu sudah lebih dari cukup mas.'' ujar Bella begitu panjang lebar mengutarakan isi dalam hatinya.
'' Tapi Bell, mungkin benar kamu bisa terima aku apa adanya. Hanya saja, bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka juga bisa menerima seperti halnya kamu?'' ucap Raka masih ragu.
'' Mas! Tolong kamu jawab dengan jujur ya! Di lubuk hatimu, apakah kamu juga menyukaiku?'' tanya Bella sebelum menjawab pertanyaan dari Raka.
'' Ya sebenarnya sih, memang kuakui kalau aku juga menyukaimu Bell. Tapi...''
'' Tapi apa lagi sih mas? Perasaan, dari tadi kamu selalu bilang tapi tapi tapi! Apa jangan-jangan, kamu sudah punya gadis pilihan yang lain, makanya kamu merasa berat untuk menjalin hubungan denganku? Atau.. Kamu udah jadian sama Helen?'' ujar Bella tampak curiga.
'' Bukan Bell! Aku tidak punya hubungan dengan siapapun, termasuk juga dengan Helen.'' sahut Raka menepis dugaan dari Bella.
'' Kalau begitu, apa yang perlu kamu khawatirkan mas? Aku yakin kok, mami dan papiku akan setuju jika aku menjalin hubungan denganmu.'' ujar Bella yang merasa jika Raka takut hubungan mereka tidak direstui.
'' Tapi...! '' ucap Raka terlihat kebingungan.
__ADS_1
Raka teringat akan kejadian kemarin. Dia teringat, saat dimana ayahnya Bella melemparkan uang kepadanya, sebagai pengganti uang sabun karena seluruh tubuh dan pakaiannya kotor terkena cipratan air kubangan di jalan, oleh mobil yang dikendarai oleh ayah Bella waktu itu.
Dia juga teringat pesan dari ibunya, agar jika dia mencari calon istri, supaya mencari anak orang yang sederhana saja. Ibunya tidak ingin, keluarganya nanti direndahkan karena status sosial mereka sebagai orang biasa.
'' Kok tapi lagi sih mas? Percaya deh! mereka pasti setuju dengan hubungan kita.'' ucap Bella mencoba meyakinkan Raka.
'' Baiklah Bella Kita akan mencoba menjalaninya terlebih dahulu. Tapi, jika nanti ternyata ada pihak keluargamu yang keberatan dengan hubungan kita, aku lebih baik mundur.''
'' Kok gitu sih mas? Kamu kayak gak serius deh suka sama aku. Bukannya kamu harus lebih berjuang lagi jika hubungan kita terhalang sesuatu.'' ujar Bella merasa tidak puas.
'' Bukan begitu Bella. Kan aku udah bilang! Aku ini cuman orang biasa, dan bukan dari keluarga kaya sepertimu atau yang lain. Aku khawatir, jika nanti aku akan membuatmu, dan juga keluargamu merasa malu dihadapan orang lain.''
'' Aku juga tidak ingin, pada akhirnya kamu menyesali hubungan kita. Apalagi, ibuku juga bilang padaku. Agar aku tidak mencari pasangan anak orang kaya sepertimu.''
'' Lho! Emangnya kenapa mas? Apanya yang salah, jika kamu punya pasangan orang seperti aku?'' tanya Bella keheranan.
'' Tidak ada yang salah kok Bell. Hanya saja, ibuku tidak ingin, kalau nanti keluargamu jadi olok-olokan orang lain, hanya karena kamu memiliki pasangan dari keluarga seperti aku.''
'' Mas Raka! Bagiku, cinta tidak memandang kaya atau miskin. Siapapun, dan bagaimanapun keadaannya, punya hak untuk mencintai dan dicintai.''
'' Nasib kita juga tidak tahu kan? Okelah, sekarang kondisi keluargaku sedang dalam keadaan mampu. Tapi kedepannya, aku sendiri tidak tahu. Begitu pula sebaliknya. Sekarang, keluarga mas Raka hanya biasa-biasa saja. Tapi bisa jadi, kelak keluarga mas bisa seperti keluargaku sekarang, bahkan mungkin lebih.''
Bella yang hatinya merasa senang saat tadi mendengar, bahwa Raka juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, dia tidak ingin Raka menjadi goyah hatinya. Dia terus membujuk dan menyemangati Raka, agar Raka tidak merasa minder, hanya karena dia bukan dari kalangan keluarga kaya.
Bella juga meminta kepada Raka, agar dia tidak terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu seperti yang Raka khawatirkan. Hingga setelah beberapa saat berpikir, Rakapun akhirnya tidak lagi mengkhawatirkan tentang masalah tersebut. Diapun akhirnya benar-benar siap untuk menjalani, serta berusaha untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada,
'' Baiklah Bella! Aku akan mencoba mengikuti, serta menjalaninya seperti yang kamu sarankan. Mudah-mudahan, hubungan kita ini, tidak akan menemui kendala apapun.'' ucap Raka sedikit bersemangat.
'' Oh iya mas Raka, udah dulu ya! Sampai jumpa besok dikampus. I Love you mas Raka..! Assalamualaikum..'' ucap Bella mengakhiri pembicaraan mereka malam itu.
'' Iya Bella, Insyaallah. Wa'alaikumsalaam.. I Love you to.'' sahut Raka sebelum panggilan telepon dari Bella itu ditutup.
Baik Bella maupun Raka, malam itu hati dan pikiran keduanya seakan sedang melayang-layang. Terlebih lagi Bella. Sudah sekian lamanya, dia merasa penasaran akan sosok pemilik akun bernama Erlang Biru, yang membuatnya merasa jatuh hati. Kini, setelah mengetahui dan bertemu dengan orangnya secara langsung, dia bahkan mendapatkan jawaban atas pernyataan hatinya, yang dulu pernah dia ucapkan.
Didalam kamarnya, Bella yang hatinya sedang berbunga-bunga tersebut, dia sembari memeluk boneka panda, dia juga terus menatap gambar Raka yang ada didalam iPhone miliknya tersebut.
'' Akhirnya, aku menemukan dan mendapatkanmu tuan misterius! Emmuah..'' ucap Bella lirih, sambil menciumi gambar Raka dalam iPhone-nya yang dia ambil kemarin.
...----------------...
'' Waah...! Kok tumben banget sih kamu Bell. Sepagi ini, kamu udah bangun dan rapi. Seingat mami, sejak kamu masih kecil sampai sekarang, baru kali ini kamu seperti ini. Pasti kamu ada sesuatu nih!'' komentar ibu Linda, saat melihat kedatangan Bella diruang makan.
'' Iih Mami ini. Bella bangun siang dikoment, Bella Bangun pagi, juga dikoment. Jadi, Bella harus gimana sih Mi?'' sahut Bella yang sudah tampak rapi dan berdandan begitu cantik.
'' Ada apa sih ini? Pagi-pagi udah rame! Kayak lakon di sinetron aja.'' ujar pak Daniel sambil berjalan turun dari lantai dua.
'' Ini lho Pi..! Anak gadismu. Liat! Nggak biasanya banget kan? Kayak orang yang lagi jatuh cinta gitu!'' jawab ibu Linda cengar-cengir sambil menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
'' Emm.. Bener Mi! Sepertinya, anak gadis kita udah mulai dewasa nih! Jangan-jangan, dia udah menemukan pangeran kodoknya disini! hhh...'' ujar pak Daniel menggoda Bella.
__ADS_1
'' Eumm.. Papi nih! Malah ngeledek lagi. Mami sama Papi jahat!'' sahut Bella langsung cemberut, lalu duduk dikursi depan meja makan.
Melihat Bella seperti itu, pak Daniel dan ibu Linda malah terkekeh. Sebagai anak semata wayang mereka, terkadang Bella bersikap dewasa, namun terkadang sikap manjanya juga ikut muncul. Karena kedua orang tuanya malah terkekeh melihatnya seperti itu, Bella jadi makin kesal. Dia menutupi wajahnya sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya dilantai.
'' Papi...! Mami...!'' seru Bella yang merasa dirinya jadi bahan tertawaan oleh kedua orang tuanya.
Setelah beberapa saat, ibu Linda yang melihat Bella tampak semakin kesal, diapun menghentikan tawanya. Dia juga meminta suaminya untuk tidak lagi menggoda Bella, karena khawatir Bella akan ngambek karena hal tersebut.
'' Pi..! Udah Pi. Liat tuh! Bella udah kayak gitu. Kalau kebablasan, nanti kita juga yang repot.'' ujar ibu Linda meminta kepada suaminya.
'' Iya Mi.., Maaf! Soalnya, jarang-jarang lho bisa liat Bella kayak gitu.'' sahut pak Daniel segera menghentikan tawanya.
'' Oh iya Bella. Papi ataupun Mami, hari ini gak bisa jemput kamu pulang kuliah. Hari ini, kami mau ketemu klien penting. Mungkin kami juga pulangnya agak sore.'' ujar pak Daniel saat mereka selesai sarapan.
'' Iya Bella, Mami juga gak bisa. Soalnya, Mami harus nemenin Papi disana. Kamu pulangnya naik taksi, atau bawa mobil sendiri aja ya!'' sambung ibu Linda.
'' Iya Mi.., Pi.. gak papa kok! Biar nanti Bella pulangnya nebeng sama temen, atau naik taksi online aja.'' Sahut Bella yang masih enggan untuk membawa mobil sendiri ke kampus.
'' Tapi kamu harus hati-hati lho Bell kalau pesen taksi online! Jangan asal pesen-pesen aja. Sekarang ini, banyak kejadian penculikan yang dilakukan oleh oknum taksi online.''
'' Iya Mi, Bella tahu kok soal itu. Mami dan Papi nggak usah khawatir, biar nanti Bella pulangnya bareng sama temen Bella.''
Bagi Bella, saat seperti ini dia langsung teringat kepada Raka. Diapun berpikir, saat pulang kuliah nanti, dia akan meminta Raka untuk mengantarnya pulang. Selain dia akan merasa lebih nyaman, nantinya dia juga bisa sekaligus ngobrol berdua dengan Raka.
Hal ini tentu saja membuat Bella malah merasa senang. Karena akhirnya, dia bisa memiliki banyak waktu untuk dia dan Raka, saling berbagi rasa. Pak Daniel dan ibu Linda tampak keheranan. Mereka jadi saling pandang saat melihat Bella yang tampak tidak seperti biasanya tersebut.
'' Yuk Pi, kita berangkat! Ntar keburu siang nih!'' ajak Bella langsung masuk ke dalam mobil, begitu mereka keluar dari dalam rumah.
'' Tunggu Mami kamu dulu dong Bella, masak Mami kamu mau ditinggal.''
'' Iiih..., Mami lagi ngapain sih, kok lama banget! Mi...! Cepetan dong...! Nanti keburu siang nih!'' gerutu Bella, lalu berteriak memanggil ibunya.
Baru saja Bella berhenti berteriak, ibu Linda muncul dari balik pintu. Dia lalu berjalan perlahan, mendekati mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah mereka. Bella yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke kampus, dia melongok dari balik kaca jendela mobil sambil berceloteh:
'' Mami ngapain aja sih Mi? Pakek lama banget lagi. Nanti, kalau Bella kena hukum, Mami lho yang harus tanggung jawab.''
'' Sabar dikit ngapa sih Bell! Mami kan harus siap-siap dulu. Ini juga masih belum jam tujuh. Biasanya juga, jam segini itu kamu baru mau mandi.'' jawab ibu Linda setelah dia berada didekat mobil.
'' Itukan dulu Mi...! Sekarang kan beda. Mulai hari ini, Bella mau berubah gak kayak dulu lagi.'' jawab Bella, lalu meminta ayahnya untuk segera berangkat, setelah ibunya masuk kedalam mobil.
Sesampainya mobil mereka didepan jalan yang menuju pintu gerbang kampus, Bella segera turun. Setelah mobil yang dibawa oleh kedua orang tuanya pergi dari sana, Bella lalu berjalan menuju pintu gerbang kampus, yang hanya berjarak sekitar 30 meteran tersebut. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya, mereka juga mulai berdatangan.
'' Eh Bella Bella, tunggu aku Bell! Cepet banget sih jalannya. Kayak orang lagi dikejar hantu aja.'' ujar Silvi yang juga baru datang.
Setelah tahu kalau Silvi yang memanggilnya, Bella segera berhenti berjalan. Sambil menunggu Silvi menghampirinya, Bella memperhatikan setiap orang yang datang. Tentu saja, orang yang dicarinya itu tiada lain dan tiada bukan adalah Raka, pemuda yang baru tadi malam resmi menjadi kekasihnya.
'' Kamu nyariin siapa sih Bell? sampe celingukan begitu. Helen apa Raka?'' tanya Silvi setelah berada disamping Bella.
'' Emm dua duanya.'' jawab Bella singkat.
__ADS_1
'' Oh.. Bentar lagi juga mereka datang. Yuk kita tunggu sambil berjalan aja!'' ajak Silvi menarik tangan Bella.
...****************...