Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Ijin Bersyarat


__ADS_3

Bella segera mengajak Raka dan Roni untuk masuk kedalam rumah seperti perintah ibunya. Keduanya lalu duduk diruang tamu, sementara Bella pergi keruang tengah karena dipanggil oleh ibunya.


'' Mas Bro! Jadi, dia itu pacarnya mas Bro ya? ck ck ck.. Hebat bener ya sampeyan mas! Bisa punya pacar secantik dan sekaya itu!'' bisik Roni sambil geleng-geleng, saat keduanya sudah duduk di kursi ruang tamu.


Raka tidak menjawab pertanyaan dari Roni. Dia malah memberi isyarat Roni, agar tidak membicarakan hal tersebut ditempat ini, karena khawatir kedua orang tua Bella mendengar pembicaraan mereka.


Saat menunggu Bella dan kedua orang tuanya keluar untuk menemui mereka, keduanya hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun. Raka sendiri masih kepikiran dengan kejadian diluar tadi. Apalagi, dia juga sempat melihat raut muka Bu Linda yang tampak kurang senang. Namun, dia juga hanya bisa pasrah dengan segala kemungkinan yang ada.


Dari balik dinding kaca tebal, pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga yang transparan dari dalam, Bu Linda sedang berbicara kepada Bella. Sambil terus memperhatikan Raka dan Roni yang sedang duduk di ruang tamu, Bu Linda seakan sedang menginterogasi Bella.


'' Oh..Jadi itu, pacar kamu yang cuma penjual serabi itu?'' tanya Bu Linda sambil menoleh kearah Raka dengan sedikit sinis.


'' Mam! Kok Mami ngomongnya gitu sih! Bisa nggak ya? Mami ngomongnya nggak pake ngrendahin orang!'' ujar Bella yang merasa tidak suka dengan sikap ibunya seperti itu.


'' Mam.., Tiap orang bisa berubah. Mungkin mas Raka sekarang hanya seorang penjual kue serabi. Tapi siapa tahu, kedepannya dia bisa jadi orang yang sukses. Roda kehidupan itu selalu berputar Mam! Bella yakin Mami tahu itu. Dan contohnya keluarga kita sendiri.''


'' Lagi pula, meskipun dia hanya orang biasa, tapi Bella sangat menyukainya? Pokoknya, kalau Mami nggak suka sama mas Raka, itu berarti Mami juga nggak suka sama Bella! Kalau seperti itu, lebih baik Bella pergi dari rumah ini.'' ancam Bella.


'' Bella..! Kamu..!''


Melihat sikap Bella yang seperti itu, Bu Linda mulai emosi. Hampir saja dia akan menampar Bella. Namun, hal itu segera dicegah oleh pak Daniel yang baru saja turun dari kamarnya, dan menemukan mereka diruang tersebut.


'' Mam.. Sabar! jangan kasar begitu sama Bella. Bagaimanapun juga, Bella adalah anak kita satu-satunya. Kalau nanti terjadi apa-apa sama Bella, kan kita juga yang repot.'' ucap pak Daniel, menasehati istrinya.


'' Tapi Pih! Gara-gara anak itu, sekarang Bella jadi susah diatur.'' sahut Bu Linda kesal.


'' Mami..! Ingat apa kata Papi kemarin. Jangan buru-buru menilai sesuatu! Walaupun penampilannya sederhana, tapi anak itu sepertinya cukup baik.'' bisik pak Daniel kepada Bu Linda.


'' Sementara ini, biarkan saja mereka. Kita cari waktu yang tepat, jika kita sudah menemukan orang yang cocok untuk Bella.'' lanjutnya.


Bu Linda akhirnya hanya menurut apa yang dikatakan oleh suaminya. Sebenarnya, pak Daniel sendiri juga tadi sempat sedikit kaget saat melihat Raka. Hampir saja dia memanggil Raka dengan sebutan '' bocah jelek '', seperti saat dimana dia melihat Raka yang terkena cipratan air kubangan pada waktu itu. Namun, untungnya dia bisa menahan diri dan tidak mengeluarkan kata-kata itu, saat dia menghampiri Raka dan Roni diruang tamu tadi.


'' Mami, Bella, sebaiknya kita temui mereka. Tidak baik membiarkan tamu seperti ini. Oh iya Mih, suruh Imah untuk membuatkan minuman untuk mereka.'' pinta pak Daniel kepada istrinya.


Meski dengan hati yang sedikit kurang senang, Bu Linda akhirnya hanya menuruti apa yang dikatakan oleh pak Daniel suaminya. Dia lalu menyuruh Imah pembantunya, untuk membuatkan minuman dan membawakan makanan ringan untuk Raka dan Roni diruang tamu.


'' Maaf mas! Lama nunggunya ya. Tadi kami ada sedikit urusan keluarga.'' sapa pak Daniel kepada Raka dan Roni, setelah dia kembali keruang tamu dan duduk bersama mereka disana.

__ADS_1


'' Gak papa tuan! Justru kami yang minta maaf. Mungkin kedatangan kami kemari ini, malah mengganggu istirahat tuan sekeluarga.'' sahut Raka dengan sopan.


'' Oh iya! Ini dengan mas siapa?'' tanya pak Daniel kepada Raka dan Roni.


'' Saya Raka tuan! Dan ini teman saya Roni.'' jawab Raka memperkenalkan dirinya dan Roni kepada pak Daniel.


'' Jangan panggil saya tuan mas, panggil saja bapak atau Om Daniel, biar lebih enak didengarnya. Oh iya, saya baru ingat! Kamu yang tempo hari terkena cipratan air itukan? Aduh.. Saya minta maaf mas ya! Waktu itu saya lagi buru-buru banget mas. Saya juga benar-benar minta maaf atas ketidak sopanan saya waktu itu.'' ujar pak Daniel basa-basi, namun terlihat cukup sopan.


'' Gak papa tuan, eh pak! Saya malah sudah lupa soal itu.'' sahut Raka, juga ikut basa-basi.


'' Jadi ngomong-ngomong, kamu ya pacarnya Bella? Saya dengar, kamu juga satu kampus sama Bella.'' tanya pak Daniel lagi.


'' Iya Pi! Dan tujuan kedatangan mas Raka kemari juga, sebenarnya ingin minta ijin kepada Papi dan mami, soal hubungan kami berdua.'' Sahut Bella yang malah menjawab pertanyaan dari ayahnya kepada Raka.


'' Boleh ya Pi..!'' lanjut Bella terang-terangan meminta agar ayahnya mendukung hubungannya dengan Raka.


Ditembak permintaan oleh putri satu-satunya itu didepan orang lain, pak Daniel jadi kebingungan. Apalagi dia juga paham betul, bagaimana sifat Bella putri semata wayangnya tersebut. Dia lalu menoleh kepada istrinya yang baru saja duduk. Akan tetapi, Bu Linda cuma diam tanpa ekspresi.


Karena bingung dan merasa buntu, pak Daniel lalu mengajak istrinya untuk berunding diruangan lain. Dia tidak ingin mengecewakan Bella dengan menolak permintaannya tersebut. Namun, dia juga merasa tidak nyaman, melihat istrinya yang tidak menyetujui hubungan Bella dengan Raka.


'' Mami...! Kan Papi tadi udah bilang. Biarkan dulu Bella menjalin hubungan dengan anak itu. Nanti, kalau sudah dapat pemuda yang pas untuk Bella, baru kita jauhkan Bella dari dia,'' ujar pak Daniel memberi saran kepada istrinya.


'' Sementara ini, Mami pura-pura setuju aja dulu biar Bella senang. Jangan sampai, Bella jadi uring-uringan gara-gara masalah ini. Mami kan tahu bagaimana sifat Bella! Mami juga tahu kan, karir Papi sekarang lagi bagus? Papi gak mau, nanti karir Papi jadi terganggu karena ngurusin soal Bella.'' lanjut pak Daniel lagi.


'' Tapi Pih! Bagaimana kalau nanti mereka macam macam? Atau, bagaimana jika nanti Bella gak bisa menjauh dari anak itu? Kan kita juga yang pusing. Makanya, mumpung belum terlanjur, lebih baik sekarang aja kita larang mereka menjalin hubungan.'' sahut Bu Linda.


Pak Daniel jadi terdiam. Apa yang dikatakan oleh istrinya, memang ada benarnya juga. Tapi, untuk sekarang-sekarang ini, dia juga tidak ingin karirnya jadi terganggu, jika nanti Bella membuat masalah gara-gara kemauannya yang tidak dipenuhi.


'' Mih..! Biar itu Papi yang pikirkan. Papi juga punya keyakinan, kalau anak itu tidak akan pernah macam-macam.''


'' Menurut Papi, sebenarnya anak itu cukup baik dan juga cukup tampan. Apalagi, dia juga termasuk pemuda yang mandiri dan punya cita-cita. Papi akan berikan dia kesempatan, tapi dengan beberapa syarat.'' ucap pak Daniel, lalu membisikkan sesuatu kepada istrinya.


'' Bagaimana Mih, Mami setuju kan dengan ide Papi?'' tanya pak Daniel yang dijawab oleh Bu Linda dengan anggukan, setelah beberapa saat dia berpikir.


Beberapa saat kemudian, Bu Linda kembali keruang tamu. Dia lalu berbisik kepada Bella. Bella mengangguk. Dia lalu berkata kepada Raka, agar menemui ayahnya yang sedang berada diruang keluarga.


'' Mas Raka, bisa keruang keluarga sebentar? Itu katanya Papi pengen bicara berdua sama mas Raka!'' pinta Bella kepada Raka.

__ADS_1


Raka segera bangkit dari duduknya. Dia lalu pergi keruang keluarga, dimana pak Daniel sedang menunggunya. Sementara Roni, dia tetap duduk diruang tamu bersama Bella dan ibunya, sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang telah disediakan.


'' Maaf pak! Anda memanggil saya?'' tanya Raka, saat telah berada diruang keluarga dan melihat pak Daniel duduk menunggunya disana.


'' Iya betul mas. Saya ingin bicara sedikit sama kamu. Silahkan duduk!'' ujar pak Daniel mempersilahkan Raka untuk duduk dihadapannya.


'' Begini mas. Sebenarnya, kami tidak keberatan kalau Bella menjalin hubungan dengan kamu. Tapi, kamu sendiri tahukan! Bagaimana status keluarga kami? Kami juga belum tahu betul seperti apa keluarga kamu. Sementara itu, kami juga tidak mungkin menolak permintaan anak kami Bella.''


'' Jadi, kami tetap akan mengijinkan kalian berdua menjalin hubungan. Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Bagaimana? Apa kamu bersedia?'' tanya pak Daniel.


Raka diam sejenak untuk berpikir. Namun akhirnya, Dia mengangguk dan bersedia untuk memenuhi persyaratan yang akan dikatakan oleh pak Daniel, meskipun pak Daniel belum mengatakannya sama sekali.


'' Baiklah! Kalau kamu bersedia. Tolong dengarkan baik-baik.'' ucap pak Daniel lalu menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan kata-katanya.


'' Pertama. Selama kalian pacaran, kalian tidak boleh berbuat yang macam-macam! Kedua. Kalian tidak boleh terlalu sering terlihat berdua, apalagi disuatu acara-acara penting, khususnya dalam acara keluarga kami! Dan berikutnya, ini yang terpenting.'' ucap pak Daniel, lalu diam sejenak sebelum mengatakan syarat yang selanjutnya.


'' Kamu kan tahu, latar belakang keluarga kami. Maaf! Bukannya kami bermaksud merendahkan, tapi inilah kenyataannya. Bella adalah putri kami satu-satunya. Kami tidak ingin, hidup Bella nanti sengsara. Kami juga tidak ingin, kami merasa malu karena anak kami menikah dengan orang yang tidak tepat.''


'' Namun, karena kami melihat kalau Bella begitu menyukaimu, maka kami akan memberikan kesempatan kepadamu untuk bisa bersama Bella putri kami.''


'' Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan restu dari kami dan juga ingin menikahi Bella, maka kamu harus bisa menunjukkan kepada kami, kalau kamu layak untuk Bella. Bagaimana? kamu paham kan maksud kami?'' ucap pak Daniel kepada Raka.


'' Oh iya, ada satu lagi yang perlu kamu ingat. Jika nanti kami menemukan orang yang tepat untuk Bella, sementara kamu masih belum bisa menunjukkan kelayakanmu, maka kamu harus menjauhi Bella.'' tambahnya terang-terangan.


Raka mengangguk mengerti. Namun, hatinya mulai sedikit bimbang. Meskipun tanpa adanya persyaratan tersebut, Dia sendiri juga memang ingin melakukan seperti apa yang barusan dikatakan oleh pak Daniel. Akan tetapi, saat mendengar persyaratan terakhir yang dikatakan oleh pak Daniel, kini Raka benar-benar merasakan sedikit rasa kekhawatiran yang pernah dikatakan oleh ibunya.


Tak lama kemudian, setelah apa yang ingin dikatakan oleh pak Daniel kepada Raka telah tersampaikan, mereka kembali keruang tamu dan kembali duduk disana. Bella dan yang lainnya, secara bersamaan melihat kearah Raka dan pak Daniel.


Selain Bu Linda yang sudah tahu tentang apa yang mereka bicarakan, Roni dan Bella jadi bertanya-tanya didalam hati mereka. Namun, saat Raka dan pak Daniel keluar dari ruang keluarga tadi, mereka tersenyum manis seakan tampak bahagia.


Akan tetapi, didalam hati Raka kini bergejolak dua rasa yang berbeda yang membuatnya merasa bimbang. Haruskah dia merasa bahagia karena telah mendapat ijin untuk menjalin hubungan dengan Bella, ataukah merasa sedih dengan permintaan yang diajukan oleh pak Daniel kepadanya.


Namun, karena dia tidak ingin Bella dan Roni mengetahui tentang hal tersebut, makanya Raka mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja, seakan tidak ada suatu permasalahan apapun didalam hatinya.


Setelah hampir satu jam mereka disana, Raka kemudian mengajak Roni untuk berpamitan. Melihat hal itu, Bella yang masih ingin bersama Raka, dia tampak keberatan. Namun, karena Raka mengatakan kalau besok pagi dia harus membuka kedainya, Bella pun mau tidak mau harus merelakan Raka untuk pulang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2