Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Bertemu Pemuda Tampan


__ADS_3

'' Alhamdulillah...! Kalau dari pihak ahli waris ataupun yang mewakili tidak ada yang merasa keberatan dengan masalah ini, saya selaku wakil dari klien kami, benar-benar mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya.''


'' Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya, mohon kepada ahli waris dan juga aparat setempat selaku saksi, silahkan untuk menandatangani berkas-berkas ini.'' ucap pengacara tersebut sambil menyodorkan berkas yang harus ditandatangani oleh Naya dan yang lainnya.


Usai berkas-berkas itu ditandatangani oleh Naya dan para saksi, pengacara itupun mengemasi berkas-berkas tersebut dan memasukkannya kedalam tas miliknya. Dan sebelum pengacara itu berpamitan dan pergi dari tempat tersebut, diapun berkata kepada Raka dan yang lainnya.


'' Baiklah mas, ibu dan dek Naya. Karena urusan kami disini sudah clear, kami mau pamit karena masih ada urusan lain yang harus kami lakukan. Oh iya, hampir saja kelupaan. Ini ada titipan dari klien kami untuk ahli waris. Mungkin nilainya tidak seberapa, tapi mudah-mudahan bisa sedikit membantu untuk biaya pemakaman almarhum ataupun untuk keperluan lainnya.''


'' Dan maaf! Ini baru dapat kami berikan, karena memang seperti itulah yang dipesankan oleh klien kami. Klien kami bilang! Jika pihak keluarga ahli waris bisa diajak kerjasama dan tidak mempersulit urusan ini, maka klien kami secara ikhlas ridho ingin memberikan santunan ini kepada ahli waris almarhum.''


'' Tapi jika yang terjadi sebaliknya, klien kami juga tidak akan segan-segan untuk membawa masalah ini lewat jalur hukum yang berlaku di negara ini. Dan tentunya, hal itu sama-sama tidak kita inginkan bukan!'' ujar sang pengacara tersebut, lalu menyerahkan amplop kepada Naya dan para saksi yang ada ditempat tersebut.


Saat pengacara tersebut memberikan amplop berisi sejumlah uang kepada Naya, Naya menoleh kearah Raka dan ibu Sophia. Sepertinya Naya ingin meminta persetujuan dari saudara dan ibu angkatnya tersebut. Baik Raka maupun ibu Sophia, mereka tersenyum dan mengangguk kepada Naya. Karena sudah mendapat persetujuan dari mereka, Nayapun menerima amplop yang diberikan oleh pengacara tersebut.


'' Maaf pak! Bagi kami, jika memang semuanya sudah jelas dan tidak ada unsur penipuan ataupun lainnya, tidak ada gunanya bagi kami untuk menghalang-halangi apa yang memang menjadi hak dari klien anda.''


'' Ya.., walaupun seperti yang tadi anda sampaikan. Ini kesannya memang cukup terburu-buru, mengingat bahwa almarhum juga baru saja meninggal. Tapi, kami bisa memaklumi akan situasi dan kondisi dari klien anda.''


'' Selain itu, kami juga rasanya tidak mungkin membiarkan Naya tinggal disini sendirian. Jadi menurut kami, memang lebih baik Naya ikut dan tinggal bersama kami saja secepatnya.''


'' Oh iya! Kami juga mewakili Naya, sangat berterimakasih atas pemberian dari klien anda. Kami doakan, mudah-mudahan, segala urusan klien anda dimudahkan sehingga semuanya dapat berjalan dengan lancar.'' ucap Raka kepada pengacara tersebut.


Setelah semuanya dirasa cukup, pengacara itupun akhirnya pamit pulang. Sementara ketua RT dan beberapa tokoh masyarakat yang ada ditempat itu, mereka tinggal sebentar untuk membicarakan masalah doa bersama dengan Raka dan ibunya.


'' Oh iya mas! Jadi, kalian akan membawa Naya tinggal bersama kalian sekarang juga?'' tanya ketua RT, setelah tadi mengantarkan pengacara itu ketempat dimana mobilnya berada.


'' Iya pak RT! Soalnya, nggak mungkinkan kalau Naya tetap tinggal disini! Tapi, kalau untuk doa bersama nanti malam, insyaallah saya juga akan ikut hadir nanti.'' sahut Raka menjawab pertanyaan ketua RT.


'' Oh iya pak RT! Karena kami akan membawa Naya sekarang juga, ini uang dan bahan sembako sumbangan dari para warga tadi, kami serahkan kepada bapak dan warga disini. Mungkin bisa digunakan untuk keperluan selama acara doa bersama. Dan jika nanti masih ada kekurangan apapun, bapak bisa bilang kepada saya mengenai kekurangannya.'' ucap Raka sembari menyerahkan sejumlah uang sumbangan dari warga.


'' Nggak usah mas! Kan tadi kami udah bilang! Masalah itu, biar kami saja yang urus. Sudah menjadi tradisi masyarakat disini, jika ada warga yang terkena musibah, kamilah yang menyiapkan segalanya.'' sahut ketua RT tersebut.


'' Kalau untuk sumbangan yang tadi, itu memang sudah kami niatkan untuk membantu dek Naya. Kami sangat kasian sama dia. Apalagi, dia sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi.'' lanjutnya.


'' Nggak apa-apa pak RT. Sekarang Naya sudah menjadi tanggungan kami. Kami juga sudah bicara dengan Naya untuk masalah ini. Lagi pula, tadi Naya juga dapat santunan dari pemilik baru tanah ini. Jadi, mohon ini diterima. Anggaplah ini sebagai sedekah untuk almarhum kakeknya Naya.'' ucap Raka sambil menyodorkan uang yang tadi sempat ditolak oleh ketua RT.


Setelah Raka berkata demikian, ketua RT itupun akhirnya mau menerima pemberian tersebut. Dia lalu memerintahkan beberapa orang warga yang ada disana, untuk membawa bahan-bahan sembako itu ketempat yang terdekat dengan masjid, guna keperluan selama doa bersama untuk almarhum kakeknya Naya.


Setelah hal-hal yang berkaitan dengan masalah doa bersama untuk almarhum kakeknya Naya selesai, Raka segera meminta Naya untuk mengemasi barang-barang yang bisa dan perlu untuk dibawa. Karena memang hanya sedikit barang-barang milik Naya dan hanya ada beberapa setel pakaian dan perlengkapan sekolah, maka semuanya bisa dibawa sekali angkut dengan menggunakan sepeda motor.

__ADS_1


'' Ayo Nay! Mari kita pulang, nanti keburu gelap. Ron, kamu bawa ibu ya! Biar Naya sama aku.'' ucap Raka mengajak Naya dan Roni untuk segera kembali kerumah kontrakannya.


'' Oke mas bro! Siap siap.'' sahut Roni.


'' Hati-hati ya Ron, jangan ngebut-ngebut bawa motornya. Utamakan keselamatan ibu!'' pinta Raka lagi kepada Roni.


'' Iya iya! Mas Bro tenang saja. Kayak gak biasanya aja aku bawa ibumu.'' jawab Roni lalu segera menghidupkan mesin motornya.


Raka, ibu Sophia, Naya dan Roni segera meninggalkan tempat tersebut, setelah mereka berpamitan kepada ketua RT, beberapa tokoh masyarakat, dan orang-orang yang ada disana. Saat Raka dan yang lainnya sudah mulai menjauh dari tempat itu, beberapa orang yang masih ada disana juga mulai membubarkan diri. Beberapa orang yang tidak mengetahui siapa Raka, mereka mulai bertanya-tanya mengenai Raka dan ibu Sophia.


'' Pak RT! Sebenarnya, siapa sih pemuda tadi dan juga wanita yang dipanggil ibunya itu?'' tanya seseorang tampak penasaran.


'' Saya sendiri kurang begitu tahu pak. Tapi yang pernah saya dengar. Katanya sih, pemuda itulah yang suka membantu Naya. Bahkan, dialah yang membiayai sekolah Naya selama ini.''


'' Kita kan tahu. Dulu Naya nggak sekolah. Jangankan untuk membiayai sekolahnya. Lha untuk makan saja dia sudah kesulitan. Apalagi sejak kakeknya sering sakit-sakitan. Dia sampai bekerja mengumpulkan barang bekas untuk biaya makan mereka.''


'' Iya pak ya. Saya juga sebenarnya merasa kasian sama mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Saya sendiri juga lagi susah. Anak-anak saya banyak, tiap hari kebutuhan hidup makin meningkat. Tapi ya syukurlah, Naya bertemu dengan pemuda baik itu dan ibunya ya pak RT. Kalau tidak! Entah bagaimana nasib Naya setelah kakeknya itu meninggal.'' ujar lelaki yang tadi bertanya kepada ketua RT tersebut.


'' Iya pak! Untung ada orang baik yang mau menolong Naya. Kalau tidak, saya juga tidak bisa membayangkan. Seperti apa nasib Naya kedepannya, setelah tahu bahwa rumah yang selama ini mereka tinggali, ternyata sudah lama dijual kepada orang lain.'' sahut ketua RT seraya mengambil nafas panjang.


...----------------...


Entah suatu kebetulan atau tidak, saat Bella melintasi jalanan tersebut, suasananya terasa begitu sepi. Padahal, biasanya saat siang seperti ini, banyak kendaraan yang melintas di jalanan tersebut. Apalagi hari ini juga merupakan hari libur.


'' Ih, kok tumben amat sih, hari ini kok jalannya sepi banget.'' ucap Bella membatin.


Tepat pada saat batin Bella berkata seperti itu, tiba-tiba mobil yang dikendarainya terasa tidak stabil. Bella langsung menghentikan laju kendaraannya, dan turun untuk memeriksa apa penyebab dari semua itu.


'' Aduh.., Ini mobil kenapa lagi sih? Kok tiba-tiba jadi seperti ini?'' ucap Bella lalu turun dari mobil untuk memeriksanya.


'' Hadeh...!! Malah pake kempes segala bannya. Mana ditempat seperti ini lagi! Aduh.. gimana ini?'' gerutu Bella tampak panik.


Setelah mengetahui kalau salah satu ban belakang mobilnya kempes, Bella lalu memeriksa apakah ada ban cadangan didalam mobil tersebut. Namun setelah mengetahui kalau tidak ada ban cadangan, diapun mulai kebingungan. Dia lalu mengeluarkan iPhone miliknya, mencoba untuk menghubungi Raka ataupun orang tuanya.


'' Ya Allah... Kok aku bisa se-apes ini sih? Disaat penting seperti ini, kok hpnya malah lowbat lagi! Aduh..! Sial..sial.''


Ibarat seperti kata pepatah: " Sudah jatuh tertimpa tangga '' mungkin itulah hal yang sedang dirasakan oleh Bella saat ini. Disaat ban mobil yang dibawanya tiba-tiba kempes ditempat yang cukup sepi, satu-satunya alat komunikasi untuk menghubungi seseorang yang diharapkan bisa membantunya, ternyata malah tidak bisa digunakan.


Karena tidak ada yang bisa dilakukannya dan juga takut terjadi sesuatu padanya, Bella berniat segera masuk kedalam mobil dan mengunci semua pintunya, sambil menunggu ada keajaiban yang datang padanya. Tapi, baru saja dia hendak meraih pegangan pintu mobil, tiba-tiba:

__ADS_1


'' Cuiiiitt..sret srett. Brumm.. Brumm..''.


Dari arah belakang, muncul sebuah mobil BMW dengan kecepatan tinggi, dan tiba-tiba berhenti tak jauh dari posisi mobil Bella berada. Setelah menepikan mobilnya, pengemudi mobil BMW tersebut lalu turun dan menghampiri Bella.


'' Permisi! Kalau tidak salah, ini bukannya Bella ya?'' tanya seorang pemuda pengemudi mobil BMW tersebut.


Bella yang merasa tidak mengenal pemuda tersebut, dia terus mengamati pemuda tampan itu, namun dia tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemuda tersebut.


'' Hey nona! Bukannya menjawab pertanyaanku, kok malah ngeliatin aku seperti itu!'' ujar pemuda itu mencoba mengingatkan Bella yang masih diam terpaku.


'' Eh, iya! Aku memang Bella. Kamu sendiri siapa ya, kok bisa tahu namaku?'' jawab Bella lalu mencoba mencari tahu siapa orang yang kini ada didepannya.


'' Emm.. Siapa sih yang tidak tahu kamu Bell. Semua anak-anak dikampus, mereka banyak yang membicarakan kamu. Jadi, ya gak aneh kan kalau aku juga bisa tahu kamu.'' jawab pemuda itu, namun tidak menyebutkan siapa dirinya sendiri.


Sejenak Bella jadi terdiam. Meskipun anak-anak kampus banyak yang tahu kalau dia sudah mempunyai pacar, namun tidak sedikit diantara mereka yang masih mencoba untuk mencari perhatian darinya. Semua itu disebabkan karena mereka merasa tidak puas, kalau Bella berpacaran dengan Raka. Mereka menganggap, kalau Bella tidak pantas berpacaran dengan Raka yang hanya orang biasa, dan tidak seperti mereka anak orang-orang kaya.


'' Eh Bella! Ngomong-ngomong, ngapain kamu ditempat sepi seperti ini sendirian? Kamu nggak sama pacar kamu?'' tanya pemuda itu setelah melihat kalau Bella hanya seorang diri.


'' Emm.. Ini mas. Ban belakang mobil saya kempes tiba-tiba. Nggak tahu kenapa? Soalnya tadinya tuh enggak. Baru setelah sampai disini, bannya kok jadi kempes. Mana nggak bawa ban cadangan lagi.'' jawab Bella.


'' Oh.. gitu! Emangnya kamu mau kemana?'' tanya pemuda itu lagi.


'' Aku mau pulang mas! Tapi gimana ya? Mobilku aja begini. Mau ngubungin Papi buat jemput aku disini, hpku malah ngedrop dan nggak bawa kabel changer lagi, jadi bingung.''


Mendengar penjelasan dari Bella, pemuda itu lalu berjalan dan memeriksa ban belakang mobil Bella yang kempes. Setelah melihat kondisi ban mobil tersebut, dia kemudian berkata kepada Bella.


'' Sepertinya, ban mobilmu itu bocor dan harus dibawa ke tempat tambal ban deh Bell. Tapi disekitar sini, mana ada tukang tambal ban. Kamu lihat sendirikan, disini hanya ada perkebunan sawit dan tidak ada perumahan sama sekali.''


'' Gini aja! Aku antar kamu pulang, dan mobilmu biar ditinggal disini dulu. Nanti aku hubungi temanku buat ngurus mobilmu. Gimana? Apa kamu mau?'' ucap pemuda itu menawarkan bantuan.


'' Emm... Gimana ya? Kalau mobilku ditinggal disini, aku takut Papiku akan marah. Apalagi, disini terlalu sepi.'' ujar Bella agak bimbang.


'' Udah..! Kamu tenang aja. Aku jamin, mobilmu akan aman dan secepatnya akan diantarkan ke rumahmu. Percaya deh!'' Sahut pemuda tersebut, mencoba meyakinkan Bella.


'' Apa kamu mau, aku cari bantuan tapi kamu nunggu disini sendirian. Disini tempatnya sepi lho! Bahaya untuk seorang gadis apalagi secantik kamu. Lagi pula, aku juga gak bisa lama-lama disini.'' lanjut pemuda itu menakut-nakuti Bella.


Akhirnya, setelah berpikir sejenak. Bella pun memutuskan untuk mengikuti saran pemuda tersebut. Dia akhirnya ikut pulang dengan diantarkan oleh pemuda itu. Sementara untuk mobilnya, dia percayakan kepada teman dari pemuda itu yang akan datang mengurusnya.


...****************...

__ADS_1


.


__ADS_2