Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Membeli Rumah


__ADS_3

Karena orang yang diajak bicara hanya diam dan acuh terhadap apa yang dikatakannya, SPB itupun pergi meninggalkan Raka sambil menggerutu. Dia lalu bergabung bersama teman-temannya dan membicarakan tentang Raka sambil menunjuk kearahnya.


Rekan-rekannya yang juga mengira kalau Raka seperti apa yang dikatakan oleh SPB tadi, mereka juga ikut mencibir saat melihat kearah Raka. Raka juga sempat mendengar cibiran mereka tentang dirinya. Akan tetapi, dia tidak ambil peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang tersebut tentangnya.


Tidak lama kemudian, Topan kembali muncul. Dia juga sempat mendengar bisik-bisik para SPB dan SPG yang sedang membicarakan tentang Raka. Dia segera menghampiri Raka dan berbicara kepadanya.


'' Mas Raka. Apa tamu pak Rio masih belum keluar juga?'' tanya Topan lalu duduk disebelah Raka.


'' Kayaknya sih belum Pan. Sejak tadi, pintu ruangan itu masih tertutup dan belum ada orang yang keluar dari sana.'' jawab Raka sambil melihat kearah pintu ruangan manager.


Baru saja Topan dan Raka selesai berbicara, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Seorang pengacara dan seorang pegawai bank, keluar diikuti oleh seorang lelaki setengah baya, yang dipanggil dengan nama Rio tersebut dibelakangnya. Ketiganya masih sempat bercakap-cakap saat berada didepan pintu ruangan tersebut.


Saat ketiganya selesai berbicara didepan pintu ruangan tersebut, secara tidak sengaja Rio melihat kearah Topan dan Raka. Dengan terburu-buru, Rio segera menghampiri Topan dan menyapanya, seakan dia melihat orang yang sangat penting baginya. Melihat sikap Rio yang sedikit berlebihan, Topan lalu memberi isyarat kepada Rio, sehingga Rio tiba-tiba merubah sikapnya.


'' Tet Tuan! Eh, maksud saya mas Topan! Kok gak ngasih tau kalau mau datang kemari! Udah lama nunggunya?'' sapa Rio sedikit grogi, setelah berada didepan Topan dan kedua tamunya pergi.


'' Belum kok pak. Kami baru saja datang. Oh iya, kenalkan! Ini teman saya, namanya mas Raka.'' sahut Topan, lalu memperkenalkan Raka kepadanya.


'' Emm.., pak Rio. Apa bapak belum membaca pesan saya?'' tanya Topan, seakan tahu kalau Rio belum membaca pesan yang dikirimkan ke ponselnya.


Karena sejak tadi Rio sibuk berbincang dengan tamunya, dia jadi tidak sempat membuka ponsel miliknya. Saat Topan pergi kebelakang tadi, dia telah mengirimkan pesan singkat kepada Rio, mengenai tujuannya datang bersama Raka menemui Rio dikantornya.


Mendengar hal itu, Rio buru-buru mengeluarkan ponsel dan membukanya. Dia lalu melihat sebuah pesan masuk dari Topan dan segera membacanya. Usai membaca pesan tersebut, Rio akhirnya mengerti maksud dan tujuan Topan datang menemuinya.


'' Maaf mas Topan! Tadi saya terlalu sibuk dan nggak sempat buka ponsel. Jadi saya tidak tahu kalau mas Topan kirim pesan kepada saya.'' ujar Rio dengan wajah menunduk.


Tidak tahu kenapa. Saat Topan mengatakan kalau dia telah mengirimkan pesan dan dia belum sempat membukanya, wajah Rio tampak sedikit pucat. Layaknya seorang pegawai yang telah membuat sebuah kesalahan, wajah Rio jadi sedikit berkeringat. Hal itu membuat Raka yang melihat perubahan pada wajah dan sikap Rio, diapun jadi terheran heran.


Topan yang juga menyadari akan perubahan pada sikap Rio, dia lalu segera meminta Rio untuk mengajaknya masuk dan berbicara didalam ruangannya. Sepertinya, Topan tidak ingin kalau perubahan pada sikap Rio ini, akan membuat Raka jadi merasa curiga pada dirinya.


'' Pak Rio! Boleh saya minta waktunya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan dengan bapak. Oh iya Mas Raka! Mas Raka tunggu disini sebentar ya. Kalau keperluan saya sama pak Rio sudah selesai, saya akan temani mas Raka buat ngomongin soal keperluan mas Raka.'' ujar Topan, lalu masuk kedalam ruangan bersama Rio.


Tidak berapa lama kemudian, Topan segera keluar dan mengajak Raka, supaya masuk kedalam ruangan Rio. Karena sudah dijelaskan terlebih dahulu oleh Topan mengenai keperluan Raka, Rio pun tidak lagi menanyakannya kepada Raka akan keperluannya tersebut.


'' Silahkan duduk tuan Raka! Santai saja, kita ngobrol-ngobrolnya sambil minum-minum. Tuan Raka mau kopi atau teh nih?'' ujar Rio menawarkan.


'' Sebelumnya terimakasih pak Rio.Terserah pak Rio sajalah, saya manut.''

__ADS_1


'' Oh iya pak Rio! Tolong jangan panggil saya tuan. Saya nggak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Rasanya, kayak gimana..gitu! Mending, pak Rio panggil saya mas saja, biar lebih enak didengarnya.'' sahut Raka menolak untuk dipanggil dengan sebutan tuan.


'' Baiklah kalau begitu. Saya akan menyuruh asisten saya membawakan minuman untuk mas Raka dan mas Topan.'' ujar Rio, lalu segera menghubungi asistennya supaya membawakan minuman untuk mereka.


'' Jadi begini mas raka. Tadi, mas topan sudah bilang soal tujuan mas Raka datang kesini. Kebetulan, kami juga ada sebuah penawaran yang menurut saya, ini adalah yang terbaik dari yang pernah kami tawarkan kepada pelanggan kami.''


'' Mas Raka tadi liat kan? Orang yang barusan keluar dari ruangan ini! Salah satunya adalah pengacaranya pelanggan kami yang hendak menjual rumahnya. Hanya saja, berhubung pelanggan kami itu masih punya sangkutan yang belum terselesaikan, makanya pelanggan kami itu tidak bisa menjual rumahnya.''


'' Oleh sebab itu, melalui pengacaranya, pelanggan kami itu ingin meminta bantuan kepada kami, untuk bisa mengembalikan uang yang telah disetorkan kepada pihak bank yang ikut mendanai proyek perumahan milik kami.''


'' Hanya saja, sesuai dengan kesepakatan bersama dari awal, tentu kami tidak bisa mengembalikan uang tersebut sepenuhnya. Dan setelah tadi kami berunding bersama, kami juga telah mencapai mufakat, kalau kami hanya bisa mengembalikan uang tersebut, sekian persen dari jumlah yang telah disetorkan.''


'' Oh iya mas Raka! Perlu mas Raka ketahui, bahwa rumah yang kami jual kepada pelanggan kami itu, bernilai sekitar 2,3 M.''


'' Rumah ini juga termasuk salah satu rumah mewah yang pernah kami jual. Ya.., walaupun bukan rumah mewah kelas atas sih! Tapi, dengan bentuk, ukuran, dan juga arsitektur yang sedang trend kekinian, ditambah lagi lokasinya yang strategis dan halaman yang cukup luas, rumah ini termasuk kategori rumah idaman.''


Dengan cukup panjang lebar, Rio menjelaskan kepada Raka tentang rumah yang ingin dia tawarkan kepadanya. Raka juga terus menyimak penjelasan dari Rio, hingga sampai hal-hal yang cukup detail dari segala yang berkaitan dengan rumah tersebut.


'' Nah.., jadi seperti itu mas Raka. Kalau mas Raka mau, terus mas Raka punya dana sebesar 500 juta untuk menggantikan uang dari pemilik rumah itu sebelumnya, mas Raka nanti tinggal melanjutkan angsuran rumah tersebut yang kurang 1M lagi, plus biaya renovasi sejumlah 200 juta.''


'' Jadi, kalau ditotalkan seluruhnya, mas Raka hanya cukup mengeluarkan uang sejumlah 1,7 M, untuk bisa mendapatkan rumah tersebut dari harga aslinya yang sebesar 2,5M, setelah ditambah dengan biaya renovasi rumah tersebut.''


'' Oh iya, saya hampir lupa. Sebenarnya, begitu rumah ini selesai direnovasi, rumah ini rencananya akan dilelangkan dengan membuka harga 1,8M. Tapi berhubung mas Raka ini temanya mas Topan, juga datang diwaktu yang tepat, maka akan kami berikan kepada mas Raka, kalau mas Rakanya mau. Gimana mas? Apa mas Raka berminat mengambil rumah ini?'' ujar Rio sembari melirik kearah Topan.


'' Atau begini aja mas. Biar mas Raka tidak penasaran dan merasa seperti membeli kucing didalam karung, saya akan temani mas Raka untuk meninjau langsung rumah tersebut. Nanti kalau mas Raka sudah merasa cocok dengan rumah itu, baru kita buat MOU dengan seluruh pihak yang terkait dengan masalah rumah itu, biar tidak ada kendala apapun dibelakang hari. Gimana?'' tanya Rio kembali menegaskan.


Setelah berpikir sejenak, Raka akhirnya menyetujui usulan Rio. Dengan mengendarai mobil milik Rio, mereka bertiga menuju lokasi dimana rumah itu berada. Hanya sekitar 20 menit perjalanan, merekapun sampai ditempat tujuan.


Tidak disangka, ternyata lokasi rumah tersebut hanya berjarak satu blok dari perumahan mewah milik keluarga Bella. Menurut cerita Rio, rumah itu tadinya dimiliki oleh sepasang suami isteri yang belum lama menikah. Yang laki-laki merupakan orang Eropa, sedangkan yang perempuan adalah orang lokal yang mempunyai profesi sebagai photo model.


Namun, karena adanya perselisihan didalam kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya merekapun berpisah. Sang suami kembali ke negaranya. Sementara sang istri, dia tetap tinggal di rumah tersebut.


Akan tetapi, sejak keduanya berpisah. Sang istri yang tinggal di rumah tersebut, tidak pernah lagi melanjutkan angsuran untuk rumah itu, dan malah berniat untuk menjualnya. Setelah beberapakali pihak bank mendatangi dan menagihnya, dia selalu menunda-nunda, hingga sampai waktu berbulan-bulan lamanya. Akhirnya, pihak bank pun berniat untuk menyita rumah tersebut.


Namun, melalui pengacaranya, sang pemilik rumah itu mendatangi dan meminta kebijakan kepada pihak perusahaan pengembang perumahan tersebut, agar bisa mengembalikan sebagian uang yang telah mereka keluarkan.


Setelah melakukan negosiasi-negosiasi, akhirnya pihak perusahaan mengambil alih masalah rumah tersebut, dan membuat kebijakan dengan mengembalikan sebagian uang kepada pemilik rumah itu.

__ADS_1


Sekembalinya mereka dari tempat tersebut, Rio kembali menanyakan kepada Raka, akan keputusannya terhadap rumah yang dia tawarkan. Raka sendiri semakin merasa tertarik, setelah melihat secara langsung, bagaimana situasi dan kondisi rumah yang ditawarkan oleh Rio kepadanya.


'' Bagaimana mas? Apa kira-kira mas Raka merasa cocok dengan rumah itu?'' tanya Rio, setelah memperlihatkan dan menjelaskan, segala yang berkaitan dengan rumah tersebut.


'' Oke pak Rio! Saya merasa cocok dengan rumah itu. Tapi ngomong-ngomong, berapa lama saya nanti bisa menempati rumah itu?'' ujar Raka bertanya balik kepada Rio.


'' Emm.., sekitar sepuluh sampai lima belas hari lagi mas. Soalnya, kami harus memastikan, kalau pengerjaan renovasi rumah itu dilakukan dengan sebaik baiknya. Karena motto perusahaan kami ini, selalu berusaha untuk memberikan kepuasan bagi para pelanggan.'' sahut Rio menjawab pertanyaan dari Raka.


Setelah Raka telah menyetujui untuk mengambil rumah tersebut, Rio pun segera memanggil pihak bank yang akan mengurusi masalah pembayarannya. Tidak lupa, Rio juga memanggil kembali pengacara pemilik rumah sebelumnya, untuk menyelesaikan segala yang berkaitan dengan masalah rumah tersebut.


Sebelum MOU dibuat, pegawai bank yang melihat penampilan Raka yang kurang meyakinkan itu, dia segera meminta Raka untuk menyebutkan nomor rekening, dan juga mengeluarkan kartu bank miliknya. Namun, setelah mengecek saldo dan transaksi dalam tiap bulan yang ada pada rekening milik Raka, keraguan pegawai bank itupun akhirnya mulai reda.


Setelah mengecek rekening bank milik Raka, pegawai bank itu lalu berbisik kepada Rio, sambil sedikit berkonsultasi dengannya. Rio lalu melihat kearah Topan, seakan sedang meminta persetujuan darinya. Dengan santai, Topan juga memberi isyarat kepada Rio, seakan mengiyakan apa yang harus dilakukan olehnya.


Setelah semua urusan tentang masalah rumah itu selesai, Raka dan Topan segera berpamitan kepada Rio. Rio mengantar mereka berdua sampai didepan halaman kantor tersebut. Beberapa SPB dan SPG yang tadi sempat membicarakan tentang Raka, terutama salah satu dari mereka yang tadi sempat menyangka kalau kedatangan Raka itu untuk mencari pekerjaan, mereka jadi terheran heran melihat Rio yang tampak begitu menghormati kedua pemuda tersebut.


Saat Raka dan Topan beranjak pergi, SPB itu menghampiri Rio yang masih berdiri memandangi kepergian Raka dan Topan. Sembari ikut berdiri disebelahnya, SPB itupun mulai menanyakan kepada Rio, perihal siapa kedua pemuda tersebut.


'' Maaf pak Rio. Sebenarnya, siapa kedua pemuda tadi? Kayaknya, bapak begitu mengistimewakannya.'' tanya SPB tersebut.


'' Oh.. itu! Kamu tidak perlu mengetahui siapa mereka sebenarnya. Tapi, kalau kamu bertemu mereka lagi, terutama pemuda yang mengendarai motor tadi, kamu harus bertindak sopan terhadapnya. Jangan sampai kamu berbuat ataupun melakukan hal yang tidak baik kepadanya. Kalau tidak! Kamu akan saya pecat dari kantor ini!'' ujar Rio lalu beranjak kembali menuju ruangannya.


Mendengar jawaban dari Rio, SPB itu jadi terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau Rio akan berkata seperti itu. Ada rasa khawatir didalam hati SPB tersebut, karena tadi dia sempat membicarakan hal yang kurang baik mengenai salah satu dari pemuda itu.


Namun, dia juga merasa sedikit lega. Sepertinya, sampai saat ini tidak ada pengaduan dari kedua pemuda itu kepada Rio. Terbukti, sikap managernya tersebut, tidak menunjukkan sesuatu yang akan membuatnya dikeluarkan dari pekerjaannya di kantor itu.


...----------------...


Karena salah satu syarat yang diminta oleh keluarga Bella sudah bisa dikatakan telah terlaksana, Raka pun jadi merasa cukup lega. Akan tetapi, karena uang tabungan yang dia kumpulkan selama ini sudah hampir habis untuk uang muka pembelian rumah tadi, Raka jadi sedikit bingung untuk memenuhi persyaratan yang lainnya.


Rasanya tidak mungkin baginya untuk bisa membeli sebuah mobil, walaupun dengan cara mengangsur. Mengingat saat ini, dia juga sudah harus memikirkan angsuran untuk rumah tersebut. Apalagi, angsuran untuk rumah tersebut juga jumlahnya tidak sedikit untuk orang sekelas dirinya.


Saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor Rio, Topan dan Raka yang hendak menuju tempat dimana Raka menitipkan motornya, mereka melihat ada sebuah keributan yang terjadi dipinggir jalan. Dari jauh, nampak kalau disana ada seorang perempuan yang sedang bertarung sendirian melawan segerombolan para preman.


Karena jumlah para preman itu cukup banyak, tampaknya perempuan itu sudah tidak bisa lagi mengimbangi perlawanan, dan malah menjadi bulan-bulanan mereka. Berkali-kali, perempuan itu terjatuh akibat terkena pukulan ataupun tendangan dari para preman tersebut.


Sesampainya Topan dan Raka di TKP, mereka segera turun dari motor, bermaksud untuk menghentikan pertarungan yang tidak seimbang itu. Namun, keduanya jadi terkejut, manakala mereka melihat siapa perempuan yang sedang dikeroyok oleh para preman itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2