Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Penyusup


__ADS_3

Karena jurus yang pertamanya tidak berhasil, Fadil kemudian menggunakan jurus berikutnya. Dia lalu meraih leher belakang Tiara dengan tangan kirinya, kemudian memijitnya dengan perlahan. Sementara tangan kanannya, dia gunakan untuk memegang pergelangan kaki Tiara.


Tiara yang merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Fadil, dia jadi berontak dan terkekeh kegelian. Dia segera melepaskan cubitannya, kemudian berusaha melepaskan diri dari tangan Fadil yang kini memegang tengkuk dan pergelangan kakinya.


'' A Fadil lepasin! Geli tau!'' ujarnya terus berontak sambil terkekeh menahan rasa geli, akibat leher dan pergelangan kakinya dipegang oleh Fadil.


'' Ampun A, ampun! Kalau A Fadil gak cepat lepasin, Tiara bisa mati lemas nih!'' lanjut Tiara, yang memang sudah tidak bisa lagi menahan rasa geli yang dirasakannya.


Fadil yang melihat Tiara sudah mulai tidak kuat menahan rasa geli, diapun segera melepaskan kedua tangannya dari tengkuk dan pergelangan kaki Tiara.


'' Tuh.., kan! baru digituin aja udah nggak kuat. Makanya, kalau aku bilang lepasin ya lepasin. Liat nih bekas cubitan kamu. Parah banget kan?'' ujar Fadil sambil memperlihatkan pinggangnya yang kemerahan karena cubitan Tiara.


'' Ampun deh kamu itu kalau nyubit ya.'' lanjutnya sembari mengusap usap bekas cubitan Tiara.


'' Abisnya.., A Fadil selalu begitu!'' sahut Tiara cemberut.


'' Gitu gimana sih sayang..:!'' ucap Fadil sembari mencubit dagu Tiara.


'' Ya gitu! Dari dulu sampai sekarang, A Fadil suka banget ledekin Tiara. Orang lagi serius juga. Kebiasaan, ngeselin tau! Huh!'' jawab Tiara berpura pura marah sambil membuang muka.


Melihat ekspresi Tiara yang seperti itu, Fadil malah terkekeh. Dia memang paling suka kalau sudah melihat Tiara merajuk seperti itu. Menurutnya, Tiara akan tampak semakin imut dan juga menggemaskan, jika sudah menunjukkan wajah kesalnya setelah diusilin olehnya. Fadil kemudian meraih tangan Tiara lalu berkata:


'' Sayangku.. Cintaku..Manisku..Bidadariku.., Lihat kemari! Mungkin sejak dulu hingga sekarang, aku memang suka bikin kamu kesal. Tapi kamu juga harus tahu. Dari dulu hingga nanti aku pergi dari dunia ini, cintaku padamu tak akan pernah berubah.'' rayu Fadil, lalu tangannya meraih tangan Tiara.


'' Mpreett...!'' celoteh Tiara sambil menunjukkan muka jeleknya.


Fadil makin terkekeh melihat raut muka Tiara yang seperti itu. Dia tahu. Meskipun Tiara bertingkah seolah-olah dia tidak mempercayai apa yang dikatakannya, Akan tapi, kedua pipi dan hidungnya jadi memerah setelah mendengar rayuan Fadil tersebut.


'' A.., aku serius! Gak tau kenapa, saat ini perasaanku enggak enak banget. Aku keinget sama Raihan anak kita.''


'' Sudah delapan belas tahun lebih, kita belum juga dapat kabar tentang dia. Dimana keberadaannya sekarang, bahkan dia masih hidup atau matipun kita tidak tahu.'' ujar Tiara mulai berlinang air mata, setelah keduanya diam sesaat.


'' Sabar Tiara. Aku yakin Raihan kita masih hidup. Hanya saja, Allah masih belum mengijinkan kita untuk bertemu dengannya. Tapi yakinlah! Suatu saat nanti, Allah akan mempertemukan kita dengan Raihan.'' ujar Fadil sambil memeluk Tiara.


...----------------...


'' Nay.., coba kamu hubungi kakakmu. Sejak tadi, kok perasaan ibu nggak enak banget ya.'' perintah ibu Sophia yang tampak gelisah tidak karuan.


'' Iya Bu, sebentar Naya ambil hp dulu.'' sahut Naya yang sedang belajar diruang tengah, kemudian mengambil ponselnya yang ada di kamarnya.


Berkali-kali, Naya mencoba untuk menghubungi Raka. Akan tetapi, berkali-kali pula yang dia dengar hanyalah suara mesin penjawab otomatis dari operator jaringan, yang mengatakan kalau ponsel milik raka sedang tidak aktif. Hingga akhirnya, Naya meletakkan ponselnya di atas meja sambil berkata:


'' Bu, hp kakak sedang tidak aktif. Mungkin kak Raka sedang ada kepentingan, atau hpnya kehabisan baterai.'' ucap Naya kepada ibu Sophia.


'' Kamu ada nomor hp temannya kakakmu enggak Nay? Kalau ada, coba tanya sama dia apa kakakmu ada disana.''


'' Emm.., ada bu. Sebentar Naya coba hubungi.'' ujar Naya lalu mencari nomor kontak milik Helen.

__ADS_1


Baru saja Naya berniat menghubungi Helen, tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu. Ibu Sophia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi ke ruang depan untuk membukakan pintu.


'' Assalamualaikum. Bu, bu sophi!'' panggil seseorang dari luar.


'' Wa''alaikumsalaam.., siapa ya?'' tanya Bu Sophia.


'' Ini bu, saya. Pak Burhan.'' sahut suara orang dari luar.


'' Oh.., sebentar pak!'' ujar ibu Sophia kemudian membukakan pintu.


'' Ada apa pak? Kok malam-malam begini datang kemari!'' tanya ibu Sophia yang merasa tidak enak, karena pak Burhan bertamu sendirian kerumahnya saat malam hari. Apalagi, saat ini Raka juga sedang tidak ada dirumah.


'' Begini Bu. Saya ada perlu sama ibu atau mas Raka. Oh iya, mas Raka-nya ada?'' tanya pak Burhan.


'' Raka-nya lagi pergi pak. Emangnya ada apa ya?''


'' Maaf Bu Sophi! Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya kemari karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan ibu. Emm.. Boleh saya masuk?'' tanya pak Burhan meminta ijin.


'' Maaf pak Burhan. Saya bukannya tidak mau menghormati tamu. Tapi saya nggak enak kalau..'' ujar ibu Sophia tidak melanjutkan kata-katanya.


'' Iya iya saya mengerti Bu. Ya sudah, kita bicara disini saja.'' sahut pak Burhan, kemudian duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah tersebut.


Saat ibu Sophia sedang berbicara dengan pak Burhan, Naya yang tadi sedang berada didalam, dia kemudian ikut keluar untuk menemani ibu Sophia. Ibu Sophia lalu meminta Naya untuk membuatkan minuman hangat untuk pak Burhan. Setelah membuatkan minuman tersebut, Naya juga ikut duduk disebelah ibu Sophia. Pak Burhan lalu menyampaikan apa yang menjadi maksud dan tujuannya datang menemui ibu Sophia.


'' Begitulah Bu Sophi. Saya tidak bermaksud mengusir ibu dari rumah ini. Tapi mau bagaimana lagi, saya juga tidak bisa menolak permintaan mereka.''


'' Tapi pak! Bukannya kontrak kami untuk rumah ini masih ada tiga bulan lagi. Terus, bapak sendiri juga tahukan? Kami selalu melaksanakan apa yang bapak pesankan. Kami selalu merawat rumah ini dengan baik. Kami juga selalu tepat waktu dalam membayar uang kontrakannya.''


'' Kalau besok ibu masih belum mengosongkan rumah ini, mereka mengancam akan merusak dan membakar rumah ini. Jadi tolonglah Bu Sophi! Saya harap ibu bisa mengerti posisi saya.'' pinta pak Burhan, setelah menjelaskan apa yang menjadi permasalahannya.


'' Ibu juga jangan khawatir, saya akan mengembalikan setengah dari uang yang ibu bayarkan untuk mengontrak rumah ini.''


'' Maaf pak Burhan! Ini bukan soal uangnya. Tapi, bukannya ini terlalu mendadak. Apa tidak bisa ditunda barang dua atau tiga hari lagi, supaya kami bisa mencari tempat setelah pindah dari sini?'' ujar ibu Sophia meminta kebijaksanaan dari pak Burhan.


'' Sekali lagi mohon maaf Bu Sophi! Saya tidak ingin terlalu mengambil resiko. Tampaknya ancaman mereka itu tidak main-main.''


'' Ibu tentu masih ingat kejadian kemarin kan? Kalau menurut saya, orang yang menghancurkan kedai milik mas Raka itu, kayaknya masih ada kaitannya dengan mereka yang saat ini memaksa saya untuk menyuruh pergi dari rumah ini.''


'' Saya sendiri tidak paham. Kenapa orang-orang itu sepertinya memusuhi kalian. Padahal setahu saya, baik ibu ataupun mas Raka, kalian itu orangnya sangat baik dan suka membantu orang.'' ucap pak Burhan yang tampak keheranan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Burhan, ibu Sophia jadi termenung. Dalam benaknya, dia kembali teringat saat Raka dikeroyok oleh para preman, karena telah membantu seorang pedagang di pasar sore bersama Noni dan pak Junaidi. Sejak saat itu, sudah beberapa kali para preman itu selalu berusaha mencelakakan keluarganya dan juga keluarga pak Junaidi.


'' Ya udah Bu Sophi, dek Naya. Kalau begitu saya permisi dulu! Saya cuma ingin menyampaikan itu saja sama ibu. Sekali lagi, saya mohon maaf karena tidak bisa membantu ibu.'' ujar pak Burhan yang kemudian pamit pulang.


Sepeninggal pak Burhan, Bu Sophia dan Naya kemudian masuk kedalam rumah. Setelah menutup pintu, mereka lalu duduk kembali diruang tengah, sambil membicarakan tentang apa yang harus dilakukan setelah mendapat kabar dari pak Burhan tadi.


'' Nay, coba kamu hubungi lagi kakakmu. Dia harus diberitahu masalah ini secepatnya.'' perintah Bu Sophia kepada Naya.

__ADS_1


'' Halo! Kak Raka lagi dimana? Cepat pulang kak! Dirumah lagi ada masalah.'' cerocos Naya begitu panggilan itu terhubung.


Pada saat Topan hendak membawa tubuh Raka yang sudah tidak sadarkan diri, dia sempat melihat ponsel Raka yang tergeletak disampingnya. Topan lalu mengambil dan menyimpan ponsel itu di sakunya. Karena ponsel milik Raka tersebut sedang dalam keadaan non aktif, maka Naya yang sejak tadi mencoba untuk menghubunginya-pun jadi tidak dapat terhubung.


Baru, ketika tubuh Raka sudah mendapatkan perawatan dari tim medis di rumah sakit, Topan yang ingat kalau ponsel milik Raka ada padanya, dia mencoba untuk mengaktifkan ponsel tersebut. Begitu ponsel itu aktif, tiba-tiba sebuah panggilan langsung masuk dan ternyata itu adalah panggilan dari Naya.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Naya yang juga terdengar begitu panik, Topan jadi terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia mengatakan kepada Naya tentang keadaan Raka yang sebenarnya, tentunya hal itu akan semakin membuat Naya ataupun ibunya malah semakin panik.


'' Baik Nay! Kakak akan segera kesana.'' sahut Topan mencoba sedikit menirukan suara Raka, kemudian memutuskan panggilan tersebut.


Karena tidak terlalu memperhatikan lawan bicaranya, Naya jadi tidak menyadari kalau yang tadi berbicara adalah Topan dan bukanlah Raka. Ibu Sophia yang berada di samping Naya, dengan cemas dia segera bertanya kepada Naya.


'' Bagaimana Nay? Lagi ada dimana kakakmu sekarang? Apa dia bisa segera pulang?'' ucap ibu Sophia memberikan pertanyaan kepada Naya secara beruntun.


'' Emm.., Kak Raka enggak bilang dia lagi dimana Bu. Tapi katanya, kakak akan segera pulang.'' jawab Naya lalu meletakkan ponselnya kembali diatas meja.


'' Ada apa Pan? Siapa tadi yang telpon?'' tanya Helen penasaran.


Diruang tunggu yang ada didepan ruang ICU, sejak tadi Helen mondar mandir dan tampak gelisah. Sesekali dia melihat kearah pintu ruangan tersebut, berharap dokter yang sedang menangani Raka segera keluar dan memberi kabar tentang kondisinya. Dia kemudian mendekati Topan yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon, lalu bertanya kepadanya.


'' Enggak tau Hel. Tapi Naya barusan telepon, kalau dirumahnya lagi ada masalah. Sepertinya saya harus segera kesana, untuk melihat apa yang sedang terjadi pada mereka.'' jawab Topan tampak bingung.


'' Oh iya Hel! Apa kamu tahu dimana rumah mas Raka?'' tanya Topan yang dijawab dengan anggukan oleh Helen.


'' Kalau begitu, kamu ikut aku kesana.'' lanjut Topan meminta Helen.


'' Terus, bagaimana dengan Raka? Kalau kita pergi kesana semua, nanti kalau ada apa-apa gimana?'' ujar Helen.


'' Emm.., benar juga ya. Oh sebentar! Aku akan hubungi Leo untuk datang kemari dan menjaga mas Raka disini.'' sahut Topan, lalu segera menghubungi Leo lewat panggilan telepon.


Tidak berapa lama kemudian. Leo dan beberapa anak buahnya yang saat itu masih dalam perjalanan dari tempat kejadian tadi, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Raka dirawat. Mereka juga telah mengganti kostum mereka yang memang sudah mereka persiapkan. Topan kemudian berpesan kepada Leo, agar tetap mengawasi dan memberi kabar tentang perkembangan kondisi Raka kepadanya.


'' Baiklah Leo! Tolong jaga dan awasi lokasi disekitar sini. Saya khawatir, mereka masih terus berupaya untuk mencelakakan mas Raka. Kalau nanti ada apa-apa, kamu juga harus segera memberi kabar kepada saya.'' ujar topan sebelum pergi meninggalkan ruangan itu bersama Helen.


Baru saja Topan dan Helen beranjak menuju tempat parkir, didepan pintu masuk rumah sakit itu mereka berpapasan dengan dua orang yang cukup mencurigakan. Topan segera berbalik dan mengikuti kedua orang tersebut, sambil menghubungi Leo dan memberitahukan hal tersebut kepadanya.


Setelah meminta Helen untuk segera masuk kedalam mobil, Topan lalu mendekati seorang penjaga keamanan yang kebetulan berada tak jauh darinya. Setelah mengatakan kepada penjaga keamanan rumah sakit tersebut akan maksudnya, Topan dan penjaga keamanan itupun segera menghampiri kedua orang tadi.


Merasa penyamarannya telah diketahui, kedua orang yang sedang menyamar menjadi pasien itu langsung panik. Mereka langsung berlari, saat Topan dan penjaga keamanan itu hendak mendekati mereka. Dengan cepat, mereka mencari jalan untuk keluar dari rumah sakit tersebut.


Walaupun dibalik pakaiannya Topan masih membawa senjata, tapi Topan tidak mau mengeluarkan senjata tersebut. Dia tidak ingin, orang-orang yang ada disana menjadi panik karenanya. Apalagi, saat ini dia juga harus cepat-cepat pergi ke rumah Raka untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi disana. Maka dari itulah, Topan hanya membiarkan kedua orang itu lari menjauh dari rumah sakit itu, tanpa meringkus salah satu ataupun keduanya.


'' Leo! Tolong beritahu dokter yang menangani mas Raka. Kalau operasinya sudah selesai, segera bawa mas Raka ke rumahku secara diam-diam. Pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini, kecuali kita dan tim yang menanganinya.'' bisik Topan kepada Leo yang barusan keluar menemuinya.


'' Baik Tuan muda! Saya akan lakukan perintah tuan muda dengan sebaik-baiknya.'' jawab Leo dengan suara pelan.


'' Ya udah. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku percaya, kamu bisa melakukan semuanya dengan baik.'' ucap Topan, lalu kembali menuju tempat parkir dimana Helen sedang menunggunya.

__ADS_1


'' Iya tuan. Tapi tuan juga harus hati-hati. Kalau tuan butuh apa-apa, segera hubungi saya secepatnya, biar nanti saya bisa mengirimkan orang untuk membantu tuan.'' sahut Leo.


...****************...


__ADS_2