
Esoknya, sesuai apa yang dijanjikan oleh Raka kemarin. Saat jam istirahat sebelum kembali melanjutkan mata kuliah berikutnya, Raka bersama Bella dan Helen, mereka pergi ke kantin. Setelah mereka memilih tempat yang berada paling sudut kantin tersebut, Raka lalu memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
'' Maaf nih mas Raka! Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu. Tapi tolong kamu jawab jujur dan jangan tersinggung ya!'' ucap Bella mengawali percakapan mereka.
Sebenarnya, apa yang ingin ditanyakan ataupun disampaikan oleh Bella kepada Raka tersebut bersifat pribadi. Namun, berhubung dia merasa cukup akrab dengan Helen, meskipun pertemanan mereka masih terbilang baru, akan tetapi Bella pun tidak berkeberatan jika Helen mengetahui hal yang akan dikatakannya kepada Raka.
Apalagi, dengan sikap Helen yang menurut Bella cukup asyik untuk diajak sharing bersama. Maka dari itu, diapun tak segan-segan untuk mengatakan hal yang dianggap pribadi didepan Helen. Bahkan, Bella juga merasa. Bahwa apa yang ingin dia katakan kepada Raka tersebut, perlu juga diketahui oleh Helen, agar nantinya tidak ada kesalahpahaman antara mereka.
Raka mengangguk, mengiyakannya sembari tersenyum. Helen yang sejak kemarin merasa penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Bella kepada Raka, dia lalu bertanya kepada Bella. Dia curiga, jangan-jangan Bella ingin menyampaikan perasaannya kepada Raka.
'' Emang, kamu mau ngomong apa sih Bell? Perasaan, dari kemarin kamu keliatannya serius banget.'' tanya Helen penasaran.
'' Jadi begini Hel! Beberapa tahun yang lalu, aku pernah berteman dengan seseorang di medsos. Orang tersebut menggunakan nama samaran, dengan sebutan Erlang Biru. Orang itu cukup misterius, dan membuat aku cukup penasaran.''
'' Entah kenapa? Sejujurnya aku sangat tertarik dengannya. Sampai suatu ketika, aku tak sadar dan mengatakan padanya, kalau aku menyukainya.''
'' Aku sendiri belum mengetahui dengan jelas seperti apa wajahnya, tinggalnya dimana, siapa namanya, dan juga bagaimana status dirinya.''
'' Sepertinya orangnya cukup tertutup. Tapi, setiap kata-katanya terlihat begitu bijak dan cukup menyenangkan.'' jelas Bella.
'' Terus, bagaimana tanggapan dia atas pernyataanmu itu?'' tanya Helen semakin tertarik dan penasaran.
'' Itulah Hel! Makanya kubilang tadi dia itu orangnya cukup misterius.'' jawab Bella setelah dia menarik napas panjang, lalu sekilas menatap Raka yang duduk didepannya.
'' Jadi, dia menolak atau menerima ungkapanmu itu?'' tanya Helen sembari membenahi duduknya dan kian penasaran.
'' Entahlah Hel. Dibilang menolak ya tidak, dibilang menerima ya juga tidak. Dia cuma bilang padaku : '' Banyak hal yang saat ini lebih penting bagiku. Jika memang sudah takdir, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu. Dan saat itulah, aku akan memberikan jawabannya padamu'' ucap Bella menirukan kata-kata yang pernah ditulis oleh teman medsosnya tersebut.
'' Waah.. !! Ternyata, kamu lagi LDR-an sama seseorang yang statusnya enggak jelas gitu ya Bell? Kok kamu bisa sih? Padahal, kamu kan cantik! Emangnya, kamu nggak punya cowok ditempatmu dulu!'' tanya Helen.
Saat Bella menjawab pertanyaan dari Helen, juga mendengar komentar-komentar yang Helen berikan, wajah Raka terlihat sedikit berubah. Enggak tahu kenapa, sepertinya Raka terlihat sedikit menyembunyikan sesuatu dari Helen dan Bella.
'' Lah terus, apa hubungannya orang itu dengan Raka? Apa menurutmu orang itu adalah dia?'' tanya Helen lagi, sembari melihat kearah Raka.
'' Ya aku gak taulah hel! Tapi sejak kemarin aku melihat dia, aku kok merasa, kalau dia itu ada kaitannya dengan temanku di medsos itu.'' jawab Bella kembali memandang wajah Raka, dan kali ini dia menatapnya dalam-dalam.
Raka yang ditatap oleh Bella dan juga Helen seperti itu, dia jadi salah tingkah. Dia tidak tahu harus berbuat ataupun berkata apa. Hal ini membuat Helen dan Bella jadi merasa aneh atas sikap Raka tersebut. Helen dan Bella yang melihat Raka seperti itu, kini jadi penasaran. Benarkah jika orang yang dimaksud oleh Bella tersebut adalah Raka.
Kini, yang merasa penasaran akan seseorang yang memiliki akun bernama Erlang Biru tersebut, bukan saja hanya Bella. Bahkan, Helen sendiripun mulai curiga. Jika benar orang itu adalah Raka, maka pantaslah Raka selalu menolak untuk menjadi pacarnya.
'' Eh Ka! Apa benar kalau pemilik akun bernama Erlang Biru itu memang kamu?'' tanya Helen yang masih menatap Raka penasaran.
'' Iya mas Raka. Kalau boleh, aku juga ingin tahu! Benarkah pemilik akun Erlang Biru itu adalah Kam?'' sambut Bella mengulang pertanyaan Helen.
Belum sempat Raka mengatakan apapun, seorang pelayan kantin datang sambil membawa pesanan mereka. Karena kehadiran pelayan tersebut, baik Raka maupun yang lainnya jadi terdiam. Hingga pelayan tersebut selesai menghidangkan pesanan mereka, barulah mereka melanjutkan pembicaraan tersebut.
'' Gimana Ka,? Sebenarnya, Erlang Biru itu kamu atau bukan sih?'' ulang Helen menanyakannya kembali kepada Raka, setelah pelayanan kantin tadi pergi meninggalkan mereka.
'' Emm... Sebenarnya, aku.. ! aku.. !''
'' Dreett...Dreett.. Dreett...'' Baru saja Raka hendak menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba dia dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar. Dia lalu meminta ijin kepada Helen dan Bella, untuk menjawab panggilan dari ponselnya tersebut.
'' Hallo, Assalamualaikum..'' sapa Raka setelah dia menyambungkan panggilan tersebut.
'' Iya bu! Ada apa ya? Oh... Iya bu, maaf! Beberapa hari ini saya belum bisa jualan. Tapi insyaallah besok lusa kalau tidak ada udzur, saya akan kembali buka kedai.''
__ADS_1
'' Iya bu! Insyaallah...!! Ya namanya juga ada keperluan mendadak bu, jadi ya mau bagaimana lagi! Tapi insyaallah besok lusa saya benar-benar buka kok! Iya iya bu! Insyaallah.. Siap siap. Oke! Wa'alaikumsalaam...''
'' Siapa Ka? Ibu kamu?'' tanya Helen menduga-duga.
'' Bukan Hel! Itu salah satu pelangganku. Dia nanyain kapan aku buka kedai. Soalnya, memang udah beberapa hari ini, aku tidak jualan.''
'' Oh..! Jadi akhir-akhir ini kamu libur ya jualannya? Aku juga sebenarnya pengen ke kedai kamu lho nanti sore. Rasanya udah lama juga aku nggak makan kue serabi buatanmu itu.'' ujar Helen sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan, dan juga membayangkan makan kue serabi buatan Raka.
'' Oh.. Ternyata, disini ada juga yang jualan kue serabi ya? Kirain, cuma ada di Bandung aja. Aku juga suka lho kue serabi.''
'' Itu yang bikin, kamu sendiri atau orang lain ya mas Raka?'' tanya Bella ikut penasaran.
Mendengar percakapan antara Helen dan Raka tentang kue serabi, Bella jadi lupa akan pertanyaan yang tadi dia dan Helen tanyakan kepada Raka. Diapun mulai membayangkan, seperti apa kue serabi yang dibuat oleh Raka. Baik bentuk, maupun rasanya.
'' Eh Helen! Nanti, kalo kamu mau ke kedainya mas Raka, tolong ajak-ajak ya! Aku juga pengen tahu, seperti apa sih rasanya kue serabi buatan cowok?''
'' Soalnya, kebanyakan yang jualan kue serabi ditempatku sana, rata-rata orang perempuan dan juga sudah tua.''
'' Kamu ingin tau bagaimana rasanya kue serabi buatan dia ya? Pokoknya, emmh.. Gak bisa dilukiskan dengan kata-kata Bell. Rasanya bikin ketagihan. Seperti.. Seperti.. Ya seperti makan kue serabi!'' ujar Helen yang bingung mengatakan rasanya seperti apa.
Sontak Bella jadi terkekeh saat mendengar apa yang dikatakan oleh Helen. Dia sendiri sudah paham bagaimana rasanya kue serabi. Hanya saja, dia memang belum tahu, seperti apa rasanya serabi yang dibuat oleh Raka.
'' Hhh.. Hel..Hel! Kamu itu, kok ada ada.. aja. Yang namanya kue serabi, ya pasti rasanya seperti serabilah. Masa rasanya seperti ayam goreng! hhh...''
'' Iiihh.. Kamu itu Bell. Maksudku tidak seperti itu. Tapi.. Ah sudahlah! Susah sih ngomongnya.'' ucap Helen yang akhirnya menyerah dan tidak mau menjelaskan apa yang dimaksudnya.
Melihat Helen yang kebingungan dan juga diketawain oleh Bella, Raka ikut tersenyum. Sekilas, dia melihat kearah Bella. Tawa renyah Bella dengan bibir dan mulutnya yang imut, serta sedikit kumis tipis diatas bibirnya, membuat Raka sedikit terpesona saat melihat Bella.
Disaat Raka masih terpukau memandang Bella, Bella yang masih tertawa karena Helen tadi, dia secara tidak sengaja menoleh kearah Raka. Karena saat itu Raka masih menatapnya, pandangan keduanya pun bertemu. Bella yang baru menyadari kalau Raka sedang menatapnya, diapun juga terkesima oleh senyuman Raka.
'' Ehm.. Ehm..'' Terdengar Helen berpura-pura batuk.
Baik Raka maupun Bella, keduanya jadi terkejut oleh suara Helen yang berpura pura batuk tersebut. Secara bersamaan, keduanya juga menoleh kearah Helen. Helen segera membuang muka saat melihat keduanya begitu kompak menoleh kearahnya.
Lagi-lagi, Raka dan Bella saling bertatapan setelah melihat Helen yang seperti itu. Dan hal itupun diketahui oleh Helen, sehingga dia tiba-tiba berdiri dan berkata dengan kesal.
'' Iiih.. Kalian ini! Nyebelin banget sih.'' ujarnya, lalu pergi beranjak pergi dari tempat tersebut.
'' Eh... Helen Helen. Tunggu aku Hell! Kamu mau kemana sih?'' seru Bella lalu segera bangkit mengejar Helen.
'' Eh iya mas Raka, tolong kamu bayarin dulu ya, nanti aku ganti!'' ujar Bella yang baru ingat, kalau makanan dan minumannya belum dibayar.
Raka hanya menatap kepergian dua gadis cantik itu dari tempatnya. Tak berselang lama kemudian, Raka-pun segera bangkit dari duduknya. Dia lalu menuju meja kasir untuk membayar makanan dan minuman yang tadi dia pesan untuk mereka bertiga. Usai membayar makanan dan minuman itu, Raka lalu berjalan menuju kelas untuk melanjutkan pembelajaran mata kuliah berikutnya.
'' Helen.. ! Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba kamu pergi begitu aja.'' seru Bella segera meraih tangan Helen.
'' Au ah lap! Gitu aja gak ngerti.'' sahut Helen dengan jutek, lalu mencoba melepaskan tangannya dari pegangan Bella.
'' Ya emang aku gak ngerti Hel, kan kamu nggak bilang kalau kamu kenapa! Lagian, masa gara-gara aku ketawa soal tadi aja, kamu langsung sewot dan pergi begitu aja.''
'' Bukan itu Bella, heeehh...!" dengan gemas, Helen mencubit kedua pipi tembem Bella.
'' Kamu itukan cewek Bell, udah gede pula! masa kamu benar-benar gak ngerti perasaan sebagai seorang wanita sih?'' lanjut Helen kembali berjalan setelah melepaskan cubitan tangannya di kedua pipi Bella.
'' Maksud kamu! Kamu...!?''
__ADS_1
Bella yang kini mulai paham akan penyebab dari sikap Helen, dia kembali menghentikan langkahnya. Awalnya dia tidak mengira, kalau ternyata Helen akan seperti itu. Sementara itu, Helen yang masih berjalan, diapun berhenti dan berbalik kearah Bella, lalu berkata:
'' Iya! Aku cemburu! Aku cemburu sama kamu! Aku juga cemburu sama Raka. Pokoknya, aku cemburu sama kalian berdua.'' ucap Helen, kemudian berbalik dan berlari kecil menuju ruang kelasnya.
Bella jadi terdiam. Dia tidak tahu harus berkata ataupun berbuat apa. Meskipun persahabatannya dengan Helen bisa dibilang baru sebentar, tapi dia juga tidak ingin ada permasalahan dengannya. Disisi lain, dia mulai tertarik dengan Raka. Meskipun dia sendiri tahu, kalau Helen sangat menyukai Raka.
Namun, karena antara Helen dan Raka memang tidak memiliki hubungan, diapun merasa kalau tidak ada salahnya jika dia menyukai Raka. Apalagi, dia juga mulai yakin. Kalau pemilik akun bernama Erlang Biru itu adalah Raka. Dengan demikian, jika memang benar itu adalah Raka, maka berarti dia tidak bisa disebut merebut Raka dari Helen. Karena bagaimanapun juga, dialah yang lebih dulu menyukai Raka.
...----------------...
Malam itu, bulan sabit mulai muncul diatas cakrawala sebelah barat. Menandakan bahwa bulan telah berganti dalam hitungan kalender tahun Hijriyah. Baik Bella, Helen, maupun Raka. Mereka malam itu sedang dilanda kegelisahan, atas yang dirasakannya masing-masing. ' '' Dreett... Dreett.. Dreett..'' ponsel milik Raka berdering. Sebuah nama tampak dilayar ponsel milik Rakapun muncul. Raka segera mengangkat ponselnya, dan menerima panggilan telepon tersebut.
'' Halo assalamualaikum.. Ada apa Hel? Kok tumben telepon aku. Apa ada yang bisa aku bantu?'' tanya Raka, saat panggilan itu terhubung.
'' Ka... Menurutmu, aku cantik tidak?'' tanya Helen to the points.
Raka sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Helen. Meskipun dia sudah paham bagaimana watak Helen, namun dia juga tidak menyangka, jika Helen begitu blak-blakan menanyakan hal yang seperti itu kepadanya. Namun, rakapun akhirnya segera menjawabnya.
'' Cantik..! Kamu sangat cantik.'' jawab Raka.
'' Bohong!!'' sahut Helen dari seberang telepon.
'' Beneran kok! Semua orang juga tahu kalau kamu itu cantik.''
'' Secantik apa aku menurutmu?'' tanya Helen lagi.
'' Emm.. Secantik bidadari mungkin!'' jawab Raka asal.
Mendengar jawaban dari Raka, Helen yang sedang berbaring diatas kasur didalam kamarnya, dia jadi merasa tersanjung. Wajahnya juga sedikit memerah, karena jawaban Raka tersebut. Namun, dia kembali cemberut dan melanjutkan beberapa pertanyaan kepada Raka.
'' Kalau menurutmu aku secantik bidadari, kenapa kamu selalu menolak untuk menjadi kekasihku?''
'' Dulu aku mengira, kalau alasan kamu menolakku itu, karena kamu lagi ingin fokus dengan kuliah, dan juga ingin membahagiakan orang tuamu itu tadinya benar. Tapi sekarang, aku tidak yakin kalau semua itu adalah alasan utamamu.''
'' Sepertinya... Kamu menolakku karena dihatimu ada seseorang kan? Dan orang itu lebih cantik dariku kan?'' Helen mencecar Raka dengan banyak pertanyaan, yang membuat Raka kebingungan untuk menjawabnya.
Karena Raka hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya, Helen-pun kembali bertanya kepada Raka.
'' Ka...! Kamu masih disitu kan?''
'' Iya Hel.. Ada apa?''
'' Kok ada apa sih? Kamu kan belum jawab pertanyaanku!''
'' Emm.. Maaf Hel! Pertanyaan yang mana ya?'' tanya Raka yang sedang tidak fokus dengan apa yang tadi Helen tanyakan.
'' Iiih... Kamu itu! Sejak kenal sama Bella, sekarang kamu jadi nyebelin!'' ujar Helen sewot.
'' Kamu kenapa sih Hel? Kok kamu jadi sewot gitu!'' tanya Raka mendengar celotehan Helen yang tampak kesal.
'' Tau ah!'' Tut Tut Tut...
Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba Helen mengakhiri panggilan telepon tersebut. Sepertinya Helen cukup kesal dengan apa yang terjadi hari ini. Raka hanya diam tidak mengerti dengan sikap Helen kali ini. Diapun lalu meletakkan ponselnya, dan mengambil buku untuk dia baca.
...****************...
__ADS_1