
'' Bella! Aku itu bukannya tidak mau berjuang untuk cinta kita. Aku hanya tidak ingin menyakiti hati ibuku, dan juga tidak mungkin membantah kata-katanya.'' ujar Raka setelah beberapa saat mereka sampai di suatu tempat, dan juga menikmati keindahan pemandangan alam disana. Bella yang merasa sudah lebih tenang, dia juga ikut menikmati suasana ditempat tersebut.
Di sebuah bukit kecil yang letaknya tak jauh dari belakang rumah tempat Raka, ibu Sophia, dan juga almarhum kakeknya dulu tinggal, mereka kini berada disana. Dibawah bukit tersebut, tampak pula sungai kecil yang mengalirkan air yang begitu jernih, yang airnya juga dimanfaatkan oleh para petani untuk mengairi sawah-sawah disisi kanan dan kiri sungai tersebut.
'' Bukankah itu artinya sama saja mas! Apapun alasannya, tetap saja kamu nggak ada upaya untuk mempertahankan hubungan kita ini.''
'' Harusnya, kamu itu ngomong dengan ibumu! Kalau kamu itu benar-benar mencintaiku!'' ujar Bella antara kesal dan kecewa.
'' Bella! Persoalannya tidak semudah seperti yang kamu bayangkan. Sebenarnya, ibuku juga tidak mungkin melarang kita untuk tetap berhubungan, andai saja kedua orang tuamu juga tidak melarangku untuk tetap bersamamu.'' sahut Raka yang tak ingin dirinya disudutkan.
'' Mas, meskipun Mami dan Papi tidak merestui kita, tapi aku tetap akan mempertahankan hubungan ini. Bagaimanapun caranya, apapun resikonya.'' ucap Bella memandang Raka, berharap Raka juga memiliki keinginan seperti dirinya.
Meskipun Bella sudah mencoba memancing semangat Raka supaya dia mau berusaha mempertahankan hubungan mereka, akan tetapi, sepertinya semangat Raka seakan mulai memudar. Melihat hal itu, Bella jadi merasa sedih bercampur heran. Sebenarnya, apa yang membuat Raka jadi seperti itu.
Tidak seperti sebelumnya. Meskipun Raka sulit meluangkan waktu saat diminta oleh Bella, namun alasan yang diberikan oleh Raka juga bisa diterima oleh Bella. Karena apa yang dilakukan oleh Raka, semuanya memang demi kebaikan dan kelangsungan hubungan mereka tersebut. Akan tetapi, kali ini Raka benar-benar berbeda.
Bella sendiri jadi semakin tidak mengerti. Mungkinkah semua itu disebabkan oleh ucapan ibunya Raka, atau ada hal lain yang disembunyikan oleh Raka kepadanya.
'' Mas Raka! Sebenarnya ada apa sih denganmu mas? Kok kamu sekarang jadi seperti ini!'' tanya Bella yang merasa aneh terhadap sikap Raka.
'' Baiklah Bella. Aku akan memberitahumu satu hal. Karena hal ini juga, sekarang aku serasa tak punya semangat untuk terus memperjuangkan hubungan kita.'' jawab Raka, lalu mengambil napas dalam-dalam.
'' Tadi pagi, saat aku pergi ke kampus. Aku bertemu dengan kedua orang tuamu. Mereka mengatakan padaku, agar secepatnya aku harus memutuskan hubungan kita ini. Mereka juga memintaku, agar aku menjauh darimu.''
'' Mereka juga bilang, jika aku masih terus menjalin hubungan denganmu, maka mereka tidak akan segan-segan melakukan hal yang akan membuatku menyesal. Entah itu apa? aku juga tidak tahu.''
'' Mungkin ini memang salahku. Seharusnya aku tahu diri, dan tidak membalas cintamu waktu itu. Apalagi, tempo hari juga kedua orang tuamu mengijinkan kita menjalin hubungan, itu dengan satu syarat. Yaitu, aku harus menunjukkan kalau aku layak untukmu.''
'' Namun sampai sekarang, ternyata aku masih belum bisa Bella. Dan karena aku belum bisa menunjukkan kalau aku layak untukmu, kini mereka menagih janji itu. Mungkin, kedua orang tuamu sudah menemukan seseorang, yang memang sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan.''
'' Dan kalau sudah seperti ini, aku bisa apa Bella? Jikapun aku berhasil membujuk ibuku untuk merestui hubungan kita, lantas, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Tetap saja semuanya akan sia-sia.''
'' Maaf Bella! Mungkin memang lebih baik, kalau kita sudahi saja hubungan kita ini. Daripada nantinya banyak menimbulkan masalah kedepannya untuk kita berdua.'' ujar Raka dengan sedih, sambil menatap wajah Bella dalam-dalam.
'' Tidak mas! Aku tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini! Sudah kukatakan, bagaimanapun caranya, apapun resikonya, aku akan tetap mempertahankan hubungan ini! Bahkan jika perlu, demi kita bisa selalu bersama, aku sanggup mengorbankan segalanya untukmu. Mas...!''
Usai berkata seperti itu, tiba-tiba Bella melepaskan jilbabnya. Dia kemudian meraih tangan Raka, lalu menariknya hingga hampir saja wajah keduanya bersentuhan. Entah sadar atau tidak, Bella mulai melepaskan kancing baju miliknya sendiri. Raka yang tidak menyangka Bella akan seperti itu, tentu saja dia jadi terkejut. Dia segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bella, dan juga membuang pandangannya dari Bella.
__ADS_1
'' Bella! Kamu apa apaan sih seperti itu? Cepat pakai lagi jilbab dan tutup lagi pakaianmu!'' perintah Raka sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
Saat salah satu kancing baju milik Bella tadi sempat terbuka, secara tak sengaja, Raka sempat melihat kulit putih mulus tubuh Bella di bagian tersebut. Oleh karenanya, jantung dan hati Raka jadi berdebar kencang. Napasnya juga jadi sedikit tidak beraturan.
Sebagai lelaki normal, tentu saja hasratnya juga langsung muncul. Akan tetapi, Raka yang memang sedari kecil diajarkan oleh ibu dan kakeknya tentang apa yang baik dan buruk, dia segera ingat akan pesan-pesan mereka. Dengan cepat, diapun segera menarik napas dalam-dalam dan menenangkan pikirannya sambil hatinya terus beristighfar.
'' Mas..! Jika Mami dan Papi tidak lagi menyetujui hubungan kita karena perbedaan status antara aku dan kamu, mungkin dengan cara inilah, mereka nantinya akan mau merestui hubungan kita mas. Aku tahu ini berdosa. Tapi aku yakin, kedua orang tuaku tidak akan bisa menolak kehadiranmu didalam keluargaku.''
'' Kamu juga jangan berpikir, kalau aku ini wanita rendahan, hanya karena aku mau melakukan ini denganmu. Ini semua rela aku lakukan, demi supaya kita tetap bisa bersama mas Raka! Untukmu, untuk kita, aku rela memberikan satu-satunya kehormatan diriku yang selama ini aku jaga.'' ucap Bella, lalu mencoba meraih kembali tangan Raka.
'' Tidak Bella! Maaf! Aku tidak mau melakukan hal itu. Tidak ada akhir yang baik, jika diawali dengan hal yang buruk. Apa kamu mengira, jika dengan melakukan hal itu semuanya akan baik-baik saja? Tidak Bella, tidak! Justru kalau kita lakukan hal itu, persoalannya nanti akan semakin pelik.'' sahut Raka, sambil mencoba melepaskan tangannya yang dipegang oleh Bella.
'' Aku juga bukan lelaki pengecut yang selalu melakukan segala macam cara, hanya demi mencapai tujuan pribadi semata. Lagi pula, apa kamu sendiri tidak takut? Jika setelah kita melakukan hal itu, terus aku akan lari dari tanggung jawabku kepadamu.'' lanjutnya menolak keinginan Bella.
'' Tapi aku percaya sama kamu mas Raka, kamu bukan tipe lelaki semacam itu. Makanya aku berani dan rela jika harus melakukan itu denganmu.''
'' Maaf Bella, sekali lagi maaf! Bagaimanapun juga, aku tidak ingin mengambil sesuatu yang belum menjadi hakku. Jadi tolong! Jangan pernah berpikir untuk menempuh cara seperti itu, walaupun tujuannya agar kita bisa terus bersama.''
'' Bella! Cepat benahi kembali pakaian dan jilbabmu itu! Kalau nanti ada yang melihat kamu seperti itu, bisa-bisa kita dikira habis melakukan hal yang tidak tidak.'' ujar Raka kembali meminta Bella yang masih belum membenahi pakaian dan kerudungnya.
Mendapat pertanyaan dari Bella, Raka diam sejenak. Dia terus berpikir, mencoba mencari solusi untuk masalah tersebut. Hingga setelah beberapa saat dia merenung, Raka akhirnya berkata kepada Bella.
'' Baiklah Bella. Aku akan mencoba berbicara dengan kedua orang tuamu lagi. Aku akan meminta waktu pada mereka, supaya aku bisa menunjukkan kalau aku juga layak untukmu. Sekarang, ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu sekalian berbicara dengan kedua orang tuamu.''
Karena hari juga sudah mulai beranjak sore, Raka dan Bella akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Sebelum mengantarkan Bella pulang kerumahnya, mereka kembali kerumah Raka terlebih dahulu, untuk mengambil mobil Bella dan meminta ijin kepada ibu Sophia.
Meski ibu Sophia terlihat sedikit keberatan jika Raka pergi kerumah kedua orang tua Bella, namun pada akhirnya, diapun memberikan ijin kepada Raka untuk pergi ke sana dan mengantarkan Bella.
Sesampainya Raka dan Bella disana, Bu Linda langsung menyambut kedatangan mereka dengan pandangan kesal. Apalagi, saat dia melihat kearah Raka. Rasa benci dan penuh amarah, seakan ingin dia tumpahkan kepadanya.
'' Darimana saja kamu Bella? Nggak liat sekarang udah jam berapa?'' teriak Bu Linda begitu kesal, saat Bella turun dari mobilnya.
'' Kamu juga bocah miskin! Apa masih kurang jelas apa yang kami katakan padamu tadi pagi? Sudah kami bilang! Jangan dekat-dekat lagi dengan Bella! Eeh.., kamu malah bawa Bella kemana lagi, sampai jam segini baru pulang! Mau kami laporkan ke polisi apa, ha!'' lanjutnya langsung membentak Raka.
'' Mi..! Pelan-pelan dong ngomongnya. Malu ah didengar tetangga. Sebaiknya suruh mereka masuk dulu. Biar didalam saja kita omongin mereka.''
Pak Daniel yang mendengar istrinya sedang memarahi Raka dan Bella, dia segera keluar dan menyuruh istrinya untuk segera masuk. Meskipun dia sendiri juga ikut merasa kesal terhadap mereka, namun, karena dia tidak ingin orang lain mendengar keributan itu, dia segera menenangkan istrinya yang sedang mengomeli Raka dan Bella.
__ADS_1
'' Bella, cepat masuk! Kamu! Ada perlu apa lagi datang kemari? Kalau tidak ada kepentingan, sebaiknya kamu pulang. Jangan sampai membuat kami jadi semakin emosi karena masih melihatmu bersama Bella.'' ujar pak Daniel, masih bisa menahan emosinya.
'' Maaf pak! Tolong beri kesempatan sekali ini. Saya ingin bicara dengan Bapak dan Ibu tentang hubungan kami berdua.'' pinta Raka dengan harap kepada pak Daniel.
Awalnya, pak Daniel sudah tidak ingin lagi berbicara dengan Raka, terlebih lagi ibu Linda. Saat mendengar permintaan Raka tersebut, dia malah semakin emosi kepada Raka. Beruntung, pak Daniel masih bisa menahan istrinya itu, sehingga akhirnya, Raka masih diberi kesempatan untuk berbicara dengan mereka.
Setelah mereka semua berada didalam, barulah pak Daniel memberi kesempatan kepada Raka, untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Raka-pun segera berbicara dengan mereka, dan menyampaikan apa maksud dari kedatangannya tersebut.
'' Pak, Bu! Maaf sebelumnya. Saya tahu, memang kehidupan keluarga saya saat ini masih belum layak jika dibandingkan dengan kalian. Sehingga kalian merasa, kalau saya tidak layak untuk Bella.''
'' Tapi, bukankah kalian sendiri yang mengatakan. Kalau kalian akan memberikan kesempatan kepada saya, supaya saya bisa memenuhi persyaratan yang pernah kalian katakan, untuk bisa disebut layak bagi Bella. Dan itu, saya juga sedang mengusahakannya.''
'' Tapikan, kami juga pernah bilang! Jika sebelum kamu memenuhi persyaratan itu, dan kami telah menemukan orang yang sesuai dengan apa yang kami harapkan, maka kamu juga harus memutuskan hubungan dengan Bella dan segera menjauhinya. Apa kamu lupa itu?'' sahut pak Daniel mengingatkan.
'' Saya tahu itu pak, bu! Saya juga tidak mungkin lupa akan hal itu. Tapi, bapak dan ibu juga tahukan? waktu yang kalian berikan juga terlalu singkat. Untuk itu, saya mohon! Tolong berikan saya waktu lagi, supaya saya bisa menunjukkan kalau saya mampu memenuhi keinginan kalian. Bapak dan ibu juga tahu, kalau saya dan Bella sangat saling mencintai.''
''Betul Pi, Mi! Kalian tahu kami saling mencintai. Bella nggak mau kalau Bella harus putus dengan mas Raka. Apalagi, sampai Bella harus bersama dengan Clayton, lelaki buaya itu.'' sahut Bella menyebutkan nama orang yang menjadi pilihan kedua orang tuanya.
Mendengar nama Clayton, Raka jadi terkejut. Meskipun dia memang sudah menduga kalau Clayton sedang berusaha mendekati Bella, tapi dia tidak menyangka kalau kedua orang tua Bella malah mendukungnya. Dalam hati Raka, dia merasa tidak rela, jika orang pilihan kedua orang tua Bella adalah Clayton.
'' Pak, Bu! Tolong beri saya waktu. Saya akan berusaha secepatnya, agar bisa seperti yang kalian harapkan.'' ucap Raka mengulang permintaannya.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya pak Daniel-pun menyetujui permintaan Raka. Ibu Linda yang memang sedari awal kurang menyetujui kalau Bella menjalin hubungan dengan Raka, dia hampir protes kepada suaminya. Apalagi, sekarang mereka juga sudah mendapatkan seseorang yang menurut mereka layak bagi Bella.
Namun, pak Daniel buru-buru berbisik kepada istrinya, sehingga Bu Linda langsung diam dan mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.
'' Baiklah! Kami akan memberikan kesempatan sekali lagi padamu. Jika dalam waktu seminggu kamu bisa memiliki rumah di komplek perumahan mewah sekitar sini, dan juga bisa mempunyai mobil sendiri, kami akan ijinkan kamu tetap berhubungan dengan Bella.''
'' Tapi jika kamu tidak bisa memenuhi persyaratan ini, maka kamu juga harus berjanji, kalau kamu tidak akan menggangu Bella lagi untuk selamanya. Bagaimana? Apa kamu sanggup?'' ujar pak Daniel dengan serius.
'' Oh iya, satu lagi! Mulai saat ini, selain di kampus, kalian juga tidak boleh lagi melakukan pertemuan. Kecuali, kamu sudah bisa memenuhi persyaratan itu.'' lanjut pak Daniel lalu tersenyum puas.
Bella yang kali ini mendengar langsung, akan persyaratan yang diajukan orang tuanya kepada Raka, dia langsung protes. Apalagi, persyaratan itu menurutnya juga sangat mustahil bisa dilakukan oleh Raka. Bagaimana tidak, Raka sendiri saat ini masih tinggal di rumah kontrakan. Mana mungkin dalam waktu sesingkat itu, Raka bisa membeli rumah yang harganya milyaran, ditambah lagi dengan mobil yang juga tidaklah murah.
'' Pi! Papi apa apaan sih? Apa Papi pikir, membeli rumah mewah dan juga mobil, itu seperti membeli mainan? Bella nggak setuju! Ini sama saja Papi sengaja memisahkan kami berdua. Papi jangan egois Pi!'' ucap Bella yang merasa keberatan, akan syarat yang diberikan oleh orang tuanya kepada Raka.
...****************...
__ADS_1