Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol

Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol
Pergi Bersama Topan


__ADS_3

'' Nak! Kamu darimana saja jam segini baru pulang? Kalau cuman nganter gadis itu, masa iya sampai begitu lama.'' sambut ibu Sophia setelah membukakan pintu untuk Raka.


'' Tadi Roni kemari mencarimu. Dan itu! Kenapa pakaianmu kelihatan kotor begitu? Kamu habis berkelahi? Apa kamu bertemu dengan preman-preman itu lagi?'' tanya ibu Sophia penuh rasa khawatir.


Ibu Sophia yang sejak tadi menunggu Raka yang tidak kunjung pulang, dia tampak begitu cemas. Awalnya, dia tidak begitu memperhatikan kondisi pakaian yang dikenakan oleh Raka. Namun, setelah Raka masuk kedalam rumah, dia akhirnya baru sadar, kalau ternyata pakaian yang dikenakan oleh Raka terlihat cukup kotor.


'' Anu Bu. Ini.., tadi..''


Sebenarnya Raka hendak menjawab dengan jujur apa yang barusan dia alami. Akan tetapi, berhubung dia juga tidak ingin ibunya semakin khawatir, akhirnya dia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia segera pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk, dan berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


'' Bu Raka mandi dulu ya! Badan Raka lengket semua nih.''


'' Ya sudah, sana mandi dulu! Ibu sudah siapin air hangat untukmu. Habis itu kamu jangan lupa makan. Ibu liat, dari tadi siang kamu belum makan.'' perintah ibu Sophia, tak lagi terlihat secemas sebelumnya.


'' Raka udah makan kok Bu. Tadi Raka ketemu temen dan makan di warung bareng dia.'' sahut Raka, lalu segera pergi ke kamar mandi.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Raka yang tadi melihat ibunya masih duduk diruang tengah sendirian, diapun segera menghampirinya. Setelah duduk di kursi yang ada didepan ibunya, Raka lalu berkata kepada ibunya.


" Bu, Ibu belum ingin tidur?" tanya Raka sambil menatap wajah ibunya dalam-dalam.


" Nak! Ibu ingin bicara denganmu. Apa kamu sungguh benar-benar mencintai gadis itu?" ucap ibu Sophia malah balik bertanya.


" Iya Bu. Raka sangat mencintai Bella. Apakah ibu keberatan kalau Raka mencintai dia dan ingin bersamanya?" jawab Raka sambil mengangguk.


" Nak! Dengarkan ibu. Seperti yang sudah sering ibu katakan padamu. Kalau kamu ingin mencari gadis untuk dijadikan sebagai pendamping hidupmu, carilah orang biasa saja.''


'' Ibu bukannya tidak setuju kamu dengan gadis itu. Tapi, menurut ibu itu terlalu beresiko nak! Akan ada banyak rintangan dan kendala yang akan kamu hadapi. Ibu tidak ingin, pengalaman buruk yang pernah ibu alami, akan kembali berulang padamu.'' ujar ibu Sophia terkenang masa lalunya.


'' Maksud ibu?'' tanya Raka yang mulai penasaran.


Apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut, sebenarnya Raka juga mulai merasakannya. Meskipun dia dan Bella sama-sama saling mencintai, namun karena kedua orang tua Bella tidak begitu menghendaki dirinya sebagai kekasih Bella, maka apa yang menjadi kekhawatiran ibunya tersebut ternyata terjadi juga.


" Baiklah! Ibu akan ceritakan padamu, kenapa ibu selalu melarang kamu jatuh hati dengan anak orang kaya, seperti halnya gadis itu.'' ujar ibu Sophia memberi komentar tentang Bella.


Setelah diam sejenak dan mengambil nafas panjang, Ibu Sophia lalu menceritakan tentang masa lalunya kepada Raka. Ibu Sophia yang merupakan anak yatim-piatu dan dibesarkan di panti asuhan, dia merantau ke pulau Kalimantan ini atas ajakan seorang teman usai dia lulus SMA di Jawa.


Bersama temannya, dia bekerja di sebuah mall yang cukup terkenal di kota itu. Karena kerjanya dinilai sangat bagus dan juga memuaskan, diapun diangkat oleh pemilik mall tersebut, menjadi sekretaris ditempat itu.


Dari sinilah, dia kemudian kenal dengan pemuda kaya, yang merupakan anak dari pemilik mall tersebut. Awalnya, dia yang merasa sebagai orang miskin dan tidak punya siapa-siapa, menolak pernyataan cinta dari pemuda itu. Namun, karena kegigihan pemuda itu yang terus berusaha meluluhkan hatinya, ditambah lagi dia sendiri sebenarnya juga menyukai anak bosnya tersebut, akhirnya mereka berdua pun jadian.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, keduanya bersepakat untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan. Untuk itu, hubungan mereka yang tadinya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mereka lakukan secara terang-terangan. Ibu Sophia diajak oleh kekasihnya untuk menemui kedua orang tua pemuda tersebut, yang tidak lain merupakan bosnya sendiri.


Didepan kedua orang tua pemuda tersebut, mereka meminta ijin untuk menikah. Akan tetapi, karena kedua orang tua pemuda itu tahu, kalau ibu Sophia hanyalah orang biasa dan bukan dari keluarga yang berada, bahkan dia juga merupakan anak yatim-piatu, merekapun tidak memberi restu kepada keduanya.


Namun, meskipun tidak mendapat restu dari kedua orang tua pemuda itu, mereka tetap menjalin hubungan. Bahkan, mereka juga akhirnya menikah walaupun tanpa sepengetahuan dari kedua orang tua pemuda tersebut.


Akan tetapi, setelah beberapa bulan pernikahan mereka, hubungan mereka diketahui oleh kedua orang tua pemuda tersebut. Ibu Sophia dipecat dari pekerjaannya. Dia juga dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tua pemuda itu, yang merupakan bosnya sendiri yang kini telah menjadi mertuanya.


Pada waktu itu. Ibu Sophia yang tengah hamil muda dan tanpa sepengetahuan suaminya, dia diberi sejumlah uang oleh mertuanya tersebut. Namun tentunya, hal itu dilakukan oleh sang mertua dengan maksud tertentu. Yaitu, ibu Sophia diminta agar menggugurkan kandungannya dan pergi meninggalkan kota sejauh-jauhnya.


Tentu saja hal itu ditolak oleh ibu Sophia. Baginya, mana mungkin dia tega membunuh calon buah hati hasil dari hubungan cintanya dengan sang suaminya .Dia juga memberitahukan hal itu kepada suaminya, sehingga suami ibu Sophia jadi marah kepada kedua orangtuanya.


Suaminya lalu mengajak ibu Sophia untuk pindah ketempat lain, namun tidak jauh dari kota tersebut. Ditempat itu, ibu Sophia dan suaminya merasa hidup lebih tenang, meskipun kehidupan mereka hanya dalam kesederhanaan. Hal itu berlangsung hingga anak pertama mereka lahir.


Dengan lahirnya anak pertama mereka, ibu Sophia dan suaminya semakin merasa senang. Akan tetapi, tidak lama kemudian ujian hidup mulai menyapa kehidupan mereka. Suami ibu Sophia yang sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan kedua orang tuanya, kini sudah tidak memiliki uang untuk biaya hidup mereka.


Sebagai anak laki-laki satu-satunya, suami ibu Sophia sebenarnya sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Dia juga merupakan calon pewaris dari keluarganya. Akan tetapi, karena dia lebih memilih hidup bersama ibu Sophia daripada kedua orang tuanya, dia akhirnya dikucilkan oleh keluarganya. Bahkan, uang yang tadinya selalu ditransfer ke rekeningnya, kini bukan hanya tidak diberikan lagi. Akan tetapi, rekening miliknya juga diblokir. Sehingga dia harus bekerja keras mencari uang, untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya.


Awalnya, mereka masih bisa menjalani kehidupan yang sulit itu. Tapi lambat laun, suami ibu Sophia mulai goyah. Dia yang tidak terbiasa hidup dalam kesusahan, ditambah lagi dengan bujukan dan ancaman kedua orang tuanya, suami ibu Sophia akhirnya pergi meninggalkan ibu Sophia dan bayinya yang masih kecil.


'' Begitulah nak. Kenapa ibu melarang kamu menjalin hubungan dengan anak orang kaya. Ibu tidak ingin, pengalaman pahit yang pernah ibu alami, kembali terulang dan terjadi padamu. Cukup ibu saja yang mengalami dan merasakannya.''


Saat menceritakan hal itu, tanpa terasa air mata ibu Sophia mengalir dikedua pipinya. Dari raut wajahnya, tampak sekali kalau ibu Sophia menyimpan sebuah luka yang cukup dalam didalam hatinya. Melihat hal itu, Raka jadi ikut bersedih. Dia lalu berpindah duduk disamping ibunya.


'' Bu! Maafkan Raka. Raka tidak berniat membuat ibu bersedih seperti ini. Raka juga tidak berniat membuat ibu teringat akan masa lalu ibu yang begitu pahit itu.''


' Tapi bu! Meskipun Bella berasal dari keluarga kaya, tapi dia tidak mempermasalahkan status keluarga kita. Raka juga akan berusaha sebisa dan secepatnya, supaya kita bisa membeli rumah dan kendaraan yang layak, sehingga kita tidak perlu lagi merasa minder dan takut direndahkan oleh orang lain.'' ujar Raka yang masih ingin mencoba mempertahankan hubungannya dengan Bella.


'' Nak! Apa kamu masih belum paham juga? Dulu, ibu juga merasa seperti itu. Waktu kami belum dan baru menikah, dia juga bilang seperti itu. Tapi lambat laun, dia bahkan tidak peduli sama sekali dengan ibu.'' sahut ibu Sophia dengan lembut menasehati Raka.


'' Tapi Bu! Sekali.. ini saja, Raka mohon sama ibu. Raka ingin menunjukkan kepada mereka, kalau kita juga punya kemampuan untuk merubah nasib kita. Biar mereka juga tahu. Tidak selamanya roda kehidupan seseorang itu selalu berada dibawah.'' ujar Raka, masih berharap ibunya memberikannya restu untuk bersama Bella.


'' Sudahlah nak! Dengarkan kata kata ibu. Jangan pernah memaksakan diri untuk sesuatu yang bisa membuatmu kecewa nantinya. Lupakan saja gadis itu. Masih banyak gadis yang cantik dan baik, yang bisa kamu pilih sebagai pendamping hidupmu, tanpa harus merasa khawatir akan mengalami hal seperti yang pernah ibu alami.''


Karena tampaknya ibu Sophia benar-benar tidak mau memberi dukungan kepadanya, Raka jadi terdiam. Namun, hatinya terus bergejolak. Meskipun dia sendiri tahu, kalau kedua orang tua Bella juga tampaknya tidak suka terhadapnya, akan tetapi, dia juga merasa tidak rela jika Bella akhirnya harus bersama Clayton.


'' Nak, sekarang sudah larut. Kamu pergilah tidur. Bukankah besok kamu juga harus kuliah.'' sembari memegang bahu Raka, ibu Sophia mengingatkan Raka supaya pergi beristirahat.


Meskipun didalam hatinya ada rasa ketidakpuasan atas sikap dan jawaban dari ibunya, Raka akhirnya menuruti perintah ibunya. Dia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamarnya dan segera beristirahat.

__ADS_1


'' Maafkan ibu nak! Semua ini demi kebaikanmu. Cuma kamu satu-satunya yang ibu miliki. Ibu tidak ingin, kamu terluka seperti ibu dulu.'' ucap ibu Sophia membatin.


Didalam kamarnya. Rupanya Raka masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus memikirkan apa yang harus dia lakukan. Haruskah dia menyerah dan melupakan Bella seperti kata ibunya, serta membiarkan Bella akhirnya bersama Clayton, ataukah dia akan terus memperjuangkannya walaupun terlalu banyak rintangan yang begitu berat yang akan dia hadapi.


Hingga malam hampir berakhir, Raka baru bisa memejamkan matanya. Rasanya baru beberapa menit saja dia terlelap, ibunya sudah membangunkannya karena waktu sudah masuk waktu subuh. Meski matanya masih terasa berat, Raka tetap bangun untuk melaksanakan shalat subuh seperti biasanya.


'' Bu! Kami berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum.'' ucap Raka diikuti oleh Naya, setelah mereka keluar dari halaman rumah dan hendak pergi ke kampus.


'' Wa'alaikumsalaam.., hati-hati dijalan! Raka, ingat! Jangan ngebut-ngebut bawa motornya! Sepulang dari kampus, jangan lupa jemput Naya di sekolahnya.'' ujar ibu Sophia yang mengantar mereka sampai dihalaman rumah mereka.


'' Iya bu! Insyaallah. Ayo Nay naik! Kita berangkat sekarang.'' sahut Raka lalu menyuruh Naya segera duduk dibelakang motornya.


...----------------...


'' Kirain Mas Raka nggak jadi datang! Emangnya hari ini mas Raka nggak jualan apa ya?'' tanya Topan saat melihat kedatangan Raka.


'' Ya jadi dong Pan..! Kan tadi aku udah bilang, kalau siang ini aku pengen ketemu sama orang yang kamu bilang itu. Mudah-mudahan, teman kamu yang manager itu bisa membantuku untuk mendapatkan rumah yang aku cari.'' sahut Raka, usai bersalaman dengan Topan yang sudah sedari tadi menunggunya.


'' Oh iya, maaf! Aku agak terlambat. Soalnya tadi aku ada sedikit urusan dirumah.'' lanjut Raka yang merasa tidak enak, karena membuat Topan sudah menunggunya.


'' Oh., gak papa mas! Aku juga belum lama kok nyampe disini. Gimana? Apa kita berangkat sekarang?'' sahut Topan sembari tersenyum, lalu segera menaiki motor sport miliknya.


'' Oh iya! Mas Raka mau bareng sama aku, apa bawa motor sendiri? Kalau mau bareng sama aku, sebaiknya motor mas Raka dititipkan disini saja. Tenang aja mas! Aku kenal kok sama pemilik toko ini. Insyaallah, dijamin aman kok.''


Setelah berpikir sejenak, Raka akhirnya memutuskan untuk ikut berboncengan dengan Topan. Usai menitipkan motor miliknya, Raka kemudian pergi bersama Topan kesebuah perkantoran, tempat dimana orang yang dimaksud oleh Topan berada.


Sesampainya mereka disana, Topan langsung membawa Raka menemui sang manager pemasaran perumahan diruang kerjanya. Akan tetapi, berhubung sang manager sedang ada tamu, merekapun diminta untuk menunggu diruang tunggu yang ada ditempat tersebut.


'' Mas Raka. Tolong Mas Raka tunggu disini sebentar ya! Aku mau kebelakang dulu. Nanti kalau ada yang nanyain, bilang aja mas Raka ada janji sama pak Rio.'' ujar Topan lalu beranjak dari ruangan itu.


'' Iya Pan. Tapi jangan lama-lama ya! Kalau kelamaan nunggu sendirian ditempat ini, bisa-bisa, aku udah kayak orang hilang aja nanti.'' canda Raka menyahuti perkataan Topan.


Saat Raka sedang sendirian di tempat itu, beberapa karyawan yang melihat Raka yang hanya berpakaian sederhana tersebut, mereka saling berbisik sambil sesekali melihat ke arah Raka. Seorang salesman (SPB) yang sedari tadi memperhatikan Raka, dia kemudian datang menghampiri Raka.


'' Maaf mas! Apa mas ini mau melamar pekerjaan ditempat ini? Kalau pengen jadi SPB seperti saya, masnya harus pandai menawarkan barang dan berpenampilan menarik seperti saya ini mas.''


'' Tapi kalau menurut saya, masnya mending ngelamar jadi OB aja mas! Kebetulan, saya dengar perusahaan ini juga lagi butuh orang untuk bagian itu.'' ujar sang SPB, seakan merendahkan Raka yang berpenampilan sederhana tersebut.


Menanggapi apa yang dikatakan oleh SPB tersebut, Raka hanya tersenyum. Meskipun mungkin ada niat baik dari SPB tersebut, namun karena sikapnya yang lebih terlihat merendahkan, maka Raka pun tidak mengatakan apapun atas saran yang tadi dikatakan oleh SPB itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2