
'' Eh bocah jelek! Elu niat jualan kagak sih? Ade orang mau beli juga, malah enak-enakan pacaran. Kalo niatnye cuma mau pacaran, no disono no! Di utan. Kagak malu ye, pagi-pagi udah pacaran. Mane ditempat umum lagi.'' celoteh seorang gadis yang ingin membeli kue serabi, dan ternyata adalah Noni.
Raka dan Bella jadi terkejut dengan suara Noni yang terdengar cukup keras itu. Secara bersamaan, Raka dan Bella menoleh kearah sumber suara. Raka yang sudah hapal betul bagaimana Noni, dia hanya tersenyum kearah Noni tanpa menjawab celotehannya sama sekali. Dia lalu berdiri dan menghampiri Noni yang masih berdiri didepan pintu kedai tersebut.
Sementara itu, Bella yang baru pertama kali melihat dan mendengar cara bicara Noni yang terlihat begitu kasar dan jutek tersebut, dia jadi terbengong dan merasa heran melihat kearah Noni. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, siapa gadis itu dan kenapa berbicara kasar seperti itu kepada Raka. Namun, dia juga tidak berkata apa-apa dan hanya melihat bagaimana reaksi Raka menghadapi gadis tersebut.
'' Neng Baedah mau beli serabi?'' tanya Raka dengan sopan.
'' Kagak! Gue mau beli bakso.'' sahut Noni dengan jutek.
'' Udah tau gue kemari, masih juga nanya. Ya iyalah! Gitu aje kagak ngerti sih, dasar bocah jelek!'' lanjutnya lalu meletakkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah diatas meja etalase.
'' Baiklah, ditunggu sebentar ya! saya akan siapin.'' ucap Raka lalu bergegas untuk membuatkan kue pesanan Noni.
'' Cepetan dan gak pake lama! Males banget gue ketemu elu. Nyang ade, tiap gue ketemu elu, pasti gue ketiban sial.'' sahut Noni masih memasang muka juteknya.
Seperti biasanya, Raka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala saat melihat sikap dan cara bicara Noni yang sudah tidak asing lagi baginya tersebut. Raka lalu segera membungkus pesanan Noni, manakala kue serabi itu telah selesai dibuatnya.
'' Ini neng, kuenya udah selesai. Berhubung neng Baedah pelanggan pertama hari ini, kuenya saya kasih bonus buat eneng dan Babeh Juned. Oh iya, ini kembaliannya. Makasih neng ya! Selamat menikmati.'' ucap Raka sembari menyerahkan bungkusan kue serabi dan juga uang kembalian kepada Noni.
'' Apaan sih, Nang Neng Nang Neng? Udah gue bilangin berkali-kali juga. Panggil gue Noni, masih aje manggilnye kayak begitu. Mau gue hajar lu? Dasar bocah jelek!'' seru Noni sambil mengambil bungkusan kue serabinya.
Namun, karena terburu-buru dan tidak menyadari kalau sedari tadi tali sepatu olahraga yang dipakainya terlepas, dia hampir terjatuh akibat tali sepatu itu terinjak olehnya sendiri.
'' Awas jatuh!'' teriak Raka dan Bella secara bersamaan saat keduanya melihat kearah Noni.
'' Iiih...!! Benerkan ape kate gue! Pasti, saben gue ketemu elu, gue bawaannye sial mulu. Ih, nyebelin. Dasar bocah jelek sialan!'' umpat Noni menyalahkan Raka sambil melotot kearahnya.
Melihat kejadian itu, Bella yang menyaksikan bagaimana Noni terus menyalahkan Raka saat dia hampir terjatuh tersebut, dia hampir saja tak bisa menahan tawanya. Namun, karena Noni melihat kearahnya dan terlihat tatapan matanya begitu tajam, dia segera menyembunyikan rasa geli dihatinya, dan berpura-pura melihat kearah yang lain.
Pada saat itu juga, seorang pembeli yang baru saja datang dan sempat melihat kejadian itu, dia juga ikut cengar-cengir. Namun, Noni langsung membentaknya sehingga orang itupun langsung menundukkan wajahnya, dan tidak berani melihat kearah Noni.
'' Ape lu cengar-cengir. Mau gue hajar juga lu ye!'' bentak Noni sambil menunjukkan kepalan tangannya kepada orang tersebut.
Beberapa saat setelah Noni menjauh dan kembali ke tokonya yang ada diseberang jalan, barulah orang yang tadi sempat dibentak oleh Noni tersebut memesan kue serabi kepada Raka. Sambil cengar-cengir mengingat kejadian tadi, orang tersebut berkata kepada Raka.
'' Itu orang kok galak banget mas ya? Kasian nanti yang jadi suaminya. Pasti tiap hari bakalan diomelin terus sama dia.'' ucap lelaki yang hendak membeli kue serabi tersebut.
'' Udah mas, gak usah diambil hati. Sifatnya memang seperti itu'' jawab Raka sembari tersenyum.
Tak lama kemudian, setelah lelaki itu juga pergi dari kedai milik Raka, Bella yang merasa sedikit penasaran dengan Noni, diapun langsung bertanya kepada Raka setelah Raka kembali duduk didekatnya.
'' Mas Raka! Siapa sih cewek tadi itu mas? Kayaknya, mas Raka cukup kenal sama dia.'' tanya Bella.
'' Oh.. Itu anaknya Babeh Juned. Pemilik toko diseberang itu. Orangnya memang seperti itu, galak banget. Emangnya kenapa Bell?''
'' Ya gak apa-apa sih. Tapi kok rasanya aneh banget ya?''
__ADS_1
'' Aneh gimana?'' ucap Raka balik bertanya.
'' Ya aneh aja mas. Enggak ada angin nggak ada hujan, kok tiba-tiba dia langsung marah-marah gitu. Apa dia itu salah satu penggemarmu? Atau jangan-jangan, dia itu malah mantan kamu yang cemburu ngeliat kita sedang berduaan?''
Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Bella, Raka tidak langsung menjawab. Dia malah diam dan menatapi wajah Bella, seakan sedang mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran Bella.
'' Iih..! Mas Raka ngapain sih? Bukannya menjawab pertanyaanku, eeh.. malah liatin aku kayak gitu!'' ucap Bella merasa sedikit aneh dengan apa yang sedang dilakukan oleh Raka.
'' Kamu cemburu?'' tanya Raka tiba-tiba.
'' Emm.. nggak kok! Aku hanya merasa aneh aja. Tapi sepertinya, kayak ada sesuatu deh antara mas Raka dengan cewek itu.'' jawab Bella menduga-duga.
Raka kembali terdiam. Dia kembali menatap wajah Bella dalam-dalam. Hal itu malah semakin membuat Bella jadi penasaran. Sambil menunggu jawaban dari Raka, Bella juga ikut membalas tatapan Raka.
Untuk beberapa saat, suasana ditempat itu menjadi hening. Hanya terdengar suara detak jarum jam, yang tergantung di salah satu dinding di ruangan tersebut.
'' Maas..! Kok kamu diam aja sih? Jadi benar, kamu memang ada hubungan sama dia?'' tanya Bella dengan tidak sabar menunggu jawaban dari Raka.
'' Bella..! Kamu gak usah berpikir yang aneh-aneh deh''. Selain kamu, aku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun.''
'' Lagi pula, apa kamu lupa kalau aku pernah mengatakan seperti apa tipe wanita yang aku sukai? Coba kamu liat baik-baik! Apakah dia masuk dalam tipe wanita yang aku sukai?''
'' Tapi kok, kenapa sikapnya seperti itu saat melihat kita berdua tadi ya mas?''
'' Ya mana aku tahu Bell. Yang jelas, sikapnya memang selalu seperti itu kalau bertemu denganku. Suka marah-marah gak jelas gitu. Dan tadi, kamu juga lihat sendirikan? Dia juga seperti itu sama orang lain.''
Bella jadi terkejut saat tangannya disentuh oleh Raka. Meski bukan baru pertama kalinya hal itu terjadi, namun saat itu pandangan mata keduanya sedang beradu pandang. Hal itulah yang membuat hati dan jantung Bella jadi berdebar-debar. Wajahnya juga jadi kian bersemu kemerahan.
'' Cantik..!'' ucap Raka tersenyum menatap Bella.
'' Ss.. Siapa?'' tanya Bella , lalu menoleh kesana kemari seakan sedang mencari sesuatu.
'' Ya kamulah Bell! Terus, siapa lagi?'' jawab Raka terus menatap wajah Bella.
'' Oh.. Kirain cewek itu tadi.'' jawab Bella tanpa sadar.
Rupanya, Bella yang sejak tadi memperhatikan Noni dengan seksama, dia kembali teringat wajah Noni. Meski usia Noni jauh lebih muda darinya, juga sifat Noni yang terlihat begitu garang tersebut, akan tetapi dimata Bella, rupanya Noni terlihat cukup cantik dan berbeda. Karena itu juga, tanpa dia sadari, Secara reflek mulutnya langsung mengatakan hal tersebut, saat Raka berkata kepadanya.
'' Eh, kamu kenapa sih Bell, kok tiba-tiba ngomongin dia lagi? Kan aku udah bilang. Enggak ada perlunya kita ngebahas masalah dia.'' ucap Raka lalu melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bella.
'' Eng.. nggak tau mas! Aku juga bingung, kenapa kok aku jadi kepikiran sama cewek itu.'' jawab Bella tampak bingung.
'' Ya udah..! Sekarang mumpung kamu lagi ada disini, kamu bantuin aku bikin kue serabi ya. Itu, kayaknya ada yang mau beli deh.'' ucap Raka lalu berjalan menuju tempat dia membuat kue tersebut.
Benar saja. Baru saja Raka selesai bicara dan hendak membuat kue tersebut, beberapa pelanggannya mulai berdatangan. Raka dan Bella pun akhirnya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Raka sibuk membuat kue, sedangkan Bella mulai sibuk membungkus kue-kue tersebut dan memberikannya kepada para pembeli.
'' Uff... !! Ternyata, jualan kue begini lama-lama capek juga ya!'' ucap Bella sambil menyeka keringatnya yang mulai membasahi keningnya dengan sapu tangan.
__ADS_1
'' Ya namanya juga orang kerja Bell, semuanya ya pasti melelahkan. Mereka yang kerjanya cuma duduk di ruangan ber- AC, dan terlihat enak juga katanya capek, apalagi kerjaannya orang kecil seperti ini. Ya udah pasti lebih capek lagi.''
'' Tapi, asalkan kita mencintai pekerjaan kita dan sudah terbiasa, lama-lama ya rasa lelah itu akan berubah jadi menyenangkan.'' sahut Raka, lalu ikut duduk di kursi sebelah Bella.
'' Eh iya! ngomong-ngomong, kamu udah sarapan apa belum Bell? Jangan sampai terlambat lho. Bisa bahaya nanti.'' ujar Raka mengingatkan.
'' Emm... Belum sih! Tadinya aku sengaja pengen sarapan kue serabi buatanmu. Tapi, berhubung tadi terlalu sibuk, aku jadi lupa kalau belum sarapan.'' jawab Bella berterus-terang.
'' Ya udah.., mumpung lagi gak ada pembeli, sekarang kita sarapan dulu yuk! Aku juga udah lapar nih.'' sahut Raka sembari mengelus-elus perutnya.
'' Eh iya! Kamu gak pengen sarapan yang lain apa? Kalau mau, aku bisa pesenin buat kamu bakso, mie ayam, sate, nasi goreng atau lainnya. Gimana? kamu mau yang mana?'' tanya Raka menawarkan.
'' Gak ah. Aku cuma lagi pengen serabi kuah buatanmu aja. Soalnya, rasanya itu lho bikin ngangenin. Kayak yang bikinnya.'' jawab Bella sembari mengedipkan matanya dengan genit kepada Raka.
Sebagai lelaki normal, melihat sikap Bella yang tampak sedikit genit tersebut, mau tidak mau hatinya juga mulai tergoda. Ditambah lagi, Bella juga tampak begitu cantik dan cukup menggemaskan dengan sikapnya yang seperti itu. Dalam imajinasi Raka, dia mulai membayangkan bagaimana nanti jika dia dan Bella sudah menikah.
Namun, bayangan imajinasi itupun segera memudar, manakala dia mendengar suara perut yang mulai keroncongan. Entah suara itu terdengar dari perutnya sendiri, ataukah suara dari perut Bella. Keduanya lalu terkekeh karena mendengar suara tersebut.
'' Hhh.. Itu suara perut kamu ya Bell?'' tanya Raka mengira suara itu datang dari perut Bella.
'' Ih, enak aja! Itu bukanya suara dari perut mas Raka sendiri. Hhh..'' sanggah Bella lalu terkekeh.
'' Ah masa sih? Kayaknya bukan tuh.'' sahut Raka.
'' Iya kok. Coba aja dengerin lagi!'' ujar Bella, lalu memasang pendengarnya dengan seksama.
'' Kruk kruyuuk...''
Disaat keduanya mencoba mencari dengar darimana bunyi suara perut tersebut, keduanya kini malah semakin terkekeh. Tanpa mereka duga, secara bersahutan, perut keduanya juga malah berbunyi cukup keras. Sehingga keduanya jadi tahu, kalau ternyata suara itu keluar dari dalam perut mereka masing-masing.
Karena perut mereka sudah semakin keroncongan, akhirnya merekapun segera sarapan bersama. Raka segera menyiapkan serabi beserta kuahnya, serta membuatkan minuman untuk mereka berdua.
'' Eh iya mas Raka. Ngomong-ngomong, kok dari tadi aku nggak liat Naya ya? Biasanya dia selalu aktif bantuin mas Raka.'' ucap Bella yang baru menyadari, kalau sedari tadi tidak melihat keberadaan Naya.
'' Oh..! Naya hari ini tidak datang Bell. Kakeknya sedang sakit. Semalam aku juga dari sana untuk menjenguknya.''
'' Ya maklumlah. Kakeknya Naya sudah lanjut. Ditambah lagi, dia juga punya riwayat penyakit yang sudah menahun. Meskipun tadinya sudah diobati dan terlihat sehat, rupanya sakitnya bisa kembali kambuh seperti sekarang ini.'' ujar Raka.
'' Apa kakeknya Naya sudah dibawa ke dokter untuk diobati mas?'' tanya Bella.
'' Udah Bell! Aku juga sudah mencoba untuk membujuk kakeknya Naya, agar dia dirawat di rumah sakit. Tapi kakeknya Naya menolak. Dia hanya mau dirumah dan berobat jalan saja.''
'' Maka dari itu, untuk hari ini dan mungkin untuk beberapa hari kedepan, aku meminta Naya untuk tidak ikut membantu berjualan dulu Bell. Biar dia dirumah saja untuk merawat kakeknya. Kasian kalau nanti kakeknya butuh apa-apa sedang dia cuma sendirian di rumah.''
Setelah selesai sarapan, keduanya lalu melanjutkan pekerjaan mereka saat ada pembeli. Disaat tidak ada pembeli, merekapun duduk-duduk sambil sesekali bercanda, yang membuat mereka tampak begitu bahagia. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, tampak sepasang mata terus mengawasi tingkah dan gerak-gerik mereka.
...****************...
__ADS_1