
Malam itu. Saat berada diruang keluarga, ibu Sophia yang sedang duduk sambil menonton acara televisi, tampak sedikit gelisah. Dia ingin memanggil Raka yang baru saja pulang dari masjid dan sedang berganti pakaian di kamarnya. Namun, dia akhirnya hanya menunggu di ruangan itu, sambil menunggu Raka keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian. Raka yang sudah berganti pakaian, dia keluar dari kamarnya dan ikut duduk di ruang keluarga bersama ibunya. Sejenak kemudian, ibu Sophia mulai membuka kata berbicara kepada Raka.
'' Nak. Ibu pengen nanya sama kamu boleh?'' tanya ibu Sophia.
'' Ya boleh dong bu. Masa orang bertanya aja kok nggak boleh.'' jawab Raka memandang wajah ibunya.
'' Emm.. Apa kamu menyukai Naya?'' tanya ibu Sophia tiba tiba.
'' Bu. Ibu kenapa sih? Kok ibu tiba-tiba nanyanya aneh begitu!'' sahut Raka yang merasa heran dengan pertanyaan ibunya tersebut.
'' Raka, apa kamu menyukai Naya?'' ucap ibu Sophia kembali mengulangi pertanyaannya.
Mendengar ibunya kembali mengulangi lagi pertanyaan tersebut, Raka diam sejenak. Dia kemudian teringat candaannya kepada Naya tadi sore. Dia kini berpikir, apakah ibunya tidak suka dengan candaannya itu, atau ibunya mengira kalau dia menyukai Naya. Setelah beberapa saat, Rakapun segera menjawab.
'' Bu..! Raka suka dan sayang sama Naya. Tapi sebatas suka dan sayangnya seorang kakak terhadap adik. Ya walaupun dia bukan adik kandung Raka. Ibukan tahu, Raka tidak punya adik.'' jawab Raka.
'' Apa menurut ibu Raka salah bila Raka seperti itu?'' lanjut Raka dan bertanya kepada ibu Sophia.
'' Tidak nak. Ibu sama sekali tidak menggangapmu bersalah karena hal itu. Bahkan, jika rasa suka dan sayangmu kepada Naya lebih dari itupun, ibu tidak akan mempermasalahkannya.''
'' Ibu hanya ingin tahu saja, bagaimana perasaan kamu terhadapnya. Apakah kamu benar-benar menyayangi dia meskipun dia hanya adik angkatmu.'' ujar ibu Sophia.
'' Beneran kok bu! Meskipun Naya hanya adik angkat, Raka tetap akan menyayangi dan menjaganya seperti seorang kakak terhadap adik kandung sendiri.''
'' Kalau sama ibu bagaimana? Apa kamu juga sayang dan juga ingin membahagiakan ibu!''
'' Ya itu sih pasti dong bu! Masa sama orang lain saja Raka bisa sayang, apalagi sama orang tua sendiri.'' jawab Raka.
'' Bagaimana kalau misalnya nih, ternyata ibu ini bukan ibu kandungmu? Apakah kamu tetap akan menyayangi ibu?'' ujar ibu Sophia.
'' Ibu...! Ibu ngomong apaan sih? Udah tau Raka anak ibu. Kok ibu malah ngomong gitu!''
'' Inikan seandainya nak. Ibu juga pengen tahu, bagaimana sikap kamu terhadap ibu jika ibu ini bukan ibu kandungmu!'' ujar ibu Sophia terlihat serius.
'' Ibu..! Jikapun Raka ini semisal bukan anak ibu, Raka akan tetap menyayangi ibu seperti selama ini. Raka akan tetap menjaga dan berusaha membahagiakan ibu.''
'' Selama ini, ibu telah menjaga dan menyayangi Raka dengan sepenuh hati. Jadi, Raka juga ingin menunjukkan bakti Raka terhadap ibu. Tapi.. buat apaan sih ibu nanyain yang kayak gitu? Kan kelihatan aneh dan enggak penting banget dong bu!'' ujar Raka lalu tersenyum.
Mendengar jawaban dari Raka, juga melihat sorot matanya yang menunjukkan betapa tulusnya apa yang dikatakannya, ibu Sophia ikut tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hatinya yang terpancar dari wajahnya. Sepertinya, ucapan Raka tadi seakan sebuah pelita ditengah kegelapan.
Entahlah! Sebenarnya ada misteri apa dibalik pertanyaan dan keingintahuan ibu Sophia, sehingga dia sampai menanyakan hal itu kepada Raka. Raka sendiri tidak begitu memikirkannya. Saat ini, dia masih memikirkan tentang alasan yang tepat untuk besok pagi, saat dia nanti menemui dosen pembimbingnya.
...----------------...
Tok tok tok. '' Assalamualaikum..'' ucap Raka didepan pintu ruangan pak Gultom.
'' Masuk!'' terdengar suara jawaban dari dalam ruangan.
Setelah mendengar jawaban dan perintah dari dalam ruangan, Raka lalu membuka pintu dan segera masuk kedalam ruangan tersebut. Dibelakang meja di ruangan itu, tampak seorang laki-laki setengah baya sedang duduk sambil mengerjakan sesuatu. Laki-laki tersebut memiliki badan sedikit gemuk, dan juga berkumis tebal.
'' Selamat pagi pak! Apa bapak memanggil saya?'' sapa Raka setelah berada didepan meja pak Gultom.
__ADS_1
Lelaki setengah baya itu menoleh sejenak dan melihat kearah Raka. Setelah itu dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
'' Selamat pagi! Silahkan duduk, dan tunggu sebentar.'' ucapnya dengar suara dan logat khas orang Medan.
Raka segera duduk dan menunggu sampai pak Gultom selesai dengan urusannya. Walaupun jantungnya berdetak cukup kencang, saat berhadapan dengan pak Gultom yang terkenal galak itu, Raka mencoba untuk bersikap setenang mungkin, supaya tidak menimbulkan permasalahan lainnya. Beberapa menit kemudian, pak Gultom meletakkan pena dan bukunya, lalu dia mulai berbicara.
'' Nama kamu, Raka bukan?'' tanya pak Gultom sambil mengamati Raka.
'' Iya pak.'' jawab Raka singkat.
'' Kamu tahu, kenapa kamu aku panggil kemari?'' lanjut pak Gultom menginterogasi Raka.
'' Tahu pak. Kemarin saya tidak mengikuti mata kuliah bapak dan tanpa memberikan keterangan.'' jawab Raka menyebutkan penyebab dia dipanggil oleh pak Gultom.
'' Apa kamu tahu juga. Kalau aturan dikampus ini, tidak boleh bolos mata kuliah kecuali dengan keterangan yang jelas?''
'' Iya pak!''
'' Kalau kamu tahu kesalahan kamu itu, kenapa kamu masih berani melakukannya. Apa kamu pikir, kampus ini milik nenek moyang kamu. Sampai kamu dengan seenaknya melanggar aturan yang ada dikampus ini!'' ucapnya menatap Raka dengan tajam.
Raka hanya tertunduk dan tidak berani memotong perkataan dosen pembimbingnya itu. Pak Gultom dengan suaranya yang cukup lantang, dia terus menceramahi Raka. Sambil terus berbicara, dia mulai berdiri dan berjalan mondar mandir didepan Raka yang tidak berani menatap pak Gultom.
'' Kamu pasti tahukan! Kampus ini tidak seperti kampus yang lain. Kamu juga pasti tahu, tidak semua orang bisa kuliah disini! Betul?'' ucap pak Gultom yang dijawab oleh Raka dengan anggukan.
'' Kamu harusnya bersyukur! Kamu yang berasal dari keluarga biasa, bisa masuk dan kuliah disini.
'' Aku tahu kalau kamu itu termasuk mahasiswa yang cukup pintar dan berprestasi. Tapi meskipun begitu, bukan berarti kamu boleh seenaknya saja melanggar aturan dikampus ini. Terlebih lagi, pada jadwal jam mata kuliahku.''
'' Aku juga paling tidak suka, kalau ada mahasiswa yang tidak disiplin, apalagi sampai meremehkan mata kuliah yang aku berikan.''
'' Oh jangan pak! Kalau bapak nggak mau ngasih nilai pada mata kuliah milik bapak kepada saya, percuma dong saya kuliah!'' jawab Raka dengan cemas.
'' Ya kalau begitu, jangan pernah sekali-kali melakukan kesalahan seperti kemarin.'' sahut pak Gultom.
'' Iya pak! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!'' ucap Raka setengah memohon.
'' Baiklah! Berhubung ini memang baru pertama kalinya kamu melakukan kesalahan, kamu aku maafkan. Aku juga tidak perlu mendengar apa alasan kamu soal kemarin. Tapi, kamu tetap akan aku hukum. Apa kamu bisa terima?'' tanya pak Gultom.
'' Iya pak. Saya akan terima dengan ikhlas hukuman dari bapak.'' ujar Raka, meskipun dia sendiri belum tahu hukuman dari pak Gultom.
'' Baik! Karena kamu sudah mengatakan sendiri siap menerima hukuman yang akan aku berikan, maka kamu harus menulis permintaan maaf sebanyak dua puluh dua ribu kata, tidak boleh kurang satupun. Dan besok pagi, kamu sudah harus menyerahkannya kepada saya.''
'' Satu lagi! Tulisannya harus rapi dan mudah untuk dihitung.'' lanjut pak Gultom, lalu menyuruh Raka kembali ke kelas.
Raka segera beranjak dari ruangan pak Gultom, lalu pergi menuju ruang kelasnya. Disana, teman-temannya langsung menyambut Raka dan menanyakan hukuman apa yang diberikan oleh pak Gultom kepadanya. Para mahasiswa itu sudah tahu, jika ada mahasiswa yang disuruh menghadap pak Gultom, pasti ada oleh-oleh berupa hukuman darinya.
'' Eh bro! gimana? Apa kamu sudah menemui pak Gultom?'' tanya temannya yang duduk disebelah kirinya.
'' Sudah! Ini barusan aku dari ruangannya.'' jawab Raka yang baru saja duduk ditempat duduknya.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang baru saja datang dan masuk diruangan itu, mereka juga ikut menoleh kearah Raka. Mereka juga ingin tahu, oleh-oleh apa yang diberikan oleh pak Gultom kepada Raka.
Biasanya, para mahasiswa yang kebanyakan mereka itu adalah anak orang kaya ataupun pejabat, ketika mereka melanggar aturan apalagi yang berkaitan dengan pak Gultom, maka mereka akan langsung meminta orang tua mereka untuk datang dan menyelesaikan masalah mereka.
__ADS_1
Akan tetapi, karena mereka tahu bahwa Raka hanya berasal dari keluarga biasa, merekapun ingin tahu bagaimana cara Raka menghadapi permasalahannya tersebut.
'' Ka.. Akhirnya kamu datang juga! Kamu udah nemuin pak Gultom kan? Terus kamu gak sampai di DO kan?'' ujar Helen yang baru saja datang bersama seorang mahasiswi, dan sepertinya merupakan mahasiswi baru.
'' Alhamdulillah, udah Hel. Dan seperti yang kamu lihat, aku masih berada disini.'' jawab Raka yang tanpa sengaja melihat mahasiswi baru yang datang bersama Helen.
'' Eh iya Ka. Ini kenalin! Teman baru dikelas kita. Namanya Bella. Dia pindahan dari Bandung, dan baru kemarin dia masuk dikelas ini.
'' Bella, Ini Raka. Dia ini termasuk yang paling rajin dan pintar. Hanya saja enggak tahu kenapa, kemarin dia tidak datang.''
'' Orangnya juga cukup tampan dan banyak cewek yang pengen jadi gebetannya. Tapi sayang, sampai sekarang dia ini masih jomblo. Enggak tahu. Sebenarnya, cewek seperti apa yang dia cari. Sampai-sampai, semua cewek yang mendekatinya selalu dia tolak.'' ujar Helen yang suka ceplas-ceplos, dan pernah ditolak oleh Raka dengan halus.
'' Mungkin dia nunggu anaknya presiden kali!'' sindir salah satu cewek yang bernama Silvi yang juga pernah mendekati Raka.
'' Bukan begitu Sil..! Mungkin dia itu merasa minder, karena status dia kan nggak kayak kita-kita!'' ujar salah satu mahasiswa yang merasa iri terhadap Raka, karena Raka sering didekati oleh para gadis dikampus tersebut.
'' Iya Sil..! Dia kan anaknya orang kelas bawah. Jadi, ya memang harusnya ya begitu, tahu diri.'' Sahut rekan pemuda yang barusan berbicara.
'' Hus..! Kalian ini, ngapain sih ngomong kayak gitu! Meskipun kalian kaya, kalian juga bisanya cuma minta sama nyokap bokap kalian aja. Nggak seperti dia yang bisa hidup mandiri dan tidak membebani orang tuanya.'' Bentak Helen kepada kedua pemuda yang tadi menghina Raka.
Helen yang merupakan anak seorang pejabat dan termasuk salah satu gadis yang jadi incaran di kelas tersebut, memang paling tidak suka jika ada diantara mereka menghina Raka. Meskipun Raka sudah berterus terang kepada Helen, kalau dia tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, dan hanya ingin fokus dengan kuliahnya, namun hal tersebut tidak membuat Helen menyerah. Bahkan, dialah yang paling pertama membela Raka jika ada mahasiswa lain yang merendahkan Raka.
'' Helen, buat apasih kamu terus bela-belain dia. Udah tau dia itu nolak kamu. Lagian, masih banyak kok cowok ganteng yang mau sama kamu. Anaknya orang kaya pula.'' ucap Silvi.
'' Betul tuh Hel..! Daripada kamu ngarep-ngarep yang gak jelas gitu, mending kamu sama aku aja. Aku ini kurang apa coba? Udah tajir, tampan, setia pula. Aku jamin deh, kamu akan bahagia kalau sama aku!'' sahut Rico, pemuda yang tadi mencibir Raka.
'' Aku? mau sama kamu? hhh.. Mimpi!'' jawab Helen sambil tersenyum meledek kearah Rico.
Disaat mereka sedang berdebat, seseorang yang sejak tadi berada disudut ruangan itu tiba-tiba berkata:
" Ssst... Kalian semua! Kalau kalian tidak ingin dipanggil oleh pak Gultom, mending kalian duduk dan jangan berisik.'' ujar pemuda tersebut.
Mendengar pemuda yang cukup pendiam dan sering menyendiri tersebut berkata, mereka serentak menoleh kearah pemuda tersebut. Karena semua melihat kearahnya, pemuda yang bernama Taufan itu, lantas menunjukkan jarinya kearah dimana pak Gultom sedang berjalan menuju ruangan dimana mereka berada.
Melihat dosen yang dijuluki oleh mereka sebagai the killer itu sedang menuju kearah mereka, Helen dan yang lainnya buru-buru kembali ketempat duduknya dan duduk dengan tenang. Layaknya anak-anak SD, tak ada satupun diantara mereka yang berani mengeluarkan suara, saat pak Gultom memasuki ruangan tersebut.
Hanya mata mereka saja yang terkadang saling lirik, untuk mengisyaratkan kata kata didalam hati para mahasiswa tersebut. Rupanya, julukan sebagai the killer yang disandang oleh pak Gultom itu, memang cukup membuat para mahasiswa itu tak berani berulah.
'' Pagi semua!'' ucap pak Gultom sebelum dia duduk.
'' Pagi pak..!'' jawab para mahasiswa itu serempak.
'' Ada yang tidak datang lagi hari ini?'' tanya pak Gultom sambil memperhatikan
'' Tidak ada pak. Semuanya hadir!'' jawab salah satu mahasiswa yang duduk paling depan.
'' Raka, ingat! Besok pagi, yang tadi aku sampaikan sama kamu, itu sudah harus ada dimeja ruangan saya sebelum saya datang.''
'' Iya pak, siap!'' jawab Raka sambil berdiri.
Hingga mata kuliah dari pak Gultom usai, semua mahasiswa yang ada dikelas tersebut dengan tenang dan khusu', mengikuti apa yang disampaikan oleh pak Gultom. Karena hari ini hanya ada dua mata kuliah, yaitu dari pak Gultom dan dosen lainnya, maka selesai mata kuliah yang diberikan oleh pak Gultom, merekapun beristirahat sebelum berlanjut ke mata kuliah berikutnya.
Pada waktu istirahat tersebut, Bella yang saat tadi diperkenalkan oleh Helen belum sempat berbicara dengan Raka, dia menggunakan kesempatan tersebut untuk mencoba berbicara dengannya. Dia juga merasa penasaran dengan Raka. Dia baru ingat, kalau kemarin pemuda yang seluruh pakaiannya kotor terkena cipratan air kubangan oleh mobil ayahnya itu, begitu mirip dengan Raka.
__ADS_1
...****************...